Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 20 Sep'09 PDF Print E-mail

 

Yoh 15:1-10

Ev. Joseph Yisrael, M.Div.

Waktu firman ini disampaikan sebenarnya tidak terbuka untuk umum tetapi hanya khusus untuk para murid-Nya. Waktu itu tengah malam dan Yudas sudah tidak bersama para murid, dia sudah mengkhianati Tuhan Yesus untuk menyerahkan-Nya. Sekarang kita bisa membaca bagian ini dengan mudah, tetapi pada waktu itu Tuhan Yesus menyampaikannya secara pribadi, hanya 11 murid yang mendengar. Para murid itu sangat penting bagi hidup Tuhan sehingga bagian yang sangat rahasia itu justru dipaparkan kepada mereka. Para murid ini seperti anak-anak yang mencari apa yang menarik bagi dunia mereka sendiri. Anak-anak tidak peduli pada hal yang penting yang sedang dibicarakan orang dewasa. Mereka mencari dunianya sendiri. Bagi Yesus apa yang dibicarakan-Nya serius karena sebentar lagi ia akan ditangkap dan menderita. Para murid menganggap apa yang dikatakan Gurunya hanya hal yang wajar-wajar saja seperti Ia biasa mengajar dan memberikan pengajaran.

Menjelang akhir hidup-Nya dengan berani Yesus menyatakan tanpa ragu bahwa Ia adalah pokok anggur yang benar dan Bapanya adalah pengusahanya. Orang Israel mengerti bahwa kebun anggur berarti mereka sendiri dan Allah adalah pemilik mereka yang memimpin, menjaga, merawat, dan membela mereka. Akan tetapi selama ini mereka belum pernah menghasilkan buah yang baik. Yes. 5:1-10 memberitahukan bahwa Allah mendapati kebun anggur itu sangat mengecewakan karena buahnya asam semua. Israel adalah kepedulian Tuhan yang utama, bahkan Ia mengutus para nabi kepada mereka. Namun nabi pun mereka bunuh, hidup mereka tidak ada hal yang dapat dibanggakan sebagai umat Allah. Padahal bangsa ini Tuhan pilih dengan berjanji kepada Abraham untuk menjadikan mereka berkat bagi seluruh dunia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 13 Sep'09 PDF Print E-mail

 

Yoh 12:20-36

Ev. Ivan Kristiono, M.Div.

Momen yang indah adalah sat orang-orang Yunani datang mencari Yesus. Mereka orang-orang yang berhikmat yang ratusan tahun sebelum Yesus datang mereka sudah memikirkan tentang realitas ultimat, apa yang ada di dalam dunia ini. Apa yang membuat kita semua sama dengan semua unsur yang ada di dalam dunia ini? Jikalau semua itu digabungkan jadi satu lalu yang satu itu apa? Segala sesuatu itu intinya satu. Ada yang mengatakan air yang menjadi dasar segala sesuatu. Ada juga yang mengatakan jika air yang menjadi dasar segala sesuatu mengapa itu berubah-ubah? Ada yang mengatakan api yang menjadi dasar segala sesuatu. Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah satu zat yang tidak terbatas. Jikalau air yang menjadi dasar segala sesuatu lalu bagaimana bisa muncul api? Air berlawanan dengan api? Maka ada yang mengatakan bahwa sumber segala sesuatu itu bukan satu tapi banyak. Demokritus mengatakan sumber segala sesuatu itu harus satu yaitu atomos, diikat oleh kasih diceraikan oleh benci dan atom itu bergerak bebas. Jeruk bisa kita potong dengan pisau, besi tidak karena jeruk atom-atomnya renggang sehingga bisa dibelah. Orang-orang Yunani begitu hebat. Sampai pada Sokrates ia mengatakan apa makna hidup ini? Apakah sama dengan binatang yang lain?  Aristoteles mengatakan ada satu keutamaan, hukum kodrat, hukum natur. Maka manusia hidup harus ada tujuannya. Mereka tidak punya Alkitab. Dalam tradisi berpikir selama ratusan tahun yang padat dan tajam mereka tetap merasakan ada sesuatu yang kurang. Itu sebabnya orang Yunani mencari Yesus. Ketika mereka bertemu dengan Guru yang mengajar di Galilea itu, mereka merasakan sesuatu yang lain. Apa yang menakjubkan dari hikmat itu? Hikmat tertinggi adalah kita bisa mengenal Dia! Kata Tuhan, hikmat itu kadang disembunyikan bagi orang-orang pintar dan dinyatakan kepada orang-orang yang sederhana. Orang yang berbicara dengan Kristus merasakan hatinya berkobar-kobar. Ia punya kuasa. Dan ketika Yesus bertemu dengan orang-orang Yunani yang notabene orang kafir, Ia memberitakan sesuatu prinsip yang penting yakni bagaimana seorang Kristen seharusnya bersikap dalam hidup.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 06 Sep'09 PDF Print E-mail

Yoh 4:1-26

Pdt. Andi Halim S.Th.

 

Saat dibaptis oleh Yohanes Pembaptis Tuhan Yesus dikonfirmasi oleh Allah Bapa dan Roh Kudus dalam bentuk burung merpati. Konfirmasi kedua juga menyusul saat Ia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai Iblis, yaitu bahwa Ia adalah Anak Allah yang Mahakuasa yang tidak terkalahkan oleh pencobaan Iblis. Ketiga saat Ia merubah air menjadi anggur di Kana juga ada konfirmasi bahwa Ia melaksanakan mujizat bukan karena perintah ibunya tetapi hanya karena Ia mau mentaati Bapa-Nya. Inilah misi-Nya di dalam dunia: ketaatan kepada Allah Bapa. Setelah itu Ia pergi ke Yerusalem untuk menyucikan Bait Allah dan Ia mengklaim bahwa rumah Bapa-Nya tidak boleh dijadikan tempat berjualan. Inilah klaim otoritas: Ia memiliki hubungan yang khusus dengan Bapa-Nya yang tidak dimiliki oleh orang lain. Terakhir adalah percakapan-Nya dengan Nikodemus, pemimpin agama Yahudi yang sangat penting tetapi mau datang dan memberikan penghormatan kepada-Nya. Tuhan justru malah mengatakan bahwa Nikodemus tidak bisa mengenal hal-hal rohani karena matanya buta dan belum mengalami kelahiran kembali. Dari semua peristiwa ini kita melihat bahwa Kristus berulangkali menegaskan perkataan-perkataan otoritas dan bersifat ilahi yang hanya dapat diucapkan seorang Mesias dan bukan seorang manusia biasa.

Dalam kisah perikop ini sepertinya Tuhan tidak ada tujuan ke Samaria(4:1-3). Tuhan mau menghidar dari orang Farisi yang kemungkinan iri melihat popularitasnya yang bahkan melebihi Yohanes Pembaptis, yang lebih dahulu tidak disukai orang Farisi.Ia tidak ingin lebih terkenal lagi di Yerusalem, apalagi Nikodemus sudah datang dan menyatakan kesalutannya kepada-Nya, maka Ia meninggalkan Yudea yang di selatan menuju Galilea di utara. Perjalanan itu harus melintasi daerah Samaria yang memang terletak di tengah-tengah di antara kedua wilayah ini (ayat 4). Sebenarnya orang Yahudi jaman itu sangat tidak suka melintasi daerah Samaria karena mereka adalah hasil kawin campur antara orang Yahudi yang tertinggal di Palestina dengan bangsa kafir (Asyur dan bangsa-bangsa lain) pada jaman pembuangan di Babel. Samaria adalah noda bagi umat pilihan Allah, hal yang menjijikan, najis. Orang Yahudi lebih memilih jalan memutar menghindari daerah Samaria karena kebenciannya itu. Harap kita tidak memiliki dosa semacam ini, membenci dan membeda-bedakan etnis tertentu dan merasa jijik atau kotor dengan etnis yang berbeda dengan kita. Tuhan Yesus tidak mengikuti kebiasaan seperti itu dan Ia melintasi daerah Samaria dan tiba di kota Sikhar. Ia letih dan duduk di sebuah sumur. Lalu tibalah seoerang perempuan Samaria dan terjadilah percakapan itu. Sepertinya hanya kebetulan Ia mampir ke Samaria. Tapi tidak ada yang kebetulan dalam Tuhan. Semua sudah direncanakan-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 Jul'09 PDF Print E-mail

Yoh 2:1-11

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Tidak ada kesalahan pada Yesus ketika berbicara dengan Maria, ibu-Nya, ketika diberitahukan bahwa air anggurnya habis. Yesus adalah Allah yang menjelma manjadi manusia dimana perkataan-Nya itu berotoritas sehingga tidak mungkin muncul sikap Yesus yang menyesali ucapan-Nya sendiri setelah berkata-kata kepada Maria lalu akhirnya menuruti kemauan Maria untuk mengubah air menjadi anggur. Perkataan Tuhan Yesus kepada Maria, ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?’ dalam terjemahan lamanya dituliskan, ‘Hai perempuan, apakah kena mengena di antara Aku dengan engkau?’ dan bahkan, di dalam versi lainnya dituliskan, ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku?’ artinya apa kaitannya antara diri Yesus dengan Maria di dalam kaitan memberikan perintah seperti itu dan yang kedua, Tuhan Yesus menegaskan bahwa otoritas bukan berada pada Maria, dengan mengatakan ‘Waktu-Ku belum tiba’. Hal tersebut menunjukkan bahwa bukan Maria yang menentukan apa yang Tuhan Yesus harus lakukan. Sehingga otoritas itu tetap ada pada Yesus Kristus untuk bertindak menurut waktu-Nya, waktu Allah Bapa sendiri, bukan pengaruh dari Maria.

Kita melanjutkan pembahasan pada bagian akhir dari perikop ini yaitu ‘…sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya...’ (ayat 11). Berarti ada tanda-tanda yang berikutnya yang akan muncul dan hal ini berkenaan dengan mujizat yang dilakukan-Nya. Maka mujizat disebut sebagai tanda dan memang di dalam Alkitab, mujizat itu diistilahkan sebagai tanda (sign). Sehingga sebenarnya kita sudah bisa mengerti hakekat dari mujizat, mujizat itu adalah tanda. Tanda itu menunjukkan suatu ciri dari sesuatu/seseorang yang hendak diperhatikan. Hal ini seperti halnya seseorang yang hendak menjemput seorang pembicara seminar yang belum pernah diketahui ciri-cirinya, maka orang yang menjemput ini akan memperhatikan ciri-ciri pembicara tersebut sebagai tanda untuk mengenal sehingga tidak salah orang sewaktu dijemput di bandara. Setelah berjumpa dengan si pembicara maka tanda itu tidak diperlukan lagi, bukan? Tetapi banyak orang zaman sekarang yang tetap menginginkan dan mencari tanda atau mujizat-mujizat lebih daripada Kristus. Apakah benar bahwa kekristenan itu berorientasi dan berfokus pada tanda? Tidak! Parahnya banyak orang-orang kristen zaman ini yang tergila-gila dengan tanda dan lebih parahnya lagi adalah gereja yang “memfasilitasi” untuk mengeksploitasi tanda-tanda sehingga jemaatnya pun berfokus pada tanda-tanda seperti mujizat, kesembuhan, kesuksesan, dsb. Kekeliruan besar terjadi pada orang-orang yang bersandar pada tanda-tanda.

Suatu tanda misalnya, mujizat, itu tidak menjamin seseorang bisa menjadi percaya dan beriman kepada Kristus (dasar dari kita bisa percaya dan beriman kepada Kristus itu mutlak karena kasih karunia Allah, bukan karena tanda-tanda). Alkitab sudah memaparkan tiga golongan yang sama-sama mengalami kelimpahan mujizat namun tetap saja tidak percaya. Ketiga golongan itu adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Raja Firaun, dan terakhir yaitu bangsa Israel sendiri. Para ahli Taurat dan orang Farisi melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, bukannya menjadi percaya tetapi malah menghujat dengan mengatakan bahwa mujizat itu berasal dari Setan. Hal yang sama terjadi pada Raja Firaun yang tetap mengeraskan hati ketika melihat dan mengalami mujizat-mujizat, dan yang terakhir, bangsa Israel sendiri yang mengalami mujizat dari Allah berulang-ulang di dalam sejarah perjalanan bangsa Israel namun tetap saja bangsa Israel berkeras hati.

Mesias yang datang itu disertai dengan tanda-tanda. Tanda-tanda itu adalah tanda-tanda mesianik. Sekarang ini banyak orang yang mencari tanda-Nya lebih daripada mencari Mesias itu sendiri. Yang dicari adalah berkat-berkat-Nya lebih daripada mencari Kristus sendiri. Hal tersebut memperlihatkan tanda dari orang yang tidak percaya. Orang yang percaya adalah orang yang orientasi hidupnya bukan pada tanda-tanda dan mencari berkat-berkat sebab orang yang percaya itu sudah mendapat berkat yang berkelimpahan di dalam Tuhan. Sedangkan orang-orang yang hidupnya terus menerus mencari tanda dan berkat, dia ada di dalam kondisi yang memprihatinkan dan kerohanian yang miskin.

Sekarang mari kita perhatikan orang-orang yang dipakai oleh Allah tanpa ada mujizat yang berlangsung dalam hidupnya. Pertama, Yohanes Pembaptis yang adalah nabi yang terakhir dan nabi itu selalu disertai dengan tanda. Namun, Yohanes Pembaptis tidak disertai dengan tanda-tanda kecuali sewaktu membaptiskan Tuhan Yesus di sungai Yordan dimana tanda itu pun adalah tanda yang dilihat oleh Yohanes Pembaptis bukan tanda yang mengiringi Yohanes Pembaptis. Kedua, Stefanus yang dicatat dalam Alkitab sebagai seorang yang penuh dengan Roh Kudus. Menurut teori PI, seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan mengabarkan Injil maka akan membawa banyak pertobatan dan mengikut Kristus, tetapi yang terjadi justru sangat berbeda yaitu Stefanus dilempari batu hingga mati ketika dia berkhotbah. Bukannya menghasilkan pertobatan banyak orang tetapi menimbulkan kemarahan besar dari pendengarnya lalu menyeret Stefanus dan membunuhnya. Ketiga, jemaat mula-mula yang dengan setia mengikut Kristus hingga mati sebagai martir. Jemaat mula-mula ini mengikut Kristus bukan untuk mendapatkan kesuksesan, harta kekayaan, dsb melainkan mereka tetap setia mengikut Kristus di tengah-tengah ancaman penyiksaan, penganiayaan, hingga dibunuh atau pun diadu dengan binatang buas. Dalam kondisi dan situasi seperti itu tak ada mujizat yang muncul namun mereka tetap mempertahankan imannya. Hal-hal tersebut dimaksudkan bahwa penjelasan ini bukanlah suatu pandangan yang anti terhadap mujizat, sekaligus penjelasan ini juga mengajarkan untuk tidak menjadi “tergila-gila” dengan mujizat.

Hidup orang kristen itu hidup yang tidak tertuju pada mujizat, bukan pula pada berkat-berkat. Hidup orang kristen itu hidup yang berkelimpahan di dalam anugerah-Nya, tetapi tidak seharusnya hidup kristen itu menjadi biasa-biasa saja. Tidak seharusnya kita puas dengan hidup yang biasa-biasa saja ketika kita sudah mengerti bahwa kita hidup di dalam kelimpahan anugerah-Nya. Orang yang meresponinya dengan cara hidup yang biasa-biasa saja itu terjadi karena dua kemungkinan, pertama, orang tersebut belum menerima anugerah-Nya maka tak heran hidupnya tidak berespons apa-apa atau yang kedua, orang tersebut sudah menerima anugerah Tuhan namun dia menganggap anugerah Tuhan itu seperti sampah. Menganggap anugerah Tuhan itu biasa, tidak ada istimewanya sehingga hidupnya pun berjalan biasa-biasa saja. Seperti isi dari lagu ‘Amazing Grace’ yang menyatakan ungkapan syukur yang tak pernah habis dan dari ungkapan syukur itu tidak mungkin menghasilkan reaksi yang biasa, reaksi yang harusnya muncul adalah reaksi seperti seseorang yang mengalami sakit yang tak tersembuhkan bertahun-tahun lalu akhirnya beroleh kesembuhan dari penyakitnya tersebut.

*) Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
<< Start < Prev 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Next > End >>

Page 50 of 58
RocketTheme Joomla Templates