Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 10 Agustus 2014 PDF Print E-mail

Roma 9:11

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Pelayanan bisa dibagi menjadi 3 kategori yaitu keluarga, pekerjaan, dan gereja. Ketiga kategori ini tidak bisa dilepaskan karena setiap orang percaya pasti punya keluarga, pekerjaan, dan gereja. Orang Kristen harus hidup dalam komunitas gereja, tidak bisa kita beribadah sendiri di rumah dengan mendengarkan khotbah. Kta harus pergi ke gereja dan berkomunitas. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang tidak mungkin hidup sendiri. Jika kita hidup bergereja, kita juga harus terlibat dalam pelayanan gerejawi. Pelayanan gerejawi merupakan pelayanan yang paling inti dibandingkan kategori yang lain karena ini merupakan inti/pusat dari aktivitas lain karena di gerejalah firman diberitakan. Firman merupakan dasar dalam menjalani hidup kita sehari-hari. Jika yang menjadi dasar tidak diperhatikan bagaimana dengan aspek hidup lain dalam hidup kita? Apa alasannya kita dipakai oleh Allah? Apakah yang menjadi dasar yang kuat di dalam melayani Tuhan?

Ada orang yang ingin melayani tetapi takut pada saat melayani imannya menjadi goyah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Bagaimana dengan ketakutan ini? Keselamatan atau pelayanan kita tidak tergantung kepada kekuatan iman kita tetapi kepada kesetiaan dan ketetapan Allah yang sempurna dan kekal. Iman kita memang tidak pernah stabil. Abraham pun imannya tidak stabil. Meskipun Tuhan sudah berjanji kepada Abraham ia tetap ragu-ragu dan mempertanyakan janji Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Abraham adalah manusia biasa. Hamba Tuhan yang terlihat luar biasa pun sebenarnya hanyalah manusia biasa. Kita belum tahu pergumulan dan kelemahan yang dihadapi oleh orang tersebut. Kita semua bisa melayani karena kesetiaan Allah dan penetapan Allah yang sempurna dan kekal. Kita tidak boleh bilang kita tidak layak atau tidak sempurna karena jika menunggu kesempurnaan sampai mati pun kita tidak bisa sempurna. Konsep menunggu sempurna baru melayani Tuhan salah tetapi ini juga tidak berarti orang yang melayani Tuhan tetapi hidup sembarangan itu benar.

Kita semua adalah orang yang dipanggil melayani. Kerinduan melayani adalah kerinduan yang tidak bisa direkayasa, dibuat-buat, atau ditahan. Melayani adalah sesuatu yang wajar. Bagaimana prosesnya sampai kita melayani Tuhan? Ini dimulai melalui pencerahan (enlightenment) yang di Alkitab sama dengan kelahiran baru. Melalui pencerahan (lahir baru) orang baru sadar bahwa dia adalah hamba Tuhan dan seharusnya melayani Tuhan. Orang yang tidak pernah lahir baru melayani karena terpaksa, suka jabatan, atau alasan-alasan lain tetapi dia tidak punya kesadaran melayani. Orang yang terpaksa melayani jelas tidak punya dasar yang kuat sehingga saat mengalami pencobaan, tantangan dalam pelayanan, akan mundur dan tidak mau melayani lagi. Orang sudah sadar bahwa ia seharusnya melayani Tuhan tidak akan menganggap pelayanan sebagai beban yang luar biasa. Melayani menjadi suatu kerinduan. Jika ia tidak melayani justru menjadi tersiksa. Ini bukan berarti pula orang yang melayani dengan senang pasti pelayanannya benar karena rasa senang bisa disebabkan karena penghargaan, lingkungan, atau faktor-faktor lain. Melayani karena kita sudah disadarkan oleh Tuhan bahwa kita adalah hamba-Nya dan sudah sepatutnya kita melayani. Inilah kesadaran rohani. Orang yang menyadari siapa dia dan siapa Allahnya mempunyai relasi dengan Allah yang benar. Kesadaran yang benar diikuti dengan relasi dengan Allah yang benar. Tidak mungkin orang sadar tetapi tidak diikuti dengan relasi dengan Allah yang benar. Orang yang dilahirbarukan adalah orang yang diikuti dengan kesadaran bahwa dia adalah anak dan hamba Allah dan perlu berelasi dengan Allah. Inilah sumbernya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 03 Agustus 2014 PDF Print E-mail

Pemilihan Abraham

Kejadian 12:1-4

Pdt. Andi Halim M. Th.

Di mana Tuhan memanggil Abraham? Dari Haran atau dari Ur-Kasdim? Dalam Kis.7:2-3 memang ia telah dipanggil keluar oleh Tuhan pada waktu dia berada di Ur Kasdim tetapi dalam Kej. 11:31 dicatat bahwa awalnya Abraham memang berada di Ur-Kasdim tetapi kemudian ia berangkat bersama orang tuanya, Terah, dan menetap di Haran. Setelah Terah mati pada usia 250 tahun barulah Tuhan sekali lagi memanggil Abraham keluar untuk berangkat dari Haran (12:1-4). Jadi dua-duanya benar, Tuhan memanggil Abraham baik dari Ur-Kasdim (Kej. 15:7) maupun dari Haran.

Abraham memang dipanggil Tuhan sebagai bapak bagi orang beriman. Pertanyaannya adalah mengapa? Padahal tidak ada sesuatu yang baik pada diri Abraham yang dapat menjadi alasan bagi Tuhan untuk memilihnya. Ur-Kasdim adalah daerah orang kafir, maka Abraham pun pasti orang kafir, dan orang tua Abraham adalah penyembah berhala. Inilah uniknya padahal bangsa Yahudi sering begitu bangga sebagai keturunan Abraham. Ternyata nenek moyang mereka adalah seorang kafir. Jadi sebetulnya tidak ada hal yang dapat dibanggakan berdasarkan status mereka. Jadi puilihan Allah atas Abraham ini hanya semata-mata karena kehendak dan kedaulatan Allah saja.

Pilihan Allah tidaklah didasarkan pada kondisi manusia karena semua manusia itu bobrok di mata Tuhan. Pilihan Tuhan hanyalah semata-mata karena kehendak dan rencana-Nya saja. Inilah yang disebut only by grace, sola gratia, semata-mata karena anugerah Tuhan saja. Kesadaran akan hal ini akan membuat hidup kita terus terkontrol dan tidak menjadi sombong setelah kita dipilih oleh Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 27 Juli 2014 PDF Print E-mail

Mengenal Tuhan Semakin Dalam

Ef 1:15-17

Ev. Bakti Anugrah

A.W Tozer dalam “Knowledge of the Holy,” mengatakan bahwa apa yang pertama kali muncul dalam pikiran kita saat kita berpikir tentang Allah adalah hal yang paling penting tentang kita. Tozer juga mengatakan bahwa kita punya kecenderungan hukum di dalam jiwa kita untuk membuat gambaran mental tentang Tuhan. Dalam 10 perintah Allah, hukum pertama adalah tidak boleh ada Allah lain dalam hidup kita. Kita memang tidak menyembah patung tetapi kita membuat gambaran sendiri tentang Allah dan kita menyembah gambaran tersebut. Gambaran mental yang kita buat tentang Tuhan menggambarkan kita. Banyak dari kita menggambarkan Tuhan Yesus sebagai orang yang berambut gondrong dan berjenggot padahal tidak pernah disebutkan dalam Alkitab. Gambaran kita yang salah tentang Tuhan ini yang seringkali kita pikirkan saat berdoa,

Martin Lloyd Jones mengatakan kebutuhan kita paling tinggi adalah mengenal Allah. Kebutuhan kita yang tertinggi bukan kebutuhan-kebutuhan jasmani (makan, minum, hidup mapan, dll). Mengenal Allah adalah mengenal Allah dengan baik, sungguh-sungguh sesuai dengan firman. Tuhan Yesus pernah berfirman dalam Yoh 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Seringkali orang Kristen mengabaikan ayat ini. Jika kita orang percaya dan telah diselamatkan satu hal yang pasti adalah kita mengenal Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus. Keselamatan bukan berarti mati sekedar kita masuk surga tetapi relasi dengan Allah. Tuhan memperingatkan Adam supaya tidak memakan buah karena ia akan mati jika memakan buah tersebut. Tetapi pada saat Adam memakannya ia tidak mati (secara fisik) tetapi hubungannya dengan Tuhan sudah rusak (mati). Kematian adalah keterpisahan dari Sang Sumber Hidup. Kematian dinyatakan saat Adam bersembunyi saat dicari oleh Tuhan. Agama menutupi dosa dengan perbuatan baik tetapi tidak mau bertemu Tuhan. Keselamatan adalah saat relasi kita dengan Tuhan dikembalikan.

Rasul Paulus yang telah 25 tahun percaya pun mengatakan bahwa dia pun belum mencapai pengenalan akan Kristus sebagaimana yang ia pikirkan dan masih terus mengejar pengenalan tersebut (Fil 3:8-13). Jikalau rasul Paulus yang telah menulis separuh dari Perjanjian Baru mengatakan belum mengenal Tuhan, siapakah kita sehingga kita bisa mengatakan bahwa kita mengenal Tuhan? Nabi Hosea dalam Hos. 6:3 menulis hal yang sama seperti rasul Paulus supaya kita mengejar terus pengenalan akan Tuhan dan tidak pernah puas akan pengenalan kita terhadap Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 20 Juli 2014 PDF Print E-mail

Kristus Sebagai Imam, Nabi dan Raja

Luk 22:31-32

Ev. Titus Ndoen

Topik Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja kurang diperhatikan oleh orang Kristen. Padahal topik ini merupakan topik yang sangat mendasar dan mempengaruhi bagaimana kita menjalani hidup kita setiap hari. Kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk menyatakan Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja dan kita berfungsi sebagai nabi, imam, dan raja dalam setiap apa yang kita lakukan.

Katekismus Heidelberg pertanyaan ke 32 menanyakan mengapa kita disebut sebagai orang Kristen? Jawabannya karena kita adalah anggota dari tubuh Kristus melalui iman dan berbagian di dalam pengurapan-Nya supaya kita sebagai nabi, mengakui nama-Nya; sebagai imam, mempersembahkan hidup saya sebagai suatu korban yang hidup kepada Tuhan; dan sebagai raja, berjuang dengan hati nurani yang bersih dan bebas melawan dosa dan kejahatan.

Menjadi orang Kristen itu sinonim dengan menjadi nabi, imam, dan raja. Supaya kita berfungsi sebagai nabi, imam, dan raja kita harus melihat kepada Kristus. Kita memang tidak sama seperti Kristus karena ia adalah Nabi, Imam, dan Raja yang sesungguhnya sedangkan kita hanya berfungsi sebagai nabi, imam, dan raja.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 62
RocketTheme Joomla Templates