Ringkasan Khotbah - 04 Jul'10 PDF Print E-mail

 

1Yoh. 4: 7-21

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Saya sudah mengkotbahkan kasih beberapa kali. Kasihlah yang menjadi landasan bagi gereja Tuhan dalam menjalankan seluruh aktivitasnya. Firman Tuhan mengatakan bahwa tanpa kasih semua menjadi sia-sia. Kita boleh iat luar biasa tapi tanpa kasih semua menjadi tidak berguna. Memang gereja bisa bergerak, berjalan, mempunyai banyak kegiatan dan diikuti oleh banyak jemaat tetapi tanpa kasih yang benar. Kasih banyak yang sudah diselewengkan menjadi kasih yang egosentris, demi kepentingan diri sendiri. Itu namanya bukan kasih.

Misalnya jemaat dimotivasi untuk giat berdoa karena Tuhan mengasihi kita dan akan memberikan apa pun yang kita minta. Ini adalah kasih yang diselewengkan: bahwa Allah mengasihi demi kepentingan pribadi kita, Allah mau berkorban demi kepuasan dan kenikmatan diri kita sendiri.

Saya sudah menyatakan bahwa manusia sebagai gambar dan rupa Allah semua manusia memiliki kasih. Ini juga bahkan ditemukan dalam binatang, bahkan binatang buas sekalipun yang ganas tapi bisa mengasihi anak-anaknya. Memang binatang tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah tetapi karena ia diciptakan oleh Allah maka ia memiliki ciri dari hikmat Allah yang ergambar dalam ciptaan-Nya. Maka manusia yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah juga memiliki atribut-atribut Allah di antaranya kasih. Oleh sebab itu mereka yang berada di luar agama Kristen pun juga memiliki kasih.

Iman Kristen juga sangat menekankankan kasih. Akan tetapi kasih yang ditekankan juga harus merupakan wahyu dari Allah bukan kasih yang egosentris demi kepentingan diri sendiri. Sebaliknya kasih dari Allah sampai menggerakkan kita agar kita bisa mengasihi Allah. Jadi poinnya di sini. Kasih Allah bukan ditunjukkan dari hidup saya bisa selamat, enak, aman, sentosa dan bahagia. Sebaliknya kasih Allah yang sejati sampai menggerakkan saya sedemikian rupa sehingga saya dapat mengasihi Allah dengan benar. Inilah yang namanya kasih theosentris, berpusat kepada Allah dan bukannya kasih egosentris, berpusat pada kepentingan dan kenikmatan diri sendiri. Kasih thesoentris ini mendorong kita untuk mempersembahkan diri kita bagi Allah.

Saya yakin kasih semacam ini tidak banyak disenangi orang. Orang lebih senang “memperalat” Allah demi kesenangan dan kepentingan pribadi. Akan tetapi kasih Allah yang sejati akan mendorong saya menjadi hamba-Nya yang mau taat sepenuhnya pada Dia dan mempersembahkan diri kepada-Nya. Tuhan Yesus sudah memberikan ajaran yang sangat solid yaitu barangsiapa yang memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya, akan tetapi barangsiapa yang kehilangan nyawanya karena Dia akan memperolehnya kembali (Mat.10:39). Maka bagi orang Kristen kehilangan bukanlah rugi, kalau saya berkorban bukan berarti saya habis. Inilah kasih yang benar yang bukan egosentris, tetapi kasih yang mau mempersembahkan hidup bagi pekerjaan dan kemuliaan nama-Nya.

Sebetulnya aktivitas semacam ini adalah gejala umum yang nampak juga dalam kepercayaan-kepercayaan lain. Sebetulnya orang Kristen harus malu apabila ia tidak dapat mempersembahkan hidupnya bagi siapa yang ia percaya. Ada orang Buddha yang komitmen seumur hidup dan mengabdikan dirinya bagi agama Buddha sehingga ia menjadi orang yang menyendiri, tidak mau ikut hawa nafsu dunia, hidup membiara dan sebagainya. Dalam agama-agama lain ada juga yang menyerahkan hidup sepenuhnya bagi orang-orang yang ia percaya. Aneh sekali kalau ada orang lain yang bisa punya komitmen seperti ini tetapi orang Kristen sama sekali tidak punya komitmen. Aneh sekali kalau ada orang yang mengorbankan segala sesuatu demi yang ia percaya, tetapi orang Kristen sama sekali tidak memiliki semangat seperti ini. Kasih yang menggerakkan seharusnya membuat kita berkata kepada Tuhan untuk mempersembahkan hidup kita kepada-Nya.

Kasih Tuhan sendiri kepada kita sudah nyata: Ia mengorbankan anak-Nya yang tunggal bagi kita. Itu bukan mitos, tetapi kenyataan. Kenapa orang-orang di luar agama Kristen bisa mengorbankan diri begitu luar biasa padahal mereka tanpa kasih Kristus sedangkan kita yang memiliki kasih Kristus begitu sulit melakukannya? Biarlah kasih Kristus tidak menyuburkan keegoisan dan kepentingan diri kita tetapi mendorong kita untuk mempersembahkan hidup kita bagi pekerjaan pelayanan.

Mempersembahkan hidup bagi pekerjaan pelayanan bukan hal yang terlalu tinggi dan luar biasa. Ini bukan berarti saya harus sekolah Alkitab, jadi pendeta dan sepenuh waktu. Tidak ada keharusan seperti itu. Kalau ada boleh saja, akan tetapi pengorbanan bagi kemuliaan dan pekerjaan Tuhan itu sangat sederhana sekali. Mulailah dari hal yang sederhana yang bukan uslit sekali untuk dilakukan.

Sewatu saya bertobat dan benar-benar merasakan bagaimana Tuhan merubah hidup saya, saya ambil keputusan untuk komitmen ikut Tuhan. Waktu itu saya masih mahasiswa dan masih kuliah dan juga bergaul dengan banyak orang, lalu bagaimana aplikasi hidup saya dipersembahkan kepada Tuhan? Sederhana saja, sya mengajak teman-teman saya untuk mengadakan persekutuan dan berdoa bersama-sama serta belajar Firman Tuhan. Saya waktu itu bukan hamba Tuhan sepenuh waktu, saya kuliah di teknik elektro, tetapi saya mengaplikasikan hidup saya dengan menjangkau mereka dan membawanya ke rumah yang dikontrak waktu itu. Saya mengajak mereka untuk belajar dan berdoa bersama, meskipun waktu itu saya belum belajar baik-baik. Saya baca buku, dengar kaset kotbah dan saya bagikan meskipun waktu itu ajarannya juga belum beres. Tapi ada saemanagat untuk saya mau dipakai Tuhan menjadi berkat. Ini adalah wujud kasih yang sederhana saja dan tidak terlalu rumit. Apakah Saudara ada kerinduan seperti itu? Mau dipakai Tuhan menjadi berkat?

- BA

 

 
RocketTheme Joomla Templates