Ringkasan Khotbah - 27 Mar'11 Print

 

Memikul Kuk

Mat.11:11-12, 18-19, 25-30

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Pernahkah Anda mempunyai pengalaman mendidik seorang anak untuk mengerti kebenaran mulai dari cara yang paling halus sampai cara yang paling kasar, tetapi ia tetap tidak mengertinya juga? Jika punya, seperti inilah gambaran para nabi yang memberitakan firman Tuhan kepada umat Israel. Jika seseorang belum dicelikkan hatinya oleh Tuhan, sampai kapanpun ia tidak mengerti kebenaran.

Hari ini kita akan melihat pelayanan Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus. Siapakah Yohanes Pembaptis? Ia adalah saudara sepupu Tuhan Yesus karena ibunya Elizabeth bersaudara dengan Maria. Yohanes kira-kira berbeda usia setengah tahun dengan Yesus. Tetapi lebih dari itu, Yohanes adalah pembuka jalan sedangkan Yesus adalah yang dibuka jalannya. Yohanes mempersiapkan orang-orang untuk menerima Mesias dan bertobat dari dosanya. Ciri pelayanan Yohanes mirip dengan Elia. Di tengah orang-orang menyembah berhala, Elia memberitakan dan menyerukan pertobatan untuk menyembah Allah yang benar. Demikian juga Yohanes Pembaptis. Yohanes mempersiapkan supaya orang-orang bertobat dan siap menerima Yesus. Yohanes berani menegur termasuk Herodes sampai akhirnya ia dipenjara.

 

Waktu Yohanes dipenjara, Alkitab tidak mencatat Yesus pernah mengunjunginya dalam penjara. Mungkin Yohanes terakhir melihat Yesus pada waktu Yesus dibaptis. Sehingga kita dapat merasakan sedikit banyak pergumulan Yohanes. Dalam penjara ia mulai mendengar apa yang dikerjakan Yesus. Ia menyuruh murid-murid-Nya bertanya, apakah benar Ia Mesias yang dijanjikan atau mereka harus menunggu yang lain. Mengapa Yohanes yang sudah begitu yakin bisa ragu-ragu? Ada penafsir yang mengatakan, mungkin Yohanes bukan ragu-ragu melainkan ingin supaya murid-murid-Nya mendengar langsung dari Yesus. Yohanes betul-betul makin lama makin berkurang dan Yesus makin besar. Tetapi ada tafsiran kedua yang mengatakan bahwa meskipun Yohanes dari muda membuka jalan bagi Yesus, namun ia adalah manusia yang tetap bisa kecewa. Hamba Tuhan pun ada kalanya ketika melihat pelayanannya tidak ada hasilnya bisa kecewa. Jika benar demikian, yang jadi pertanyaan kita adalah jika Yohanes saja bisa mengalami keragu-raguan dan kekecewaan seperti ini, apalagi kita? Karena itulah Yesus mengatakan berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Dia.

Prinsip penting: Iman timbul bukan dari penglihatan, tetapi dari pendengaran. Yesus berkata pada Thomas, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat tetapi percaya.” Mungkin ini alasannya Yesus tidak mengunjungi Yohanes. Yohanes tidak melihat, tetapi ia boleh mendengar dan ia tetap beriman. Meskipun buah pelayanannya tidak membawanya pada pujian manusia melainkan pedang, tetapi Yohanes tetap percaya. Hal ini ditegaskan juga dalam kisah Lazarus dan orang kaya. Orang kaya meminta Lazarus bangkit dari orang mati untuk memberitakan Injil kepada saudara-saudaranya yang belum percaya yang masih hidup. Tetapi Abraham mengatakan bahwa selama ini sudah ada kitab para nabi tetapi mereka tetap tidak percaya.

Yesus mengatakan, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Apa yang membuat Yohanes besar? Bukan pekerjaannya, tetapi misinya yaitu membuka jalan bagi Yesus, Siapa yang dia perkenalkan, yaitu Yesus Kristus. Maka waktu dikatakan Yohanes menjadi besar, bukan bicara perbuatannya tetapi bicara mengenai dua era / zaman yang berbeda. Zaman sebelum Yohanes adalah zaman Perjanjian Lama. Kemudian Yohanes membuka jalan bagi Kerajaan Allah (era Perjanjian Baru) yang sebelumnya ditunggu-tunggu mereka di zaman Perjanjian Lama. Para nabi hanya menubuatkan Kristus. Tetapi Yohanes membuka jalan dan melihat Kristus langsung. Era ini jauh lebih besar daripada zaman Perjanjian Lama karena orang-orang saat itu tidak melihat Kristus langsung. Kita sekarang jauh lebih berbahagia karena kita masuk ke dalam era ini sedangkan Yohanes hanya memberitakan dan melihat bayang-bayangnya. Sekali lagi bagian ini bukan bicara perbuatan tetapi kesempatan masuk dalam era ini.

(Ayat 12) Kerajaan surga diserong artinya diambil dengan kekerasan. Ada penafsir yang mengatakan kata ini adalah kata yang sama dalam Yoh.6:14-15 waktu Yesus selesai memberi makan 5000 orang, mereka mau menjadikan Yesus sebagai Raja dengan kekerasan. Mereka mau membelokkan Yesus dari misi yang sebenarnya. Tetapi kelihatannya ini bukan tafsiran yang tepat. Karena di sini sudah nampak penentangan yang sebenarnya sudah dialami oleh Yohanes Pembaptis dan oleh Yesus. Yohanes ditangkap dan dipenjarakan kemudian Yesus terus dilawan dan akhirnya dibunuh. Yohanes mencicipi sedikit konflik yang terjadi, tetapi penggenapannya terjadi pada Yesus. Ini sudah difirmankan Tuhan dalam Kej.3:15. Kristus akan menghancurkan kepala ular melalui kematian-Nya di kayu salib. Ini bukan perang sekali tetapi berulang-ulang. Iblis mencoba menyelewengkan Kerajaan Allah dengan berbagai cara dalam Perjanjian Lama (kepada Ayub, kepada Daud, dll).

Dalam Perjanjian Baru, tentangan ini lebih banyak lagi sampai hari ini. Tuhan mengatakan siapa yang mencintai Aku akan dibenci oleh dunia. Memang kita yang masuk dalam Kerajaan Allah mempunyai hak istimewa tetapi kita pun akan mengalami banyak tentangan. Ini bukan hal yang mudah. Maka dalam hal apa Kerajaan Allah diserong dan ditentang? Yohanes pernah dikatakan kerasukan setan. Yohanes ditolak. Waktu Yesus makan bersama orang berdosa dan pemungut cukai, memberitakan firman, memberikan pengharapan bagi orang-orang berdosa kemudian Yesus dicela bahwa Ia orang rakus, tukang makan, dan tukang mabuk. Hamba Tuhan yang bicara keras maupun yang bicara lembut sama-sama ditolak. Lalu maunya apa? Maunya caranya sendiri. Kesulitan kita waktu memberitakan Injil salah satunya adalah karena orang begitu sulit menerima dirinya berdosa dan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Banyak orang tidak mau jalannya Tuhan tetapi jalannya sendiri. Jika orang tidak percaya, kita dengan cara apapun menyampaikan firman mereka tidak mau mendengar.

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan waktu Kerajaan Allah dinyatakan: Kerajaan Allah terbuka bagi mereka yang kecil, tertutup bagi mereka yang (merasa dirinya) bijak dan pandai. Waktu firman Tuhan diberitakan ia membagi pendengarnya kepada dua bagian: mereka yang menolak dan mereka yang menerima. Anak-anak yang berada dalam kerajaan Allah adalah mereka yang sadar dirinya tidak cukup baik dan membutuhkan anugerah Allah, mereka yang tidak merasa dirinya cukup bijak dan pandai. Kita jangan membandingkan diri dengan manusia, tetapi lihat diri di hadapan Tuhan. Mereka yang merasa dirinya sudah tahu segala sesuatu dan tidak butuh Tuhan, tidak akan dapat mengenal Tuhan. Tuhan menyatakan Diri-Nya pada mereka yang kecil, yang sadar dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Kristus adalah Pengantara yang membukakan Diri-Nya pada kita.

Kita yang masuk dalam Kerajaan Allah akan menerima banyak tentangan dan kesulitan. Karena itu Yesus Kristus mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Orang-orang Farisi dan ahli Taurat membebani orang dengan hukum yang memberatkan. Tetapi Kristus justru memberi kita kelegaan. Kita dilepaskan dari hukum Taurat untuk taat lagi melakukan taurat. Kita dilepaskan dari hukum untuk melakukan hukum. Karena itu setelah menerima Yesus Kristus bebannya tidak hilang, godaan akan makin berat, kesulitan makin nampak tetapi berbeda dengan beban orang Yahudi. Beban orang Yahudi bersifat luaran. Tuhan tegur orang Farisi seperti kubur dilabur putih. Tuhan melihat hati kita yang paling dalam! Beban taurat berbeda sekali dengan undangan Kristus. Kuk tetap harus dipikul tetapi kita akan mendapat istirahat (tidak berarti fisik). Kita harus belajar dari-Nya. Rest yang sesungguhnya bicara tentang relasi yang dipulihkan. Itulah rest yang sejati. Jika kita belum pernah bertobat dari dosa-dosa kita, kita tidak akan merasakan rest yang sejati. Jika kita tidak punya relasi dengan Tuhan, perintah apapun akan terasa berat. Tetapi jika kita punya relasi dengan-Nya, kita akan rela melakukan perintah-Nya dan mendapat rest.

Kita seringkali hanya mau melakukan apa yang mau kita lakukan dan tidak mengikuti cara-Nya. Ini karena kita tidak mengasihi Tuhan. Ikut Tuhan berarti kita dilepaskan dari hukum untuk melakukan hukum. Tetapi bedanya, kita tidak lagi melakukannya dengan berat melainkan dengan ringan. Karena ada firman yang menuntun kita, Roh Kudus memimpin dan menolong kita. Ini tidak ada dalam agama lain. Ini bukan hal yang berat. Tetapi yang menjadi berat adalah karena kita tidak mau ikut cara-Nya. Beban kuk yang diberikan-Nya ringan. Ia akan menyertai kita dan memberikan kita kelegaan.

Transkrip: VP.