Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 07 Oktober 2012 PDF Print E-mail

Darah yang Mahal

1 Ptr. 1:13–25

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Bagian ini unik karena membicarakan kefanaan manusia dan kekekalan Allah, membicarakan manusia yang hina dan karya Allah yang begitu mahal nilainya, serta perpaduan antara kesementaraan dan kekekalan. Manusia seharusnya binasa dan lenyap tetapi karena karya Allah manusia terhisap di dalam nilai kekekalan-Nya. Ada 2 kutub dalam bagian ini yaitu kutub kesementaraan dan kutub kekekalan. Jika dalam diri manusia tidak ada kekekalan maka manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Meski demikian manusia juga hidup dalam kesementaraan.

Darah Yesus sangat mahal sehingga tidak terbeli. Apa maksudnya? Darah Yesus mahal bukan secara kuantitas. Iman kita tidak berdasarkan hal-hal fisik dan lahiriah. Manusia seringkali berorientasi pada hal-hal fisik dan menjadi heboh atau gempar ketika muncul fenomena fisik /lahiriah, misalnya: patung Maria mengeluarkan air mata, patung Yesus berdarah, dll. Banyak orang merasa dikuatkan dengan kehadiran Kristus dengan fenomena-fenomena fisik / lahiriah ini.

Iman Kristen bukan berdasarkan apa yang kita lihat. Iman adalah pengharapan kepada apa yang tidak bisa kita lihat. Bukti yang kita perlukan sudah ada, yaitu Alkitab dan bukan fenomena fisik /lahiriah yang aneh. Alkitab sudah menjelaskan dengan begitu nyata.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 30 September 2012 PDF Print E-mail

Pergumulan Habakuk

Hab. 1:1–11

Ev. Calvin Renata

Kitab Habakuk merupakan pergumulan seorang nabi yang boleh mewakili pergumulan setiap manusia di sepanjang zaman. Kitab Habakuk digolongkan sebagai kitab nabi-nabi kecil. Kitab ini merupakan kitab yang unik dalam Perjanjian Lama karena dalam kitab ini tidak ada firman Tuhan yang disampaikan oleh Habakuk kepada bangsa Yehuda. Kitab ini berisi pergumulan pribadi Habakuk dengan Tuhan.

Ayat 2–4 berisi pertanyaan Habakuk, lalu ayat 5–11 merupakan jawaban Tuhan terhadap pertanyaan tersebut. Habakuk melihat dosa di tengah bangsanya sendiri. Menjadi nabi di Perjanjian Lama merupakan tugas yang tidak gampang. Habakuk melihat penindasan, kelaliman, pertikaian, dan ketidakadilan terjadi di tengah bangsanya sendiri.

Pertanyaan Habakuk mewakili pertanyaan dan pergumulan manusia di sepanjang zaman. Di filsafat Gerika kuno, Epicurus melihat realitas dunia yang penuh dengan kejahatan sehingga ia bertanya apakah Tuhan itu ada? Jika Allah ada, mengapa ada kejahatan dan penderitaan? Epicurus memberikan dua konklusi yaitu: mungkin Allah tidak ada atau jika Allah ada tetapi Ia tidak bisa membereskan kejahatan, maka Ia tidak Maha Kuasa. Jika Tuhan ada dan tidak mau membereskan kejahatan, maka Tuhan jahat. Pandangan Epicurus ini digunakan oleh orang Atheis untuk menyerang kekristenan. Pandangan Epicurus ini disebut problem of evil.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 23 September 2012 PDF Print E-mail

Siapa Yang Boleh Berhadapan Dengan Tuhan?

Mzm. 24:1–10

Ev. Joseph Yisrael

Mazmur 24 merupakan salah satu mazmur yang tidak pernah diabaikan oleh orang Yahudi. Mazmur ini dibacakan setiap sabat di awal ibadah. Secara tradisi, mazmur ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu ayat 1 – 2, ayat 3 – 6, kemudian ayat 7 – 10. Cara pembacaannya adalah ayat 1 – 2 dibaca oleh umat, ayat 3 oleh liturgis, ayat 4 – 6 dibaca oleh umat, kemudian 7 – 10 dibaca bersama-sama (umat dan liturgis). Mazmur 24 dan Mazmur 68 digubah sebagai akibat dari perpindahan tabut perjanjian dari Obed Edom ke Yerusalem.

Bagi Daud pemindahan tabut perjanjian itu merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Mazmur 68 diberi judul perarakan kemenangan Allah. kemenangan ini bukan hanya dalam hal peperangan tetapi juga kemenangan dari kenajisan dan ketidaklayakan manusia untuk membawa tabut perjanjian yang begitu mulia ke dalam Yerusalem. Akibatnya keberhasilan pemindahan tabut itu merupakan kemenangan yang patut dirayakan. Sebelumnya sudah ada rencana untuk langsung membawa tabut perjanjian ke Yerusalem, tetapi di tengah perjalanan Uza yang mengangkut tabut perjanjian menyentuh tabut perjanjian karena ingin menahannya supaya tidak jatuh, mati seketika. Kemudian tabut perjanjian dibawa oleh Obed Edom dan selama 3 bulan kemudian ia diberkati luar biasa karena keberadaan tabut tersebut. Akhirnya tabut tersebut diupayakan untuk dibawa kembali ke Yerusalem.

Tabut perjanjian melambangkan kehadiran Allah. Daud mau membawa tabut ke Yerusalem dengan harapan agar Allah sendiri yang memimpin Yerusalem, bukan Daud. Allah yang memimpin Yerusalem dan seluruh rakyat harus taat pada pimpinan Allah, yang diwakili oleh Daud, raja yang dipilih Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 16 September 2012 PDF Print E-mail

Respon Pilatus

Yoh. 18:28-32

Ev. Bakti Anugrah

Saat kita mencapai suatu posisi yang cukup tinggi, terkadang ada hal yang menyulitkan kita dalam bertindak atau mengambil keputusan. Jika kita menjalankan fungsi sesuai dengan posisi kita maka ada kemungkinan dimana kita kehilangan posisi tersebut. Sebaliknya jika kita kompromi maka kita akan bertahan. Manakah yang akan kita pilih?

Kisah penyaliban Tuhan Yesus dalam Yoh. 18:28 – 19:16 menceritakan 8 adegan interaksi antara Yesus Kristus, Pilatus, dan orang Yahudi di pengadilan. Dalam kisah ini, bisa dikatakan Pilatus adalah ‘korban’ karena ia diperalat oleh orang Yahudi.

Adegan pertama adalah Yoh. 18:28–32. Yesus dibawa ke hadapan Pilatus. Sebelumnya Yesus sudah dibawa kepada pengadilan Hanas dan Kayafas tetapi mereka tidak berhasil menghakimi Yesus sehingga Ia dibawa kepada pemerintah Romawi, yaitu Pilatus. Kata gedung pengadilan dalam bahasa Yunani adalah Praetorion, yang merupakan bentuk terjemahan dari bahasa Latin yaitu Pretorium (markas militer dari Gubernur Romawi yang akan memerintah waktu itu).

Orang Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus pagi-pagi sekali yaitu sekitar pk. 05.00 – 06.00 untuk diadili. Mengapa pagi-pagi sekali? Matthew Henry menduga bahwa orang Yahudi melakukan hal ini supaya pendukung Yesus tidak bisa menghalangi mereka dalam menyerahkan Yesus. Tekad mereka sudah bulat untuk menyerahkan Yesus. Mereka merelakan waktu istirahat mereka demi menyerahkan Yesus. Pada saat yang sama mereka juga mengumpulkan kaki tangan mereka untuk ikut menentang Tuhan. Selain itu, mereka tidak mau menajiskan dirinya dengan masuk ke tempat Pilatus tinggal / gedung pengadilan. Hal ini sungguh ironis karena mereka tidak mau mencemarkan diri secara fisik (adat istiadat dan ritual) tetapi tidak masalah jika harus membunuh orang tidak bersalah (Yesus Kristus). Masuk rumah orang kafir dianggap haram, tetapi bunuh Yesus tidak haram. Dalam kehidupan rohani kita, celaka jika kita menentukan baik dan benar hanya berdasarkan pada adat istiadat belaka dan tidak ada hubungannya dengan moralitas. Hanya satu tujuan orang-orang Yahudi saat itu, yaitu membunuh Yesus. Demikianlah adegan pertama ini mengisahkan interaksi antara Pilatus dan orang Yahudi. Tetapi di balik semua ini ada Tuhan kita yang berperkara. Dibalik usaha licik manusia, semua berada dalam kontrol Tuhan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 22 of 62
RocketTheme Joomla Templates