Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 29 July 2012 PDF Print E-mail

Mengapa Kita Berdoa?

1 Samuel 1

Pdt. Stewart Moulds

Pernahkah kita merasa percuma berdoa? Sebagai Orang Reformed, kita tahu doa itu penting, secara teori kita tahu hal tersebut tetapi seringkali kita meragukan Tuhan. Saat kita baru bertobat seolah-olah Tuhan menjawab semua doa kita, setelah beberapa bulan atau beberapa tahun, Tuhan tampaknya tidak pernah menjawab doa kita. Kita tidak tahu apakah Tuhan akan menjawab doa kita atau tidak.

Saat saya masih muda dalam iman, saya berpikir percuma saja berdoa. Pernahkah kita berpikir seperti itu? Pernah, tetapi kita tidak berani mengatakannya karena hal itu bertentangan dengan pengakuan iman kita. Ketika saya masih muda, saya mengadakan eksperimen, apakah doa itu berguna? Satu bulan saya berdoa untuk segala sesuatu, bulan berikutnya saya tidak berdoa. Setelah saya melakukan eksperimen ini, saya tidak merasa ada perbedaan. Apa gunanya berdoa? Dalam hati orang Kristen banyak yang meragukan apakah Tuhan mendengar dan menjawab doa kita.

Saat saya muda, saya jatuh cinta dengan seorang perempuan, tetapi tujuan kita berbeda. Saya ingin mengenal orang tersebut lebih dalam, tetapi perempuan tersebut hanya menganggap saya sebagai mesin ATM. Hal ini seperti doa. Mengapa kita berdoa? Apakah supaya bisa dekat dengan Tuhan? Atau seperti kita memakai mesin ATM? Kebanyakan orang Kristen, termasuk para pengkhotbah sendiri, menganggap doa seperti mesin ATM. Tetapi Tuhan bukan mesin ATM! Allah adalah Pribadi yang punya pengertian dan hati. Mengapa Tuhan menyelamatkan kita? Apa yang Tuhan harapkan waktu kita berdoa? Supaya Tuhan bisa punya hubungan intim dengan kita. Apakah yang kita harapkan sama dengan Tuhan? Hal inilah yang menyebabkan masalah dalam hubungan kita dengan Tuhan dan membuat kita kecewa dalam doa. Manusia berdoa supaya keinginannya dikabulkan, sedangkan Tuhan ingin manusia mempunyai hubungan yang lebih baik dengan-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 July 2012 PDF Print E-mail

Makna Peringatan Perjamuan Kudus

Mat. 26:17–29

Ev. Edward Oei, M.A.

Peristiwa di dalam Matius 26:17–29 menjadi suatu peristiwa dimana Tuhan menetapkan sakramen Perjamuan Kudus, suatu upacara dimana kita terus-menerus mengingat pekerjaan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Tujuan sakramen perjamuan kudus memang untuk mengingatkan kita akan pengorbanan Tuhan Yesus melalui kematian-Nya bagi kita dan kebangkitan-Nya. Pertanyaannya, ketika kita mengadakan perjamuan kudus, ketika kita melakukannya, ketika kita mengambil dan berbagian di dalamnya, sejauh apakah perjamuan kudus tersebut menguatkan iman kita, mengingatkan kita akan apa yang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita?

Menurut konteks Perjanjian Lama, penetapan Perjamuan Kudus ini ditetapkan berdasarkan peristiwa Hari Raya Roti Tidak Beragi. Bangsa Yahudi dijajah oleh Mesir selama 430 tahun. Kemudian setelah masa 430 tahun mereka dibebaskan / dikeluarkan oleh Tuhan dari Mesir. Pada malam terakhir sebelum keluar dari Mesir, mereka diperintahkan untuk mengadakan suatu perjamuan. Dalam perjamuan ini setiap keluarga harus mengambil seekor domba untuk dibakar dan dimakan, sisanya harus habis dibakar malam itu juga, tidak boleh ada bagian yang tersisa. Mereka harus memakannya dengan sayur pahit dan roti tidak beragi. Darah domba yang disembelih harus dipoleskan di pintu, di sekat di atas pintu, sehingga ketika malaikat lewat dan melihat darah tersebut, anak sulung mereka tidak dibunuh oleh Allah. Peristiwa ini mereka peringati tahun demi tahun dalam perayaan Roti Tidak Beragi. Jadi, peristiwa ini mengingatkan juga bahwa mereka tidak hanya dibebaskan dari Mesir.

Hal inilah yang merupakan kelemahan kita saat ini, saat mengadakan perjamuan kudus kita hanya mengingat satu poin yang paling simple, yang paling dekat dengan kita, yang menguntungkan bagi kita, yaitu bahwa saya diselamatkan dan masuk surga. Tuhan Yesus mati bagi kita, darah-Nya dicurahkan. Kita diselamatkan dan masuk surga. Maka saya mengingat pengorbanan-Nya dalam Perjamuan Kudus. Sehingga ketika kita sudah melakukannya berulang kali kita menikmati perjamuan kudus tanpa makna.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 July 2012 PDF Print E-mail

Berani memperjuangkan kebenaran

Neh.6:16; 7:2,5; 8:1-9

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Sebagai seorang juru minuman raja yang mendapat visi dari Tuhan untuk ke Yerusalem, yang hidupnya sudah mapan dan nyaman, Nehemia terpanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Waktu itu Nehemia berada di pembuangan, di Persia, kemudian ia mendengar berita tentang keadaan Yerusalem yang sangat menyedihkan. Banyak orang Israel dipermalukan karena temboknya runtuh dan pintu gerbangnya terbakar. Yerusalem adalah simbol kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Maka pada saat tembok Yerusalem runtuh dan banyak musuh-musuh menyerang orang-orang Yahudi, mereka begitu tersiksa, menderita, tercela dan dipermalukan. Untuk itulah Nehemia merasa terpanggil untuk pergi ke Yerusalem dan membangun tembok-tembok yang runtuh. Tetapi Nehemia menghadapi tantangan besar dari orang-orang yang tidak suka pekerjaan Tuhan dilakukan di Yerusalem. Hambatan-hambatan yang luar biasa dialami Nehemia namun Nehemia tetap tegas, teguh, tidak goyah dalam menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem. Ia tidak goyah di tengah serangan-serangan musuh yang coba menggagalkan rencananya.

Pelajaran yang dapat kita ambil: Pertama, apakah orang Kristen bisa atau boleh mempunyai musuh? Jaman sekarang banyak paham-paham yang muncul dalam kekristenan. Ada yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh punya musuh apalagi jika sesama orang Kristen. Tetapi kalimat ini tidak berdasar dan tidak bertanggungjawab. Kalimat ‘kita harus bersahabat dengan semua orang’ masih perlu diuji lagi. Ada juga pernyataan dari prinsip-prinsip kepemimpinan yang mengatakan bahwa: ‘seorang pemimpin mulai jatuh pada saat ia mau menyenangkan semua orang’. Mengapa? Karena jika ia sudah punya motivasi mau menyenangkan semua orang, pasti ia seorang yang tidak punya prinsip. Orang yang tidak punya prinsip akan cepat-cepat menggugurkan prinsipnya sendiri asalkan orang lain senang. Alkitab juga menegaskan bahwa orang yang mau menyenangkan semua orang memiliki motivasi yang tidak benar. Apalagi seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan tidak dipanggil untuk menyenangkan semua orang dan menyenangkan manusia. Hamba Tuhan dipanggil untuk melayani Tuhan.

Contoh: Nehemia adalah seorang pemimpin yang punya prinsip, ketegasan, visi jelas dari Tuhan yang harus ia kerjakan. Nehemia teguh melakukan apa yang Tuhan mau ia kerjakan meskipun ada orang-orang yang tidak menyukainya. Prinsipnya adalah: tidak goyah dalam mengerjakan apa yang Tuhan mau kita kerjakan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 July 2012 PDF Print E-mail

Ibadah yang sejati

Ef.5:1-2, Rm. 11:36 - 12:1-8

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Ada dua kalimat yang saya garis bawahi dalam kotbah hari ini. Pertama, tidak ada korban, tidak ada ibadah. Kedua, tidak ada ibadah tanpa korban. Apa yang dimaksud dengan ‘tidak ada korban, tidak ada ibadah’? Mengapa kita sekarang bisa beribadah? Apakah karena keinginan kita sendiri? Banyak orang ingin beribadah dalam hidupnya tetapi apakah ibadahnya benar-benar sampai pada tujuan?

Tidak ada korban tidak ada ibadah. Kita perlu melihat latar belakang ibadah yang dilakukan oleh bangsa Israel. Dalam ibadah bangsa Israel satu hal yang mutlak adalah mereka mempersembahkan korban penebus dosa. Karena ada yang dikorbankan maka ibadah mereka boleh terjadi. Karena ada korban mereka baru benar-benar dapat beribadah. Pengertian korban penebus dosa adalah manusia pada dasarnya sudah jatuh ke dalam dosa, terputus hubungannya dengan Allah dan manusia yang terputus hubungannya dengan Allah tidak mungkin berelasi dengan Allah yang benar karena artinya ia sudah mati rohani. Tidak ada ibadah yang dapat mencapai Allah yang benar, karena itu jalannya hanya satu yaitu korban penebus dosa. Karena ada korban penebus dosa hubungan manusia yang sudah putus dengan Allah dipulihkan kembali. Inilah arti ibadah. Itulah sebabnya ‘tidak ada korban, tidak ada ibadah’. Hubungan manusia yang terputus dengan Allah hanya dapat dipulihkan oleh Kristus melalui karya penebusan-Nya di kayu salib.

Mengapa korban penebus dosa harus diulang terus-menerus? Karena korban tak bercacat yang dipersembahkan melambangkan Mesias yang akan datang, sebagai Korban yang paling sempurna. Itulah sebabnya pengulangan perlu terus dilakukan supaya mengarahkan hati umat Allah kepada Sang Mesias – Korban yang Sempurna itu – yang akan datang. Kristus datang sebagai Korban yang paling sempurna menebus dosa manusia, sekali untuk selamanya, maka dalam ibadah kita sekarang tak perlu korban lagi. Hubungan kita dengan Allah telah dipulihkan. Inilah yang disebut sebagai damai sejahtera yang sejati.

Read more...
 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Page 20 of 58
RocketTheme Joomla Templates