Ringkasan Khotbah - 23 Jan'11 PDF Print E-mail

Persembahan yang hidup

Kel.7:16a, Rm. 6:12-14, Rm. 12:1-2

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir adalah suatu tipologi / gambaran tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupan orang percaya. Mesir menggambarkan kuasa kematian, dosa dan kegelapan. Lalu Tuhan melepaskan bangsa Israel, mereka mengalami kehidupan. Mereka tidak lagi hidup dalam kegelapan tetapi mereka dibawa kepada terang, tidak lagi hidup dalam perbudakan tetapi mereka menjadi umat Tuhan. Dalam kitab Keluaran, tujuan bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan Mesir adalah supaya mereka beribadah kepada Tuhan. Kata ‘agar mereka beribadah kepada Tuhan’ paling tidak muncul 9 kali dalam kitab Keluaran. Kata ini dicatat berulang-ulang. Mereka beribadah di padang gurun sebelum masuk ke tanah Perjanjian. Ini menggambarkan bahwa hidup kita dalam dunia bersifat sementara dan mengikuti pimpinan Tuhan, kelak kita akan masuk ke tanah Perjanjian. Kita belum masuk ke surga kekal, kita masih ada dalam dunia dan mempunyai tujuan. Tujuan kita bukan hanya sekedar menunggu surga seperti orang yang membeli tiket nonton bioskop menunggu kapan boleh masuk. Kita bukan lepas untuk sekedar santai menunggu, tetapi kita dilepaskan untuk beribadah kepada Tuhan.

Ibadah berarti sujud menyembah, khususnya kepada mereka yang punya otoritas lebih tinggi (bahkan sampai kepalanya tunduk sampai ke tanah). Dulu orang Israel harus tunduk pada Firaun, setelah mereka dilepaskan mereka harus tunduk pada Tuhan yang sudah melepaskan mereka. Hidup kekristenan kita pun seperti itu. Kita sudah dilepaskan dari dosa maka hidup kita adalah untuk beribadah kepada-Nya dan pasti kita tidak akan terlalu menikmati ‘padang gurun’ lagi sampai akhirnya kita masuk ke ‘tanah Perjanjian’. Dalam kasus bangsa Israel, kadang-kadang tiang api berhenti di satu tempat cukup lama, kadang mereka harus bergerak cepat. Tetapi kapan pun tiang api tiang awan itu bergerak, kadang cepat kadang lambat, mereka harus ikut. Ini adalah perjalanan yang bersifat temporer, bukan untuk selama-lamanya. Demikian juga kita. Kita tidak hidup selama-lamanya di dunia ini, tetapi kita punya tujuan ke tanah Perjanjian dan apa yang kita kerjakan mempunyai nilai kekal.

Dilepaskannya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir juga memiliki pengertian: Tuhan tidak menunggu bangsa Israel taat dulu baru dilepaskan, tetapi mereka dilepaskan dari perbudakan dulu baru diberikan taurat untuk mereka taati (10 perintah Allah). Tuhan tidak menyuruh kita untuk berbuat baik dulu baru diselamatkan, tetapi Tuhan menyelamatkan kita dulu baru Ia menuntut ketaatan kita. Anugerah Allah mendahului respon kita. Inisiator pertama adalah Allah. Kita yang berada dalam kasih karunia itu kemudian ditarik untuk meresponi-Nya. Dalam hal ini, kekristenan berbeda dengan semua pengertian agama lain. Agama lain menuntut perbuatan supaya dapat diselamatkan. Tetapi kita dilepaskan dari dosa dahulu baru dituntut untuk taat.

Jika kita keliru mengerti hal ini, hidup kita tidak dapat memuliakan Tuhan. Dalam Rm.12:1,2 Paulus mengatakan, ‘demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu’. Setelah kita menyadari bahwa kita sudah ditebus, kita harus hidup bagi Tuhan. Karena Tuhan sudah menebus kita, karena Tuhan sudah berbelas kasihan pada kita, karena itulah kita diminta oleh Paulus untuk mempersembahkan tubuh. Kata menasihatkan lebih tepat diterjemahkan sebagai mendesak (urge). Hal ini begitu penting.

‘Mempersembahkan tubuh’ di sini bukan berarti kita diajar untuk dualisme oleh Paulus. Roh dan tubuh adalah kesatuan dalam pemikiran Ibrani berdasarkan firman Tuhan. Di luar agama Kristen, antara tubuh dan roh seringkali terjadi hal y ang ekstrim. Ajaran Plato mengatakan bahwa roh itu baik dan materi jahat. Implikasinya adalah tubuh itu tidak ada gunanya. Maka kita lihat adanya pertapaan, meditasi, dsb. Ada juga kelompok gnostik yang menganggap tubuh itu jahat. Mereka mengejar pengetahuan dan jika sudah memperoleh pengetahuan tersebut mereka merasa lebih rohani dari orang lain. Hal ini juga dapat berdampak orang berpikir bahwa Yesus itu bukan manusia dan hanya Tuhan saja atau bukan Tuhan hanya manusia saja. Tetapi Alkitab mengatakan Kristus adalah 100% manusia dan 100% Tuhan. Kelompok yang menganggap tubuh itu jahat lebih suka hal-hal yang bersifat transenden yang tidak ada hubungannya dengan urusan kehidupan sehari-hari.

Memang tidak semua hal dalam dunia ini baik, tetapi tubuh itu sendiri tidaklah jahat. Tuhan mengatakan semua ciptaaan-Nya sungguh amat baik. Tidak pernah dikatakan tubuh itu jahat. Tetapi kemudian kita mengalami kejahatan dan fungsi tubuh yang semakin merosot. Itu semua karena dosa. Tubuh kita pada mulanya adalah baik. Umur manusia sekarang tidak lebih dari 120 tahun. Fungsi tubuh kita makin lama makin menurun. Pikiran kita pun mungkin makin pikun. Tetapi meskipun jasmani kita makin merosot, rasul Paulus mengatakan mereka yang sudah berada dalam Tuhan rohnya dibaharui sehari lepas sehari. Kelemahan tubuh tidak menghalangi kita untuk mempersembahkan tubuh bagi kemuliaan Tuhan. Tubuh kita memang merosot tetapi bukan berarti jahat. Dalam pengakuan iman rasuli kita percaya akan ada kebangkitan tubuh. Kita akan diberikan tubuh kemuliaan yang baru. Tubuh dapat kita pakai untuk memuliakan Tuhan dan tubuh menjadi sarana jiwa kita untuk mengekspresikan diri. Waktu kita bersyukur pada Tuhan kita menyanyi, ini menggunakan tubuh. Tubuh menjadi sarana mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita. Ada orang-orang yang antara hati di dalam dan ekpresi di luar berbeda, misalnya para aktor dan aktris. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi frustrasi.

Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “aku punya dua hukum dalam diriku. Aku tahu ada sesuatu yang baik tetapi dagingku punya hukum lain yang mau melawan Tuhan” (Rm.7). Apakah kita punya pengalaman seperti ini? Kita ingin mentaati Tuhan tetapi ada kuasa dosa yang lain dalam tubuh kita. Paulus melanjutkan, “aku ini manusia celaka, siapakah yang dapat melepaskan aku? Syukur kepada Allah karena Kristus boleh melepaskan aku dari kuasa dosa”. Karena itu kita yang sudah ditebus Kristus jangan lagi menyerahkan setiap anggota tubuh kita untuk melakukan dosa. Ini bukan pergumulan yang mudah. Ini pergumulan seumur hidup. Kita sudah tidak lagi diikat oleh kuasa dosa. Tetapi berapa besar kuasa dosa yang masih tersisa dalam daging kita? Kita harus jujur, besar. Masih ada sisa kuasa dosa dalam diri kita (the remaining power of sin). Jangan pikir kebiasaan-kebiasaan berdosa kita yang lama akan hilang begitu saja. Tidak! Paulus mengatakan kita harus mematikannya. Ini perang setiap hari! Sebagai manusia baru, kenakanlah manusia baru berjuang melawan iblis.

Dalam Alkitab, orang yang dicatat paling berkenan kepada Tuhan hanya satu, yaitu Daud. Daud adalah seorang gembala yang mencintai domba-dombanya dan berani menghadapi Goliat dengan penuh iman. Daud juga begitu taat pada firman Tuhan, ia tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan yaitu Saul. Ia menunggu waktu Tuhan untuk menjadikannya raja. Tetapi ternyata masih ada sisa kuasa dosa dalam diri Daud. Daud melihat wanita telanjang yang sedang mandi dan hasratnya timbul. Padahal wanita itu adalah istri dari pasukan pengawal Daud yang paling dekat dengannya yaitu Uria, orang Het. Ini pagar makan tanaman. Kemudian Natan menegur Daud dengan begitu keras.

Ini menunjukkan mempersembahkan tubuh bukan sesuatu hal yang mudah. Setelah kita dilahir barukan selalu ada kuasa yang ingin melawan dalam diri kita, kecuali kita terus-menerus berpegang pada firman Tuhan. Berulang kali Yusuf  digoda oleh istri Potifar tetapi ia mengatakan, “bagaimana mungkin aku di hadapan Tuhan melakukan dosa yang begitu besar ini.” Yusuf mengalahkan tubuh.

Jangan kita menjadi orang-orang yang membuang tubuh dengan cara-cara menyiksa diri dan sebagainya, tetapi jangan juga kita menjadi orang-orang yang menikmati tubuh sepuas-puasnya sambil berbuat dosa. Ada orang yang sengaja melukai diri sendiri karena merasa tubuh tidak penting, tetapi ada juga orang yang memuaskan hawa nafsunya dengan liar karena menganggap tubuh itu segala-galanya. Ada orang yang berpikir kerohanian adalah baik sedangkan yang lain tidak. Tetapi orang-orang seperti ini justru mengkhawatirkan. Orang seperti ini melayani dari hari Senin sampai Minggu dan dianggap rohani. Padahal ia melakukannya karena di rumah ribut terus dengan istrinya. Gereja menjadi suaka baginya dari pertengkaran di rumah. Hati-hati dengan jebakan-jebakan agama yaitu apa yang kelihatan di luar. Apa yang kelihatan tidak menjamin apa yang ada di dalam. Tetapi Paulus mengatakan, tubuh harus menjadi sarana mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita. Tubuh kita tidak dirancang untuk berbohong.

Paulus mengatakan kita harus mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Apa itu persembahan yang hidup? Ada beberapa tafsiran. Ada yang mengatakan waktu belum percaya Kristus, roh kita yang mati dihidupkan oleh Tuhan lalu dengan tubuh itu kita persembahkan kepada Tuhan. Tetapi tafsiran yang lebih tepat adalah seluruh aspek hidup kita dipersembahkan pada Tuhan. Seorang hamba Tuhan mengatakan ada satu masalah saat kita mempersembahkan korban yang hidup yaitu karena ia hidup, kadang-kadang ia bisa merangkak turun dari mezbah. Mungkin itu yang terjadi dengan kita. Senin sampai Sabtu kita ‘merangkak turun’ dari mezbah.

Worship (ibadah) bukan hanya waktu kita menyanyi dan merasa syahdu. Itu sentimental. Ibadah adalah mencakup seluruh hidup kita. Karena itu waktu Paulus mengatakan kalimat ini pasti berupa satu pergumulan. Kita harus berpikir waktu mau mempersembahkan sesuatu pada Tuhan. Apa itu yang terbaik? Kita harus pikir baik-baik! Pekerjaan macam apa yang Tuhan ingin kita lakukan?  Ibadah yang sejati maksudnya adalah ibadah yang reasonable, artinya menggunakan pikiran. Mungkin kita sering menyanyi tanpa sungguh-sungguh memuji Tuhan dalam hati kita. Waktu kita berpikir artinya ada usaha, harus belajar. Ini bukan sesuatu yang mudah.

Waktu kita menyembah Tuhan, apa yang kita lakukan? Contoh: waktu ibadah hari Minggu, apakah kita datang terlambat? Sementara waktu kita ada rapat penting atau naik pesawat, apakah kita terlambat? Waktu kita mempersembahkan uang persembahan, apakah kita mempersiapkannya dari rumah? Jika kita mengatakan ‘yang di luar tidak penting, yang penting hatinya’ maka kita terjebak lagi. Dua-duanya penting. Apa yang di luar harus mencerminkan apa yang di dalam.

Persembahan yang kudus bukan berarti hanya tidak berdosa saja tetapi artinya dipisahkan, dikhususkan dan tidak boleh dipakai untuk yang lain lagi. Dapatkah kita mengkhususkan seluruh anggota tubuh kita untuk Tuhan? Ini pergumulan. Emas yang sudah dijadikan peralatan Bait Suci tidak boleh dipakai untuk yang lain lagi. Mempersembahkan tubuh artinya kita bukan hidup untuk diri sendiri lagi.

Demi kemurahan Allah, Paulus mendesak kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan akal budi. Menjadi tidak serupa dengan dunia adalah sesuatu yang sulit, karena kita hidup dalam dunia. Semua prinsip yang menentang Tuhan ada di dalam dunia. Waktu kita menonton film, kita melihat seks dan kekerasan menjadi bagian di dalamnya. Lalu kita nonton dan menyetujuinya. Kita harus berubah! Perubahan yang paling sulit adalah perubahan pikiran. Kita mau merubah kebiasaan orang lain dari luar itu sangat mudah. Cukup ditekan maka seseorang akan berubah. Tetapi itu tidak berarti ia mengalami perubahan pikiran. Jika pikiran belum berubah, kita dapat melakukan dosa di mana saja. Tunggu pengawasnya sudah tidak ada maka kita akan segera melakukan dosa. Perubahan pikiran adalah hal yang paling sulit. Kalau bukan kuasa Tuhan yang merubah kita, kita tidak mungkin berubah. Pikiran begitu jahat. Amsal mengatakan jagalah hati (pikiran)mu dengan segala kewaspadaan, dari situlah terpancar kehidupan.

Perubahan akal budi bukan sesuatu yang sekali jadi. Perubahan pikiran adalah hal yang dapat membuat kita tidak sama seperti dunia. Kata yang dipakai adalah metamorfe. Berarti ada proses. Kita harus baca Alkitab, ikut STRIS, ikut Seminar, baca buku yang penting, untuk mengubah pikiran kita di dalam. Tanpa perubahan pikiran, apa yang kelihatan di luar akan menjadi sesuatu yang bersifat begitu fenomenal. John Piper mengatakan, ‘semua kebajikan kita di luar tanpa pengenalan akan Kristus adalah dosa.’ Karena hal ini lepas dari Pencipta-Nya. Agama kita bukan agama perbuatan, tetapi agama demi kemurahan Allah. Kita perlu belajar firman Tuhan supaya dapat mengetahui mana kehendak Allah, yang baik, dan yang sempurna menurut Allah. Tanpa hal ini kita akan menilai segala sesuatu hanya dari apa yang kelihatan di luar saja.

Hal ini tidak dapat kita lakukan sendiri. Karena itulah gereja menyediakan berbagai wadah dan sarana untuk kita bertumbuh bersama. Perubahan pikiran membutuhkan proses terus-menerus. Kita harus minta supaya bisa melihat kemurahan Allah. Kita harus membaca dan memikirkan firman Tuhan terus-menerus, tidak ada jalan lain. Tetapi kita tidak sendirian, Allah Roh Kudus menyertai kita.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – VP)

 

 
RocketTheme Joomla Templates