Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 16 September 2012 PDF Print E-mail

Respon Pilatus

Yoh. 18:28-32

Ev. Bakti Anugrah

Saat kita mencapai suatu posisi yang cukup tinggi, terkadang ada hal yang menyulitkan kita dalam bertindak atau mengambil keputusan. Jika kita menjalankan fungsi sesuai dengan posisi kita maka ada kemungkinan dimana kita kehilangan posisi tersebut. Sebaliknya jika kita kompromi maka kita akan bertahan. Manakah yang akan kita pilih?

Kisah penyaliban Tuhan Yesus dalam Yoh. 18:28 – 19:16 menceritakan 8 adegan interaksi antara Yesus Kristus, Pilatus, dan orang Yahudi di pengadilan. Dalam kisah ini, bisa dikatakan Pilatus adalah ‘korban’ karena ia diperalat oleh orang Yahudi.

Adegan pertama adalah Yoh. 18:28–32. Yesus dibawa ke hadapan Pilatus. Sebelumnya Yesus sudah dibawa kepada pengadilan Hanas dan Kayafas tetapi mereka tidak berhasil menghakimi Yesus sehingga Ia dibawa kepada pemerintah Romawi, yaitu Pilatus. Kata gedung pengadilan dalam bahasa Yunani adalah Praetorion, yang merupakan bentuk terjemahan dari bahasa Latin yaitu Pretorium (markas militer dari Gubernur Romawi yang akan memerintah waktu itu).

Orang Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus pagi-pagi sekali yaitu sekitar pk. 05.00 – 06.00 untuk diadili. Mengapa pagi-pagi sekali? Matthew Henry menduga bahwa orang Yahudi melakukan hal ini supaya pendukung Yesus tidak bisa menghalangi mereka dalam menyerahkan Yesus. Tekad mereka sudah bulat untuk menyerahkan Yesus. Mereka merelakan waktu istirahat mereka demi menyerahkan Yesus. Pada saat yang sama mereka juga mengumpulkan kaki tangan mereka untuk ikut menentang Tuhan. Selain itu, mereka tidak mau menajiskan dirinya dengan masuk ke tempat Pilatus tinggal / gedung pengadilan. Hal ini sungguh ironis karena mereka tidak mau mencemarkan diri secara fisik (adat istiadat dan ritual) tetapi tidak masalah jika harus membunuh orang tidak bersalah (Yesus Kristus). Masuk rumah orang kafir dianggap haram, tetapi bunuh Yesus tidak haram. Dalam kehidupan rohani kita, celaka jika kita menentukan baik dan benar hanya berdasarkan pada adat istiadat belaka dan tidak ada hubungannya dengan moralitas. Hanya satu tujuan orang-orang Yahudi saat itu, yaitu membunuh Yesus. Demikianlah adegan pertama ini mengisahkan interaksi antara Pilatus dan orang Yahudi. Tetapi di balik semua ini ada Tuhan kita yang berperkara. Dibalik usaha licik manusia, semua berada dalam kontrol Tuhan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 09 September 2012 PDF Print E-mail

Respon Nehemia dalam Menghadapi Masalah

Neh. 13:1-31

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Inilah pasal terakhir dari Kitab Nehemia. Sebelum ini adalah daftar-daftar penduduk di Yerusalem, Yehuda, daftar para imam dan orang Lewi. Ternyata akhir dari suatu kisah tidak selalu harus berakhir dengan baik. Meski demikian, bagian akhir ini pun sebenarnya masih belum akhir karena Nehemia bukan mengerjakan pekerjaannya sendiri melainkan pekerjaan Allah. Nehemia sedang mengerjakan pekerjaan Kerajaan Allah dan maksud Allah. Dan maksud serta rencana Allah tidak akan selesai selama dunia kita masih ada dan selama kita sebagai orang-orang pilihan-Nya masih dititipkan di dunia ini.

Puncak pelayanan Ezra dan Nehemia tidak mencapai akhir yang terbaik. Jika kita melihat pelayanan para nabi dan rasul, sampai mereka mati pun seringkali tetap tidak menunjukkan bahwa pekerjaan mereka telah selesai. Sekali lagi adalah karena mereka sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan. Karya anak-anak Tuhan tidak selalu langgeng / eksis selama-lamanya. Kita harus memiliki pandangan yang benar akan Kerajaan Allah. Misalnya: mengapa gereja mula-mula di Yerusalem yang seharusnya menjadi contoh bagi dunia kini tidak kelihatan lagi? Mana gereja-gereja yang dirintis oleh rasul Paulus saat ini? Sepertinya lenyap tanpa bekas. Namun tidak demikian. Pekerjaan Tuhan sedang terus berlangsung. Buktinya adalah kita sekarang dapat menjadi orang percaya dan gereja (tubuh Kristus yang tidak kelihatan) terus berlangsung dan tetap dalam pemeliharaan Allah. Para nabi pun bertahun-tahun mendidik bangsa Israel tetapi hasilnya bangsa itu tetap tegar tengkuk dan memberontak terhadap Allah. Nabi demi nabi mati tetapi bangsa Israel tetap keras kepala. Demikian jugalah yang terjadi pada zaman Nehemia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 02 September 2012 PDF Print E-mail

Kebangunan Rohani

Neh. 9:38; 10:28-39

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Neh. 10 masih menceritakan rangkaian ibadah yang dilakukan bangsa Israel selama beberapa waktu, yang diawali dengan hari raya Pondok Daun, kebaktian pengakuan dosa dan doa. Setelah semua kebaktian tersebut apa yang dilakukan bangsa Israel?

Rangkaian ibadah yang dilakukan bangsa Israel ini sama dengan kebaktian kebangunan rohani. Bangsa Israel yang telah dijajah dan diperbudak sekarang kembali ke tanah perjanjian sehingga mereka mengadakan ibadah kebangunan rohani. Apakah arti kebangunan rohani itu? Dalam kebangunan Rohani ada unsur pertobatan. Ada dua macam pertobatan yaitu pertobatan awal dan pertobatan setiap hari. Arti dari repent / pertobatan adalah berbalik arah 180°, yaitu dari arah menuju ke kebinasaan berbalik ke arah hidup bersama dengan Allah. Orang yang mengalami pertobatan awal tujuan hidupnya berubah, dari kedagingan / duniawi menjadi hidup demi kemuliaan Allah. Jika sebelum dan sesudah menjadi Kristen tujuan hidupnya tetap untuk diri sendiri berarti tidak ada pertobatan sejati.

Banyak dari kita ingin punya Allah yang menuruti segala keinginan kita. Jika seperti ini kita bukan menyembah Allah tetapi menyembah berhala. Menyembah berhala selalu berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Berhala adalah alat untuk memenuhi keinginan seperti jin lampu Aladin. Jika kita menyembah Allah seharusnya kita mempersembahkan hidup bagi-Nya. Seringkali kita perlu diingatkan akan hal ini, karena natur manusia ingin mengutamakan kepentingan diri daripada kepentingan Allah.

Pertobatan awal harus diikuti dengan pertobatan setiap hari. Kebangunan rohani bukan hanya terjadi saat kebaktian kebangunan rohani. Jika kita punya konsep seperti ini, bagaimana saat tidak ada kebaktian kebangunan rohani? Apakah iman kita tidur? Kebangunan rohani yang benar harus dialami setiap hari. Setiap saat orang Kristen seharusnya berjalan bersama Tuhan dan bertobat setiap hari. Namun yang terjadi seringkali sebaliknya. Kita berjalan menurut kemauan sendiri dan tidak bertobat.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 Agustus 2012 PDF Print E-mail

Pengakuan Dosa

Neh. 9:1–38

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Dalam Neh. 9 bangsa Israel melakukan kebaktian pengakuan dosa dan permintaan doa. Momen ini merupakan momen yang sangat berarti bagi mereka. Ada beberapa hal unik yang bisa dipelajari dari peristiwa ini.

Dalam ayat 1 dikatakan mereka berkumpul, berpuasa, dan mengenakan kain kabung dengan menaburkan tanah di kepala mereka. Bangsa Israel dipenuhi kedukaan dan penyesalan atas apa yang mereka alami sebagai bangsa yang dijajah, padahal mereka adalah bangsa pilihan Tuhan. Berkabung dengan tanah di kepala merupakan tradisi bangsa Yahudi saat mereka berdukacita.

Menurut prinsip Alkitab tidak ada larangan ataupun keharusan untuk berpuasa. Orang Kristen boleh berpuasa dengan maksud yang benar. Jikalau tidak berpuasa pun kita juga harus mempunyai semangat yang benar dalam menjalani hidup. Berpuasa yang kita lakukan tidak seperti berpuasa yang dilakukan oleh sekelompok orang Kristen tertentu yang salah karena berharap berpuasa bisa menggerakkan hati Tuhan untuk memenuhi keinginannya. Spirit berpuasa semacam ini adalah spirit self-centered (berpusat pada kepentinganku/ anthroposentris). Hal ini sama seperti orang yang menyembah berhala, selalu demi keinginan diri sendiri.

Puasa yang benar adalah menyembah Allah yang benar. Spirit kita dalam berpuasa harus Theosentris, bukan demi kepentinganku, tetapi apa yang Tuhan mau biarlah terjadi dalam hidupku. Dalam masa Perjanjian Lama bangsa Israel diwajibkan berpuasa oleh Tuhan bukan untuk menggerakkan hati Tuhan di dalam memenangkan/ membela bangsa Israel. Puasa yang dilakukan bangsa Israel adalah untuk mempersiapkan diri menerima karya Allah saat mereka berperang. Spirit puasa yang benar adalah bagaimana diri saya dipakai untuk melakukan kehendak dan rencana Tuhan. Bangsa Israel ketika berpuasa memiliki komitmen untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 22 of 62
RocketTheme Joomla Templates