Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 14 Oktober 2012 PDF Print E-mail

Gambaran Kasih & Murka Allah dalam Kitab Hosea

Hos. 1:1–12

Ev. Bakti Anugrah

Bagian ini menceritakan tentang Nabi Hosea yang diperintahkan Tuhan untuk menikah dengan Gomer, seorang perempuan sundal. Umumnya orang Kristen akan berpikir bagaimana bila kita diperintahkan Tuhan untuk menikah dengan orang tidak benar? Tetapi Hosea di sini bukan menggambarkan kita sebagai orang-orang Kristen dan Gomer bukan menggambarkan orang-orang yang tidak benar. Sebenarnya Hosea menggambarkan Tuhan sedangkan Gomer menggambarkan kita, umat-Nya, yang tidak setia.

Hubungan antara Allah bangsa Israel dengan umat-Nya adalah hubungan perjanjian. Karena itulah Alkitab kita dibagi menjadi dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian merupakan ikatan yang sifatnya berdaulat antara Allah dengan umat-Nya yang disahkan dengan darah. Saat Tuhan mengikat perjanjian dengan Abraham, Tuhan memotong binatang menjadi dua potongan dan Ia berjalan di tengah-tengah binatang tersebut. Hal ini unik karena seharusnya kedua pihak yang mengadakan perjanjian itulah yang melewati binatang yang terpotong tersebut. Jadi jika salah satu pihak melanggar perjanjian, ia akan terkena hukuman. Tetapi ternyata hanya Tuhan yang berjalan melewati tanda perjanjian yang penting ini. Tuhan tahu Abraham akan melanggar perjanjian tersebut, oleh karena itu Tuhan sajalah yang melewati potongan binatang tersebut dan akan setia pada perjanjian-Nya. Perjanjian ini bersifat kekal.

Demi perjanjian kekal inilah Tuhan rela mengorbankan diri-Nya. Umat Israel adalah umat yang Tuhan ambil sendiri. Gambaran umat Tuhan adalah seperti perempuan yang dinikahi tetapi tidak setia dan berzinah dengan allah lain. Bahkan dalam penyembahan umat Israel kepada allah orang Kanaan mereka melakukan perzinahan secara terang-terangan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 07 Oktober 2012 PDF Print E-mail

Darah yang Mahal

1 Ptr. 1:13–25

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Bagian ini unik karena membicarakan kefanaan manusia dan kekekalan Allah, membicarakan manusia yang hina dan karya Allah yang begitu mahal nilainya, serta perpaduan antara kesementaraan dan kekekalan. Manusia seharusnya binasa dan lenyap tetapi karena karya Allah manusia terhisap di dalam nilai kekekalan-Nya. Ada 2 kutub dalam bagian ini yaitu kutub kesementaraan dan kutub kekekalan. Jika dalam diri manusia tidak ada kekekalan maka manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Meski demikian manusia juga hidup dalam kesementaraan.

Darah Yesus sangat mahal sehingga tidak terbeli. Apa maksudnya? Darah Yesus mahal bukan secara kuantitas. Iman kita tidak berdasarkan hal-hal fisik dan lahiriah. Manusia seringkali berorientasi pada hal-hal fisik dan menjadi heboh atau gempar ketika muncul fenomena fisik /lahiriah, misalnya: patung Maria mengeluarkan air mata, patung Yesus berdarah, dll. Banyak orang merasa dikuatkan dengan kehadiran Kristus dengan fenomena-fenomena fisik / lahiriah ini.

Iman Kristen bukan berdasarkan apa yang kita lihat. Iman adalah pengharapan kepada apa yang tidak bisa kita lihat. Bukti yang kita perlukan sudah ada, yaitu Alkitab dan bukan fenomena fisik /lahiriah yang aneh. Alkitab sudah menjelaskan dengan begitu nyata.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 30 September 2012 PDF Print E-mail

Pergumulan Habakuk

Hab. 1:1–11

Ev. Calvin Renata

Kitab Habakuk merupakan pergumulan seorang nabi yang boleh mewakili pergumulan setiap manusia di sepanjang zaman. Kitab Habakuk digolongkan sebagai kitab nabi-nabi kecil. Kitab ini merupakan kitab yang unik dalam Perjanjian Lama karena dalam kitab ini tidak ada firman Tuhan yang disampaikan oleh Habakuk kepada bangsa Yehuda. Kitab ini berisi pergumulan pribadi Habakuk dengan Tuhan.

Ayat 2–4 berisi pertanyaan Habakuk, lalu ayat 5–11 merupakan jawaban Tuhan terhadap pertanyaan tersebut. Habakuk melihat dosa di tengah bangsanya sendiri. Menjadi nabi di Perjanjian Lama merupakan tugas yang tidak gampang. Habakuk melihat penindasan, kelaliman, pertikaian, dan ketidakadilan terjadi di tengah bangsanya sendiri.

Pertanyaan Habakuk mewakili pertanyaan dan pergumulan manusia di sepanjang zaman. Di filsafat Gerika kuno, Epicurus melihat realitas dunia yang penuh dengan kejahatan sehingga ia bertanya apakah Tuhan itu ada? Jika Allah ada, mengapa ada kejahatan dan penderitaan? Epicurus memberikan dua konklusi yaitu: mungkin Allah tidak ada atau jika Allah ada tetapi Ia tidak bisa membereskan kejahatan, maka Ia tidak Maha Kuasa. Jika Tuhan ada dan tidak mau membereskan kejahatan, maka Tuhan jahat. Pandangan Epicurus ini digunakan oleh orang Atheis untuk menyerang kekristenan. Pandangan Epicurus ini disebut problem of evil.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 23 September 2012 PDF Print E-mail

Siapa Yang Boleh Berhadapan Dengan Tuhan?

Mzm. 24:1–10

Ev. Joseph Yisrael

Mazmur 24 merupakan salah satu mazmur yang tidak pernah diabaikan oleh orang Yahudi. Mazmur ini dibacakan setiap sabat di awal ibadah. Secara tradisi, mazmur ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu ayat 1 – 2, ayat 3 – 6, kemudian ayat 7 – 10. Cara pembacaannya adalah ayat 1 – 2 dibaca oleh umat, ayat 3 oleh liturgis, ayat 4 – 6 dibaca oleh umat, kemudian 7 – 10 dibaca bersama-sama (umat dan liturgis). Mazmur 24 dan Mazmur 68 digubah sebagai akibat dari perpindahan tabut perjanjian dari Obed Edom ke Yerusalem.

Bagi Daud pemindahan tabut perjanjian itu merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Mazmur 68 diberi judul perarakan kemenangan Allah. kemenangan ini bukan hanya dalam hal peperangan tetapi juga kemenangan dari kenajisan dan ketidaklayakan manusia untuk membawa tabut perjanjian yang begitu mulia ke dalam Yerusalem. Akibatnya keberhasilan pemindahan tabut itu merupakan kemenangan yang patut dirayakan. Sebelumnya sudah ada rencana untuk langsung membawa tabut perjanjian ke Yerusalem, tetapi di tengah perjalanan Uza yang mengangkut tabut perjanjian menyentuh tabut perjanjian karena ingin menahannya supaya tidak jatuh, mati seketika. Kemudian tabut perjanjian dibawa oleh Obed Edom dan selama 3 bulan kemudian ia diberkati luar biasa karena keberadaan tabut tersebut. Akhirnya tabut tersebut diupayakan untuk dibawa kembali ke Yerusalem.

Tabut perjanjian melambangkan kehadiran Allah. Daud mau membawa tabut ke Yerusalem dengan harapan agar Allah sendiri yang memimpin Yerusalem, bukan Daud. Allah yang memimpin Yerusalem dan seluruh rakyat harus taat pada pimpinan Allah, yang diwakili oleh Daud, raja yang dipilih Allah.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 21 of 62
RocketTheme Joomla Templates