Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 15 Ags'10 PDF Print E-mail

 

Air Hidup

Yoh.4: 1-26

Ev.Bakti Anugrah, M.A.

Apa yang dilakukan oleh Kristus kepada perempuan Samaria ini adalah sesuatu yang bertentangan bahkan sangat melampaui jaman-Nya. Di masa itu perempuan tidak dihargai. Seorang pria tidak akan berbicara kepada perempuan asing di depan umum, kesaksian seorang perempuan di pengadilan juga tidak akan diterima karena dianggap tidak sah. Di masa kini di mana timbul gerakan feminisme sebagai bentuk perlawanan atas dominasi pria, apa yang dilakukan Kristus di sini juga sangat luar biasa. Saat ini muncul isu kesetaraan gender yang bahkan sampai tidak suka apabila ada wanita yang masih menggunakan nama keluarga yang nota bene adalah nama ayahnya. Bahkan juga sudah muncul gereja yang mempopulerkan doa Ibu Kami (melawan doa Bapa Kami) sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya patriarkhal. Akan tetapi di tempat ini dan di berbagai bagian lain justru Tuhan kita Yesus Kristus menunjukkan penghargaan yang sangat besar kepada kaum perempuan: Maria diijinkan mengurapi kaki-Nya di Bethania sebagai persiapan penguburan-Nya; selain itu Ia juga menampakkan diri waktu kebangkitan-Nya dari orang mati pertama-tama kepada perempuan! Dua hak istimewa ini bahkan tidak diberikan kepada para murid-Nya yang adalah laki-laki.

Peristiwa percakapan dengan perempuan ini dimulai dengan menyingkirnya Yesus dari Yudea ke Galilea karena Ia sadar bahwa popularitas-Nya telah menimbulkan keresahan di kalangan para ahli Taurat dan orang Yahudi yang akan menyulitkan misi-Nya untuk mengabarkan Kerajaan Allah. Dalam perjalanan-Nya Tuhan sengaja melintasi daerah Samaria. Ini juga bukan merupakan satu hal yang wajar. Samaria dianggap sebagai tempat orang kafir, bahkan dianggap seperti anjing oleh orang-orang Yahudi. Ini pertama karena pada masa pecahnya Israel menjadi dua kerajaan yaitu kerajaan Israel di utara dan Yehuda di selatan maka Samaria yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Israel utara itu mulai suatu ibadah baru yang menyembah berhala di bawah pemerintahan Yerobeam. Selain itu pada masa pembuangan masih ada orang-orang Israel yang tertinggal di Samaria yang kawin campur dengan bangsa-bangsa asing dan menyembah Allah mereka sehingga mereka dianggap sebagai orang-orang yang sudah tidak murni lagi keyahudiannya karena darahnya sudah bercampur.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Ags'10 PDF Print E-mail

 

Gereja untuk Apa?

Ef.1:1-14

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Ayat 1. Orang-orang kudus bukan orang yang sama sekali tidak ada cacatnya. Di dunia ini semua orang berdosa, tanpa kecuali, temasuk bunda Maria, santo-santa dan sebagainya, kecuali Yesus Kristus karena Dia bukan hanya orang tetapi juga Allah yang menjadi manusia. Hanya Dia satu-satunya yang tanpa dosa. Semua manusia yang lahir dalam Adam sudah berdosa. Jadi kalau ada orang, gereja, atau ajaran tertentu yang mengatakan bahwa si A dan si B atau orang-orang khusus yang tidak berdosa maka saya mau tanya apakah ia lahir dari keturunan Adam dan Hawa atau tidak? Kalau iya ia pasti berdosa. Kristus perkecualian karena Ia bukan dari keturunan Adam dan Hawa. Memang Ia punya silsilah, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Maria mengandung karena Roh Kudus. Ini bolak balik disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli bukan?

Jadi apa yang dimaksudkan di sini dengan orang-orang kudus? Jawabannya sangat jelas: orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Jadi orang-orang kudus di sini adalah mereka yang percaya dalam Kristus Yesus, yang sudah dikuduskan dalam darah-Nya. Jadi dia kudus bukan dari hasil perbuatan dan kehebatan dia yang berdosa. Kudus karena dia sudah dikuduskan dalam darah Yesus. Harap ini menjadi jelas dalam konteks ajaran Reformed yang selalu mau kembali kepada ajaran Alkitab. Maka saya berani menegaskan bahwa kalau ada gereja yang menegaskan bahwa ada orang yang mampu menjaga hidupnya tanpa dosa sehingga ia disebut orang suci sama sekali tidak Alkitabiah dan tidak setia pada prinsip Kitab Suci. Orang kudus adalah orang yang sudah percaya pada Kristus.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 Ags'10 PDF Print E-mail

 

1Pet.5:1-4; Yeh.34:1-6; Yoh.10:11

Pdt. DR. Stephen Tong

Yesus mengatakan ada dua macam orang yang melayani Tuhan, yang semacam adalah gembala yang lainnya adalah orang upahan. Gembala mengasihi domba-domba tetapi orang upahan mencintai uang. Apakah hamba Tuhan juga terbagi menjadi dua kelompok ini: ada yang mengasihi gereja dan ada yang mengasihi uang yang ia dapat dari gereja? Hati gembala ada pada domba-dombanya: kesehatan mereka, sakit-penyakit mereka, kelancaran dan bahaya yang mereka hadapi. Inilah hal-hal yang ia pikirkan.

Tetapi tidak demikian dengan orang-orang upahan. Mereka berpikir kalau saya memelihara mereka berapa uang yang saya dapatkan? Kalau aku tidak mendapatkan apa-apa maka aku tinggalkan mereka. Pada waktu seorang gembala melihat singa dan serigala datang maka mereka kuatir dan taku kalau binatang-binatang yang mereka pelihara ini dimakan binatang buas. Tetapi tidak demikian dengan orang upahan, waktu mereka melihat serigala dan singa datang mereka berpikir bahwa upah yang mereka terima itu tidak sebanding dengan nyawa yang harus mereka berikan. Sebab itulah mereka akan lari.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 25 Jul'10 PDF Print E-mail

 

Filipi 2:5-8

Ev. Gito T.Wicaksono

‘Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama’ di ayat ini berarti kita sebagai individu tetapi hidup dalam komunitas. Kita memiliki banyak perbedaan tetapi kita harus memiliki satu pikiran. Ini yang digaungkan oleh rasul Paulus. Pikiran dan perasaan di sini dalam terjemahan bahasa Inggris hanya satu kata yaitu attitude, sikap. Biarlah kita memiliki satu sikap yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Inilah yang harus terjadi dalam hidup kita. Hendaklah kamu dalam hidupmu memiliki satu pikiran berarti harus ada kesamaan pikiran di antara kita. Pikiran itu adalah berpikir dengan pola pikir Kristus, bukan dengan pikiran kita karena pola pikir kita arahnya berbeda, apalagi kita manusia berdosa.

Apa maksudnya pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus? (Ayat 6) Walaupun Ia adalah Allah tetapi Ia rela menjadi manusia dan tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan atau dipamer-pamerkan. Dahulu jika orang menang perang akan memamerkan barang rampasannya. Ini bukan seperti barang rampasan yang dipamerkan. Tetapi inilah hasrat Kristus yang paling dalam. Dalam kamus Webster, dalam penerbitan awalnya kata passion diartikan sebagai pengorbanan Kristus. Seperti film The Passion of The Christ. Passion itu adalah pengorbanan tetapi sekaligus berarti gairah. Titik gairah Allah adalah menyelamatkan manusia. Ini sungguh menyakitkan. Ia harus menyerahkan Anak-Nya. Sedangkan kita memiliki passion untuk apa? Jika seorang atlet passion-nya adalah piala, seorang pengusaha passion-nya adalah keuntungan. Tetapi sadarkah kita gairah Allah adalah memberikan Anak-Nya? Sampai Sang Anak mengatakan ‘Eli Eli Lama Sabakhtani’. Ini demi cinta Allah yang begitu besar pada manusia. Jika passion kita bukanlah gairah dalam Kristus, dalam penderitaan-Nya, maka kita pasti berada dalam kekeliruan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 18 Jul'10 PDF Print E-mail

Luk.5:31-32

“Gereja buat Siapa?”

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Seringkali saat kita mengajak orang datang ke gereja alasannya bermacam-macam. Biasanya ada yang mengatakan nanti saja, saya belum saatnya ke gereja. Dia merasa masih tidak layak, tidak pantas ke gereja. Nanti kalau sudah merasa cukup layak baru mau ke gereja. Ini adalah jawaban penolakan halus, berbeda dengan orang yang terang-terangan menolak ke gereja karena berbeda kepercayaan. Lain halnya dengan mereka yang separuh Kristen atau Kristen KTP yang penolakannya lebih halus: saya masih ada dosa, tidak layak dan sebagainya.

Konsep seperti ini seringkali dipengaruhi konsep-konsep lain. Tunggu sampai kapan? Sampai saya layak. Jadi dia berpikir dia baru ke gereja kalau dia sudah layak atau pantas. Lebih lagi kalau dia berpikir gereja itu hanya untuk orang suci, orang baik-baik dan dia merasa dirinya bukan orang baik. Maka pikirannya kalau mau ke gereja harus benar-benar sudah suci dan pantas. Sebaliknya ada juga orang yang memikirkan yang negatif: gereja kelihatannya saja penuh orang suci dan pantas tapi banyak juga orang munafik yang hanya bisa omong saja. Saling munafik, sok suci, sok rohani dan berpura-pura tapi wajahnya penuh dengan kasih. Ini menyakitkan dan tidak enak didengar. Apakah saya di sini orang suci, orang yang layak dan pantas? Apakah kita semua di sini yang datang ke sini adalah orang yang layak dan pantas?

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 39 of 51
RocketTheme Joomla Templates