Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 13 Mei 2012 PDF Print E-mail

Respon Nehemia menghadapi kesulitan rakyat

Neh. 5 & 4:5,9,20,23

Pdt. Andi Halim, M.Th

Nehemia dalam kenyamanan hidupnya mau ber“susah-susah” mencari perkara. Ini berbeda dengan sikap kebanyakan kita. Kita cenderung memilih hal yang menyenangkan daripada yang susah. Termasuk dalam memilih gereja. Nehemia dalam kenyamanannya hidup di Persia justru memilih untuk pergi ke Yerusalem. Pada umumnya kita akan pindah pekerjaan jika ada tawaran kerja yang lebih meyakinkan, gaji lebih besar, dsb. Sementara di Yerusalem, Nehemia tidak mendapatkan tawaran yang menyenangkan, justru ia harus menghadapi musuh-musuh yang membencinya.

Satu prinsip yang dapat kita pelajari disini yaitu kehendak Tuhan tidak selalu lebih enak. Pdt. Stephen Tong juga pernah mengatakan bagaimana Roh Kudus memimpin kita secara “negatif” atau “mengerikan”. Tuhan Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai oleh iblis. Demikian pula Stefanus. Ia adalah seorang yang dipenuhi Roh Kudus tetapi waktu ia memberitakan Injil yang datang padanya adalah lemparan batu-batu. Nehemia yakin bahwa ia sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan karena itu tantangan dan kesulitan yang ia hadapi tidak menghalanginya untuk melayani Tuhan. Bagian ini menjadi kekuatan bagi kita, anak-anak-Nya, yang mengerjakan pekerjaan Tuhan tetapi menghadapi tentangan dan perlawanan dari orang-orang yang ingin merusak pekerjaan Tuhan.

Pertama kita dapat belajar 1 hal yang ditangkap oleh Nehemia yaitu bahwa orang-orang yang membencinya bukan sedang membenci Nehemia tetapi mereka sedang menyakiti hati Tuhan. Jadi kita bisa menyimpulkan bahwa waktu kita sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan dan ada orang yang marah-marah dan membenci, mereka bukan sedang membenci kita tetapi sedang menyakiti hati Tuhan. Ini kunci yang menyebabkan Nehemia tidak mudah putus asa. Nehemia sadar bahwa yang sedang dimusuhi bukanlah dirinya tetapi Allah. Orang yang memusuhi orang yang melakukan pekerjaan Allah sama dengan memusuhi Allah yang memiliki pekerjaan itu. Ini menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita. Kita hanya hamba-hamba Tuhan yang melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Nehemia sakit hati karena Tuhan dipermalukan dan disakiti. Makian yang datang padanya bukannya mematahkan semangat Nehemia melainkan membuat Nehemia semakin bersemangat karena ia tidak rela Nama Tuhan dirusak.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 06 Mei 2012 PDF Print E-mail

Nehemia dalam melakukan pekerjaan Tuhan

Neh.4:1-6

Pdt. Andi Halim, M.Th

Nehemia adalah orang yang punya prestasi dalam pekerjaannya. Dengan kata lain ia adalah orang yang top. Juru minuman raja adalah pekerjaan yang sangat penting, berbahaya dan spesial. Tidak semua orang boleh menjadi juru minuman raja. Status raja saat itu merupakan status luar biasa melampaui kuasa kedudukan apapun. Apapun yang mau dilakukan oleh raja tidak ada yang dapat menghalangi. Saat itu Nehemia adalah orang yang pekerjaannya paling top, paling berprestasi tetapi hatinya begitu melekat pada Yerusalem. Ini sesuatu yang jarang. Yerusalem adalah simbol kehadiran Allah. Orang yang hatinya melekat pada Yerusalem adalah orang yang hatinya melekat pada Tuhan. Orang yang top tetapi hatinya tidak melekat pada Tuhan adalah sesuatu yang sia-sia. Pekerjaan top tanpa Tuhan tidak bernilai apa-apa. Yesus berkata, “apa gunanya seseorang memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”

Apa arti keberhasilan di mata manusia? Apa arti keberhasilan di mata Allah? Apa yang di mata Allah merupakan keberhasilan, adalah kegagalan di mata dunia. Sebaliknya, apa yang di mata Allah merupakan kegagalan justru merupakan keberhasilan di mata dunia.

Contoh: Yohanes Pembaptis menegur Herodes sehingga akhirnya ia mati dipenggal. Menurut dunia, apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis adalah sesuatu yang bodoh. Kematian Yohanes Pembaptis merupakan hal yang sial bagi dunia. Bagaimana dengan Stefanus? Hal ini pasti bertentangan dengan teologia sukses. Kematian Stefanus dianggap karena kekonyolannya sendiri dan tidak memiliki hikmat hingga ia mati dirajam batu. Semua ini tafsiran-tafsiran yang begitu ngawur. Padahal Yesus sendiri justru mengatakan bahwa di antara semua yang pernah lahir tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Alkitab juga mencatat bahwa Stefanus adalah seorang yang penuh Roh Kudus. Ini membuktikan bahwa keberhasilan di mata Allah dan keberhasilan di mata manusia sangat berbeda. Stefanus melihat kemuliaan Allah sebelum kematiannya. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini. Stefanus pun sebelum kematiannya masih sempat berdoa kepada Bapa memohon ampun bagi mereka yang menganiayanya. Luar biasa.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 29 April 2012 PDF Print E-mail

Mengapa menginjili?

Yun. 4:10,11; Rm. 1:14-16

Pdt. Antonius Un

Apa itu penginjilan? Penginjilan adalah memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Penginjilan adalah mengajak orang lain supaya bertobat dari dosa mereka dan menerima Yesus Sang Juruselamat. Ada penginjilan langsung (direct evangelism), ada juga penginjilan tidak langsung. Penginjilan langsung terbagi dua yaitu short-cut evangelism dan friendship evangelism. Sedangkan penginjilan tidak langsung misalnya penginjilan melalui mengirim traktat, sms dan lain-lain.

Mengapa menginjili?
Pertama, menginjili berarti menghormati otoritas Tuhan yang memerintahkan penginjilan. Waktu menginjilli kita sedang menghormati otoritas Tuhan. Sebelum Tuhan memberikan perintah menginjili, Ia menyatakan otoritas-Nya terlebih dahulu, “Kepadaku diberikan kuasa (dalam bahasa Yunaninya berarti otoritas) di surga dan di bumi karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku”. Waktu kita tidak menginjili berarti kita menghina otoritas-Nya. Dalam Perjanjian Lama waktu Tuhan memberikan 10 perintah Allah, Ia pun menyatakan otoritas-Nya terlebih dahulu, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari perbudakan Mesir”. Berarti Tuhan sangat serius. Tuhan memberi perintah untuk dijalankan. Demikian pula waktu kita tidak menginjili, kita sedang menghina otoritas Tuhan yang begitu serius memberikan perintah. Dalam 2 Tawarikh pasal terakhir, Tuhan marah kepada Zedekia, Raja Yehuda, karena ia tidak merendahkan diri di hadapan Yeremia yang membawa pesan Tuhan kepadanya. Demi Tuhan, demi Raja di atas segala raja, kita harus minta ampun atas dosa kita selama ini yang tidak pergi menginjili.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 April 2012 PDF Print E-mail

Orang yang Sempurna menurut Kitab Suci

Rm.13:8-9

Pdt. Dr. Stephen Tong

Di dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menuntut kita supaya menjadi manusia sempurna karena Ia adalah Tuhan yang penuh dengan anugerah. Tuhan Allah menuntut Abraham dengan tuntutan yang begitu tinggi, “Jadilah sempurna di hadapan-Ku”. Mungkin tidak? Kalau kesempurnaan tidak mungkin dicapai dan tidak ada orang yang pernah mencapainya, lalu apa gunanya tuntutan ini? Apakah Allah menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak mungkin? Siapa di sepanjang sejarah yang pernah mencapai kesempurnaan ini? Adakah orang yang sempurna selain Kristus? Jawabannya tidak ada. Orang yang dianggap paling rohani dan agung pun ada kelemahannya. Meskipun Daniel, Yusuf, dua pemuda dalam Perjanjian Lama ini, tidak pernah dicatat kesalahannya, kita percaya mereka pun tetap adalah manusia berdosa. Demikian pula, Nuh, Musa, Petrus, Paulus, Daud, rasul-rasul dan nabi-nabi lain semua ada kelemahannya. Jika demikian apa artinya kesempurnaan? Mari kita merenungkan hal ini dengan serius dan menanggapinya dengan benar.

Dalam teologi Reformed kita percaya bahwa kita tidak mungkin mencapai satu kesempurnaan secara kuantitas selama di dunia ini (berbeda dengan kelompok kaum Methodist (John Wesley) yang percaya bahwa orang Kristen mungkin mencapainya). Dalam kitab Filipi kita percaya kesempurnaan yang bersifat paradoks yaitu bahwa kita semua mengarah pada satu kesempurnaan sebagai satu eskatos sebagai titik akhir di mana kita sedang bergumul dan menuju pada poin yang ingin kita capai. Kesempurnaan itu merupakan pemberian Allah sendiri dan bukan usaha kita. Kristus menjadi poin eskatos (terakhir) yang tertinggi sehingga kita selalu dengan gentar menghadapi diri kita yang tidak sempurna, dengan pergumulan yang tidak habis-habis, menuju pada titik telos (tujuan) yang terakhir itu. Kesempurnaan dengan sasaran tertinggi menjadi daya tarik, dorongan dalam hidup kita untuk tidak henti-hentinya maju. Dorongan ini menjadikan kita memiliki motivasi kesempurnaan. Kita terus tidak puas pada diri, terus memecut diri, mengingingkan kesempurnaan yang sudah diwujudkan dalam teladan Kristus yang mendorong kita. maka kesempurnaan dalam teologi Reformed bukan sesuatu yang bisa kita capai. Hal ini akan membuat kita menjadi sombong. Kesempurnaan ada pada Kristus dan Kristus menjadi motivasi dan tujuan kita untuk terus–menerus mau menjadi seperti Kristus yang adalah teladan kesempurnaan kita. Jika kita mengerti prinsip ini maka tidak heran jika Paulus yang paling menjadi teladan dan tinggi rohaninya justru berkata bahwa ia tidak merasa memiliki kesempurnaan itu.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 22 of 58
RocketTheme Joomla Templates