Ringkasan Khotbah - 13 Feb'11 PDF Print E-mail

Mati

Kolose 3:3-11

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Banyak orang Kristen yang masih salah memandang kematian. Ada yang menganggap tidak boleh ada kata mati yang terucap, misalnya dalam tradisi Tionghoa, karena dianggap bisa sial. Ada juga orang yang takut soal kematian: misalnya waktu tutup peti mati seluruh keluarga membelakangi peti mati karena takut sial. Kalau demikian, orang yang paling sial adalah tukang tutup peti matinya bukan?

Ada 5 poin yang mau saya sampaikan dalam Alkitab mengenai kematian:

Pertama, mati jasmani, ini bukan hal asing dalam hidup manusia. Kenyataannya setiap hari pasti ada orang mati. Coba lihat di Adi Jasa, pernahkah satu hari kosong sama sekali? Bahkan di seluruh dunia mungkin setiap detik ada orang mati. Jadi mati adalah sesuatu yang umum dan tidak asing. Tidak ada yang aneh tentang kematian. Kalau kita jarang mendengar kematian mungkin karena anggota keluarga kita tidak ada yang mati, tetapi ini terus terjadi di masyarakat. Ini menjadi penghiburan bahwa jika kita mati nanti kita tidak sendirian karena ada orang lain yang juga mati di tempat lain. Apalagi dalam Kristus, kita tidak perlu takut karena Tuhan Yesus sendiri yang akan menyambut kita.

Tetapi ini juga menjadi peringatan bagi kita: kita tidak hidup selama-lamanya di dalam dunia. Kematian bisa menjangkau setiap orang tanpa pandang usia meskipun masih muda sekalipun. Ada teman SMP saya yang mati mendadak karena tenggelam waktu di Bali. Bayi dalam kandungan, bayi yang lahir, atau anak berusia 5 tahun juga bisa mati. Semua umur orang bisa mati. Maka selagi ada hidup pergunakan hidup kita untuk melaksanakan apa yang Tuhan mau. Tuhan bukan menciptakan hidup kita dengan sia-sia lalu kita tidak perlu bertanggung jawab. Seperti pembuat handphone menciptakan handphone ada tujuannya, demikian juga kita yang diciptakan Tuhan ada tujuannya.

Kematian jasmani adalah proses alami yang sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci sejak manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:19). Dari debu kembali kepada debu. Ada orang yang bercanda atau menyindir orang yang sudah tua: sudah bau tanah. Tanda-tandanya: rambut sudah mulai putih, lalu mulai banyak penyakit: ginjal, jantung, paru-paru, dll. Tubuh semakin lemah. Dulu waktu muda kuat angkat barbel berapa kilo, tetapi jika sudah tua pertanyaannya: berapa gulamu, asam uratmu, tekanan darahmu? Mata saya yang pernah dioperasi sampai sekarang masih kacau. Mata kiri lihat jauh, mata kanan lihat dekat. Dulu saya ngomel kepada Tuhan mengapa begini? Tetapi saya diingatkan bahwa mata, ginjal jantung dan sebagainya diberikan oleh Tuhan  dan kita tidak pernah berterima kasih sampai itu semua diambil. Tuhan yang memberi, jika Ia mau mengambilnya itu hak Tuhan. Manusia yang makin tua pelan-pelan menyerahkan semuanya.

Kalau bisa memilih kita mau mati usia berapa? Makin panjang usia kita makin tersiksa. Itulah keadaan yang harus kita hadapi dalam hidup. Organ tubuh semua harus siap direlakan: dari debu kembali kepada debu. Akan tetapi orang yang percaya kepada Allah akan hidup bersama Bapa di dalam surga dalam kebahagiaan kekal.

Kedua, mati rohani. Alkitab menyebutkan istilah ini sebagai mati karena dosa atau mati dalam dosa atau dalam keberdosaan (Ef.2:1). Mati rohani bukan mati jasmani, sudah terjadi sejak jaman Adam dan Hawa (lihat peringatan Tuhan Kej.2:17). Perhatikan kata “pada hari engkau memakannya” padahal waktu makan buah itu Adam dan Hawa tidak langsung mati, yang terjadi adalah kematian hubungan manusia pertama dengan Allah. Hubungan itu tidak lagi harmonis. Mereka ketakutan. Orang semacam ini tidak bisa lagi melihat kebenaran yang datang dari Allah, mereka menolak dan tidak sanggup menerimanya. Dia buta rohani tidak merasa butuh Yesus Tuhan dan Juruselamat, merasa pecaya diri bisa hidup benar, bahkan tidak merasa diri berdosa. Orang semacam ini tetap tidak akan percaya meskipun diberitahukan soal Tuhan dan Juruselamat. Kalau bukan Tuhan yang mencelikkan mata rohani ia akan tetap buta. Ini putus hubungan dengan Tuhan. Ini dialami semua orang yang adalah keturunan Adam dan Hawa (Rm.5:15).  Oleh karena itu doktrin iman Kristen jelas mengajarkan bahwa kita sejak dari dalam kandungan sudah berdosa di hadapan Tuhan. Kita bukan berbuat dosa baru jadi orang berdosa tetapi sebaliknya karena kita orang berdosa maka kita berbuat dosa.

Meskipun kita tidak ikut-ikut dosa Adam dalam hidup sehari-haripun kita sudah berbuat dosa. Dosa bukan hanya bertindak negatif secara aktif, misal membunuh, mencuri dan berzinah. Kalau dosa hanya tindakan aktif, maka mereka yang tidak melakukan hal-hal tersebut akan merasa tidak pernah berdosa. Selain tindakan aktif, Tuhan Yesus mengatakan orang juga bisa berzinah dalam pikirannya (Mat. 5). Tapi lebih daripada itu dosa adalah tidak mampu memenuhi target yang Tuhan sudah berikan: misalnya saya harus rajin baca Alkitab tetapi saya malas maka saya sudah berdosa. Nyatanya ada orang yang nakal yang tanya pada gurunya apakah orang tidur itu dosa tidak? Perampok pun kalau tidur nggak berdosa. Tapi orang yang tidur pada jam kerja dosa tidak? Maka bisa tidak dalam satu tahun kita tidak berdosa? Tidak mungkin. Juga tidak mungkin dalam 1 bulan maupun 1 minggu bahkan dalam 1 hari sekalipun. Bahkan dalam 1 detik sekalipun.

Pengajaran Reformed klasik membuat saya mengerti bahwa saya tidak pernah dapat memenuhi target Allah secara sempurna tanpa cacat sama sekali. Kalau ada orang yang sharing bahwa sejak ia terima Tuhan Yesus ia tidak pernah ada kesombongan lagi, itulah kesombongannya. Apalagi kalau merasa diri cukup taat bahkan tidak ada dosa lagi. Kita semua orang berdosa. Orang yang di luar Kristus mati karena dosa, juga mereka yang masih di dalam kandungan.

Ketiga, kalau orang yang mati rohani ini tetap tidak mau menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya maka ia akan mengalami kematian ketiga: kematian kekal. Orang yang mati rohani masih bisa dihidupkan kalau ia menerima anugerah keselamatan, kalau tidak ia menerima hukuman kekal: mati kekal. Ini adalah perpisahan selama-lamanya dalam Allah yang sama sekali dihukum. Tentang hal ini John Stott memiliki pikiran yang agak aneh: kalau Allah itu penuh kasih tegakah Ia di surga menyiksa orang di neraka yang histeris berteriak sepanjang masa? Maka ia buat teori bahwa suatu saat neraka akan habis musnah sama sekali. Ini teori orang yang berlebihan menekankan kasih Allah.

Alkitab mengatakan bahwa Allah bukan hanya kasih tetapi juga adil yang akan menegakkan hukumannya, siksaan yang terus-menerus dalam kekekalan (lih. Yoh.3:18, orang yang tidak menerima Yesus dengan sendirinya berada dalam hukuman).

Keempat, ini berita sukacita: mati terhadap dosa atau mati bagi dosa. Ini bukan mati karena dosa. Maksud Alkitab adalah saya sudah dibebaskan dari hukum dosa. Saya tidak lagi di bawah kutukan dosa atau bebas dari perbudakan dosa (lih. Rm.6:2, keselamatan itu anugerah Allah dan kita adalah orang yang sudah mati bagi dosa maka tidak dapat lagi hidup sembarangan berdosa). Orang yang sudah bebas tidak mungkin lagi menikmati dosanya dan membenarkan diri dalam dosanya (Rm. 6:20-22, ada dua status: sebagai budak dosa, 20-21, buahnya adalah kematian; status kedua: merdeka dari dosa atau mati terhadap dosa, buahnya adalah menjadi hamba Allah, pengudusan, dan hidup yang kekal). Tadinya hidup kita bertentangan, tidak ada kaitan, bahkan tidak ada unsur kebenaran sama sekali. Hasilnya adalah kematian. Tetapi sekarang kita dimerdekakan dari dosa, dikuduskan dan beroleh hidup kekal. Dari diperbudak dosa jadi dimerdekakan dari dosa. Orang yang dicelikkan mata rohaninya oleh Tuhan akan mengatakan bahwa inilah kebenaran yang selama ini ia cari-cari dalam hidupnya (Ef.2:1, 4, 5).

Kelima, Kol.3:3 menyatakan tentang kematian terhadap dosa.  Tetapi dalam 3:5 ada hal yang unik, jika kita sudah mati terhadap dosa mengapa masih disuruh mematikan dalam diri kita semua yang duniawi? Ini karena ada dua status: secara de jure, status hukum kita sudah dibebaskan dari kutuk dan hukuman dosa, tapi secara de facto atau kenyataannya saudara dan saya masih orang berdosa. Orang yang di dalam Kristus memang sudah dibebaskan. Tapi kenyataannya kita masih egois, ada keakuan, ada dosa yang belum dibereskan dan yang harus dimatikan. Ini proses seumur hidup orang percaya, mematikan kedagingan.

Di sinilah Iblis bermain: ia membalikkan segalanya. Kita dianggap orang hebat, segala keinginan kita akan tercapai asal kita minta kepada Tuhan. Ini ajaran setan. Alkitab mengajarkan justru keakuan kita harus dihancurkan dan kita harus tunduk kepada Allah bukannya ngotot berdoa supaya Tuhan menuruti kita. Maka Teologi sukses adalah ajaran dari setan dan bukan dari Alkitab. Bukan kita jadi hamba tetapi jadi bos. Karena itu matikanlah hal itu dalam diri kita. Hal itu tidak pernah selesai dalam hidup kita. kalau kita mengaku hal ini sudah selesai maka hal itu pasti kepalsuan, kemunafikan dan kebohongan. Tapi juga jangan juga ekstrim sebaliknya: dosa disuburkan, keakuan dan kedagingan juga. Ini dua-duanya tipuan Iblis.

Kol.3:10 mengatakan bahwa kita telah diberikan manusia baru. Tapi manusia baru ini belum sempurna melainkan terus-menerus diperbaharui. Yang lama terus-menerus dimatikan sedangkan yang manusia baru terus-menerus diperbaharui. Mata rohani kita sudah dicelikkan, sudah kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tapi kita tidak bisa mengatakan saya sudah kenal, ya sudah. Pengenalan ini harus semakin ditingkatkan. Kita harus semakin mengenal Firman, jadi orang Kristen tidak mungkin berhenti belajar, tapi terus bertumbuh. Ini ciri orang yang sudah mati terhadap dosa. Akhirnya hidup kita boleh dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. Karena itu bersyukurlah kalau kita boleh diproses dalam kematian semacam ini.

Kapanpun kita mati bersyukurlah. Selama masih hidup, masih ada kesempatan. Mari  kita gunakan untuk sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kita semua sedang “antri” menuju kematian. Namun yang harus kita pikirkan adalah: sekarang saya masih hidup dan saya terpanggil untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Hidup sementara ini bukan hampa, tak bernilai, tapi bernilai kekal.

Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – Transkrip: BA.

 

 
RocketTheme Joomla Templates