Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 24 Jan'10 PDF Print E-mail

 

Matius 28:16-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Seringkali kita sebagai orang Kristen lupa bahwa kita mempunyai status sebagai murid. Hal yang sering kita ingat adalah kita sudah diselamatkan, punya warisan hidup yang kekal, warisan kerajaan surga dan berkat-berkat yang saya terima, tetapi melupakan status murid. Ciri khas seorang murid adalah ia harus belajar. Karena itu dalam gerakan Reformed kita terus diberikan sarana untuk belajar. Untuk apa seminar, STRIS, perpustakaan, KKR, dan berbagai kegiatan lainnya? Adalah supaya orang Kristen bisa belajar. Hal ini harus kita ingat terus-menerus. Kecenderungan kita adalah malas. Kita lebih senang bersantai-santai dan memikirkan kesenangan sendiri tanpa memikirkan tanggung jawab yang Tuhan percayakan pada kita, yaitu menjadi murid. Kita hanya mau menjadi anak. Menjadi anak hanya menunggu hadiah dari sang Ayah dan jika sudah besar nanti mendapat warisan. Tetapi jangan lupa, anak ini pun wajib taat pada orang tua. Anak harus menghormati dan melaksanakan apa yang orang tua ajarkan dan perintahkan. Tidak ada rumus enak-enakan bagi orang Kristen.

Jika kita melihat zaman Reformasi, orang-orang Kristen dididik untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan, bekerja keras. Mengapa kerja keras hanya untuk cari uang? Kita harus memiliki hidup yang berintegritas, hidup yang menyatu dengan kebenaran. Herannya, yang mati-matian mau berjuang bukanlah orang Kristen, misalnya orang Komunis. Semboyan mereka adalah ‘manusia hidup untuk bekerja dan bekerja untuk hidup’. Itu bukan semboyan kita. Tetapi bukan berarti kita boleh malas. Hidup kita adalah bagi Tuhan. Dengan demikian kita seharusnya bekerja lebih keras. Mana yang lebih bernilai, hidup untuk bekerja atau hidup untuk Tuhan? Kerja keras untuk Tuhan tidak selalu diterjemahkan menjadi pendeta atau hal-hal yang bersifat gerejawi, tetapi dalam konsep integritas. Artinya segala yang Tuhan percayakan pada kita, kita kerjakan dengan keras, termasuk keluarga, pekerjaan, hal-hal gerejawi dan seluruh aspek hidup kita. Mana waktu yang lebih banyak kita gunakan? Untuk membaca koran, menonton TV, atau membaca Alkitab? Jawabannya seringkali memprihatinkan. Kita belajar Alkitab bukan untuk kepuasan diri, bukan hanya memuaskan rasio, tetapi untuk mengajar orang lain, menjadi murid yang memuridkan. Ada gereja yang hanya menekankan perasaan, tetapi gereja kita menuntut pikiran, Firman yang bermutu. Namun keduanya sama jika hanya untuk kepuasan diri sendiri. Kapan kita menjadi murid Kristus yang siap mengajar dan menjadi saluran berkat bagi orang lain? Karena itulah kita harus diperlengkapi terlebih dahulu.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 17 Jan'10 PDF Print E-mail

 

Roma 12:1-8

Ev. Gito T. Wicaksono.

Banyak di antara kita yang menggunakan kacamata. Apa merk kacamata yang kita pakai? Ada satu merk kacamata yang sangat murah tetapi bagus,  yaitu merk grace. Jika kita memakai kacamata ini, hidup kita pasti berubah. Berbeda jika kita pakai kacamata merk lain. Misalnya jelaous (iri) / suffering (penderitaan) maka kita mulai melihat segala sesuatu begitu menderita / boasting (sombong) maka kita akan melihat orang lain lebih kecil dari kita dan hanya saya yang hebat. Maka Alkitab mengatakan supaya kita mengenakan kacamata merk Anugerah karena hidup kita tidak pernah lepas dari anugerah. Tidak ada satu hal pun yang bukan anugerah Allah, termasuk hal-hal yang menyakitkan. Allah sedang mendidik kita melalui hal yang tidak menyenangkan. Jika kita mengerti hal ini, setelah kita diselamatkan hidup kita pasti akan melayani. Hidup kita harus berpusat pada Kristus. Kita pun harus menyampaikan berita keselamatan ini pada orang lain.

Roma 12:1-8 dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, relasi kita dengan Tuhan. Kedua, relasi kita dengan diri sendiri (ayat 3).Ketiga, relasi kita dengan sesama (ayat 4-8). Dalam apa yang kita kerjakan di dunia ini hanya terbagi dalam tiga bagian ini.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 10 Jan'10 PDF Print E-mail


1 Yoh. 4: 7-21

Pdt. Andi Halim, S. Th

Apakah keunikan orang Kristen? Apakah yang tidak korupsi hanya orang Kristen? Yang setia pada pasangannya hanya orang Kristen? Jikalau Alkitab mengatakan bahwa siapa yang mengasihi berada di dalam Allah maka berarti semua orang yang bukan Kristen yang memiliki kasih juga berada di dalam Allah. Inilah penafsiran yang dangkal dari orang-orang liberal yang akhirnya menyimpulkan bahwa keselamatan bukan hanya milik orang Kristen saja tetapi juga pemeluk agama lain.

Kasih memang adalah naluri yang dimiliki baik manusia maupun binatang. Tapi apa keunikan kasih Kristen? Nyatanya orang Kristen juga ada yang berjinah dan jatuh ke dalam dosa. Ada yang memiliki masalah keuangan, masalah rumah tangga dan macam-macam. Orang Kristen bisa taat, bisa jatuh demikian juga pemeluk agama lain.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 03 Jan'10 PDF Print E-mail

 

1 Korintus 13:1–7 ; 1Yoh 4:9-10

Pdt. Andi Halim S.Th.

Kasih adalah hal yang paling mendasar yang seringkali kita lupakan, atau kalau pun ingat kita seringkali tidak melakukannya. Kasih bukanlah hal yang asing bagi kita. Bukan hanya orang Kristen yang mengajarkannya tetapi juga kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama lainnya. Orang atheis dan bahkan binatang buas sekalipun juga mengasihi anak-anaknya. Ini membuktikan bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan memang memiliki naluri kasih. Memang ada orang yang membedakan antara kasih dan cinta. Namun itu tergantung bagaimana mendefinisikannya. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa bagaimanapun besarnya kasih manusia itu sudah ternoda oleh dosa. Inilah faktanya. Kasih kita sudah tidak murni lagi. Kalau mau jujur mana ada kasih yang benar-benar murni dari seorang berdosa? Banyak slogan mengenai kasih yang murni dan abadi, benarkah itu ada pada manusia yang berdosa? Selalu ada unsur keegoisan dan kepentingan diri sendiri.

Katanya kasih orang tua pada anak murni dan tanpa pamrih. Mungkin ini benar waktu anaknya masih kecil, masih bayi. Tetapi waktu anak sudah besar dan pintar lalu terjadi pertentangan antara anak dan orang tua. Pada waktu bertengkar begitu hebat di tengah kemarahannya sang anak dengan kurang ajarnya memaki mamanya. Lalu mamanya mengatakan, “Ingat ya dari kecil saya yang merawat kamu, membesarkan kamu, memberi kamu makan, menjaga waktu kamu sakit, inikah balasanmu??!!!” Lha ketahuan kan mengharapkan balasan? Di satu sisi memang orang tua mau menekankan agar anak jangan kurang ajar pada orang tuanya, akan tetapi di sisi lain orang tua juga tersinggung apabila anak membalas kebaikan hatinya dengan kekurangajaran. Maka mau tidak mau ada semacam tuntutan. Paling tidak kebaikan orang tuanya juga dibalas dengan kebaikan. Ada juga orang tua yang mau anaknya baik demi nama baik orang tua yang selama ini terhormat di masyarakat. Maka jangan sampai anak berbuat macam-macam agar orang tua namanya jangan tercemar. Maka ujung-ujungnya kepentingan orang tua juga. Saya juga seringkali tertempelak dengan ilustrasi-ilustrasi semacam ini. Saya seringkali mengingatkan anak saya kalau ia berbuat yang tidak benar agar ingat bahwa mereka itu anak pendeta maka jangan bikin malu orang tua. Ujungnya demi kepentingan saya juga. Maka kasih sudah ternoda oleh keegoisan, oleh kepentingan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 25 Des'09 PDF Print E-mail

 

Filipi 2:1-11

Ev. Bakti Anugrah.

Hari ini kita merayakan natal dengan begitu meriah. Bahkan ketika datang kita sudah disambut dengan lagu-lagu natal dan hiasan-hiasan yang indah. Tetapi sebetulnya, apa yang Tuhan kita kerjakan waktu Dia datang 2000 tahun lalu tidak semeriah sekarang. Natal yang pertama, tidak ada orang yang hadir. Natal pertama dimulai dengan keadaan begitu rendah. Raja yang datang sebagai budak dan tidak ada seorang pun yang mengenal siapa Dia. Pada puncak kita merayakan natal tanggal 25 Desember ini, temanya bukan kemuliaan, tetapi pengosongan diri. Ini tema yang tidak populer. Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa Kristus mengosongkan diri, tetapi jika kita sungguh mengerti apa yang Ia lakukan, ini bukan sesuatu yang biasa yang bisa dilakukan semua orang. Pada waktu itu terjadi hal yang aneh sekali, Allah Pencipta langit dan bumi turun ke dalam dunia menjadi manusia, menjadi budak. Allah yang Mahakarya harus meminta tempat penginapan dan tidak ada yang memberikan tempat, sampai Ia harus lahir di palungan. Ia mengosongkan Diri-Nya. Seharusnya kita meneladani Dia.

Pada umumnya setiap orang suka dipuji, bahkan ada beberapa orang yang sangat mengharapkan pujian orang lain. Tetapi ada pula orang yang “tidak terlalu suka dipuji”. Ia banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang, tetapi tidak mengharapkan pujian. Namun bagaimana jika kita dihina? Rata-rata orang tidak suka dihina. Waktu kita dihina, disitulah harga diri kita kelihatan. Meskipun kita tidak mengucapkannya secara verbal, tetapi perasaan kekecewaan dan kemarahan sewaktu dihina itu telah menunjukkan bahwa sebenarnya kita merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tetapi Kristus tidak demikian.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 39 of 46
RocketTheme Joomla Templates