Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 19 Mei 2013 PDF Print E-mail

Pentakosta

Kis.2:1-13

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Hari ini adalah hari Pentakosta. Pasal 2 dari Kisah Para rasul memberikan 3 kunci penting yaitu: kepenuhan Roh Kudus; karya penginjilan dalam gereja; dan komunitas atau gereja di antara orang percaya. Ketiga hal inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Tuhan Yesus berjanji akan memberikan Roh Kudus dan itu terjadi pada perayaan orang Yahudi yang penting ini, Pentakosta, hari ke-50 yang dihitung setelah Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus. Pentaskosta merupakan 1 dari 3 hari raya besar yang dirayakan oleh orang Yahudi Kel.23:14-17.

Pentakosta diselenggarakan pada akhir panen jelai dan panen gandum baru mau mulai. Lalu orang Israel membawa buah pertama dari panen gandum dipersembahkan kepada Tuhan dan itu merupakan jaminan bahwa ada panen susulan. Inilah yang dipakai menjadi peristiwa pemberitaan Injil di seluruh dunia. Demikian juga peristiwa turunnya Roh Kudus yang menghasilkan buah sulung pertobatan 3000 orang memastikan bahwa akan ada “panen” jiwa-jiwa yang menyusul dalam pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Sekarang di seluruh dunia kurang lebih ada sekitar 1 milyar orang Kristen!

Kita tidak tahu berapa murid Tuhan yang berkumpul pada hari Pentakosta itu, tafsiran yang umum dipakai sampai sekarang dari John Chrysostom, adalah sekitar 120 orang. Dalam Kis.1:8 Tuhan Yesus menjanjikan kuasa untuk menjadi saksi Tuhan dari Roh Kudus saat Ia turun. Maka ini menjadi suatu prinsip bahwa sebelum kita melayani Tuhan, sebesar atau sekecil apapun pelayanan itu, kita perlu minta kuasa dari Tuhan. Maka adalah kebiasaan yang baik jikalau sebelum mulai ibadah para penatalayan berdoa terlebih dahulu. Bahkan kita seharusnya mempersiapkan hati kita seumur hidup untuk melayani Tuhan dalam waktu yang tidak diduga-duga. Kita perlu membiarkan diri kita dikuasai dan dipenuhi Roh Kudus. Pentakosta menjadi hari para murid diberi kuasa untuk menjadi saksi Tuhan dalam memberitakan Injil. Apakah selama sekian lama kita menjadi orang Kristen kita pernah memberitakan Injil? Jikalau belum mungkin masalahnya adalah kita belum pernah berdoa meminta kuasa itu.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 12 Mei 2013 PDF Print E-mail

Iman adalah Dasar dan Bukti dari Segala Sesuatu

Ibr. 11:13-16, 32-40

Pdt. Andi Halim, M. Th.

Dalam agama Kristen ada sebagian orang yang mengajarkan bahwa kita memerlukan bukti agar iman kita makin teguh. Banyak orang membutuhkan penglihatan atau pengalaman sebagai bukti imannya. Iman sejati bukan seperti yang diajarkan oleh kelompok teologia sukses yang mengatakan bahwa iman itu butuh bukti-bukti. Teologia sukses mengidentikkan iman dengan keyakinan, sugesti diri, positive thinking, atau kepastian bahwa apa yang kita mau bisa kita dapatkan. Alkitab mengatakan bahwa hal-hal tersebut salah. Meski demikian, iman Kristen bukan sama sekali tanpa bukti. Tuhan memberikan bukti bagi iman orang-orang pilihan-Nya. Apakah bukti tersebut?
1. Janji Allah itu sendiri (Rm.17).
2. Iman itu sendiri (Ibr.11:1).
3. Bukti yang sudah Tuhan nyatakan dalam sejarah (Yoh.3:16).

Dalam Roma 17 dijelaskan secara gamblang dari mana iman itu berasal yaitu dari pendengaran akan firman Kristus. Jika iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan berarti orang Kristen perlu mengerti dan belajar firman Tuhan. Iman seharusnya berarti percaya kepada firman dan janji-Nya. Sekarang, bagaimana pengertian kita akan janji Tuhan? Jika pengertian kita akan firman dan janji Tuhan keliru maka iman kita juga akan keliru. Karena itu diperlukan pembelajaran akan firman yang benar.

Dalam Ibrani 11:13 tercatat banyak orang beriman tidak memperoleh apa yang dijanjikan. Namun dalam ayat 39 dikatakan bahwa meskipun mereka tidak memperoleh apa yang dijanjikan mereka tetap beriman. Teologi Reformed tidak setuju dengan ajaran bahwa iman memerlukan bukti, meskipun bukan berarti iman tidak ada bukti sama sekali. Umumnya bukti yang diinginkan manusia adalah bukti yang konkrit dan dapat dialami. Namun iman adalah percaya kepada bukti yang diberikan Allah yaitu janji Allah sendiri. Janji manusia bisa saja tidak ditepati tetapi tidak demikian dengan janji Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 21 April 2013 PDF Print E-mail

Kasih Kristus Sebagai Dasar Relasi dengan Sesama

Ef 5:22-33

Ev. Bakti Anugrah

Salah satu bukti bahwa kita dipenuhi oleh Roh Kudus adalah saling merendahkan diri seorang dengan yang lain dalam takut akan Kristus (Ef 5:21). Selanjutnya Rasul Paulus kemudian menjelaskan perendahan diri ini dalam 3 relasi yaitu suami–istri, orangtua–anak, dan tuan–hamba.

Relasi manusia memiliki dasarnya pada Allah Tritunggal. Dia Esa tetapi punya 3 pribadi yaitu Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini saling mengasihi, karena Allah adalah kasih (1Yoh.4:8). Allah kita adalah Allah yang cukup pada diri-Nya sendiri dan tidak memerlukan ciptaan untuk menyatakan kasih-Nya. Ia saling mengasihi pada diri-Nya sendiri. Kita sebagai ciptaan bisa berelasi karena dasarnya ada pada relasi antara Allah Tritunggal yaitu karena Allah adalah kasih sehingga kita saling mengasihi satu dengan yang lain.

Dalam Ef 5:22-33, Rasul Paulus menjelaskan mengenai hubungan antara suami dengan istri. Penjelasan Rasul Paulus dimulai dengan menjabarkan kewajiban istri (ay 22-24), kewajiban suami (ay 25-30), kunci relasi hubungan suami istri adalah hubungan Kristus dengan jemaat (ay 31-32), dan diakhiri dengan ringkasan (ay 33). Kewajiban suami dijabarkan lebih panjang dibandingkan kewajiban istri. Tuntutan kepada suami dalam bagian ini lebih besar dibandingkan tuntutan kepada istri.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 05 Mei 2013 PDF Print E-mail

Iman & Depresi Rohani (6)

Roma 4:3,9,18; 22-25.

Pdt. Andi Halim, M. Th.

Manusia tidak luput dari depresi dan tekanan berat termasuk orang beriman. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi depresi? Apakah iman itu?

Pertama, banyak orang menganggap konsep iman di Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama dianggap masa hukum Taurat sehingga orang yang mau diselamatkan harus mentaatinya. Sedangkan Perjanjian Baru dianggap masa anugerah karena keselamatan bukan diperoleh karena melakukan hukum Taurat melainkan karena iman dan kasih karunia Allah. Konsep ini salah. Dalam Perjanjian Lama pun orang yang dipilih Allah adalah orang yang berorientasi pada iman. Kita dapat melihat tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang berorientasi pada iman dalam Ibrani 11.

Prinsip/konsep iman dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama adalah sama yaitu bahwa manusia tidak dibenarkan melalui perbuatannya tetapi karena iman. Apakah bedanya Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru? Dalam Perjanjian Lama Kristus belum datang dan menggenapi hukum Taurat sedangkan di Perjanjian Baru Ia sudah datang dan menggenapi hukum Taurat. Taurat diberikan bukan karena kita bisa menaatinya tetapi supaya kita mengenal dosa. Tanpa Taurat kita tidak akan sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa.

Rm. 3:20 memberikan esensi dari pengertian mengapa Taurat diberikan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Orang-orang di Perjanjian Lama juga sadar bahwa dirinya tidak bisa menaati Taurat. Hukum Taurat menjadi kutuk karena semakin kita berorientasi pada Taurat semakin nyata bahwa kita berdosa dan tidak mampu, kecuali jika kita menipu diri atau munafik. Jadi baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru prinsipnya adalah bahwa kita dibenarkan/ diselamatkan karena kita beriman kepada Sang Juruselamat yaitu Yesus Kristus Tuhan kita.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 28 April 2013 PDF Print E-mail

Eksposisi Surat 1 Petrus: Warisan yang tidak dapat binasa

1Ptr. 1:3-4

Ev. Calvin Renata, M.Div.

Pada ayat ke-4 ini Petrus memberikan alasan kedua kenapa Bapa melahirbarukan kita. Selain supaya kita mempunyai pengharapan yang hidup dalam Kristus, kita dilahirbarukan supaya kita mendapat bagian yang sudah disediakan bagi kita di surga. Kata bagian dalam ayat ini berarti warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu.

Dalam semua kebudayaan manusia, manusia selalu mengajarkan tentang warisan, baik warisan fisik atau kebudayaan / tradisi. Alkitab juga membicarakan mengenai warisan di Perjanjian Lama, yaitu pada saat Tuhan berjanji kepada Abraham untuk memberikan tanah perjanjian bagi Abraham dan keturunannya.

Pada saat bangsa Israel sudah memasuki tanah perjanjian, di bawah kepemimpinan Yosua, mereka mulai membuang undi untuk membagi tanah perjanjian tersebut. Tanah perjanjian dibagi kepada semua suku Israel kecuali suku Lewi. Suku Lewi bertindak sebagai imam bagi semua suku.
Tuhan tidak hanya memberikan warisan fisik tetapi juga memberitahukan cara mengelola warisan tersebut. Dalam Perjanjian Lama salah satu fungsi hukum Taurat adalah sebagai hukum masyarakat. Hukum Taurat juga mengatur bagaimana mengelola tanah perjanjian yang sudah diberikan Tuhan. Tuhan begitu mendetail dalam mendidik bangsa Israel.

Read more...
 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Page 11 of 49
RocketTheme Joomla Templates