Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 24 November 2013 PDF Print E-mail

Kristus Sang Penebus

Eksposisi 1Ptr.1:18-19

Ev. Calvin Renata

Pada bagian sebelumnya Petrus telah menjelaskan dalam suratnya di 1Ptr.1:15-17 bahwa Allah yang kita sembah adalah hakim yang adil. Petrus juga mengatakan bahwa kita harus takut kepada Allah. Mengapa kita harus gentar? Alasan mengapa kita harus takut akan Tuhan dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya, ay.18-19. Bagi Petrus penebusan yang telah dilakukan oleh Kristus menjadi alasan mengapa kita harus hidup takut akan Tuhan. 

Istilah penebusan yang dipakai di dalam Alkitab berasal dari bahasa Yunani adalah Lutron. Kata Lutron ini memiliki dua unsur, yang pertama adalah legal atau bersifat hukum dan yang kedua ada transaksi di dalamnya. Jadi dalam sebuah penebusan kedua hal ini harus ada karena sebuah penebusan itu bersifat hukum atau resmi dan ada dua pihak yang saling bertransaksi di dalamnya. Di dalam Alkitab istilah ini tidak hanya dipakai oleh Petrus tetapi juga Paulus dalam surat 1Kor.6:20 & 1Kor.7:23 juga memakai bahasa transaksional. Maka di dalam penebusan selalu ada nilai atau harga yang dibayarkan.

Satu hal yang menjadi pertanyaan kita adalah kita ini ditebus dari siapa atau apa? Ketika budak-budak dibawa dan hendak dijual ke pasar, orang-orang yang lewat ingin membelinya di sana maka terjadilah transaksi itu. Jika dalam transaksi itu terjadi kesepakatan maka budak itu menjadi milik tuannya untuk seumur hidupnya. Namun Alkitab juga mengatakan bahwa kita sudah ditebus, kita sudah lunas, tetapi kita ditebus dari siapa? Pertanyaan ini sudah dipikirkan oleh bapak-bapak gereja ribuan tahun yang lalu. Bapak-bapak Gereja seperti Origen, Gregory of Nyssa, dan Ambrosius memiliki penafsiran juga pandangan yang sama tentang penebusan ini yaitu Ransom to satan atau penebusan kepada setan. Pandangan ini mengajarkan demikian, bahwa objek kematian Kristus di atas kayu salib tidak lain ditujukan kepada setan sebagai ganti harga supaya umat pilihan sekarang diberikan dan dilepaskan dari setan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 17 November 2013 PDF Print E-mail

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 23

Pdt. Liem Kok Han

Banyak orang hidup dalam masa Perjanjian Lama tetapi hanya segelintir yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam kitab Kejadian dicatat seorang tokoh yang bernama Henokh. Umur orang-orang yang hidup pada masa itu paling lama hingga 900 tahun. Namun Henokh, sejak berumur 65 tahun dicatat ia hidup bergaul dengan Tuhan. Ia memiliki relasi yang intim dengan Tuhan dibandingkan dengan orang-orang pada jamannya. Ia bergaul erat dengan Tuhan sampa tiga ratus tahun lamanya, lalu Henokh diangkat oleh Tuhan ke surga. Banyak juga tokoh dalam Perjanjian Lama yang memiliki intimasi yang begitu erat dengan Tuhan, termasuk Nuh yang dipilih untuk diselamatkan dari murka Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Nuh adalah orang yang bergaul erat dengan Tuhan.

Di dalam hidup manusia waktu dibagi menjadi 2 macam, yaitu Kronos dan Kairos. Kronos adalah sebuah waktu yang berurutan, yaitu jam 1, jam 2, jam 3, dst. Sedangkan Kairos yaitu momen-momen hidup yang membentuk suatu cerita atau sejarah yang punya makna di dalamnya, contoh: momen saat pertama kita jatuh cinta. Lalu apa implikasinya bagi hidup kita? Tatkala kita mengalami kairos-kairos itu kita bisa mengoreksi diri kita, apakah kita mengalami intervensi Tuhan dalam hidup kita atau justru sebaliknya. Saat kita menengok ke belakang yang diceritakan seharusnya bukanlah tentang kita, tetapi Tuhan.

Dulunya Daud hanya sebagai seorang gembala yang menggembalakan kawanan domba. Namun sekarang Daud menjadi seorang raja. Ini semua adalah berkat yang Tuhan atur. Daud mengatakan dalam Mazmur 23 bahwa Tuhanlah gembala yang memimpinnya sampai pada posisinya sekarang. Ketika Daud menjadi seorang raja, ia tetap tahu diri dan tidak melupakan Tuhan. Suatu penggambaran yang amat berbeda dengan orang-orang pada umumnya, yang pada waktu Tuhan memberi berkat melimpah mereka melupakan-Nya dan waktu Tuhan tidak memberi berkat mereka mengutuki-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 27 Oktober 2013 PDF Print E-mail

Takut Akan Tuhan

Eksposisi 1 Ptr 1:13-17

Ev. Calvin Renata

Di dalam ayat 13 sampai dengan ayat 16 Rasul Petrus memberikan 2 nasihat penting untuk pembaca surat ini, yaitu: 1. Supaya mereka meletakkan pengharapannya kepada Kristus. 2. Supaya hidup kudus karena Tuhan itu kudus. Para pembaca surat 1 Petrus ini kebanyakan adalah orang Gentile (orang yang bukan asli orang Yahudi). Mereka tidak pernah mengenal sejarah Israel ataupun membaca kitab-kitab Perjanjian Lama. Jadi 2 nasihat ini merupakan titik balik bagi mereka dengan berbalik kepada Allah yang Kudus dari dosa.

Eksposisi kali ini akan diarahkan pada ayat 17, yaitu mengenai sikap takut kepada Tuhan. Petrus memperkenalkan diri Allah kepada pembaca suratnya bahwa Allah yang mereka kenal boleh mereka panggil Bapa. Hal ini merupakan hal yang sangat asing sekali bagi mereka. Karena tidak ada dewa dalam ajaran Yunani ataupun Romawi Kuno (Helenistik) yang disembah yang boleh dipanggil dengan sebutan Bapa. Hal ini adalah hal unik yang hanya dimiliki oleh orang Kristen, karena dalam ajaran agama yang lain tuhan tidak dipanggil dengan sebutan bapa.

Petrus pernah menyinggung hal ini dalam pasal 1 ayat 3 bahwa Bapalah yang melahir barukan kita sehingga kita sekarang disebut sebagai anak-anak Allah. Dalam ayat 17 Petrus menegaskan kembali jika kita memanggil Allah dengan sebutan Bapa kita harus juga memiliki hidup yang takut kepada Bapa. Apa itu hidup yang takut kepada Bapa? Kata ‘takut’ memiliki beberapa arti, ada takut yang bersifat negatif, yaitu takut di mana seseorang mengalami ancaman ataupun melihat sesuatu yang menyeramkan. Ada juga takut yang bersifat positif, yaitu ketakutan yang didasarkan kepada suatu pribadi yang memiliki otoritas dalam pengertian hormat. Jadi, takut kita kepada Bapa tidak lain adalah takut dalam pengertian positif. Bukan karena kita takut lalu kita tidak mau dekat dengan Tuhan, bukan juga karena kita takut lalu kita tidak mau berjumpa dengan Tuhan. Tetapi inilah yang Petrus maksudkan yaitu kita takut akan Tuhan sehingga kita menjadi hormat akan Tuhan. Kita menempatkan Allah di dalam posisi-Nya, kita menempatkan Allah di dalam status-Nya. Ketika kita membaca kitab Amsal dan Mazmur di sana banyak tertulis bagi kita untuk takut kepada Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 13 Oktober 2013 PDF Print E-mail

Eksposisi kitab Mazmur 46

Ev. Gito T. Wicaksono

Sekarang kita akan membuka sebuah kitab yang menjadi tema dari lagu nomor kedua yang tadi kita nyanyikan. Lagu nomor kedua “Allah jadi Benteng Kukuh” diambil dari Mazmur 46. Mazmur ini dikenal dengan sebagai mazmurnya Martin Luther. Ini bukan berarti Martin Luther yang menciptakan Mazmur ini, tetapi karena lagu tadi “Allah jadi Benteng Kukuh” secara prinsip diambil dari Mazmur 46 walaupun ia bahasakan ulang dalam bahasa Jerman, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa-bahasa lainnya. Mazmur ini bukan ditulis oleh Daud tetapi oleh bani Korah. Korah di sini berbeda dengan Korah dalam kitab lainnya. Jadi, intinya Daud memiliki banyak musisi, salah satunya bani Korah. Dengan lagu Alamot secara harafiah artinya suara gadis, yaitu suara tinggi. Seperti waktu kita menyaksikan pertandingan sepak bola kita berteriak tinggi ketika pemain mencetak gol. Ekspresi dalam diri kita tidak pernah diajarkan oleh siapapun tetapi secara otomatis bisa muncul dalam kondisi tertentu. Ekspresi kita diberikan oleh Tuhan agar kita tahu tempat di mana kita harus takut yaitu takut kepada Tuhan.

Mazmur ini bersifat proklamasi dan kita tahu bahwa proklamasi melambangkan suatu keteguhan/ kekukuhan. Mazmur ini adalah suatu penghiburan, namun penghiburan yang realistis. Mengapa demikian? Karena Mazmur ini menceritakan tentang bagaimana dunia ini tidak bersahabat dengan kita, bahkan beritikad menghancurkan kita. Mazmur ini memiliki suatu nada yang optimis namun realisits. Isi yang terkandung dalam Mazmur ini berat atau susah kita tanggung, namun realistis.

Mazmur ini menggambarkan dua prinsip yang saling bertentangan namun satu kesatuan (paradoks), yaitu Allah sebagai tempat perlindungan. Jika kita melihat suatu tempat pasti yang tergambar dalam pikiran kita adalah sifat statis atau tak bergerak. Namun Allah sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Hal ini menjelaskan bahwa Allah itu dinamis. Jadi yang benar yang mana dari antara dua hal ini? Pertanyaannya yang salah. Allah itu statis, namun dinamis. Ketika kita dilanda berbagai macam kesusahan Allahlah tempat perlindungan serta kekuatan kita, namun Tuhan juga mau menolong kita dalam kesesakan. Beberapa orang berpendapat bahwa kita pasrah saja akan keadaan yang ada, seperti lagu Que sera sera, mau terjadi seperti apa itu semua adalah kehendak Tuhan, karena Allah juga tidak bisa mengubah rencana-Nya. Sedangkan pendapat yang lain berkata bahwa Allah tidak lain seumpama seorang pelupa yang harus kita ingatkan terus dengan doa-doa kita. Benarkah doa kita bisa mengubah Tuhan? Banyak orang berdoa berlama-lama hanya agar kehendak Tuhan dirubah, namun semakin panjang doa kita semakin membuat Tuhan sakit hati karena kita sering kali bukan berdoa kepada Allah tetapi mendoakan Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 03 November 2013 PDF Print E-mail

Totalitas Hidup Mengikut Kristus

Lukas 14:25-35

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Totalitas mengikut Kristus seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang tidak benar dan berlebihan. Seringkali orang yang mengikut Tuhan sepenuh hatinya dianggap ekstrim. Buku yang ditulis oleh Michael Greene yang berjudul Ambillah Aku Melayani Engkau justru menjelaskan bahwa kita harus fanatik dan memiliki sikap hidup yang total dalam mengikut Kristus. Dalam Alkitab tidak tertulis “jadilah orang Kristen yang ala kadarnya atau biasa-biasa saja” tetapi justru di dalam Alkitab banyak contoh hidup orang yang total dalam mengikut Tuhan.

Banyak juga contoh di sekitar kita di mana orang yang kehidupan keluarga, perusahaan, serta apapun yang menjadi tanggung jawabnya berantakan dengan alasan karena ia total dalam mengikut Tuhan. Hal ini adalah sebuah pergumulan dalam mengikut Tuhan. Kita harus total dalam mengikut Tuhan tetapi tugas dan tanggung jawab hidup sehari-hari juga tetap harus dikerjakan.

Tuhan Yesus juga tidak pernah mengajarkan untuk meninggalkan semua tugas yang kita miliki. Kita tetap harus mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya. Ini bukan berarti kita meninggalkan tugas dan aspek lain dalam kehidupan kita melainkan justru bertanggung jawab dalam memenuhinya.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 7 of 50
RocketTheme Joomla Templates