Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 16 Agustus 2015 PDF Print E-mail

Eksposisi Surat 1 Petrus 4:1-4

Vic. Calvin Renata, M.Div

1 Petrus 4:1 adalah ayat yang menyimpulkan/menjelaskan 1 Petrus 3. Pasal 4 dimulai dengan menggunakan kata ‘jadi.’ Kata ‘jadi’ adalah kata penghubung sekaligus kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Di sini Petrus kembali menyingung tentang penderitaan badani Yesus Kristus. Kenapa penderitaan fisik/badani Yesus Kristus harus diulang lagi pada kalimat pembukaan pada pasal ini? Bukankah Petrus telah sangat jelas ditekankan pada 1 Pet 3:18? Jawabannya adalah bagian ini merupakan sebuah penegasan dari Petrus bahwa penderitaan Kristus/inkarnasi Yesus sebagai manusia adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang betul-betul terjadi.

Kenapa demikian? Karena pada zaman itu banyak ajaran-ajaran palsu/sesat. Ada 2 ajaran yang mirip yang menolak inkarnasi Yesus, seperti (1) bidat Gnosticism/gnostiksisme, ajaran bidat ini bersifat dualistik, yaitu memisahkan dengan ketat antara roh dan materi. Roh dianggap baik sedangkan materi adalah sesuatu yang jahat. Karena tubuh itu adalah materi maka tidak mungkin Roh yang baik (Roh Allah) bisa bersatu di dalam tubuh manusia yang jahat dan berdosa. Dengan demikian bidat ini menolak bahwa Yesus pernah berinkarnasi ke dalam dunia, karena tidak mungkin bahwa Yesus yang dahulunya adalah Roh sekarang bersatu dengan materi (2) Doketisme. Asal kata Yunaninya adalah ‘dokeo’ yang artinya “kelihatannya.” Ajaran ini bersama dengan bidat gnostiksisme menolak bahwa Yesus pernah berinkarnasi memakai tubuh manusia. Mereka mengatakan bahwa inkarnasi Yesus itu hanya kelihatannya saja, seperti fatamorgana. Jadi, mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia secara sungguh-sungguh menjadi manusia. Kedua bidat inilah yang menyebabkan Petrus menegaskan kembali bahwa Yesus pernah menderita secara badani.

Alkitab menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah pribadi ke-2 Allah Tritunggal pernah datang ke dalam dunia memakai tubuh manusia. Dengan demikian ini mengajarkan kita bahwa iman Kristen tidak memandang bahwa tubuh/materi itu adalah sesuatu yang jahat/berdosa/najis di mata Tuhan. Di dalam penciptaan ada 2 hal yang Tuhan berikan kepada manusia yang Tuhan sendiri tidak miliki, yaitu tubuh dan seksualitas. Ini membuktikan bahwa tubuh itu bukan sesuatu yang buruk/jahat/berdosa. Kekristenan berbeda dengan banyak agama-agama di dunia di dalam memperlakukan dan menghargai tubuh. Ada kepercayaan yang menganggap bahwa tubuh itu jahat dan penyebab dari segala dosa. Maka jikalau seseorang berbuat salah, yang disiksa adalah tubuh jasmaninya dengan harapan penyiksaan tersebut dapat membereskan dosanya. Alkitab mengatakan bahwa tubuh itu adalah alat. Maka, Yesus mengatakan bahwa bukan yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati manusialah yang membuat orang jadi berdosa. Tubuh bukan sumber dari dosa, tetapi roh yang telah dikuasai oleh dosa memperalat tubuh manusia untuk berbuat dosa.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 09 Agustus 2015 PDF Print E-mail

Penderitaan Orang Percaya

Flp 1:29; 1 Ptr 4:12 – 16; 3:13–17; 2:19–21

Pdt. Andi Halim, M.Th

Semua orang dipanggil bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk menderita. Sebagai manusia, penderitaan itu wajar sehingga jika kita tidak menderita itu adalah hal yang aneh. Namun penderitaan orang Kristen memiliki perbedaan, yaitu kita harus berbahagia dalam penderitaan itu. Ada banyak macam penderitaan, seperti karena penyakit, karena cacat (fisik maupun mental), dalam pekerjaan, dalam rumah tangga, pemerintah yang kejam, kurang hikmat dalam menjalani hidup, dan sebagainya. Akan tetapi penderitaan yang paling berkualitas dan alkitabiah adalah menderita karena Kristus. Itulah sebabnya kita harus berbahagia oleh karena kita menderita karena mengikut Kristus.

Bagaimana dengan penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan dan dosa kita? Ada orang yang beranggapan bahwa penderitaan karena dosa kita itu salah kita sendiri, tetapi jika menderita bagi Kristus baru kita bisa berbahagia dalam penderitaan kita. Pandangan ini benar tapi tidak tepat. Menurut teologi Reformed Klasik, penderitaan karena kesalahan atau dosa kita pun ada dalam kedaulatan dan pemeliharaan Allah. Setiap langkah kita, tanpa terkecuali, ada dalam kasih karunia dan pemeliharaan Allah. Itu adalah janji Sang Gembala yang Baik. Domba itu bisa nakal, bahkan terpisah dari kelompoknya dan tersesat. Namun Sang Gembala yang Baik akan mencarinya sampai menemukannya. Bahkan jika domba-domba-Nya terancam Ia akan rela mati bagi mereka. Saat bangsa Israel terus-menerus menderita karena kesalahan mereka, bahkan ketika mereka dibuang, Tuhan tetap menyertai mereka (bukti: Tuhan tetap mengirimkan Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Nehemia, dll.). Jadi di balik penderitaan karena kesalahan dan dosa kita itu ada didikan Tuhan.

Dalam Filipi 1:29 diajarkan bahwa penderitaan adalah kasih karunia Tuhan. Hal ini melawan natur manusia yang tidak mau dan menghindar dari penderitaan. Dalam Kekristenanlah kita mengerti bahwa penderitaan adalah pemberian Tuhan. Kita hidup dipanggil untuk menderita bagi Kristus. Jika kita sudah memiliki perubahan nilai, maka hidup kita akan berfokus pada panggilan kita, yaitu hidup untuk menderita bagi Kristus. Semua hal yang terjadi dalam dunia ini tidak ada satu pun yang kebetulan. Semuanya ada di dalam penetapan Allah yang pasti memiliki maksud yang terbaik bagi kita meskipun di mata kita terlihat tidak baik.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 02 Agustus 2015 PDF Print E-mail

Pelayanan oleh Para Ciptaan Baru

2Kor 5:11-21

Pdt. Andi Halim, M.Th

Di surat 1 Korintus terlihat sekali bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang kacau balau dan banyak masalah. Terjadi perpecahan, pemujaan terhadap tokoh tertentu, perjinahan, penyembahan berhala, salah konsep mengenai perjamuan kudus, dll. Di dalam 2 Korintus, Paulus menulis suratnya dengan nada perdamaian.

Pelayanan di dalam gereja tidak selalu berjalan dengan mulus, sama seperti jemaat Korintus di gereja juga ada perpecahan, selisih paham dll. Bahkan terkadang orang di dalam gereja bisa lebih jahat dari orang di luar gereja. Hal ini sedikit banyak akan dialami oleh orang-orang yang aktif pelayanan. Akibatnya terkadang kita bisa membenci seseorang, malas datang gereja, dll. Tetapi untungnya ada anugrah Tuhan yang membimbing kita. Manusia adalah manusia yang berdosa yang mudah jatuh, sehingga pegangan kita bukanlah manusia tetapi pada firman. Karena dengan memegang firman kita akan terus diteguhkan dan dikuatkan.

Pada ayat 7 Paulus mengatakan “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan…,” inilah yang seharusnya menjadi pegangan setiap orang yang melayani. Sungguhkah kita dalam pelayanan takut akan Tuhan? Seringkali kita terjebak dalam rutinitas merasa pelayanan adalah kewajiban dan kedisiplinan. Pelayanan yang dilakukan karena wajib dan disiplin adalah baik, tetapi apakah kita takut akan Tuhan? Pelayanan karena wajib dan disiplin bisa jadi karena rutinitas. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang belajar apa adanya dan terbuka bagi Allah. Apa adanya bukan apa adanya yang ngawur tetapi dengan perasaan takut akan Tuhan. Jika kita orang yang benar-benar percaya kita akan mementingkan perkara takut akan Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 Juli 2015 PDF Print E-mail

Merindukan dan Menghidupi Yerusalem Baru

Why.21:1-8

Vic. Gito T. Wicaksono

Bulan yang lalu kita sudah mempelajari tentang langit dan bumi yang baru (lih. Ringkasan Khotbah 21 Juni 2015). Ada pihak yang mengatakan bahwa langit dan bumi yang baru ini adalah benar-benar baru (Yunani: neos), tapi pihak yang lain percaya bahwa langit dan bumi yang baru adalah langit dan bumi yang lama yang diperbarui, bukan diganti. Di sini kita tidak bisa berpihak pada salah satu pandangan karena hal ini masih sangat kabur untuk dimengerti. Namun yang paling penting adalah bahwa di langit dan bumi ini, Yerusalem yang baru, adalah suatu titik temu antara Allah dengan manusia. Di situlah kita juga akan menikmati Allah dengan sepenuh-penuhnya.

Dalam Yes.65:17 dicatat bahwa Tuhan bukan ”akan menciptakan” tapi ”menciptakan.” Ini menunjukkan bahwa Allah itu sedang mengerjakan ”Yerusalem yang baru” ini secara terus-menerus (progressive). Dalam Yes.66:22 juga ditunjukkan bahwa Yerusalem tersebut sedang dikerjakan, tetapi belum selesai. Finalnya adalah yang seperti dilihat oleh Yohanes dalam Why.21:1–8.

Para penjelajah, seperti Marcopolo dan Columbus, sangat ingin mencari Dunia Baru. Kita pun berliburan juga untuk mencari sesuatu yang baru. Ini menunjukkan bahwa manusia seringkali tidak puas dan ingin suatu yang baru dan baru lagi. Hal itu sebenarnya tidak salah, tapi janganlah itu menjadi pelampiasan. Konsep kita yang harus benar, yaitu tetap memandang Allah sebagai yang utama. Visi kita harus kepada Yerusalem yang baru, di mana terdapat kebenaran. Kita harus memiliki kerinduan dan berorientasi kepada Yerusalem yang baru tersebut. Hal ini bukan mengacu kepada Yerusalem yang sekarang (yang ada di Palestina), melainkan ”Yerusalem” sorgawi. Ibr.11:10 mengatakan bahwa Abraham menantikan kota yang punya dasar dan direncanakan serta dibangun oleh Allah.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 72
RocketTheme Joomla Templates