Who's Online

We have 3 guests online

Search

Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 26 Jul'09 PDF Print E-mail

Yoh 2:1-11

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Tidak ada kesalahan pada Yesus ketika berbicara dengan Maria, ibu-Nya, ketika diberitahukan bahwa air anggurnya habis. Yesus adalah Allah yang menjelma manjadi manusia dimana perkataan-Nya itu berotoritas sehingga tidak mungkin muncul sikap Yesus yang menyesali ucapan-Nya sendiri setelah berkata-kata kepada Maria lalu akhirnya menuruti kemauan Maria untuk mengubah air menjadi anggur. Perkataan Tuhan Yesus kepada Maria, ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?’ dalam terjemahan lamanya dituliskan, ‘Hai perempuan, apakah kena mengena di antara Aku dengan engkau?’ dan bahkan, di dalam versi lainnya dituliskan, ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku?’ artinya apa kaitannya antara diri Yesus dengan Maria di dalam kaitan memberikan perintah seperti itu dan yang kedua, Tuhan Yesus menegaskan bahwa otoritas bukan berada pada Maria, dengan mengatakan ‘Waktu-Ku belum tiba’. Hal tersebut menunjukkan bahwa bukan Maria yang menentukan apa yang Tuhan Yesus harus lakukan. Sehingga otoritas itu tetap ada pada Yesus Kristus untuk bertindak menurut waktu-Nya, waktu Allah Bapa sendiri, bukan pengaruh dari Maria.

Kita melanjutkan pembahasan pada bagian akhir dari perikop ini yaitu ‘…sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya...’ (ayat 11). Berarti ada tanda-tanda yang berikutnya yang akan muncul dan hal ini berkenaan dengan mujizat yang dilakukan-Nya. Maka mujizat disebut sebagai tanda dan memang di dalam Alkitab, mujizat itu diistilahkan sebagai tanda (sign). Sehingga sebenarnya kita sudah bisa mengerti hakekat dari mujizat, mujizat itu adalah tanda. Tanda itu menunjukkan suatu ciri dari sesuatu/seseorang yang hendak diperhatikan. Hal ini seperti halnya seseorang yang hendak menjemput seorang pembicara seminar yang belum pernah diketahui ciri-cirinya, maka orang yang menjemput ini akan memperhatikan ciri-ciri pembicara tersebut sebagai tanda untuk mengenal sehingga tidak salah orang sewaktu dijemput di bandara. Setelah berjumpa dengan si pembicara maka tanda itu tidak diperlukan lagi, bukan? Tetapi banyak orang zaman sekarang yang tetap menginginkan dan mencari tanda atau mujizat-mujizat lebih daripada Kristus. Apakah benar bahwa kekristenan itu berorientasi dan berfokus pada tanda? Tidak! Parahnya banyak orang-orang kristen zaman ini yang tergila-gila dengan tanda dan lebih parahnya lagi adalah gereja yang “memfasilitasi” untuk mengeksploitasi tanda-tanda sehingga jemaatnya pun berfokus pada tanda-tanda seperti mujizat, kesembuhan, kesuksesan, dsb. Kekeliruan besar terjadi pada orang-orang yang bersandar pada tanda-tanda.

Suatu tanda misalnya, mujizat, itu tidak menjamin seseorang bisa menjadi percaya dan beriman kepada Kristus (dasar dari kita bisa percaya dan beriman kepada Kristus itu mutlak karena kasih karunia Allah, bukan karena tanda-tanda). Alkitab sudah memaparkan tiga golongan yang sama-sama mengalami kelimpahan mujizat namun tetap saja tidak percaya. Ketiga golongan itu adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Raja Firaun, dan terakhir yaitu bangsa Israel sendiri. Para ahli Taurat dan orang Farisi melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, bukannya menjadi percaya tetapi malah menghujat dengan mengatakan bahwa mujizat itu berasal dari Setan. Hal yang sama terjadi pada Raja Firaun yang tetap mengeraskan hati ketika melihat dan mengalami mujizat-mujizat, dan yang terakhir, bangsa Israel sendiri yang mengalami mujizat dari Allah berulang-ulang di dalam sejarah perjalanan bangsa Israel namun tetap saja bangsa Israel berkeras hati.

Mesias yang datang itu disertai dengan tanda-tanda. Tanda-tanda itu adalah tanda-tanda mesianik. Sekarang ini banyak orang yang mencari tanda-Nya lebih daripada mencari Mesias itu sendiri. Yang dicari adalah berkat-berkat-Nya lebih daripada mencari Kristus sendiri. Hal tersebut memperlihatkan tanda dari orang yang tidak percaya. Orang yang percaya adalah orang yang orientasi hidupnya bukan pada tanda-tanda dan mencari berkat-berkat sebab orang yang percaya itu sudah mendapat berkat yang berkelimpahan di dalam Tuhan. Sedangkan orang-orang yang hidupnya terus menerus mencari tanda dan berkat, dia ada di dalam kondisi yang memprihatinkan dan kerohanian yang miskin.

Sekarang mari kita perhatikan orang-orang yang dipakai oleh Allah tanpa ada mujizat yang berlangsung dalam hidupnya. Pertama, Yohanes Pembaptis yang adalah nabi yang terakhir dan nabi itu selalu disertai dengan tanda. Namun, Yohanes Pembaptis tidak disertai dengan tanda-tanda kecuali sewaktu membaptiskan Tuhan Yesus di sungai Yordan dimana tanda itu pun adalah tanda yang dilihat oleh Yohanes Pembaptis bukan tanda yang mengiringi Yohanes Pembaptis. Kedua, Stefanus yang dicatat dalam Alkitab sebagai seorang yang penuh dengan Roh Kudus. Menurut teori PI, seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan mengabarkan Injil maka akan membawa banyak pertobatan dan mengikut Kristus, tetapi yang terjadi justru sangat berbeda yaitu Stefanus dilempari batu hingga mati ketika dia berkhotbah. Bukannya menghasilkan pertobatan banyak orang tetapi menimbulkan kemarahan besar dari pendengarnya lalu menyeret Stefanus dan membunuhnya. Ketiga, jemaat mula-mula yang dengan setia mengikut Kristus hingga mati sebagai martir. Jemaat mula-mula ini mengikut Kristus bukan untuk mendapatkan kesuksesan, harta kekayaan, dsb melainkan mereka tetap setia mengikut Kristus di tengah-tengah ancaman penyiksaan, penganiayaan, hingga dibunuh atau pun diadu dengan binatang buas. Dalam kondisi dan situasi seperti itu tak ada mujizat yang muncul namun mereka tetap mempertahankan imannya. Hal-hal tersebut dimaksudkan bahwa penjelasan ini bukanlah suatu pandangan yang anti terhadap mujizat, sekaligus penjelasan ini juga mengajarkan untuk tidak menjadi “tergila-gila” dengan mujizat.

Hidup orang kristen itu hidup yang tidak tertuju pada mujizat, bukan pula pada berkat-berkat. Hidup orang kristen itu hidup yang berkelimpahan di dalam anugerah-Nya, tetapi tidak seharusnya hidup kristen itu menjadi biasa-biasa saja. Tidak seharusnya kita puas dengan hidup yang biasa-biasa saja ketika kita sudah mengerti bahwa kita hidup di dalam kelimpahan anugerah-Nya. Orang yang meresponinya dengan cara hidup yang biasa-biasa saja itu terjadi karena dua kemungkinan, pertama, orang tersebut belum menerima anugerah-Nya maka tak heran hidupnya tidak berespons apa-apa atau yang kedua, orang tersebut sudah menerima anugerah Tuhan namun dia menganggap anugerah Tuhan itu seperti sampah. Menganggap anugerah Tuhan itu biasa, tidak ada istimewanya sehingga hidupnya pun berjalan biasa-biasa saja. Seperti isi dari lagu ‘Amazing Grace’ yang menyatakan ungkapan syukur yang tak pernah habis dan dari ungkapan syukur itu tidak mungkin menghasilkan reaksi yang biasa, reaksi yang harusnya muncul adalah reaksi seperti seseorang yang mengalami sakit yang tak tersembuhkan bertahun-tahun lalu akhirnya beroleh kesembuhan dari penyakitnya tersebut.

*) Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
Ringkasan Khotbah - 19 Jul'09 PDF Print E-mail

Yoh 2:1-11

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Yohanes Pembaptis mengucapkan satu kalimat tentang siapakah Tuhan Yesus itu (Yoh 1:29,35) dan dengan demikian dia memperkenalkan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya lalu murid-muridnya pergi mengikuti Tuhan Yesus. Maka Tuhan Yesus pun memiliki murid. Hal ini adalah hal yang unik dan kita memperhatikan keunikan dari Yohanes Pembaptis ini terlebih dahulu sebelum kita membahas bagian mengenai perkawinan di Kana. Yohanes Pembaptis itu adalah orang yang menyadari panggilannya, panggilan itu bukan untuk memuliakan dirinya sendiri tetapi untuk menunjuk pada Mesias yang benar. Seperti itu juga yang harus menjadi peran kita. Kita berperan di dunia ini bukan untuk diri sendiri tetapi menunjuk kepada Mesias. Hal kedua dari Yohanes Pembaptis adalah dia tidak takut ditinggalkan oleh murid-muridnya, dimana murid-muridnya mengikuti Tuhan Yesus tak lama setelah Yohanes Pembaptis mengatakan tentang diri Yesus, karena dia tahu bahwa Tuhan Yesus jauh lebih berotoritas dari dirinya sendiri. Maka disini terlihat bahwa Yohanes Pembaptis tidak merampas kemuliaan Tuhan. Tidak mengambil kemuliaan Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan di saat ada suatu kesempatan untuk Yohanes Pembaptis bisa menonjolkan diri, tetapi dia tetap menyadari hidup dan panggilannya dan tidak melakukan sesuatu yang merampas kemuliaan Tuhan. Sampai kita melihat perkataan dari Yohanes Pembaptis sendiri yang mengatakan, ‘Ia (Yesus Kristus) harus makin besar, tetapi aku (Yohanes Pembaptis) harus makin kecil’ (Yoh 3:30). Suatu perkataan yang agung tetapi sangat sulit untuk diterapkan/dialami. Makin kecil itu berarti kita siap untuk tidak diperhatikan, tidak dimuliakan, atau direndahkan. Bukankah kecenderungan diri kita itu adalah lebih suka ditinggikan, dimuliakan dan diperhatikan? Maka kehidupan Yohanes Pembaptis haruslah menjadi teladan bagi kita dalam mengikut Kristus.

Sekarang kita memperhatikan Tuhan Yesus yang hadir bersama ibu dan murid-murid-Nya di pesta perkawinan di Kana. Kota Kana ini berada di wilayah Galilea, sebab ada pula kota Kana di wilayah yang lain. Bagian ini memaparkan kisah awal pelayanan Tuhan Yesus setelah dibaptis dan mengalami pencobaan di padang gurun. Dalam suatu tafsiran atas perikop ini dijelaskan bahwa Katolik menafsirkan konteks ketika Maria, ibu Yesus mengatakan anggur habis sewaktu berbicara dengan Yesus, dengan satu penekanan bahwa Tuhan Yesus taat kepada ibu-Nya dan Maria adalah seorang yang mempunyai otoritas untuk mengatur Yesus yang mau taat, sehingga Maria dapat menjadi perantara untuk kita bisa meminta kepada Tuhan Yesus. Kesimpulannya adalah, menurut pandangan Katolik, kita meminta sesuatu yang diinginkan itu melalui Maria sebab Maria lebih berotoritas dan Maria bisa mengatur Yesus. Kesimpulan seperti ini tidak pernah bisa diterima oleh gereja-gereja Protestan termasuk gereja Reformed.

Pada waktu Tuhan Yesus berbicara kepada ibu-Nya itu sebenarnya, berdasarkan bahasa aslinya, tidak seperti yang tertulis dalam Alkitab Indonesia kita sekarang. Di dalam bahasa aslinya, Tuhan Yesus tidak menyebut ‘ibu’ kepada Maria, tetapi menyebut dengan kata ‘perempuan’. Kalimat yang lebih tepat berdasarkan bahasa aslinya pada ayat 4, ialah ‘Apa kaitannya, hai perempuan, antara engkau dan Aku?’ Maka melalui kata-kata tersebut dan kalimat terakhir yang tertulis, ‘waktu-Ku belum tiba’, hendak menyatakan bahwa Tuhan Yesus menolak otoritas orangtuanya yang mau mengendalikan diri-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pengertian atau tafsiran Katolik perihal Maria yang mempunyai otoritas sebagai orangtua terhadap Tuhan Yesus itu salah! Maria tidak mempunyai otoritas apa-apa. Tuhan Yesus hanya mempunyai satu otoritas yaitu taat pada kehendak Bapa. Hal tersebut jelas tertulis dalam Flp 2:5-8. Kristus melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa bukan apa yang menjadi kehendak Maria. Di dalam Luk 8:20-21 juga jelas terlihat dan dengan tegas Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia tidak hidup di bawah otoritas orangtua-Nya. Petunjuk yang sama juga terlihat pada jawaban atas teguran Maria sewaktu Tuhan Yesus masih berusia dua belas tahun di Bait Allah.

Ketika Kristus bertindak melakukan mujizat-Nya yang pertama di Kana ini bukanlah karena permintaan Maria. Bukan juga karena alasan bahwa akhirnya Tuhan Yesus tetap menuruti/taat pada Maria setelah Tuhan Yesus menjawab perkataan Maria tentang anggur yang habis. Kristus melakukan tindakan mengubah air menjadi anggur itu karena ketaatan pada Bapa-Nya. Pembahasan atas bagian ini masih belum selesai maka kita akan melanjutkan pembahasan peristiwa di Kana ini pada minggu berikutnya.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
Ringkasan Khotbah - 12 Jul'09 PDF Print E-mail

Mazmur 1:1-6

Ev. Bakti Anugrah

Mazmur 1 ini merupakan mazmur kebijaksanaan dan mazmur yang terkenal ini menjadi mazmur pembuka sebelum kita melanjutkan ke-149 pasal mazmur berikutnya. Sejak awal sudah terlihat dua bagian besar yang nampak dalam seluruh kitab mazmur yang juga menjadi tema di dalam seluruh Alkitab seperti yang sering disebutkan, ‘gandum dan ilalang’ atau ‘domba dan kambing’, maka dalam konteks mazmur disini dikatakan ‘orang benar dan orang fasik’.

Di ayat 1 disebutkan ‘berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut orang fasik’. Kata ‘berbahagia’ pada ayat ini di dalam bahasa aslinya, Ibrani, itu mirip dengan penggunaan kata ‘berbahagia’ pada Matius 5 tentang Ucapan Bahagia dari Tuhan Yesus. Namun ada perbedaannya. Kata ‘berbahagia’ di ayat 1 ini berbentuk plural (jamak) sedangkan yang digunakan dalam Matius 5 itu berbentuk tunggal. Kata ‘berbahagia’ di Maz 1:1 ini dituliskan dalam bhs. Inggris yaitu ‘all the blessednesses…’. Yang diartikan bahwa betapa banyaknya kebahagiaan yang dinikmati dari orang-orang yang tidak berjalan menurut orang-orang fasik. Seorang yang saleh, sungguh-sungguh hidup benar dan mencintai Tuhan itu tidak hanya hidup menjauhi kejahatan sekaligus juga menjauhi para pembuat kejahatan dan tidak hidup bergaul dengan mereka. Penekanannya itu untuk menunjukkan betapa besar kebahagiaan orang yang hidupnya tidak berjalan menurut orang-orang fasik. Dalam bahasa Ibrani, kata-kata yang digunakan dalam puisi ini indah karena di dalam bahasa Ibrani suka memakai paralel kata, seperti yang tertulis pada ayat 1 dimana bisa diperhatikan ada tiga paralel kata yang disebutkan yaitu berjalan, berdiri, dan duduk sebagai paralel pertama. Berikutnya, paralel kedua, yaitu nasihat, jalan, dan kumpulan. Dan yang ketiga, yaitu orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh. Di dalam bahasa aslinya, kata-kata paralel tersebut menunjukkan adanya intensitas yang makin lama makin menurun, arahnya semakin rusak dan ‘pencemooh’ itu adalah titik puncaknya.

‘Orang fasik’ dalam bahasa aslinya itu menunjuk pada orang yang tidak adil, yang tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, hak sesamanya, dan hak dirinya sendiri. Orang tersebut akan hidup semaunya di hadapan Tuhan dan sesamanya. Kemudian ‘orang berdosa’ di dalam pengertian dosa bukan lagi sebagai ketidakpedulian melainkan sudah menjadi kebiasaan. Bukan hanya kebiasaan, artinya juga meleset dari sasaran dan bahkan melampaui batas yang sudah ditetapkan. ‘Pencemooh’ disini menunjuk pada orang yang bukan hanya melakukan kejahatan-kejahatan tetapi juga secara terang-terangan menentang Tuhan bahkan menghina apa yang kudus. Orang berdosa sekarang tidak lagi merasa perlu melarikan diri dari dosa-dosanya, melainkan duduk dan menikmati dosanya bahkan berani melawan Tuhan. Dosa yang berjalan makin parah, makin rusak itu tidak terjadi dalam sehari namun jelas dosa itu makin lama makin parah. Perhatikan dosa yang terjadi pada Adam dan Hawa hanya karena mendengar perkataan Iblis, lalu diikuti oleh keturunannya, Kain yang membunuh saudaranya sendiri, bahkan sampai dosa Lamekh yang lebih parah lagi melebihi Kain (akhir dari Kej 4). Kejahatan atau sifat yang melawan Tuhan itu tidak bertumbuh dan berkembang dalam sehari tetapi secara perlahan-lahan atau secara bertahap makin menjadi-jadi. Orang yang kelihatannya baik dan sopan, secara mengejutkan sudah menjadi pecandu narkoba, pornografi, dsb. Maka haruslah kita memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

Obat bagi semua hal di atas tadi itu bukanlah berkumpul dengan orang-orang baik.Untuk menjadi baik bukan berarti dengan cara berkumpul dengan orang-orang baik. Lihatlah Yudas Iskariot. Dia berada dalam kumpulan orang-orang benar dan juga bersama-sama dengan Tuhan Yesus tetapi dia adalah murid yang menjual Tuhan Yesus, dia tetap tidak menjadi orang benar. Maka dari itu di ayat 2 dinyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang bukan hanya, secara negatif, menghindari kumpulan orang-orang tidak benar juga secara positif, orang itu menyukai Taurat Tuhan. Kata ‘Taurat’ disini itu adalah ‘hukum’. Kadang-kadang orang mengerti Taurat sebagai kesepuluh perintah Allah atau kelima kitab Musa. Bukan hanya itu saja tetapi termasuk juga penjabaran seluruh Alkitab mengenai kesepuluh perintah. Orang itu menyukai firman Tuhan, menyukai hukum termasuk PB yang sudah ada pada masa kini. Orang yang menyukai hukum di tengah-tengah orang-orang yang tidak menyukai hukum bahkan menganggap tidak perlu ada, seandainya bisa demikian, khususnya konteks Indonesia.

James M. Boice mengatakan bahwa orang yang menyukai hukum Taurat itu adalah seperti orang yang mempelajari suatu bidang yang menjadi fokus pelajarannya. Orang yang menyukai fisika atau arsitektur maka dia akan berusaha mengetahui dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Maka hal seperti itu menjadi penting sekali untuk mempelajari doktrin yang sulit dan benar dengan sungguh-sungguh. Mengikuti perkuliahan di STRIS sebagai salah satu contoh sikap mencintai Firman. Kesukaan akan hal-hal yang bernilai dan indah itu semakin berkurang, terlebih lagi untuk hal yang paling bernilai yaitu Firman Allah, makin sedikit orang yang dengan sungguh-sungguh menyukai dan mempelajarinya pada zaman ini, suatu zaman yang lebih bodoh dari zaman-zaman sebelumnya karena semua yang baik dan bernilai dibuang.

Pemazmur pada ayat 3 memberikan dua perumpamaan mengenai orang yang menyukai firman. Orang yang menyukai firman itu diumpamakan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil. Seperti itulah gambaran kebahagiaan orang benar. Kebahagiaan orang benar yang merenungkan firman Tuhan siang malam itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Kata ‘aliran air’ itu di dalam budaya mereka seperti kita sekarang memiliki sistem irigasi. Pohon yang baik itu tidak tumbuh dengan sendirinya dan pohon yang bertumbuh serta berbuah haruslah ditanam bukannya tumbuh liar. Demikian pula iman dan kerohanian kita yang tidak bisa tumbuh dengan sendirinya sehingga jikalau kita sendiri tidak menyukai firman Tuhan dengan membaca, merenungkan, mempelajarinya maka tak akan ada pertumbuhan. Hal tersebut ibaratnya harus ada air yang diserap oleh pohon agar pohon tersebut bisa bertumbuh dan berbuah. Tidak mungkin ada orang kristen sejati – kecuali belum lahir baru – yang tidak menyukai firman Tuhan, mencintai firman, dan merenungkannya siang dan malam di dalam sepanjang hidupnya.

Kehidupan orang benar kemudian dibandingkan dengan kehidupan orang fasik. Pada ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) berbicara tentang orang fasik. Dikatakan bahwa orang fasik itu digambarkan seperti sekam, tidak tahan dalam penghakiman dan di tengah kumpulan orang benar. Sekam itu adalah kulit dari gandum atau seperti halnya kulit beras dalam konteks kita disini dimana ketika penampian beras dilakukan maka sekam itu dengan mudah ditiupkan angin dan lenyap. Seperti itulah gambaran kehidupan orang fasik. Zaman ini adalah zaman dimana banyak orang mengejar kesuksesan dan popularitas bahkan sudah dimulai dari anak-anak dengan mementingkan kecerdasan anak sejak dini (segi kerohanian/kesalehan, moralitas kurang dipentingkan) begitu pula dengan sajian tayangan tentang anak-anak yang masih kecil tetapi sudah mampu meraih popularitas. Kita melihat bahwa segala kesuksesan yang dikejar oleh manusia berdosa di luar Tuhan itu seperti sekam yang pada waktunya datang maka angin bertiup, penghakiman datang, semuanya akan lenyap.

Tuhan mengenal jalan orang benar. Kata ‘mengenal’ disini diartikan sebagai menyetujui, menyertai, memberkati jalan orang benar. Sedangkan orang fasik itu menuju pada kebinasaan. Terlihat bagi kita bahwa Alkitab menyatakan ada dua jalan, jalan orang benar dan yang kedua itu jalan orang fasik, orang yang tak adil dan tak benar. Orang yang menyukai firman, hidup yang dipenuhi oleh firman, itu tidak akan layu sekalipun di dalam masa kering, tetap mampu bertahan dan tetap menjadi berkat serta tetap memuliakan Tuhan sekalipun dalam masa-masa yang sulit. Apakah kita seperti itu? Tanda keselamatan yang sejati adalah kesukaan terhadap firman Tuhan yang direnungkan siang dan malam, sedangkan orang fasik tidak akan mempedulikan firman bahkan menghina Tuhan.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
Ringkasan Khotbah - 5 Jul'09 PDF Print E-mail

Matius 22:34-40

Ev. Gito

Setelah pada perikop sebelumnya, Tuhan Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam maka kemudian berkumpulah orang-orang Farisi dan kemudian seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus dengan maksud mencobai Dia. Kata mencobai di dalam bagian ini menyatakan suatu arti, dari arti kata Yunani yang dipakai, sebagai ujian untuk maksud menjatuhkan. Kata ‘mencobai’ dalam bhs. Yunani yang dipakai dalam bagian ini sama persis dengan penggunaanya pada bagian ketika Tuhan Yesus dicobai oleh Iblis.

Lalu apa yang dimaksud dengan Taurat yang disebutkan dalam bagian ini? Di dalam Alkitab seringkali muncul kata ini. Di dalam bhs. Yunani, kata Taurat itu hanya menggunakan satu arti yaitu ‘nomos’ (artinya hukum). Dalam PB, Taurat ini bisa memiliki tiga pengertian dimana ketiga-tiganya menggunakan istilah Taurat tetapi dengan pengertian yang berbeda-beda. Taurat bisa dimengerti sebagai seluruh PL, atau dimengerti untuk menunjukkan lima kitab pertama yang ditulis oleh Musa, Pentateukh, yaitu Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Ulangan, atau Taurat itu dimengerti hanya dalam 10 Perintah Allah yang diberikan kepada Musa oleh Allah sendiri di Gunung Sinai (Kel 20). Dan pada bagian ini Taurat yang dimaksud mungkin adalah dalam pengertian ke-5 Kitab Musa tersebut karena menyangkut perihal hukum yang dipertanyakan oleh ahli Taurat kepada Tuhan Yesus.

Semua bagian di dalam hukum Taurat itu penting dan ahli Taurat yang bertanya kepada Tuhan Yesus itu hendak menjebak dan mencari kesalahan-Nya dengan mempertanyakan manakah hukum yang lebih terutama. Tetapi Tuhan Yesus tidak menjawab ‘yang mana’ dari pertanyaan tersebut melainkan memberi jawaban ‘bagaimana’ yang terlihat tidak berhubungan langsung dengan pertanyaan sang ahli Taurat itu. Sebenarnya dalam hukum Taurat itu tidak ada yang tidak penting dan yang terpenting sebab semuanya merupakan suatu produk hukum yang sama pentingnya namun ada dua prinsip penting tentang bagaimana kita menjalankannya dan kita harus menjalankannya dengan kasih.

Prinsip pertama adalah kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Perkataan ini diucapkan Tuhan Yesus dengan mengutip tulisan Musa di Kitab Ulangan (Ul 6:5). Orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu orang-orang yang beragama secara legalis dan mereka melakukan peraturan hukum yang sangat banyak itu (613 aturan hukum) tetapi tanpa kasih kepada Tuhan dan lebih peduli dengan peraturan hukum yang harus dilakukan/ditaati. Jawaban Tuhan Yesus tentang bagaimana menjalankan hukum itu menjadi sesuatu hal yang baru bagi mereka. Ketika kita mengerjakan apa pun juga termasuk pelayanan gerejawi, apakah itu sudah dilakukan untuk Allah dan dengan kasih kita yang tertuju kepada Allah? Ataukah sekedar menjalaninya dengan baik dan sesuai dengan “aturan main”nya?

Kata Yunani dari kasih yang digunakan dalam ayat 37 ini adalah ‘agape’. Alkitab menggunakan kata agape ini lebih tinggi – berbeda dengan budaya Yunani yang menggunakan istilah ‘eros’ lebih tinggi – dimana istilah kata agape bila diterjemahkan ke dalam kalimat bhs. Inggris itu menjadi ‘I love’ sedangkan kata eros bila diterjemahkan dalam kalimat bhs. Inggris itu menjadi ‘I’m in love’. Dua perkataan yang berbeda pengertiannya, itu juga lah perbedaan pengertian kasih eros dibandingkan dengan kasih agape. Kasih agape umumnya digunakan untuk segala sesuatu yang baik dan sopan serta komitmen yang kuat. Tuhan Yesus merombak konsep kasih dari kasih eros dibalikkan menjadi kasih agape lalu dijelaskan lebih lengkap oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13. Penjelasan yang lebih sederhana tentang kasih agape adalah seperti perkataan ‘I do my best’ sehingga kasih itu bukanlah berbicara tentang berbuat sesuatu melainkan berbicara mengenai bagaimana melakukannya. Kasih bukanlah berbicara tentang seberapa banyak melainkan seberapa besar kesungguhan kita. Jikalau kita melakukan sesuatu, sudahkah kita melakukannya dengan segenap hati/sesungguh-sungguhnya? Tuhan Yesus berbicara tentang kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dst. Maka kasih itu berbicara tentang keseluruhan hidup dan dengan penuh kesungguhan. Dalam bagian ini Tuhan Yesus mengaitkan hukum dengan kasih dimana hukum itu adalah materinya sedangkan kasih itu adalah cara menjalankannya.

Selanjutnya dari hal pertama (karena sebenarnya tidak ada kata hukum di dalam bahasa aslinya) dikaitkan dengan hal yang kedua dimana tak ada perbedaan (juga tidak bisa dipisahkan namun tetap ada urutannya) antara hal yang pertama dengan yang kedua karena keduanya adalah sama-sama satu produk yang dinamakan hukum yang terutama. Hal mengasihi Tuhan itu berkaitan dengan hal mengasihi sesama, juga termasuk mengasihi diri sendiri. Hal mengasihi Tuhan hanya satu unsur dalam kalimat ‘Kasihilah Tuhan Allahmu…’ sedangkan hal mengasihi sesama itu terdapat dua unsur dalam kalimat ‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ yaitu mengasihi sesama dan mengasihi diri sendiri. Dan ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan dalam prinsip kasih. Kita perhatikan hal mengasihi Allah dengan segenap diri dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Mengasihi Allah itu harus teraplikasi dalam seluruh aspek hidup kita dan menjadi refleksi bagi kita apakah apa pun yang kita kerjakan karena kasih kita kepada Allah atau tidak dan mengasihi sesama, yang tentunya berarti kita mengasihi mereka yang sama-sama manusia seperti kita. Itu berarti bukan hanya kepada sesama dalam arti orang-orang yang kita kenal saja. Maka tanggung jawab kita dalam mengasihi sesama itu sangat besar karena sesama kita itu bukan hanya orang-orang yang kita telah kenal melainkan orang-orang yang tidak kita kenal pun itu juga sesama kita dan seberapa besar dan sungguh-sungguhkah kita melayani orang-orang yang telah kita kenal apalagi kepada orang-orang yang tidak kita kenal?

Di dalam membaca Alkitab memang banyak sekali bagian demi bagian yang harus ditaati dan digumulkan namun tetap pada prinsip ketiga hal ini, yaitu hidup yang memuliakan Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri (untuk tujuan mengasihi sesama). Ketika kita mengasihi sesama maka sebetulnya kasih kepada sesama merupakan refleksi dari kasih terhadap diri sendiri. Sehingga kedua hal itu (mengasihi sesama dan mengasihi diri) saling berkaitan dan bersifat organik. Tuhan sudah mengajarkan kepada kita ‘loving management’ yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ketiga hal tersebut itulah yang menjadi urusan sepanjang hidup kita. Dan ketiga hal itu juga merupakan inti dari seluruh Hukum Taurat (baik PL, Kelima Kitab Musa/Pentateukh, maupun seluruh kitab para nabi).

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
Ringkasan Khotbah - 28 Jun'09 PDF Print E-mail

Matius 4:1-11

Pdt. Andi Halim

Setiap kalimat yang diucapkan oleh Iblis kepada Yesus dalam pencobaan di padang gurun adalah kalimat-kalimat yang sangat berbahaya dan bukanlah pencobaan-pencobaan yang tergolong remeh/murahan. Pada pencobaan tahap pertama, Iblis tidak mencobai Tuhan Yesus dengan godaan yang mengarah pada dosa dimana hal itu melawan natur Allah sendiri tetapi mengarah pada ke-Maha Kuasa-an Tuhan Yesus sebagai Anak Allah dengan menyuruh-Nya untuk mengubah batu menjadi roti. Sebenarnya tidak menjadi masalah jikalau perkataan itu dilakukan tetapi Tuhan Yesus tetap tidak melakukannya. Jika Tuhan Yesus melakukannya maka Dia adalah Allah yang mau menuruti kemauan Iblis. Menurut pandangan si Iblis, pembuktian batu diubah menjadi roti merupakan peneguhan bahwa Yesus adalah Anak Allah tetapi Tuhan Yesus tidak menurutinya bahkan Dia melawan godaan Iblis itu dengan jawaban yang jitu dimana jawaban tersebut merupakan statement bagi kita bahwa hidup ini bukanlah untuk kebutuhan perut semata, manusia hidup bukan demi memuaskan hawa nafsu kedagingan dan hal-hal lahiriah lainnya tetapi hidup manusia oleh karena Fiman.

Setelah selesai dengan pencobaan yang pertama, Iblis tidak menyerah pada kegagalannya yang pertama tetapi Iblis meningkatkan pencobaannya pada tahap yang kedua. Iblis tidak pernah menyerah sedikit pun dan setelah kegagalan Iblis pada pencobaan kepada Yesus di padang gurun pun, dia tetap tidak menyerah dan menantikan waktu yang baik untuk kembali menyerang (Luk 4:13). Hal kerja keras dan tak pernah menyerah inilah yang seharusnya menjadi prinsip kita namun jangan seperti Iblis yang bekerja keras dan tak pernah menyerah dengan tujuan untuk menghancurkan/menjatuhkan anak-anak Tuhan. Pada tahap sebelumnya, Iblis mencobai Tuhan Yesus berkenaan dengan kebutuhan perut maka sekarang dilanjutkan dengan pencobaan dimana Iblis pun mengutip firman Tuhan. Firman yang dikatakan oleh Iblis seperti yang tertulis di ayat 6 itu berkaitan dengan Maz 91:11-12. Bukankah firman Tuhan seharusnya diterapkan/dibuktikan? Mengapa tidak dibuktikan? Maka inilah strategi Iblis yang hendak menjatuhkan Tuhan Yesus dengan firman-Nya sendiri. Kalau memang itu adalah firman Tuhan sendiri lalu mengapa firman itu tidak diterapkan? Penerapan firman itu harus dimengerti sesuai dengan maksud, konteks, dan waktu. Setiap orang kristen bisa menggunakan firman, bahkan Iblis pun menggunakan firman tetapi tidak ada jaminan firman yang diterapkan itu telah sesuai dengan maksud, konteks, maupun waktu yang dikehendaki Tuhan. Menerapkan firman tanpa sesuai dengan ketiga hal itu maka sama halnya dengan memberontak dari firman, sama halnya dengan mencobai Allah. Sehingga ketika Iblis mencobai Yesus dengan menggunakan firman maka Yesus pun menjawab dengan perkataan, ‘Jangan mencobai Tuhan, Allahmu!’ (ayat 7).

Pencobaan yang ketiga, mengapa pada bagian pencobaan ini, Iblis dengan berani menawarkan seluruh kerajaan dunia kepada Yesus? Memang ada bagian lain dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa dunia dengan segala hawa nafsunya telah diserahkan kepada Iblis. Namun hal itu tidak berarti Iblis berkuasa atas dunia melainkan Iblis diberi kesempatan untuk menggoda dan menjatuhkan anak-anak Tuhan melalui apa yang ada di dunia ini, seperti kekayaan/harta, kenikmatan dunia, keinginan mata serta nafsu kedagingan. Inti dari pencobaan tahap terakhir ini adalah menginginkan segala sesuatu. Dan spirit menginginkan segala sesuatu ini sudah diadopsi oleh teologi kemakmuran. Contohnya tentang harta, harta yang ada pada kita itu seharusnya digunakan untuk pelebaran kerajaan Allah di bumi ini bukannya berambisi yang besar akan harta sehingga harta itu menjadi berhala di dalam hidup. Mari kita mengikuti apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sewaktu menjawab si Iblis, bahwa hanya satu Pribadi yang patut disembah yaitu Tuhan Allah.

*) Ringkasan khotbah belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>

Page 1 of 6
RocketTheme Joomla Templates