Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 14 September 2014 PDF Print E-mail

Iman Sejati

Ibr 11:8-19

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Kita sudah belajar mengenai Abraham beberapa kali dan dari situ kita bisa melihat bahwa Abraham adalah manusia biasa yang berdosa dan tidak bisa dicontoh. Abraham punya kelemahan dan kekurangan seperti kita. Karena itu yang bisa diandalkan bukan Abraham atau tokoh Alkitab yang lain, bukan juga iman yang luar biasa.

Apakah yang dimaksud dengan iman? Orang seringkali berpikir bahwa dengan iman manusia bisa melakukan hal yang besar, bahkan Tuhan pernah mengatakan iman sebesar biji sesawi bisa memindahkan gunung. Kalimat seperti ini membuat orang beranggapan bahwa iman sangat luar biasa. Ini merupakan konsep yang salah. Di dalam satu ayat memang Tuhan pernah berkata kepada seorang perempuan bahwa imannya besar (Mat.15:28). Kalimat ini bisa menyebabkan salah pengertian sehingga kita bisa menganggap bahwa iman ibu ini memang luar biasa dan hebat sehingga Tuhan Yesus pun mengakuinya. Kesan inilah yang kita dapatkan sehingga bisa-bisa kita menjadikan hal ini sebagai tujuan, yaitu mempunyai iman yang besar supaya kita bisa mengalami kejadian yang hebat juga.

Ibu yang disebut Yesus sebagai orang yang beriman besar ini berasal dari bangsa Kanaan yang merupakan bangsa kafir. Kedatangan perempuan ini ditolak oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Menyebut Yesus sebagai Anak Daud bukanlah hak perempuan Kanaan ini karena ia bangsa kafir yang tidak menerima janji Allah. Kata-kata Tuhan Yesus kepada perempuan ini bertujuan untuk menyadarkan dan menginsafkan. Tuhan Yesus mengusir perempuan ini, tetapi perempuan itu tetap mendekat dan menyembah Yesus. Sikap perempuan ini mengalami perubahan dari yang awalnya berteriak memanggil kemudian datang menyembah. Perempuan yang awalnya emosional dan sembarangan menyebut Yesus sebagai anak Daud datang dan menyembah Yesus dan mengakui bahwa Dialah yang empunya kuasa. Perempuan ini meminta supaya Tuhan menolong Dia. Perempuan yang semula memaksa Tuhan Yesus sekarang sudah menyerah dan memohon belas kasihan dari Tuhan Yesus.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 07 September 2014 PDF Print E-mail

Kekuasaan Allah

Kej 15:1-6

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Kita sudah belajar mengenai 2 hal di dalam seri khotbah mengenai “Dapatkah Aku Dipakai Allah?” 2 hal yang menjadi penekanan adalah panggilan dan kesetiaan Allah. Kenapa 2 hal ini yang menjadi penekanan? Karena manusia tidak ada yang bisa diandalkan. Hidup orang percaya tidak berlandaskan pada kekuatan manusia. Kekuatan manusia bukan kekuatan yang stabil dan bisa diandalkan. Manusia adalah makhluk yang rapuh, lemah, dan sering bermasalah. Hal ini dibuktikan oleh Abraham sendiri yang meragukan janji Tuhan. Janji Tuhan begitu jelas dinyatakan dalam Kej 15:1-6, tetapi Abraham masih goyah.

Abraham adalah Bapa Orang Beriman, seharusnya ia memberikan contoh yang baik, tetapi ia goyah dan menikah dengan Hagar, budaknya. Perbuatan Abraham ini menunjukkan ketidakpercayaan Abraham terhadap janji Allah. Tindakan ini tercela dan tidak terpuji karena Tuhan sudah berjanji, tetapi Abraham malah meragukan-Nya. Abraham mengandalkan logikanya sendiri. Kita bisa dipakai bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena panggilan dan kesetiaan Allah.

Hal yang ketiga adalah kekuasaan Allah. Sebelum Kej.15, ada satu peristiwa dimana Lot yang memilih tinggal di Sodom dan Gomora dan diserang oleh 4 raja dari daerah lain. Ke-4 raja ini ingin menguasai Sodom dan Gomora dan akhirnya mereka menangkap Lot. Lot yang sedang ditawan ini kemudian dibebaskan oleh Abraham yang merupakan pamannya. Abraham berperang melawan raja-raja yang menawan Lot. Setelah Abraham membebaskan Lot pasti ada kekhawatiran bahwa keempat raja ini akan membalas perbuatannya. Abraham pada saat itu belum diserang karena mereka masih jauh dari wilayah Sodom dan Gomora. Inilah latar belakang dari Kej 15.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 17 Agustus 2014 PDF Print E-mail

Etika Kerajaan

1Sam.7:15; 1Sam. 9-11; Hak.21:25;Ul.17:14

Ev. Gito Wicaksono, M.Div.

Kita memiliki dobel kewargaan baik sebagai warga negara maupun sebagai kerajaan surga. Baik kewargaan kita di Indonesia karena kelahiran maupun sebagai warga kerajaan surga bukanlah karena keinginan kita tetapi karena kedaulatan Tuhan. Sebagai warga negara kita tidak bisa memiliki kebebasan dan bertindak semau kita. Saat kita merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 sesungguhnya kita hanyalah lepas dari satu penjajahan tapi terikat lagi pada negara yang baru. Maka tidak ada kemerdekaan atau kebebasan yang mutlak sehingga kita bisa semau kita sendiri. Kebenaran itu akan memerdekakan kita, tetapi bebas di dalam suatu prinsip (Yoh.8:32).

Bangsa Israel setelah keluar dari Mesir perlu menunggu sekitar 400an tahun mulai dari jaman Musa, Yosua, sampai hakim-hakim sebelum mereka akhirnya masuk dalam pemerintahan para raja. Dalam masa-masa itu meskipun mereka adalah suatu bangsa semua pemerintahannya adalah bersifat transisi atau sementara. Mereka paling berantakan di masa hakim-hakim, di masa sebelumnya mereka bersatu di bawah kepimpinan seorang imam suku Lewi, yaitu Musa dan Harun, dan pemerintahannya bersifat teokrasi, dipimpin melalui firman Allah, tanpa undang-undang resmi kenegaraan. Dalam masa hakim-hakim yang terjadi adalah kepemimpinan secara sporadis dan tidak ada satu kepemimpinan nasional. Masa ini berlangsung selama kira-kira 350 tahun. Di masa hakim-hakim tidak ada raja, tidak ada pemimpin, setiap orang berbuat menurut apa yang dikehendakinya sendiri (Hak. 21: 25). Tidak ada aturan yang ditaati.

Masa hakim-hakim itu mirip dengan Indonesia yang dijajah Belanda selama 350 tahun tanpa ada kepemimpinan nasional. Yang ada hanyalah para pahlawan yang memimpin masing-masing daerahnya dalam perjuangan kemerdekaan. Inilah masa-masa transisi yang begitu panjang di mana Tuhan mempersiapkan Israel menjadi suatu bangsa. Setelah itu baru muncul Samuel yang merintis munculnya sebuah negara Israel. Dalam masa-masa Daud perlahan-lahan teokrasi mulai beralih menjadi monarki (kerajaan).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 10 Agustus 2014 PDF Print E-mail

Roma 9:11

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Pelayanan bisa dibagi menjadi 3 kategori yaitu keluarga, pekerjaan, dan gereja. Ketiga kategori ini tidak bisa dilepaskan karena setiap orang percaya pasti punya keluarga, pekerjaan, dan gereja. Orang Kristen harus hidup dalam komunitas gereja, tidak bisa kita beribadah sendiri di rumah dengan mendengarkan khotbah. Kta harus pergi ke gereja dan berkomunitas. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang tidak mungkin hidup sendiri. Jika kita hidup bergereja, kita juga harus terlibat dalam pelayanan gerejawi. Pelayanan gerejawi merupakan pelayanan yang paling inti dibandingkan kategori yang lain karena ini merupakan inti/pusat dari aktivitas lain karena di gerejalah firman diberitakan. Firman merupakan dasar dalam menjalani hidup kita sehari-hari. Jika yang menjadi dasar tidak diperhatikan bagaimana dengan aspek hidup lain dalam hidup kita? Apa alasannya kita dipakai oleh Allah? Apakah yang menjadi dasar yang kuat di dalam melayani Tuhan?

Ada orang yang ingin melayani tetapi takut pada saat melayani imannya menjadi goyah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Bagaimana dengan ketakutan ini? Keselamatan atau pelayanan kita tidak tergantung kepada kekuatan iman kita tetapi kepada kesetiaan dan ketetapan Allah yang sempurna dan kekal. Iman kita memang tidak pernah stabil. Abraham pun imannya tidak stabil. Meskipun Tuhan sudah berjanji kepada Abraham ia tetap ragu-ragu dan mempertanyakan janji Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Abraham adalah manusia biasa. Hamba Tuhan yang terlihat luar biasa pun sebenarnya hanyalah manusia biasa. Kita belum tahu pergumulan dan kelemahan yang dihadapi oleh orang tersebut. Kita semua bisa melayani karena kesetiaan Allah dan penetapan Allah yang sempurna dan kekal. Kita tidak boleh bilang kita tidak layak atau tidak sempurna karena jika menunggu kesempurnaan sampai mati pun kita tidak bisa sempurna. Konsep menunggu sempurna baru melayani Tuhan salah tetapi ini juga tidak berarti orang yang melayani Tuhan tetapi hidup sembarangan itu benar.

Kita semua adalah orang yang dipanggil melayani. Kerinduan melayani adalah kerinduan yang tidak bisa direkayasa, dibuat-buat, atau ditahan. Melayani adalah sesuatu yang wajar. Bagaimana prosesnya sampai kita melayani Tuhan? Ini dimulai melalui pencerahan (enlightenment) yang di Alkitab sama dengan kelahiran baru. Melalui pencerahan (lahir baru) orang baru sadar bahwa dia adalah hamba Tuhan dan seharusnya melayani Tuhan. Orang yang tidak pernah lahir baru melayani karena terpaksa, suka jabatan, atau alasan-alasan lain tetapi dia tidak punya kesadaran melayani. Orang yang terpaksa melayani jelas tidak punya dasar yang kuat sehingga saat mengalami pencobaan, tantangan dalam pelayanan, akan mundur dan tidak mau melayani lagi. Orang sudah sadar bahwa ia seharusnya melayani Tuhan tidak akan menganggap pelayanan sebagai beban yang luar biasa. Melayani menjadi suatu kerinduan. Jika ia tidak melayani justru menjadi tersiksa. Ini bukan berarti pula orang yang melayani dengan senang pasti pelayanannya benar karena rasa senang bisa disebabkan karena penghargaan, lingkungan, atau faktor-faktor lain. Melayani karena kita sudah disadarkan oleh Tuhan bahwa kita adalah hamba-Nya dan sudah sepatutnya kita melayani. Inilah kesadaran rohani. Orang yang menyadari siapa dia dan siapa Allahnya mempunyai relasi dengan Allah yang benar. Kesadaran yang benar diikuti dengan relasi dengan Allah yang benar. Tidak mungkin orang sadar tetapi tidak diikuti dengan relasi dengan Allah yang benar. Orang yang dilahirbarukan adalah orang yang diikuti dengan kesadaran bahwa dia adalah anak dan hamba Allah dan perlu berelasi dengan Allah. Inilah sumbernya.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 62
RocketTheme Joomla Templates