Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 17 Mei 2015 PDF Print E-mail

Menderita karena Kebenaran

1 Petrus 3:13 – 17

Vic. Calvin Renata

Kondisi jemaat di mana Petrus mengirim surat ini adalah waktu mereka mengalami penganiayaan. Penganiayaan itu bisa dalam bentuk fisik mau pun non fisik. Dalam ayat 8, Petrus mengajarkan agar mereka saling mendoakan dan menguatkan dalam penganiayaan. Dan ayat 13 – 17 ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya.

Petrus mengatakan dalam ayat 13 bahwa jika kita rajin berbuat baik, biasanya orang pun tidak ingin berbuat jahat pada kita. Tapi ini bukan suatu rumusan yang baku atau mutlak. Bukan berarti jika kita rajin berbuat baik, maka pasti tidak akan ada orang yang berbuat jahat pada kita. Sebab dalam ayat 14 diajarkan bahwa kita pun harus siap menderita karena kebenaran. Hal ini tidak bisa disangkali. Meski pun kita sudah berbat baik, tetap tidak tertutup kemungkinan kita menerima kejahatan dari orang lain. Orang lain ini bisa orang yang kepadanya kita tidak berbuat baik atau bahkan orang yang kepadanya kita berbuat baik.

Kehidupan Tuhan Yesus itu adalah contoh yang paling jelas. Yesus sudah berbuat baik, menjadi teladan, dan mengasihi murid-muridNya, tetapi Yudas, salah satu murid-Nya, justru mengkhianati Dia. Maka ayat ini bukan berarti mutlak. Dalam ayat 14 itu pula Petrus mengatakan suatu nasehat yang aneh, yaitu jika kita harus menderita karena kebenaran, maka kita berbahagia. Hal ini merupakan kutipan dari Mat. 5:10, di mana Yesus mendefinisikan tentang bahagia. Salah satunya adalah ”Berbahagialah kamu pada waktu kamu dianiaya karena kebenaran.” Ini adalah definisi tentang bahagia yang tidak ada dalam pemikiran mana pun di dunia. Dalam filsafat Barat mau pun Asia, dibahas juga mengenai bahagia. Tujuan hidup orang itu adalah menjadi bahagia. Tapi apa bahagia itu? Bagaimana bisa bahagia? Ini memberikan pemahaman yang berbeda-beda.

Dalam filsafat Yunani diajarkan bahwa orang menjadi bahagia jika orang itu hidup dengan baik, dalam arti hidup sebagai manusia sebagaimana mestinya, khususnya hidup dengan rasio, berpikir, dan hidup berfilsafat. Itu adalah hidup yang berbahagia. Ini adalah definisi dalam filsafat dan agama-agama. Ternyata tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Cita-cita manusia itu bahagia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 10 Mei 2015 PDF Print E-mail

Melayani Tuhan dengan Rendah Hati

Ul.8:1-30

Pdt. Andi Halim, M.Th

Bangsa Israel itu unik. Seluruh Alkitab menceritakan peran Allah bagi bangsa ini. Pertama Allahlah yang memilih bangsa ini. Tetapi bangsa ini adalah bangsa yang keras kepala, tegar, tengkuk dan sulit diatur. Kesimpulan kita: bisa jadi Tuhan salah pilih, kenapa tidak pilih bangsa lain saja?

Ada yang mengatakan bahwa lebih mudah Tuhan turun ke dalam dunia daripada mengatur bangsa ini. Akan tetapi apakah Allah salah pilih? Tidak. Kedaulatan Allah yang memutuskan segala sesuatu tidak mungkin keliru. Kalau kita mungkin salah. Misalnya salah pilih jodoh.

Yang unik adalah adakah satu bangsa seperti bangsa Israel yang begitu keras kepala dan memberontak kepada Allahnya dan berkelahi dengan Allahnya?

Bagaimana membuat Allah tidak marah dan tidak menghukum kita? Bangsa Israel tidak pernah menemukan rumus untuk mengendalikan Allah karena Allah Israel adalah Allah yang punya pendirian dan rencana-Nya sendiri. Allahlah yang memaksa Israel untuk tunduk kepada kehendak-Nya. Allah adalah Allah yang mendidik bangsa ini seperti ayah mendidik anaknya. Bagaimana mungkin Ia kewalahan dan sulit mendidik?
Tapi cara kerja Tuhan bukan instan atau keras seperti algojo menghabisi pesakitan sebaliknya Tuhan seperti ayah mengajari anaknya (Ul.8:5). Ini adalah cerita yang melihat ke belakang apa yang selama ini sudah Tuhan kerjakan kepada bangsa ini, yaitu membuat bangsa ini rendah hati (8:2-3).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 03 Mei 2015 PDF Print E-mail

Bagaimana Kita Melayani Tuhan?

2Taw.7:13-14, Mi.6:8

Pdt. Andi Halim, M.Th

Prinsip melayani Tuhan yang sudah pernah dibahas adalah: (1) Tuhan tidak mau dinomorduakan, tetapi seringkali kita menomorduakan Tuhan; (2) Melayani Tuhan dengan kasih. Kasih yang mau berkorban seperti Tuhan yang mengorbankan anak-Nya.

Hari ini kita akan berbicara mengenai melayani dengan rendah hati. Kita jarang sekali membahas mengenai kerendahhatian karena dianggap semua jemaat sudah tahu. Tetapi secara tidak sadar kita kehilangan kerendahhatian kita karena menganggap diri paling benar karena mengerti ajaran Reformed. Jika kita mengerti teologi dan menjadi sombong maka kita menjadi orang yang lupa diri.

Sifat alami manusia sebenarnya sombong dan merasa diri hebat. Misalnya masalah kesukuan: masing-masing kita merasa suku kita paling hebat. Jika natur ini diteruskan dan kita tidak menahan diri maka kita akan menjadi arogan dan merasa superior. Sebaliknya kita juga harus berhati-hati jangan sampai merasa kita sudah rendah hati karena dalam perasaan tersebut kita sudah menyombongkan kerendahhatian kita. Ini adalah natur keberdosaan yang tidak bisa kita lepas. Jika kita sudah menyadari natur keberdosaan manusia ini marilah kita belajar maksud rendah hati menurut Alkitab.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 April 2015 PDF Print E-mail

Nasehat Internal dan Nasehat Eksternal untuk Gereja

1Ptr.3:8-12

Vic. Calvin Renata

Di bagian ini Petrus tidak lagi berbicara soal suami istri tapi dua nasehat: internal, untuk sesama orang percaya, dan eksternal, sikap gereja terhadap penganiaya atau orang luar yang belum percaya. 

Seringkali kita pikir gereja hanya masalah doktrin atau pengajaran. Asal setia pada ajaran rasul pasti tidak ada masalah. Doktrin memang penting tapi hal-hal yang bersifat praktis seringkali lebih sulit dilakukan dibandingkan doktrin yang rumit.

Di ayat 8 nasehat Petrus bersifat internal dan ada 5 nilai tentang bagaimana berelasi sesama tubuh Kristus:

Pertama: hendaklah kamu semua seia sekata. Seia sekata dalam ESV adalah unity of mind (Yunani: homopron, satu pikiran), ini lebih tepat. Seia sekata bukan sekadar jadi yesman. Ini bukan berarti semua orang dalam gereja tidak boleh ada perbedaan dan harus seragam pikirannya. 12 murid Tuhan Yesus punya 12 karakter yang berkumpul bersama sebagai komunitas gereja yang paling kecil. Mereka dipersatukan Tuhan. Ini bukan hal yang gampang. Lalu apa kuncinya? Ini hanya mungkin terjadi kalau setiap orang dalam tubuh Kristus punya visi yang sama dalam bergereja. Kalau tidak pasti yang ada hanya perbedaan dan kekacauan. Tapi kalau hamba Tuhan, pengurus, aktivis, dan jemaat awam punya visi yang sama maka kita akan punya kesatuan pikiran. Bagaimana mencapainya kalau begitu banyak orang di dalam gereja? Tidak semua jemaat sama-sama bergereja dari Sekolah Minggu sampai usiawan. Kita bertemu di gereja saat sudah dewasa dengan membawa cara berpikir yang berbeda dan berlainan dari keluarga masing-masing yang bisa jadi sumber konflik dalam gereja. Gereja pecah pertama-tama karena tidak ada kesatuan pikiran. Maka (A) kita harus sepakat bahwa firman Tuhan harus yang tertinggi dan otoritas di atas segala sesuatu, bukan hamba Tuhan. Ini awal yang baik. Semua akan punya hati yang tunduk pada otoritas Firman daripada sekedar tradisi gereja atau prinsip-prinsip yang tidak jelas. Ini akan menolong kita dalam ambil keputusan, rapat, dan sebagainya. Misal makna natal adalah untuk penginjilan dan bukan perayaan serta kostum dan panggung yang puluhan juta. Prinsip akan menentukan mana yang prioritas dan mana yang sekunder; (B) kepentingan yang menyangkut banyak orang harus lebih dipentingkan daripada kepentingan pribadi. Semua usulan dalam rapat bisa sama baiknya tapi mana yang dampaknya lebih besar buat banyak orang? Yang usulannya ditolak harus belajar berbesar hati untuk mengakui pemikiran yang lain yang lebih baik. Jangan sekali-kali biarkan diri dipakai Iblis untuk menghalangi pekerjaan Tuhan di gereja ini hanya gara-gara perbedaan pandangan. Asalkan pekerjaan Tuhan lebih maju dan berkembang biarlah hal itu terjadi. (C) kita harus mengerti mana hal yang bersifat relatif dan mutlak. Ada pengurus yang pindah gereja hanya karena usulannya ditolak tentang warna gordyn. Ada juga yang karena gerejanya adalah gereja nenek moyang maka benar atau salah tetap saja bergereja di situ. Kita justru bersyukur kalau orang seperti ini pindah, karena dia tidak siap bergereja dengan beres.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 69
RocketTheme Joomla Templates