Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 20 Januari 2013 PDF Print E-mail

Pujilah Tuhan

Mazmur 117

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Mazmur 117, mazmur terpendek dalam Alkitab, merupakan salah satu dari 5 mazmur Halel Mesir. 5 Mazmur Halel Mesir dimulai dari Mazmur 113 hingga 117. Kelima mazmur ini merupakan lagu pujian yang dinyanyikan untuk mengingat Tuhan yang telah mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir. Mazmur 117 ini terdiri dari 2 bagian. Pertama, ajakan untuk memuji Tuhan. Kedua, alasan kenapa kita memuji Tuhan.

Saat kita mengatakan “Pujilah Tuhan,” seharusnya kata ini dinyanyikan oleh umat pilihan Tuhan, yaitu, dalam konteks ini, bangsa Israel, bangsa yang dipilih oleh Allah Perjanjian. Alkitab memiliki 2 perjanjian. Allah perjanjian mempunyai kovenan yang diikat oleh darah dengan umat-Nya. Kovenan di Perjanjian Lama dimulai antara Allah dan Abraham, di mana Allah melewati darah lembu yang dibelah dua. Dalam Perjanjian Baru kovenan ini diperbaharui dengan darah Yesus. Darah Yesus dicurahkan supaya kita bisa menjadi umat Tuhan.

Dalam Mazmur 117 ada dua kelompok yang diajak untuk memuji Tuhan. Terjemahan dalam bahasa Indonesia kurang jelas, tetapi dalam bahasa Ibrani hal ini terlihat dengan jelas. Pada ayat 1 bagian pertama ajakan memuji kepada segala bangsa (goyim = nations), sedangkan pada bagian kedua ajakan memuji kepada umim (umat Tuhan).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 13 Januari 2013 PDF Print E-mail

Latar Belakang Kitab 1 Petrus:

Petrus, Rasul Yesus Kristus (1Pet.1:1)

Ev. Calvin Renata, M.Div.

Ketika Tuhan memberikan wahyunya kepada kita Tuhan ingin kita mengerti firman-Nya secara utuh bukannya sepotong-potong. Tetapi kebanyakan gereja di Indonesia ini tidak berani memberitakan firman secara ekspositori. Khotbah ekspositori merupakan khotbah yang menguraikan ayat demi ayat Alkitab sehingga firman Tuhan bisa dimengerti secara komprehensif dan utuh. Kebanyakan gereja mengkhotbahkan ayat yang menyenangkan jemaat. Tahun ini khotbah akan bersifat ekspositori dan saya akan membahas kitab 1 Petrus.

Dalam zaman Petrus hidup cara orang menulis surat berbeda dengan zaman kita sekarang. Di jaman itu awal surat selalu diawali dengan identifikasi penulis dan tidak pernah mencantumkan tanggal dan tempat penulisan. Berbeda dengan zaman ini dimana penulis surat selalu mengawali suratnya dengan identitas penerima dan mencantumkan tempat dan tanggal penulisan sedangkan identitas penulis diletakkan di akhir.

Karena tidak ada tempat dan tanggal penulisan penafsiran tahun dan tempat penulisan semua surat di dalam Perjanjian Baru banyak yang bersifat kira-kira. Surat 1 Petrus diawali dengan identitas penulis, yaitu Petrus, yang menyebut dirinya rasul Yesus Kristus. Pemberian predikat rasul Yesus Kristus, digunakan oleh Petrus untuk memperlihatkan otoritasnya kepada penerima suratnya. Tetapi tidak serta merta semua orang menerima klaim Petrus bahwa ia adalah rasul Yesus Kristus.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 06 Januari 2013 PDF Print E-mail

Kekudusan

Im.19:2; Ibr.12:14; 1Pet.1:15-16

Pdt. Andi Halim, M. Th.

Tidak ada agama yang tidak mengajarkan hidup yang kudus kecuali agama primitif dan penyembah dewa-dewa, khususnya dewa percabulan. Tetapi di zaman ini sudah tidak ada lagi agama seperti itu. Semua agama termasuk agama Kristen mengajarkan kekudusan. Semua orang termasuk orang Kristen berjuang untuk hidup kudus. Manusia berharap untuk hidup kudus dengan menerapkan aturan-aturan yang harus dipatuhi. Misalnya: seorang pertapa yang menjauhi kehidupan duniawi.

Bagaimana kekudusan menurut orang Kristen?

Banyak orang membanggakan kehidupan kudusnya. Mereka membanggakan diri karena tidak melakukan hal yang jahat. Hidup kudus diidentikkan dengan nilai moral yang tinggi. Hal ini merupakan kesalahan besar orang Kristen zaman sekarang. Iman Kristen tidak boleh diidentikkan dengan moralisme.

Lalu bagaimana kekudusan menurut iman Kristen yang benar?

Pertama, kekudusan bukan hasil usaha manusia. Hal ini berbanding terbalik dengan ajaran dunia. Dunia mengajarkan kekudusan merupakan hasil usaha manusia. Alkitab mengatakan kekudusan tidak mungkin dicapai oleh ciptaan. Kekudusan hanya milik Sang Pencipta. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang Maha Kudus, satu-satunya pemilik kekudusan. Ciptaan tidak mungkin mempunyai kekudusan dari dalam dirinya sendiri atau hasil usahanya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 23 Desember 2012 PDF Print E-mail

Damai Sejahtera dan Pedang

Luk. 2:14, 19:38, Yes 9:6, Mat. 10:34-39

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Saat kita merayakan Natal, konsep Natal seperti apakah yang kita bawa? Saat hari Natal, umumnya orang Kristen membuat hiasan yang sangat indah. Suasana Natal dibuat indah dan semarak. Tetapi jika kita merenungkan kembali dalam firman Tuhan, bagaimanakah suasana Natal pada zaman Tuhan Yesus?

Pertama, Tuhan Yesus dikatakan sebagai Raja damai. Tetapi saat Maria akan melahirkan tidak ada suasana damai sejahtera, tidak ada tempat yang layak baginya. Yesus lahir di tempat yang tidak indah, tidak nyaman dan tidak berbau wangi. Keadaan ini sangat kontras dengan perayaan Natal saat ini. Zaman sekarang orang bisa menghabiskan banyak uang demi perayaan Natal yang meriah dan menyenangkan. Padahal Natal yang sesungguhnya tidak seperti Natal yang kita rayakan saat ini. Natal tidak seharusnya dirayakan dengan kegemerlapan dan kemewahan.

Kenapa Allah yang Maha Kudus mau lahir di tempat yang sangat tidak layak di hadapan manusia? Apa yang manusia anggap layak dan bagus tidak dipilih oleh Allah sebagai tempat kelahiran Yesus. Manusia seringkali mengelompokkan hal-hal menjadi pantas dan tidak pantas berdasarkan tradisi. Tetapi nilai kepantasan yang dipegang oleh manusia didobrak oleh Tuhan dalam kelahiran Yesus. Suasana inilah yang disebut damai sejahtera.

Read more...
 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Page 14 of 58
RocketTheme Joomla Templates