Ringkasan Khotbah - 11 Jul'10 PDF Print E-mail

 

Kisah Para Rasul 4:1-22, 5:27-29, 41-42

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Hari ini saya akan mengkotbahkan semangat seorang percaya dalam melaksanakan Amanat Agung-Nya. Ternyata gereja mula-mula yang berdiri dan disertai Allah dengan tanda luar biasa tidak luput dari tantangan, kesulitan, serangan dan ancaman. Maka hal ini menegaskan bahwa pekerjaan Allah bukan pekerjaan yang mulus, tanpa kesulitan. Jika orang mengatakan “selama Tuhan pimpin kita pasti tidak ada hambatan dan kesulitan” ini tidak benar. Justru jika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan, iblis tidak pernah diam dan selalu ingin menghambat pekerjaan Tuhan. Jika pekerjaan Tuhan tidak ada masalah, tantangan, hambatan dan perlawanan maka perlu dipertanyakan. Jika iblis tidak menyerang bahkan menyambut apa yang kita lakukan, ini menjadi tanda tanya. Jangan-jangan kita sejalan dengan iblis. Tetapi jika kita melakukan kehendak Allah, pasti iblis tidak tinggal diam.

Kita melihat dengan gamblang para rasul yang memiliki kerinduan besar setelah hari Pentakosta untuk memberitakan Injil. Saat itu muncul masalah besar. Mereka berhadapan dengan Mahkamah Agama yang pada waktu itu diberi mandat, wewenang oleh pemerintah Romawi untuk mengurus hal-hal keagamaan orang Yahudi. Misalnya: pemerintahan Itali ada Vatikan, ada kekuasaan gereja Katolik yang sangat dihormati oleh pemerintah. Paus dianggap memiliki kedudukan begitu tinggi. Begitu juga Mahkamah Agama. Para rasul dituntut untuk tidak memberitakan tentang Tuhan Yesus. Pemerintah yang menangkap para rasul ternyata juga pemerintah yang tidak berani sewenang-wenang. Mereka takut dengan orang banyak. Pada waktu itu orang-orang banyak takjub dengan mujizat yang dilakukan para rasul. Pemerintah takut rakyat membela para rasul kemudian memberontak. Karena itu mereka hanya berani melarang. Tetapi ternyata para rasul tidak kehilangan semangat ketika dilarang. Para rasul tahu bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah.

Ketika ditangkap kedua kali dan diinstruksikan untuk tidak memberitakan firman Tuhan, mereka berkata, “Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” Mereka dicatat dengan gembira meninggalkan Mahkamah Agama oleh karena telah layak dianggap menderita oleh karena nama Yesus. Di sini ada satu pelajaran bagi kita, bahwa dalam pekerjaan Tuhan selalu ada tantangan dan hambatan. Dalam pertumbuhan gereja dalam konteks kita mungkin tantangan tidak sevulgar seperti zaman para Rasul. Namun sekarang iblis memakai bentuk-bentuk lain yang tidak kalah canggih seperti zaman para rasul.

Apa kesulitan dan tantangan pada zaman kita? Pada waktu firman hendak diberitakan selalu ada hambatan. Jika kita belum merasakan adanya hambatan, mungkin kita belum terlibat terlalu dalam di gerakan Reformed. Hanya di beberapa tempat kita dengar ada hambatan. Contohnya: jemaat MRII Jogja sempat dilarang beribadah. Tetapi sebagian besar GRII mungkin tidak ada hambatan seperti itu. Namun apakah sesungguhnya tidak ada hambatan? Tentu ada. Musuh itu tidak terang-terangan. Jika terang-terangan kita bisa waspada. Musuh datang ketika kita sedang lengah. Inilah strategi iblis yang paling canggih. Iblis datang seperti malaikat terang, seperti serigala berbulu domba. Berarti mirip domba. Tuhan Yesus pun pernah mengingatkan akan datang nabi-nabi palsu yang mengaku Mesias. Maka kita harus waspada dan hati-hati sekali.

Pada waktu pembinaan Hamba Tuhan di STRIS, saya bersyukur karena mereka yang datang dari desa ternyata pikirannya tidak sesederhana yang kita pikir. Mereka juga sangat jeli dengan zaman ini. Mereka tahu bahwa gereja sudah dipengaruhi arus dunia yang hanya mencari berkat-berkat dan kepuasan. Mereka peka dengan hal seperti ini. Ini adalah salah satu bentuk serangan iblis terhadap gereja. Jadi jika kita merasa gereja aman-aman, hati-hati. Ajaran liberalisme, karismatik ekstrim yang memperkenalkan Yesus tanpa salib dan hanya mengerjakan mujizat, adalah bentuk-bentuk penyesatan bagi jemaat. Kalau tidak hati-hati kita akan terjebak. Apalagi godaan iblis yang kita perlu hati-hati? Mungkin hal sepele misalnya gereja dinodai dengan relasi yang tidak baik. Misalnya: saling curiga, saling sakit hati, kecewa, ada pikiran negatif yang berkembang, gosip-gosip. Ini semua bisa merusak keadaan gereja yang harusnya bersemangat memberitakan firman. Kita tidak giat untuk melayani tetapi kita giat dipakai oleh setan menjadi alatnya.

Kita harus meneladani apa yang dilakukan para rasul yang berjuang memberitakan Yesus, memberitakan firman. Kita bukan dipanggil untuk memberitakan sakit hati kita terhadap gereja ini. Itu semua hanyalah gosip yang mau merusak gereja. Sebagai anak Tuhan yang dewasa, kita harus peka terhadap hal-hal seperti ini. Jangan mau menyerah terhadap strategi iblis. Jika kita tidak waspada, kita mungkin tidak mau terlibat lagi dalam gereja ini. Tidak ada gereja yang tidak ada kelemahan. Justru kalau kita tahu gereja ini ada kelemahan, semangat kita seharusnya mau memperbaiki bersama, mendoakannya. Pada saat para rasul disiksa, dipenjara, apa yang dilakukan oleh jemaat? Dalam Kis.4:23-31, pada saat jemaat tahu gereja sedang digoncang, yang mereka lakukan adalah berkumpul dan berdoa. Tetapi sekarang banyak orang melihat kelemahan gereja tidak lagi berdoa melainkan menyebarkan kelemahan tersebut. Apakah anda berdoa? Apakah setelah mengetahui kelemahan gereja ini anda memiliki beban untuk membangunnya dan menjadi berkat? Apakah kita rindu untuk memberitakan firman? Jangan kita dijebak dan digoda iblis untuk dipakai sebagai alatnya merusak pekerjaan Tuhan.

Pada waktu firman diberitakan, Tuhan Yesus pernah ditegur dengan keras (Yoh. 6:60). Ada perkataan-perkataan yang Yesus katakan dan reaksi orang langsung tidak terima karena keras. Mereka seolah menegur: kalau seperti ini bisa-bisa pengikut-Mu lari semua dan tidak mau lagi mendengar Engkau. Tuhan Yesus setelah mendengar peringatan itu tidak pernah kendor dan keder lalu mengurangi kekerasan kotbahnya supaya jemaatnya tidak lari. Sebaliknya dalam Yoh.6:65-66 justru menyatakan bahwa banyak orang yang mulai meninggalkan dia.

Kalau banyak jemaat meninggalkan gereja maka di satu sisi ia harus mulai introspeksi apakah ada hal yang salah yang dilakukan gereja atau tidak. Tidak berarti kalau banyak jemaat yang pergi berarti gerejanya yang salah. Tidak tentu. Karena kalau gereja itu memberitakan kebenaran lalu orang mengundurkan diri maka jelas orang memang tidak mau menerima kebenaran kalau ia bukan orang Kristen yang sejati yang mencari kebenaran firman. Kalau ia hanya mau Firman yang menyenangkan diri, memuaskan, meninggikan kehebatannya, kebebasannya dan keakuannya dan penuh dengan pujian maka ia akan pergi mencari gereja yang menyenangkan dirinya sendiri. Maka kita pun di sini akan diuji apakah kita mencari kebenaran atau mencari kepentingan diri sendiri. Apakah saya rela dibentuk untuk taat pada kebenaran meskipun jatuh bangun dan tidak mungkin sempurna?

Maka saat Tuhan Yesus ditegur tentang banyaknya orang yang meninggalkan Dia karena pengajaran-Nya maka Ia mengatakan bahwa tidak mungkin ada orang yang ditarik kepada-Nya kecuali oleh Allah Bapa. Inilah yang namanya only by grace (hanya oleh kasih karunia). Tanpa ini tidak mungkin ada seorang pun dapat datang kepada Tuhan Yesus. Kalau kita sampai sekarang masih bisa tetap setia dan tetap tidak goyah dan memandang kepada salib dan tetap penuhi panggilan Tuhan untuk memberitakan kebenaran, maka itu semua adalah karena kasih karunia bukan karena kehebatan kita.

Hidup manusia memang tidak pernah lepas dari kekecewaan dan sakit hati. Akan tetapi kalau kita bisa tetap setia pada panggilan Tuhan itu semua karena kasih karunia. Kembali kepada para rasul yang dihambat, diancam, ditindas luar biasa tidak terjebak pada kekecewaan, keputusaan dan kehilangan semangat. Sebaliknya tantangan dan kesulitan ini mendorong mereka untuk lebih semangat lagi karena mereka layak untuk menderita karena mengabarkan nama Yesus. Menderita bagi mereka adalah kasih karunia dan pemicu untuk semakin semangat. Berbeda dengan kita yang kena kesulitan dan masalah sedikit sudah mengeluh dan sudah malas. Ada problema di gereja sedikit sudah tidak mau melayani lagi. Maka di sini mental kita sedang diuji apakah kita mental tempe atau mental baja.

Beberapa poin tentang semangat dalam pelayanan. Kenapa seseorang bisa mempunyai semangat yang luar biasa? Kita perlu introspeksi bersama. Mengapa para rasul bersemangat? Kita bilang yah mereka kan rasul. Tetapi setelah para rasul masih banyak muncul orang-orang yang bersemangat melayani. Bukannya setelah para rasul mati lalu semangat itu hilang dan kekristenan habis. Banyak orang Kristen yang mati martir, menyaksikan Yesus Kristus dan berani mati bahkan ada yang dibakar hidup-hidup. Ini semangat yang tidak tergoncangkan. Semangat bukan hanya dimiliki orang yang dipimpin Roh Kudus. Orang yang tidak dipimpin Roh Kudus pun ada yang memilki semangat. Pertama orang yang semangat adalah orang yang sedang jatuh cinta.  Contohnya: orang yang jatuh cinta akan apel setiap hari. Mereka yang suka sepakbola juga semangat nonton bola. Ini tidak ada kaitannya dengan Roh Kudus. Kedua orang juga bisa semangat kalau ia punya ideologi, contohnya orang komunis. Mereka mau mati-matian bahkan rela mati dan hidup bagi komunisme.  Tidak ada Roh Kudusnya kok bisa semangat? Kita mestinya malu kepada mereka. Ketiga, orang bisa punya semangat karena melihat pimpinan yang berkarisma. Pada zaman Indonesia dipimpin oleh Bung Karno, pengaruhnya luar biasa. Ketika orang mendengar pidato Bung Karno, rakyat langsung bersemangat. Begitu juga Hitler. Ia bisa mengendalikan orang-orang yang dipimpinnya mengikuti apa yang dia anggap penting. Tetapi mereka semua tanpa Roh Kudus.

Sekarang bagaimana dengan kita? Dari mana semangat kita? Atau kita justru tidak memiliki semangat? Jika orang yang tidak percaya bisa memiliki semangat luar biasa, termasuk pengajar-pengajar sesat, di mana semangat kita? Kita bukan bergantung pada pemimpin yang berkarisma. Begitu pemimpinnya jatuh ke dalam dosa, dipecat atau meninggal, maka habislah semangat itu. Meskipun masih ada segelintir orang yang melanjutkan, tetapi pasti tidak sama seperti waktu pemimpin itu masih ada. Jadi semangat seperti apa yang seharusnya dimiliki orang Kristen?

1) Kunci pertama seharusnya seperti dalam Yoh. 15:5. Di luar Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tinggal di dalam Dia, maka ia berbuah banyak. Tidak mungkin orang yang tinggal dalam Dia tidak berbuah. Ini bicara relasi pribadi yang benar dengan Tuhan. Relasi dan kedekatan dengan Tuhan menghasilkan semangat. Ini tidak sama dengan kebatinan atau mistik. Relasi dengan Tuhan tandanya adalah punya kerinduan mau belajar firman. Firman seperti makanan dalam hidup kita. Tanda tanya besar jika kita mengaku punya relasi dengan Tuhan tetapi tidak mau membaca firman. Tidak mungkin orang yang dekat dengan Tuhan tidak merasa terganggu saat tidak baca firman satu hari saja. Pasti ada kehausan bagaikan rusa merindukan air. Mari mengevaluasi diri apakah dalam diri kita ada kerinduan membaca firman. Termasuk mahasiswa teologi dan hamba Tuhan. Orang yang memiliki relasi dengan Allah tidak mungkin hanya menyalahkan keadaan. Mereka tidak dipengaruhi lingkungan. Hidupnya hanya bergantung pada Allah. Jangan jadi orang Kristen yang selalu menyalahkan lingkungan. Jika kita punya relasi dengan Tuhan, mari mempengaruhi lingkungan dan menjadi berkat. Ini perjuangan kita.

2) Kita melihat dari 2Kor. 5:14. Kita punya semangat karena kasih Kristus, karena Kristus sudah mau mati bagi saya, maka saya mau percaya (trust) pada-Nya. Semangat kita bukan semangat egosentris yang hanya mau menyenangkan diri sendiri. Semangat yang benar adalah kita juga siap hidup dan mati bagi Kristus karena Kristus sudah mati bagi kita. Kita bukan sekedar percaya (believe), karena setan pun percaya (believe). Bahkan setan pun gemetar. Mungkin kita gemetar pun tidak. Seharusnya kita mempercayakan hidup kepada-Nya, artinya mau mati hidup bagi Siapa yang kita percaya. Inilah percaya yang seharusnya dimiliki orang Kristen sebagai orang yang sudah menerima anugerah Allah.  Mari kita berdoa supaya kita memiiki semangat yang benar kepada Kristus.

3) Kita melihat dalam Kis. 9:15-16, Gal.1:15-16. Rasul Paulus menyadari ia sudah dipanggil Tuhan sejak dalam kandungan. Maka semangatnya adalah sadar kita sudah dipanggil Tuhan. Kita diberi visi oleh Allah, hidup kita adalah untuk memberitakan firman. Jangan semangat hanya untuk cari uang saja, tetapi mari menyerahkan hidup mati kita bagi-Nya.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – Transkrip: BA&VD)

 

 
RocketTheme Joomla Templates