Ringkasan Khotbah - 25 Jul'10 Print

 

Filipi 2:5-8

Ev. Gito T.Wicaksono

‘Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama’ di ayat ini berarti kita sebagai individu tetapi hidup dalam komunitas. Kita memiliki banyak perbedaan tetapi kita harus memiliki satu pikiran. Ini yang digaungkan oleh rasul Paulus. Pikiran dan perasaan di sini dalam terjemahan bahasa Inggris hanya satu kata yaitu attitude, sikap. Biarlah kita memiliki satu sikap yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Inilah yang harus terjadi dalam hidup kita. Hendaklah kamu dalam hidupmu memiliki satu pikiran berarti harus ada kesamaan pikiran di antara kita. Pikiran itu adalah berpikir dengan pola pikir Kristus, bukan dengan pikiran kita karena pola pikir kita arahnya berbeda, apalagi kita manusia berdosa.

Apa maksudnya pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus? (Ayat 6) Walaupun Ia adalah Allah tetapi Ia rela menjadi manusia dan tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan atau dipamer-pamerkan. Dahulu jika orang menang perang akan memamerkan barang rampasannya. Ini bukan seperti barang rampasan yang dipamerkan. Tetapi inilah hasrat Kristus yang paling dalam. Dalam kamus Webster, dalam penerbitan awalnya kata passion diartikan sebagai pengorbanan Kristus. Seperti film The Passion of The Christ. Passion itu adalah pengorbanan tetapi sekaligus berarti gairah. Titik gairah Allah adalah menyelamatkan manusia. Ini sungguh menyakitkan. Ia harus menyerahkan Anak-Nya. Sedangkan kita memiliki passion untuk apa? Jika seorang atlet passion-nya adalah piala, seorang pengusaha passion-nya adalah keuntungan. Tetapi sadarkah kita gairah Allah adalah memberikan Anak-Nya? Sampai Sang Anak mengatakan ‘Eli Eli Lama Sabakhtani’. Ini demi cinta Allah yang begitu besar pada manusia. Jika passion kita bukanlah gairah dalam Kristus, dalam penderitaan-Nya, maka kita pasti berada dalam kekeliruan.

Passion Allah adalah berkorban demi manusia, sementara setan bukan demikian. Setan mengorbankan orang lain. Apakah setan bisa berkorban? Tidak mungkin! Karena hasrat setan adalah ingin dimuliakan dan ini yang ditawarkan pada manusia. Tawaran setan tidak ada yang jelek, dan tawaran yang bagus itu sudah muncul sejak taman Eden kepada Hawa. Tawaran apalagi yang bisa menandingi tawaran ‘kamu akan seperti Allah’? Maka ketika kita ingin menjadi orang baik, ingin dipuji-puji semua orang, kita sebenarnya mirip setan. Karena Allah saja yang baik. Jika kita melakukan segala sesuatu dan ada selentingan dalam diri kita “puji aku dong,” maka kita mirip setan. Inilah cara kerja setan. Cara kerja setan bukan dengan fenomena-fenomena yang aneh melainkan menarik pusat segala sesuatu pada diri. Allah yang tak terbatas mau menjadi yang terbatas, hina, lemah, Ia mau menjadi manusia. Tetapi manusia sebaliknya, ingin dimuliakan. Kita harus berhati-hati. Setan ingin menjadikan kita bertentangan dengan Allah.

Ini yang menyebabkan rasul Petrus ditegur oleh Yesus (Mrk. 8:31-33). Jika kita lihat dari ayat 27, Yesus dan Petrus sedang berjalan-jalan di sekitar kampung Kaisarea Filipi lalu Yesus bertanya, ‘kata orang siapakah Aku ini?’ Murid-murid-Nya menjawab Elia, Yohanes Pembaptis atau salah seorang dari nabi. Tetapi kemudian ketika Yesus bertanya secara khusus pada murid-murid-Nya ‘Katamu siapakah Aku?’, Petrus yang menjawab ‘Engkau adalah Mesias’. Ini benar, jawaban yang sangat teologis. Tuhan Yesus tidak menolak jawaban ini karena memang benar demikian. Tetapi ayat 30 Tuhan Yesus melarang siapa pun untuk memberitakan tentang Siapa Dia. Yesus tidak senang dengan kerumunan orang yang suka mengejar-ngejar-Nya.

Kemudian Yesus mengajarkan tentang ‘Who am I?’. Petrus benar dengan definisi siapa Yesus. Tetapi para guru saat itu mengajarkan Mesias adalah seorang pahlawan yang penuh kemegahan, punya pengaruh besar. Mereka tidak percaya Mesias yang datang sebagai tukang kayu, gembel. Lebih dalam lagi Yesus mengatakan bahwa Ia harus ditolak, banyak penderitaan dari imam-imam kepala, ahli taurat, kemudian dibunuh dan bangkit lagi. Karena itu Mesias yang dimaksud Yesus berbeda dengan yang dipikirkan Petrus. Petrus menarik Yesus dan menegur-Nya. Petrus memilliki doktrin yang tepat tetapi apakah Petrus memperlakukan Yesus sebagai Mesias, sebagai Tuhan? Belum! Hal ini terjadi juga pada kita. Kita bisa memiliki pengetahuan yang benar tetapi belum tentu sampai pada tindakan kita. Bukan berarti kita tidak perlu belajar. Justru kita tetap harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Pada waktu Petrus menegur Yesus, Yesus memarahinya dan berkata ‘enyahlah iblis, kamu bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia’. Yesus melihat bahwa ini idenya setan. Seperti waktu iblis mencobai Yesus di padang gurun. Iblis pikir bisa membelokkan Yesus untuk tidak sampai pada kayu salib. Christianity without Christ adalah hal yang diinginkan iblis. Silakan kamu Kristen, tetapi kemudian kita digoda oleh setan untuk menuhankan diri sendiri dan bukan Kristus. Padahal pola pikir Allah adalah salib. Salib adalah inti kematian Kristus dan dengan demikian Ia menyelamatkan kita.

Dalam Filipi 2 kita belajar pola pikir Allah bahwa Ia mengosongkan diri dan menjadi sama dengan manusia. Mengosongkan diri bukan seperti cek kosong yang tidak ada apa-apanya. Bukan berarti Ia datang kosongan, tidak ada unsur ilahinya, 100% manusia. Tidak! Tetapi kata yang dipakai di sini adalah made himself empty / nothing. Ia mencopot hak prerogatifnya sebagai Allah. Ia tidak mau memamerkannya. Ia membatasi diri-Nya dan mau menjadi sama dengan manusia. Agama lain menertawakan Kristus yang mau datang ke dunia. Tetapi apa yang kelihatan konyol itu sesungguhnya adalah cinta. Yesus mengambil rupa seorang hamba, yang tidak terbatas mau menjadi yang terbatas. Ia mengambil posisi yang paling rendah yaitu seorang hamba. Ini adalah hal yang berbeda sekali dengan tawaran iblis yang selalu menawarkan kemuliaan. Ia merendahkan diri-Nya. Dari kalangan budak Ia mengambil posisi lebih rendah lagi yaitu dalam keadaan manusia yang begitu sederhana. Jika kita diposisi Allah mungkin kita datang ke dunia sebagai Raja. Tetapi cara Allah tidak bersifat super, Kristus datang justru untuk taat sampai mati. Ketaatan berarti beresiko. Bahkan sampai mati di kayu salib. Dari puncak tertinggi sampai puncak terendah. Sadarkah kita bahwa mencurahkan darah-Nya bagi manusia adalah gairah Allah yang paling besar? Sadarkah kita bahwa setiap hari kita menyiksa sesuatu? Seperti motor waktu dinyalakan, apa yang terjadi? Terjadi gesekan yang menyakitkan. Tetapi yang sakit itu justru menggerakkan dan menghidupkan motor tersebut sehingga kita bisa sampai ke tempat tujuan. Gairah Allah adalah sakit. Ia rela menanggung sakit itu agar kita sembuh dari dosa-dosa kita.

Apa yang menjadi gairah kita? Kita mengorbankan orang lain untuk diri atau mengorbankan diri untuk orang lain? Seharusnya Yesus menjadi model kita. Kristus mengorbankan Diri-Nya bagi manusia, kita perlu meneladani-Nya. Jika kita mengorbankan orang lain untuk diri, kita mirip setan. Kita cenderung meniru, mengidolakan, mengidentikkan diri dengan seseorang dan Yesuslah yang seharusnya menjadi model kita.

Salib adalah hukuman yang begitu jahat, membunuh pelan-pelan. Mungkin kita tidak pernah membunuh orang dengan sengaja tetapi secara tidak sengaja kita sedang melakukan pembunuhan. Misalnya pembunuhan karakter, kita mendiamkan orang yang seharusnya kita tolong, dll. Itu semua pun dosa. Dosa adalah secara aktif dan pasif. Saat kita tidak melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya pun kita berdosa. Kita sangat membutuhkan anugerah. Itulah sebabnya John Newton bisa menyanyikan Amazing Grace. Tanpa anugerah, kita akan menjadi seperti setan. Hati-hati dengan pikiran dan hati nurani kita, karena semua sudah rusak. Kita ingin menjadi besar dan mulia, ingin dipuji. Seperti seekor katak kecil yang iri dengan seekor sapi yang besar. Ia terus menggembungkan dirinya dan akhirnya meledak.

Paulus mengajarkan kita hati-hati dengan pola pikir kita. Apakah pola pikir kita berpaut dengan Allah atau tidak. Kita lihat Fil. 2:1-4. Alasan rasul Paulus mengungkapkan ayat 5 – 8 ternyata adalah masalah-masalah praktis, masalah relasi satu dengan yang lain, masalah yang remeh temeh, yang kelihatannya biasa. Kita harus saling menghormati, bersama-sama dalam satu kasih. Tetapi hal-hal praktis itu ternyata alasannya teologis, doktrinal. Itu sebabnya mengapa kita harus belajar doktrin karena itu seharusnya mempengaruhi perilaku hidup kita. Nampaknya di Filipi sedang tidak terjadi hal demikian, ada perpecahan di sana. Karena itu Rasul Paulus menegur mereka. Mungkin ada orang yang mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri, ada yang ingin dipuji dengan pujian yang sia-sia. Tetapi Paulus menegur mereka untuk rendah hati seperti Tuhan Yesus.

Kita sepakat bersama-sama untuk meneladani Yesus. Apanya? Karena Yesus tidak pernah menikah maka kita tidak menikah? Karena Yesus tidak pernah keluar negeri maka kita juga? Yesus tukang kayu kita pun harus jadi tukang kayu? Tentu tidak! Tetapi mari kita meneladani Yesus yang merendahkan diri-Nya ketika datang ke dalam dunia menjadi manusia. Ia mengorbankan Diri-Nya. Pengorbanan adalah sifat yang bertentangan dengan natur berdosa kita. Tetapi ini adalah perjuangan kita seumur hidup. Paulus sendiri pun berjuang. Ia mengatakan dalam kitab Roma bahwa ia manusia celaka. Kalau kita mau jujur dengan diri, kita seringkali mirip setan. Mari kita jaga kemurnian hati dan mengoreksi diri detik demi detik. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis mengatakan Ia yang akan datang akan membaptis dengan Roh dan dengan api. Zat yang paling jujur adalah api. Apa pun yang masuk ke dalamnya akan dibakar. Jika kita adalah emas, maka sahabat sejatimu adalah emas karena itulah yang akan menyatakan siapa kita. Jika ada yang “menyiksa” kita dengan api seperti itu, biarlah itu menjadi titik untuk kita bergairah kembali.

Seorang penulis di sebuah buku mengatakan, “Kita tidak pernah bisa dipakai oleh Tuhan sebelum Tuhan menyakiti kita.” Mana ada tokoh Alkitab yang tidak disakiti? Abraham disakiti dari kekayaan menjadi kemah, Musa dibuang menjadi gembala, Daud juga disakiti dulu oleh Saul, oleh kakaknya sendiri, tetapi kemudian dipakai Tuhan. Ketika kita disakiti oleh Tuhan, mari kita bawa kesakitan itu kepada Tuhan. Menyakiti dalam arti menjadi titik untuk kita bangkit dan maju. Ada seorang misionaris wanita yang diperkosa sewaktu ia dikirim ke Afrika oleh beberapa orang tentara. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan bertemu dengan seorang suster yang juga diperkosa oleh para prajurit itu. Ia kemudian mendapat inspirasi waktu merenungkan kejadian itu di hadapan Tuhan dan ia menemukan bahwa jikalau mereka memperkosa dia sebetulnya mereka sedang memperkosa Tuhan. Ia kemudian menghibur suster ini dengan mengatakan satu kalimat yang membuat saya betul-betul tidak tahan, yaitu bahwa jikalau para prajurit itu tidak memperkosa mereka maka mereka pasti akan memperkosa wanita lain. Kesakitan itu justru membuat dia dapat mengasihi dengan lebih sungguh dan bertemu dengan pribadi yang sesungguhnya, yaitu Kristus.

Cara hidup kita dimulai dari cara berpikir kita dan rasul Paulus berkata bahwa cara berpikir kita harus seperti Kristus. Kristus yang seperti apa? Kristus yang mau berkorban. Tidak mudah untuk menyimpulkan hal ini dalam waktu yang singkat tetapi alami dalam hidup kita semua: kesakitan, kejengkelan, dibenci oleh orang, ditolak oleh orang, justru itu adalah titik-titik awal di mana kita akan lebih mengasihi Dia. Saat kita lebih mengasihi Dia kita akan bekerja lebih giat lagi.

Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – Transkrip: VP.