Ringkasan Khotbah - 03 Apr'11 Print

 

Kaitan Paskah, Ibadah, dan Kebahagiaan

Kel.12:26-27

Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th.

Siapa yang tidak mau bahagia? Semua orang di manapun mau bahagia. Demi mencapai hal ini manusia bisa berusaha melakukan apapun bahkan sampai melakukan hal-hal yang irasional, misalnya: orang berusaha mendapatkan kesembuhan melalui Ponari dan batu ajaibnya, yang hadir sampai ratusan ribu orang. Ini hanya satu kasus saja, banyak lagi kasus lainnya.

Bagaimana dengan orang Kristen? Hal itu juga dilakukan: banyak gereja yang sekarang menawarkan kebahagiaan. Maka akibat tawaran ini banyak orang yang datang. Herannya gereja yang mau ajaran yang benar malah tidak laku, sampai ada yang berkompromi agar gereja bisa laku seperti gereja-gereja yang sesat, musiknya dan kotbahnya disesuaikan dengan hal ini. Di Reformed tidak ada tawaran kebahagiaan, malah ditawari kesengsaraan.

Bagaimana kekristenan menjawab masalah ini? Kita perlu mengerti arti ibadah itu apa? Dalam Keluaran 12 bangsa Israel mengingat masa lalu lepas dari penjajahan Mesir. Korban Paskah juga mengingatkan tulah terakhir yang begitu mengerikan bagi Mesir. Akhirnya Firaun yang keras kepala menyerah, itupun dia berubah pikiran lagi dan mengejar Israel. Makna paskahnya adalah waktu malaikat maut mau mencabut nyawa anak sulung di Mesir, rumah orang Israel selamat karena tanda darah anak domba yang disapukan di ambang pintu sehingga rumah mereka dilewati. Inilah arti kata Paskah dalam bahasa asli, dilewati dari maut yang harusnya mereka terima. Maka ibadah itu adalah dalam rangka syukur orang Israel yang dibebaskan dari maut.

 

Kedua mereka juga dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Semua ini adalah suatu simbol juga bagi ibadah Saudara dan saya sekarang. Mungkin kita bertanya: “Kan saya bukan orang Israel, tidak pernah dijajah di Mesir?” Tapi ada benang merah ibadah mereka dan ibadah kita. Ibadah yang berkaitan dengan Paskah ternyata bukan hanya terjadi di saat bangsa Israel mau keluar dari Mesir. Saya berpendapat gereja sudah dimulai dari Adam dan Hawa yang juga beribadah dan yang dikaitkan pula dengan paskah.

Tahu dari mana? Lihat perjanjian Allah dengan Adam dan Hawa dalam Kej. 3:15. Keturunan perempuan itu bentuknya adalah tunggal, ini adalah janji Mesianik. Ia akan meremukkan kepala ular, dan ular meremukkan tumitnya waktu Yesus disalib. Adam dan Hawa sudah punya iman berharap pada Mesias. Mereka juga diajar untuk memberikan domba paskah. Apa indikasinya? Alkitab tidak begitu jelas hal ini tetapi kita bisa melihat dari Adam dan Hawa mengajar anak-anaknya beribadah. Kita lihat persembahan korban Kain dan Habel bagi Allah. Saya yakin ini bukan dari diri mereka sendiri tetapi dari ajaran orang tua mereka yang mengandung janji Mesianik. Penafsiran korban paskah yang pertama adalah pada saat Allah sendiri menyembelih binatang dan diajarkan pada Adam dan Hawa (Kej.3:21). Kulit binatang yang dijadikan pakaian itu tidak mungkin ada tanpa korban. Itulah korban pertama kali yang diberikan Allah dan diajarkan kepada Adam dan Hawa. Saya yakin akan hal ini karena ibadah itu bukan tiba-tiba ada mendadak kemudian baru ada pada jaman Musa, tapi sudah sejak awal diajarkan oleh Tuhan.

Kemudian keturunan manusia makin lama makin jahat. Tapi ada satu keluarga, keluarga Nuh yang dipelihara Tuhan, yang lain mati dibasmi oleh Tuhan. Kej.8:20 pun menyatakan Nuh juga memberikan korban bagi Tuhan. Saya percaya Nuh juga memegang janji Mesianik yang diajarkan turun temurun sampai keluarganya. Ibadah selalu berkaitan dengan janji Mesianik, binatang yang dikorbankan sebagai tandanya.

Manusia lupa akan janji Tuhan dan berbuat jahat lagi setelah Nuh. Kemudian dikonfirmasi lagi setelah Abraham yang dipilih Allah dari bangsa-bangsa kafir. Ia belajar beribadah untuk beriman pada janji Mesianik. Maka ada korban yang diberikan (Kej. 22:10-13). Lalu yang terakhir adalah yang tadi kita baca. Bangsa Israel menyembelih domba dan membubuhkan darahnya di ambang pintu.

Maka ibadah berkaitan dengan domba Paskah, pelepasan dari maut, dan pembebasan perbudakan dari Mesir. Lalu apa kaitannya dengan kita? Sangat erat. Kita beribadah dengan karya Mesias yang mati di kayu salib membebaskan kita dari hukuman maut dan dari perbudakan dosa. Inilah yang namanya ibadah. Berkaitan dengan Paskah, Kristus mati dan bangkit membebaskan kita dari kutuk dosa. Maka bersyukurlah, inilah kebahagiaan kita yang paling sejati.

Jadi adalah salah jika orang Kristen mencari kebahagiaan karena kita sudah memperolehnya yaitu bebas dari dosa dan dari maut. Inilah kebahagiaan yang paling sejati. Orang yang mencari kebahagiaan lain selain ini adalah mencari kebahagiaan semu yang tidak akan pernah memuaskannya. Dia hanya akan mencari dan mencari yang lain lagi. Bahagia seorang mahasiswa adalah jika ia lulus, tapi setelah lulus bahagianya adalah cari kerja, kemudian ketika sudah mendapat kerja belum tentu cocok. Kerja setengah mati, dapat mobil baru yang bagus, tetapi dua tiga tahun kemudian bosan lagi dan bahagianya pelan-pelan hilang. Kemudian bahagia ketika mendapat pacar, dilamar, menikah dan berbulan madu. Selesai madunya sisa pahitnya dalam pernikahan. Jadi kebahagiaan yang paling sejati itu apa? Bahagia sejati adalah jika saya didamaikan dengan Allah dan menerima anugerah keselamatan.

Tapi sekarang anehnya gereja malah menawarkan kebahagiaan yang sementara: kesuksesan, kekayaan, harta, kesembuhan. Ini sama dengan membuang harta yang bernilai dan menggantikannya dengan sampah. Bagaimana mungkin harta kekayaan dan kesembuhan digantikan dengan hidup kekal? Maka gereja yang mengabaikan anugerah Allah yang begitu berharga dan bernilai kemudian menggantikannya dengan kebahagiaan semu yang membuat manusia hanya makin serakah berarti gereja tersebut sudah dipakai setan. Ini sangat menyedihkan.

Maka ibadah kita berkaitan dengan Paskah, Kristus yang menebus dosa dan mati bagi kita. Namun tidak berhenti di sini saja. Lebih parah lagi, banyak orang Kristen mencari kepentingan diri sendiri yang berlawanan dengan ibadah yang benar. Padahal, kebahagiaan bukan dicari tapi sudah dianugerahkan, maka saya perlu bersyukur kepada Tuhan.

Makna ibadah yang kedua adalah ini: bersyukur kepada Allah. Syukur ini juga tidak lepas dari syukur. Israel ada korban penebus dosa dan korban ucapan syukur. Lalu apakah kita di jaman sekarang ini tidak perlu ada korban lagi? Tidak. Ibadah yang benar tidak bisa lepas dari korban. Dalam ibadah kita kepada Tuhan, kita juga perlu memberi korban untuk bersyukur. Bukan karena rutinitas ataupun karena tradisi.

Setelah kita diselamatkan, respon kita sekarang adalah mau berkorban bagi kemuliaan Allah. Banyak orang beribadah kepada berhala karena ingin kekayaan. Tetapi orang yang menyembah Tuhan memberikan korban yang hidup bagi Tuhan, tidak seperti korban binatang atau tumbuhan. Lalu siapakah korban hidup itu? Diri kita sendiri! Orang yang menyembah berhala memperalat berhala untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi orang yang menyembah Allah mempersembahkan hidupnya untuk dipakai Allah. Sudahkah kita mempersembahkan hidup kita sebagai korban bagi Allah?  Atau kita cuma mau mencari kenyamanan dan keselamatan diri, hoki dan lain-lain? Itu sama dengan menyembah berhala.

Hal ketiga yang ditekankan di sini, menyembah Tuhan berarti mempersembahkan hidup kepada Allah (Roma 12:1). Itu adalah ibadah kita yang sejati, bukan sekedar datang ke kebaktian, tetapi mempersembahkan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah. Jika ibadah kita tanpa konsep ini mungkin artinya kita tidak pernah sungguh-sungguh beribadah. Maka hari ini kita dipanggil untuk beribadah dan mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Amin.

Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkotbah. Transkrip: BA.