Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 23 Okt'11 PDF Print E-mail

Saling Mengasihi

Yoh.15: 9-17

Ev. Jadi S.Lima, M.Div, M.A. (Phil.)

Bagian ini adalah perintah yang sangat sentral dalam kehidupan orang Kristen yaitu saling mengasihi. Sebelum Yesus naik ke atas kayu salib Ia berpesan pada murid-murid-Nya. Pesan ini kemudian menjadi identitas orang Kristen, yaitu orang-orang yang saling mengasihi. Kita diperintahkan untuk menjadi kudus karena berkaitan dengan Allah kita yang Kudus. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal dan Roh Kudus untuk menguduskan kita. Kudus berarti kita menjadi murni, setia kepada Tuhan, sejati di hadapan Tuhan. Kudus berarti tidak mendua hati. Perintah untuk saling mengasihi dalam Injil dikaitkan dengan Sepuluh Perintah Allah. Ada seorang yang bertanya apa inti dari Torah, hukum Allah? Yesus menjawab, “Hendaklah engkau mengasihi Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap tubuhmu, hatimu, jiwamu dan kasihilah orang lain seperti dirimu sendiri.” Ini adalah dua perintah yang di dalamnya tergantung seluruh perintah Allah.

Agustinus dengan radikal dan sangat berani mengatakan, “Jika engkau terus bertanya kehendak Tuhan apa, apakah ini boleh atau tidak, maka kasihilah dan lakukan yang engkau mau. Allah pasti berkenan.” Tetapi masalahnya mengasihi seperti yang Allah mau itu seperti apa? Jika kita memakai kriteria kasih seperti kriteria orang-orang zaman ini, atau kriteria kasih seperti yang Shakespeare pikir maka kasih seperti itu tidak ada norma, hanya perasaan di mana orang-orang menebak-nebak apakah ia sudah mengasihi atau belum. Hal ini dapat menjadi berbahaya. Berapa banyak orang dari negara Barat yang tadinya sangat menjaga seksualitas kemudian mengalami perubahan luar biasa sekitar tahun 1960-an? Misalnya: pada tahun 1940–50an, jika seorang anak gadis tidur dengan pacarnya merupakan hal yang sangat keterlaluan. Namun revolusi tahun 1960-an membuat itu dianggap menjadi hal yang biasa. Apa yang menyebabkan semua ini bergeser? Salah satunya adalah anggapan yang mengatakan bahwa jika ada cinta maka tidak ada yang salah. Tentu ini adalah konsep cinta yang keliru dan bukan apa yang dimaksudkan oleh Agustinus waktu ia mengatakan “kasihilah dan lakukan yang kau mau” karena Agustinus hidup jauh sebelum Shakespeare, sebelum gerakan Romantisisme. Agustinus sedang ingin mengatakan sentralitas kasih seperti yang Yesus ajarkan. Perintah untuk mengasihi Allah adalah satu tulang punggung, benang merah dari keseluruhan yang kita kerjakan. Allah ingin kita mengasihi Dia dan mengasihi satu sama lain. Seperti apa Allah menghendaki kita mengasihi Dia? Kita mengasihi Dia dengan segenap keberadaan kita, sebagai yang tunggal dan tidak ada yang lain. Lalu seberapa jauh Allah menghendaki kita saling mengasihi? Seperti kita sedang mengasihi diri kita sendiri sebab tidak ada orang yang membenci dirinya sendiri. Inilah perintah Allah pada Musa yang kemudian Yesus tegaskan pada murid-murid-Nya.

Perintah saling mengasihi berhubungan dengan perintah bagi umat Allah untuk menjaga kekudusan. Perintah untuk kita hidup kudus adalah perintah untuk menjaga kemurnian hati kita dan ini adalah parafrase untuk mengatakan perintah mengasihi Allah. Mengasihi Allah dengan segenap hati sama dengan menjaga kekudusan hati kita, menjaga hati kita hanya menjadi tempat Allah bertakhta saja.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 9 Okt'11 PDF Print E-mail

Doa yang dijawab dalam pergumuluan

Mat.21:22, Mat.20:20-28

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Bagian yang kita baca adalah mengenai permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes. Apa motivasi dari permintaan ini? Ada indikasi yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus mengenai permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes dan anak-anaknya ini. Apa yang mereka minta sebenarnya adalah hal yang bagus karena mereka memikirkan masa depan. Kebanyakan orang berdoa untuk meminta hal-hal yang sekarang sedangkan Ibu anak-anak Zebedeus ini memiliki permintaan yang jauh ke depan. Ia minta supaya kelak kedua anaknya boleh duduk dalam kerajaan Allah seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri. Tuhan Yesus menjawab bahwa mereka tidak mengerti apa yang mereka minta. Apakah waktu berdoa kita mengharapkan jawaban? Apakah kita berharap Tuhan mengabulkan apa yang kita minta seperti yang diharapkan Ibu anak-anak Zebedeus ini? Ternyata jawaban Tuhan berbeda dengan apa yang diharapkan.

Jika kita hanya melihat Mat.21:22 maka kesannya memang Tuhan pasti memberikan jawaban atas apa yang kita minta dengan penuh percaya. Waktu berdoa kita sering terfokus pada jawabannya. Contoh: Jika sepasang suami istri sudah lama tidak memiliki anak dan berdoa minta anak maka jelas mereka berharap jawabannya adalah Tuhan memberikan anak. Namun ternyata fokus doa bukanlah jawabannya. Lalu apa poinnya berdoa? Orang yang hanya terfokus pada jawaban sesungguhnya tidak mengerti esensi doa. Jika demikian maka seseorang baru akan rajin berdoa jika doanya dijawab, jika tidak maka menjadi malas berdoa.

Lalu apa arti doa? Penekanan yang pertama adalah relasi (hubungan) yang indah, yang harmonis. Inilah esensi doa. Contoh: Ada seorang anak meminta es krim kepada ibunya. Kemudian saat itu juga ayahnya datang. Karena begitu senang atas kedatangan ayahnya si anak langsung melupakan es krim tersebut. Kehadiran sang ayah lebih dari segala-galanya. Begitu pula relasi kita dengan Bapa lebih dari segala-galanya. Bukan jawabannya. Doa yang hanya mengharapkan jawaban dari Tuhan dan tidak mempedulikan relasi dengan Tuhan berarti ada sesuatu yang tidak beres. Relasi berarti ada komunikasi, ada hubungan, kedekatan dan kehidupan. Kita tidak dapat berelasi dengan patung dan benda mati. Allah kita bukan patung. Allah kita adalah Allah yang hidup, yang nyata, dan berelasi dengan kita. Bukan berarti relasi kita dengan Allah adalah relasi yang mistik dimana kita dapat secara sembarangan berbicara dengan Dia. Allah kita bukan barang murahan. Allah begitu mulia, kudus dan berelasi.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 2 Okt'11 PDF Print E-mail

Berhala

1Yoh.5:21, Ul.6:4-15

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Bagaimana seharusnya kita waspada terhadap berhala? Apa itu berhala? Dalam Perjanjian Lama berhala itu umumnya adalah hal-hal yang disembah oleh bangsa kafir dan itu disebut allah orang kafir. Berhala dapat berupa patung-patung yang disembah. Godaan bagi bangsa Israel adalah membuat patung seperti yang dilakukan bangsa lain. Seperti yang terjadi pada waktu Musa naik ke gunung untuk menerima 10 hukum Allah kemudian bangsa Israel membuat patung lembu dan menyembahnya. Dalam kamus Alkitab berhala artinya tuhan yang palsu atau salah atau gambaran-gambaran tentang allah kafir (a false god atau the image on hidden god). Pengertian berhala juga dapat berarti sesuatu yang menggantikan Allah.

Kemudian kita mengatakan diri kita tidak memiliki berhala. Kita berpikir berhala hanya dimiliki oleh orang-orang zaman Perjanjian Lama. Begitu juga orang Farisi dan ahli Taurat, mereka sudah merasa menyembah Allah yang benar. Namun Yesus menegaskan jika Bapa mereka adalah Allah Yahweh maka mereka tidak mungkin menolak-Nya. Jika bapa mereka adalah Abraham maka tidak mungkin mereka mau membunuh-Nya. Yesus berkata bapa mereka adalah iblis. Ternyata menyembah allah yang keliru adalah sama dengan menyembah berhala. Bangsa Israel berpikir sudah menyembah allah yang benar ternyata masih memiliki berhala. Bagaimana dengan kita? Apakah allah yang kita sembah benar-benar Allah atau kita masih menyembah allah menurut gambaran kita sendiri?

Alkitab begitu serius bicara mengenai berhala (Kel.23:24). Allah menegaskan supaya kita memusnahkan berhala tanpa tersisa berarti Tuhan tidak ingin ada berhala sedikit pun dalam hidup kita. Mungkin sebagai orang Reformed kita tidak lagi memikirkan soal berhala ini karena kita terlena dengan pengajaran-pengajaran yang membuai kita, misalnya: Allah tidak dipengaruhi oleh kondisi kita, Allah begitu berbelaskasihan terhadap kita orang berdosa. Hal ini membuat kita berlindung dan mengasihani diri. Seringkali pengajaran Reformed menjadi pelindung bagi kita untuk tetap menikmati dosa. Hal ini tidak benar! Tuhan ingin kita lepas sama sekali dari semua berhala. Setiap kita pasti masih punya berhala. Mungkin kita tidak memakai patung atau jimat-jimat tetapi hal lainnya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 18 Sep'11 PDF Print E-mail

Perlunya Gereja Reformed Injili Indonesia di Zaman ini dan Melakukan Pekerjaan Allah

Yoh.6:28-29

Pdt. DR. Stephen Tong

Mengapa kita membutuhkan Gereja Reformed Injili Indonesia? Karena iman Kristen sudah semakin menyimpang dari kebenaran. Sampai tahun 1850 terjadi suatu gerakan yang sangat mengerikan, yaitu Higher Criticism yang mulai mengritik Alkitab, tidak percaya firman, menyangkal mujizat Tuhan, bahkan tidak percaya Yesus dilahirkan oleh anak dara Maria. Christian Ferdinand Baur membawa pengajaran liberal itu ke dalam pengajaran teologi. Disusul oleh Wellhausen, kemudian Adolf Von Harnack, William Herman, dll. Lambat laut orang-orang yang tidak percaya mempengaruhi gereja di Denmark. Terjadi pergolakan luar biasa di Swiss. Pada waktu perang dunia I, Karl Barth bangkit untuk menenangkan aksi ini. Namun sayang Karl Barth jatuh ke Historical Criticism untuk mengritik Alkitab. Dengan demikian gereja tidak sungguh-sungguh kembali pada pengajaran Ortodoks.

Kira-kira 10 tahun setelah perang dunia I berakhir, gereja di Eropa mulai merosot dan memberi pengaruh pada gereja di Amerika. Sampai abad ke-20, orang Kristen di Amerika tidak lagi bisa mendengarkan Injil yang sejati dari mimbar gereja. Orang Kristen yang asal-asalan tetap ikut dalam gereja. Namun orang yang sungguh-sungguh mau mempertahankan ajaran gereja yang ortodoks justru meninggalkan gereja saat itu. Mereka mulai mendirikan Bible Church. Tapi 20 tahun kemudian gereja-gereja seperti ini tidak dapat lagi mendapat pendeta seperti yang mereka inginkan. Kemudian mereka mulai berpikir untuk mendirikan sekolah Alkitab karena banyak gereja yang semakin menyadari kebutuhan akan hamba Tuhan ini. Namun Bible Church dan Bible College Movement secara mutu mulai merosot karena tidak mendapatkan dosen-dosen berkualitas. Sampai di pertengahan abad ke-20, orang-orang Injili mulai menemukan bahwa mereka membutuhkan Injil. Namun mereka perlu ditunjang dengan pengertian firman yang limpah. Itu sebabnya orang-orang Kristen mulai studi di seminari yang lebih tinggi. Lalu timbullah New Evangelical Movement. Saat itu gereja-gereja di Amerika terbagi menjadi dua denominasi besar. Pertama, gereja Injili yang percaya Alkitab adalah firman Allah, Kristus adalah Juruselamat, dan memegang iman kepercayaan yang ortodoks. Kedua, gereja yang hanya memedulikan persatuan gereja tanpa memperhatikan pengajaran yang benar.

Gereja-gereja di Eropa memasuki era yang lebih mengerikan lagi. Baik sekolah theologi, pendeta, dosen, menerima honor dari pemerintah. Dengan demikian mereka tidak perlu susah payah memberitakan Injil tetapi tetap mendapatkan honor, hidup melimpah. Pengisian rohani terhadap jemaat makin miskin. Ditambah lagi komunisme yang muncul di Eropa. Mereka sengaja mengirimkan orang untuk sekolah theologi. Sesudah lulus mereka bisa beroleh kedudukan di gereja. Kesulitan-kesulitan ini sulit disadari oleh pemimpin-pemimpin gereja dan orang-orang Kristen saat itu. Misionari yang dikirim dari dunia barat ke timur kebanyakan intelektualnya agak rendah. Dengan demikian gereja-gereja di timur masih bisa mempertahankan iman kepercayaannya tetapi tidak dapat memberi pengaruh di tengah kaum intelektual.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 11 Sep'11 PDF Print E-mail

Berdoa – bagian ketiga

1Yoh.5:13-21

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita sudah belajar bagaimana berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan untuk memuaskan hawa nafsu kita. Kita diajar untuk tunduk kepada Allah di dalam doa. Doa seperti ini menuntut penyangkalan diri. Doa semacam ini tidak disukai oleh banyak orang karena hawa nafsunya bukan dipuaskan melainkan disangkal. Namun sebagai anak Tuhan semangat kita dalam berdoa harus dikuduskan.

Sebenarnya kebahagiaan yang paling sejati adalah disaat kita mengikuti jalan Tuhan. Menyangkal diri dan memikul salib adalah kebahagiaan sejati yang melampaui kenikmatan harta duniawi dan hal-hal spektakuler lainnya. Tujuan hidup manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati hidup bersama dengan Allah. Orang yang memuliakan Tuhan adalah orang yang memiliki kenikmatan tertinggi dibandingkan dengan kenikmatan apapun dalam dunia. Kita adalah manusia rohani yang ditempatkan di tengah-tengah dunia. Sebagai anak Allah pasti akan banyak konflik dan masalah karena dunia mempunyai nilai sendiri. Anak Allah diutus Tuhan dengan nilai-nilai yang bukan dari dunia. Oleh karena itu panggilan kita adalah bagaimana membawa nilai-nilai surgawi di tengah nilai dunia. Inilah panggilan kita menjadi murid Kristus.

1Yoh.5 bicara mengenai status sebagai orang percaya. Kita sebagai orang percaya mempunyai status yang istimewa. Kita adalah orang biasa yang memiliki status luar biasa. Kita tidak dapat sombong. Kita adalah orang yang patut dibinasakan namun diberikan status luar biasa. Status itu kita peroleh bukan karena kebaikan kita tetapi karena anugerah Tuhan. Bagaikan seorang teroris yang tidak layak kemudian diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Kita tidak pantas menjadi anak Allah namun kita diangkat menjadi anak Allah. Harusnya hal ini membuat kita menjadi orang yang tahu berterimakasih pada Allah. Rasa terima kasih itu bukan sekedar datang ke gereja setiap minggu tetapi bagaimana keseriusan kita dalam mencari kehendak Tuhan dalam hidup. Orang yang mengutamakan kehendak Allah adalah orang yang serius mencari apa kehendak Allah.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 39 of 62
RocketTheme Joomla Templates