Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 1 Feb'09 PDF Print E-mail

Mazmur 73:1-12

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Pengenalan akan Allah adalah prinsip yang mendasar. Pengenalan terhadap Allah yang keliru maka kita pun akan keliru di dalam segala hal yang kita lakukan di hadapan Allah. Doa kita keliru, kebaikan yang kita lakukan juga keliru, segala pelayanan yang kita lakukan juga keliru yang disebabkan pengenalan kita yang sudah keliru. Pengenalan terhadap Allah itu mempengaruhi setiap langkah hidup kita. John Calvin mengatakan bahwa jika kita tidak mengenal Allah dengan benar maka kita juga tidak mungkin dapat mengenal diri kita sendiri dengan benar.

Pemazmur mempunyai konsep tentang Allah di dalam kehidupannya dimana dikatakannya bahwa Allah itu baik, baik bagi Israel, baik bagi orang yang dipilih, dan baik bagi yang bersih hatinya. Allah yang memberikan anugerah kepada pemazmur itu juga menuntut pemazmur untuk meresponi anugerah Allah supaya makin mengenal siapakah Allah yang baik itu. Kebaikan Allah yang bukan menurut konsep manusia melainkan konsep yang datang dari Allah sendiri. Allah yang baik itu tidak berarti Allah memberikan kelancaran, kenyamanan dan hidup sentosa senantiasa. Allah yang baik tidaklah seperti itu. Pemazmur ini mengalami didikan dari Allah dan hal yang sama terjadi pada setiap kita. Untuk mengerti Allah yang baik dengan benar itu harus berdasarkan firman Tuhan (Alkitab) bukan dari definisi-definisi yang berdasarkan riwayat hidup orang-orang Kristen yang mengalami kebaikan Tuhan.

Bagi seorang yang menerima anugerah Allah adalah orang yang tidak malas terhadap belajar firman Tuhan melainkan dengan giat untuk mempelajarinya di dalam setiap kesempatan yang Allah berikan. Itulah seharusnya respons kita terhadap anugerah yang telah Allah berikan. Terlebih lagi karena pada zaman ini sudah banyak “hamba-hamba Tuhan” yang memperkenalkan Allah dengan sembarangan.

Pemazmur mengatakan bahwa Allah itu baik, baik bagi Israel dimana Israel itu adalah umat yang dipilih oleh Allah. Allah itu baik terhadap umat pilihan-Nya yang artinya kebaikan Allah itu bukan disebabkan kondisi umat tersebut. Seolah-olah bagian ini bertentangan dengan ayat berikutnya yang tertulis “Allah itu baik bagi yang bersih hatinya”. Bagian ini seolah-olah mendukung tentang perilaku/sikap manusia yang bersih di hadapan Allah sebagai penyebab dari kebaikan Allah. Tentu tidak demikian. Kebaikan Allah kepada manusia itu tanpa syarat dan tanpa kondisi apa pun.

Lalu apa yang dimaksud dengan ‘bersih hatinya’ ? Bagian ini tidak bertentangan dengan kalimat sebelumnya, maksud dari bagian ini ialah tidak ada satu pun manusia yang bersih hatinya namun prinsip Reformed menjelaskan dengan tegas bahwa hati manusia itu yang dibersihkan, itulah yang dimaksud dengan bersih hatinya. Tak ada satu orang pun yang bersih hatinya tetapi ada orang yang sudah dibersihkan hatinya oleh pekerjaan Roh Kudus. Orang yang dibersihkan hatinya itu tetap orang yang berdosa dan yang tetap memiliki kelemahan-kelemahan. Orang yang telah dibersihkan hatinya adalah orang yang mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Orientasi hidupnya ditujukan kepada Tuhan. Kita tetap adalah orang berdosa dengan segala kelemahan/keterbatasan tetapi hendaknya orientasi hidup kita tetap tertuju kepada Allah. Kita tidak mungkin bisa merubah hidup kita sendiri, hanya oleh pekerjaan dan kuasa Roh Kudus saja yang dapat merubahnya

Allah yang baik itu juga sekaligus Allah yang mendidik setiap kita sebagai orang percaya dan Tuhan tidak memberikan hal-hal yang serba enak, nyaman, dan gampang. Kita dididik oleh Tuhan supaya makin dewasa, makin bertumbuh di dalam pengenalan akan firman-Nya, makin mengerti dan mengenal akan Allah yang benar. Sebab kita adalah anggota keluarga Kerajaan Allah maka Allah mendidik dan mendewasakan kita sehingga kebaikan Allah itu tidak boleh ditafsirkan dengan konsep kebaikan berdasarkan pikiran manusia.

Pemazmur pada waktu menuliskan kalimat-kalimatnya itu melalui dua tahap. Pertama, tahap dimana pemazmur mengerti bahwa Allah itu baik sebelum pemazmur mengalami didikan dari Allah. Lalu tahap berikutnya ialah tahapan pemazmur mengerti bahwa Allah itu baik setelah mengalami didikan dan hajaran dari Tuhan sehingga pengertian tentang kebaikan Allah antara yang pertama dan yang kedua itu sudah berbeda.

Hidup orang percaya tidak dipengaruhi oleh hal-hal kesementaraan, hidup orang percaya itu tidak dipengaruhi oleh apa pun yang terjadi di dalam kehidupan ini, oleh karena pandangan kita tertuju kepada hal-hal sorgawi dan Tuhan memakai hal-hal kesementaraan untuk membawa kita makin dekat kepada Dia. Biarlah pendidikan yang dari Tuhan tidak sekedar dilewati saja melainkan pendidikan yang membuat kita terus mau belajar dan mau bertumbuh makin lama makin mengenal Dia supaya makin dewasa dalam kehidupan kita masing-masing.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
Ringkasan Khotbah - 18Jan'09 PDF Print E-mail

Mazmur 73:1-3

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Selama dua minggu berturut-turut kita mempelajari satu hal yang penting dalam kehidupan orang Kristen yaitu pengalaman. Hal ini menjadi pendahuluan sebelum kita membahas Mazmur 73. Kita percaya bahwa pengalaman yang ditulis di dalam Alkitab itu bukanlah pengalaman yang sembarangan. Pengalaman yang dituliskan itu berdasarkan pimpinan Roh Kudus sesuai maksud Allah sendiri dan pengalaman yang tertulis ini adalah hal yang bernilai bagi kehidupan setiap kita. Hal ini pun juga termasuk bagian mazmur yang akan kita pelajari saat ini.

Sebagai orang percaya, kita harus mempelajari Alkitab karena di dalam Alkitab terdapat banyak pengalaman orang-orang bersama dengan Allah dan itu menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan kita saat ini yang juga mempunyai pengalaman-pengalaman. Pengalaman dari orang-orang di PL dan pengalaman kita sekarang ini terdapat suatu hubungan (berkaitan). Mengapa terdapat kaitan antara pengalaman orang di PL dengan pengalaman kita saat ini ? Jawabannya adalah karena Allah yang mendidik orang-orang di PL dengan Allah yang mendidik kita saat ini adalah Allah yang sama. Maka pasti ada kaitannya dan waktu kita mempelajari pengalaman dari orang-orang baik di Pl maupun PB itu merupakan pengalaman yang berharga dari Allah yang mendidik anak-anak-Nya. Oleh karena itu kita pun harus belajar dari didikan Allah kepada anak-anak-Nya di masa-masa lalu yang menjadi harta yang bernilai bagi kita di masa kini. Bila kita mengabaikannya maka kita akan kehilangan harta yang sangat bernilai ini.

Mari kita memperhatikan Mazmur 73 ini. Kita perhatikan di ayat 1 dimana terdapat perbedaan kalimat yang tertulis di Alkitab berbahasa Indonesia dengan kalimat dalam bahasa aslinya, setidaknya bisa dilihat perbedaannya ketika dibandingkan dengan Alkitab berbahasa Inggris. Dalam bacaan Alkitab kita tertulis : “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Sedangkan di dalam Alkitab berbahasa Inggris dituliskan : “Sesungguhnya Allah itu baik bagi Israel, bagi mereka yang bersih hatinya.” Kita tidak tahu alasan maupun sebabnya, mengapa kata ‘Israel’ itu diterjemahkan menjadi kalimat ‘mereka yang tulus hatinya’ oleh penerjemah Alkitab Indonesia. Hal tersebut bukan berarti ada kecerobohan penerjemahan. Sebenarnya ada maksud dari kata ‘Israel’ tersebut. Kata ‘Israel’ itu mewakili suatu pengertian yaitu orang yang dipilih Allah atau umat yang dipilih oleh Allah dan umat yang dipilih oleh Allah itu seharusnya adalah umat yang sungguh-sungguh tulus hatinya kepada Tuhan. ‘Israel’ yang dimaksud pada saat ini ialah Israel secara rohani bukan lagi menunjuk pada bangsa Israel yang sekarang. Allah tidak lagi membedakan Israel secara lahiriah dengan orang yang bukan Israel sejak PB maka yang sekarang ada itu adalah Israel secara rohani. Orang yang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat itulah yang disebut dengan Israel yang sejati. Sehingga orang yang seperti itu adalah orang yang hatinya berpaut pada Allah dan hati yang sungguh-sungguh tulus kepada Allah. Itulah kaitannya antara kata ‘Israel’ dengan kalimat ‘mereka yang tulus hatinya’. Kesimpulan dari ayat 1 itu adalah bahwa yang terpenting di dalam kehidupan orang percaya yang disimpulkan oleh pemazmur adalah orang yang mengenal siapa Allah itu.

Pemazmur memulai mazmurnya ini dari ayat 1 hingga ayat yang terakhir dengan satu pernyataan tentang Allah. Konsep mengenai Allah itu mendahului semua hal yang hendak diungkapkan oleh pemazmur di mazmur 73 ini. Pengenalan terhadap Allah itu sangatlah penting. Jika orang itu mengenal Allah secara keliru maka langkah demi langkah kehidupannya pun dijalani atau ditafsirkan secara keliru. Maka pengenalan akan Allah itu menjadi fondasi/dasar yang penting di dalam kita menjalani hidup. Perhatikan Yoh 17:3 yang berbicara tentang pengenalan Allah sebagai definisi dari hidup kekal. Pengenalan akan Allah seharusnya menjadi suatu kerinduan setiap orang percaya melebihi segala kerinduan yang lain. Contohnya adalah Rasul Paulus seperti yang tertulis dalam Flp 3:10. Pengenalan akan Allah tu tidak akan pernah berhenti karena pengenalan akan Allah itu bukan hanya sekedar konsep yang masuk ke dalam pikiran kita tetapi pengenalan akan Allah itu juga adalah relasi yang hidup. Begitu pula pada Hos 6:6 yang berbicara hal yang sama yaitu pengenalan akan Tuhan itu jauh lebih penting dibandingkan hal-hal lainnya. Kita memperhatikan juga apa yang tertulis dalam Rom 10:1-3 yang berbicara antara giat bagi Allah dikaitkan dengan pengenalan yang benar tentang Allah. Dari beberapa ayat firman Tuhan (dan masih ada banyak lagi) yang berbicara mengenai pentingnya pengenalan akan Allah maka mengenal Allah itu adlah syarat utama bagi orang percaya dalam menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam kehidupan ini ada begitu banyak versi tentang pengenalan akan Allah. Maka sebagai orang Kristen harus terus diajarkan bagaimana mengenal Allah yang benar dan mengenal Allah menurut Alkitab bukan menurut masing-masing orang, pendeta, atau bahkan teolog. Juga bukan berarti kita tidak boleh belajar dari hamba-hamba Tuhan maupun teolog. Hamba Tuhan maupun teolog yang benar itu dipakai Tuhan untuk mengantar kita akan pengenalan Allah yang benar dan mereka tidak membuat konsep sendiri tentang Allah. Hamba Tuhan yang benar akan membawa jemaat pada pengenalan akan Allah yang dinyatakan oleh Kitab Suci. Kita perlu menguji sesuai prinsip Alkitab mengenai konsep Allah yang dinyatakan oleh hamba-hamba Tuhan karena zaman ini banyak hamba Tuhan yang berbicara tentang Allah yang bukan ataupun tidak sesuai dengan Kitab Suci.

Marilah kita masuk kepada pemahaman si pemazmur tentang Allah, apakah arti Allah itu baik bagi Israel, baik bagi yang bersih hatinya ? Apakah pemahaman pemazmur tentang Allah itu bagaikan ‘ban serep’, ‘tong sampah’, atau seperti ‘jin lampu Aladin’ bahkan seperti berhala-berhala yang mati adanya ? Tidak! Pemazmur itu menyatakan tentang Allah secara utuh dan lengkap. Contohnya ada di dalam Mazmur 23:1-4. Pemahaman akan Allah seperti pemazmur dalam mazmur tersebut itu tidak akan bisa diucapkan oleh mereka yang memiliki pengenalan tentang Allah yang dangkal. Maka pengenalan akan Allah itu sangat mempengaruhi pertumbuhan rohani hidup setiap kita sebagai orang percaya.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah

 

 
Ringkasan Khotbah - 11Jan'09 PDF Print E-mail

Mazmur 73

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Khotbah hari ini masih melanjutkan pembahasan mengenai pandangan Reformed terhadap pengalaman sebagai pendahuluan dari Mazmur 73. Kita membaca satu bagian dalam Ibrani 12:3-13. Pada minggu sebelumnya telah dibahas tiga hal penting yang menjadi argumentasi bahwa pengalaman tidak dapat menjadi landasan doktrin. Meskipun dalam pengalaman itu ada banyak hal-hal yang merupakan kelemahan dan tidak dapat dijadikan standar tetapi orang Reformed tidak membuang pengalaman dan tidak menganggap pengalaman itu tidak ada nilainya. Orang Reformed yang hanya berteori, tidak menerjemahkan iman ke dalam praktek hidup secara nyata maka orang seperti itu hanyalah orang yang tahu teori saja namun tidak ada pengalaman apa pun di dalam menerjemahkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun pengalaman tidak dapat dijadikan standar tetapi Tuhan memakai pengalaman tersebut untuk mendidik anak-anak-Nya. Selain dengan teori sebagai wawasan pengetahuan, Tuhan juga mendidik kita dengan mempraktekkan iman secara nyata dalam pengalaman. Kita melihat baik dalam PL maupun PB ada riwayat para rasul dan nabi dimana teori-teori tentang Allah itu dipraktekkan di dalam pengalaman-pengalaman orang percaya. Pengalaman-pengalaman di dalam riwayat hidup baik nabi-nabi, raja-raja, maupun hakim-hakim itu dituliskan untuk kita dapat mempelajarinya. Sehingga pengalaman itu pun penting.

Beberapa hal penting berkenaan dengan pengalaman adalah sebagai berikut :

  1. Ada pengalaman yang berdasarkan pimpinan Roh Kudus dan pengalaman yang didasarkan oleh pimpinan Roh Kudus itu merupakan pengalaman yang akan membawa kita pada pengenalan firman yang makin benar. Setiap orang pasti memiliki banyak pengalaman dan diantara banyaknya pengalaman itu terdapat pengalaman yang berdasarkan pimpinan Roh Kudus, pengalaman yang seperti ini akan membawa seseorang untuk dapat mengenal kebenaran firman yang makin benar. Di dalam hal kesaksian (sharing) seorang Kristen mengutarakan pengalaman hidupnya dimana kesaksian itu seharusnya mengarah pada kesimpulan akan firman Tuhan yang benar, bukan fokus pada diri sendiri yang ditonjolkan.
  2. Menerjemahkan pengenalan firman Tuhan yang benar secara nyata ke dalam kehidupan sehari-hari adalah melalui pengalaman. Banyak orang Kristen yang merenungkan keindahan firman Tuhan lalu berhenti hanya pada kepuasan akan keindahan firman Tuhan di dalam pikiran saja, tetapi melalui pengalaman maka keindahan firman Tuhan itu diterjemahkan ke dalam praktek secara nyata. Sebagus apa pun pengertian/penghayatan kita akan firman Tuhan bila tidak diikuti dengan praktek nyata dari firman tersebut itu sama dengan nol. Justru pada waktu kita menerapkan kebenaran firman Tuhan maka disitulah firman Tuhan yang indah itu menjadi bernilai bagi kita. Contohnya: kita telah mengerti Allah itu kasih tetapi apakah dengan pengertian kita tentang hal tersebut, kita tetap pegang teguh konsep itu di kala kita mengalami kehilangan orang-orang yang dikasihi ataupun kita menerima vonis penyakit yang tidak akan pernah sembuh ?
  3. Pengalaman rohani orang-orang yang tertulis di Alkitab merupakan pelajaran yang berharga dan merupakan kesaksian bagi orang-orang percaya saat ini. Pengalaman rohani orang-orang yang ada di Alkitab maupun orang-orang yang ada di dalam sejarah itu menjadi pelajaran yang berharga sekaligus menjadi catatan bagi kita pada waktu kita mengalami sesuatu hal dimana mereka pernah mengalami hal yang sama dengan kita. Pengalaman rohani orang-orang di dalam sejarah telah memberikan pelajaran bagi kita bahwa walaupun keadaan hidup tidak selalu lancar dan menghadapi berbagai problem hidup yang tak pernah selesai tetapi tetap bersandar dan percaya akan kasih Tuhan. Kita sebagai orang Kristen perlu belajar satu kata yaitu ‘walaupun’ dengan pengertian bahwa kita tetap percaya pada Allah yang mengasihi kita sebagai orang percaya walaupun kita menghadapi hidup yang tidak selalu lancar, sakit-penyakit yang berat, musibah, maupun kehilangan orang-orang yang dikasihi.
  4. Pengalaman merupakan ujian bagi orang percaya. Pengalaman itu ujian bagi orang percaya seperti halnya murid-murid sekolah yang harus menghadapi ujian untuk kenaikan kelas. Ujian ini dimaksudkan untuk membentuk kita makin dewasa dan tidak terus-menerus menjadi seperti anak-anak. Secara umum (secara kognitif) kita mengerti dengan baik bahwa dalam hidup ini perlu makin dewasa, sayangnya hal ini tidak dimengerti dengan sama baiknya di dalam hal rohani. Secara kerohanian, seandainya bisa, orang Kristen ingin seperti anak-anak dan tidak menjadi dewasa karena anak-anak dalam hal rohani itu enak dan ringan. Tuhan tidak menghendaki kita seperti anak-anak terus di dalam hal rohani, Tuhan menginginkan kita bertumbuh makin dewasa dan makin dewasa dalam rohani pun ada ujian yang harus dihadapi.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah

 

 
Ringkasan Khotbah - 4Jan'09 PDF Print E-mail

Mazmur 73:1-3

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Berbicara mengenai penulisan mazmur, kebanyakan mazmur ditulis oleh orang-orang yang mengalami kehidupan bersama dengan Allah. Maka mazmur ini bukanlah dongeng ataupun nyanyian mimpi yang indah-indah melainkan pengalaman hidup secara nyata bersama dengan Allah. Mazmur-mazmur ini merupakan kesaksian dari pengalaman hidup bersama dengan Allah dengan begitu kayanya. Salah satunya hal ini nampak pada mazmur 73 yang kita baca. Pada ketiga ayat pertama yang telah kita baca itu sudah memberikan gambaran tentang pengalaman si penulis mazmur ini sehingga mazmur ini dibuat dan dinyanyikan.

Kita mengawali pembahasan mazmur ini dengan suatu pemikiran tentang bagaimana konsep orang Kristen (Reformed) mengenai pengalaman. Ada satu pepatah yang terkenal dan tidak asing lagi bagi kita, pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman itu adalah guru yang terbaik. Sungguh benarkah pepatah ini ? Pepatah ini ada benarnya, tetapi hanya setengah kebenaran sehingga pepatah ini tidak bisa dikatakan benar 100%. Pengalaman itu tidak selalu menghasilkan yang baik. Pengalaman itu bisa menjerumuskan dan makin menyesatkan bahkan menjebak orang di dalam suatu kondisi yang membuat orang itu makin buta oleh karena pengalaman-pengalaman yang dialami. Salah satu contohnya seperti pemakai narkoba yang mempunyai pengalaman menyenangkan waktu memakai narkoba, dia menawarkan narkoba ke orang lain berdasarkan pengalaman si pemakai. Pengalaman yang seperti ini akan menjebak orang lain. Lalu bila demikian halnya, apakah Reformed membuang atau menerima atau mengabaikan pengalaman ?

Ada tiga poin penting yang kita pelajari dan yang akan bersambung pada khotbah-khotbah selanjutnya. Mengapa orang Reformed tidak menerima pengalaman itu sebagai hal yang mutlak dan penting ? Karena pengalaman itu tidak dapat dijadikan landasan doktrin/pengajaran. Bila pengalaman itu dijadikan sebagai landasan doktrin maka timbullah kekacauan di dalam kekristenan. Mengapa pengalaman tidak bisa dijadikan landasan doktrin ?

  1. Karena pengalaman itu bersifat pribadi dan subyektif. Tuhan mempunyai rencana kepada setiap kita secara berbeda-beda. Rencana Allah pada setiap manusia mungkin ada miripnya tetapi tidak ada yang sama persis. Contohnya pengalaman dari proses pertobatan tiap orang yang berbeda-beda. Pengalaman pertobatan seseorang tidak bisa menjadi standar/rumusan pertobatan bagi orang lain. Hal ini jangan menjadikan kita jatuh ke dalam relativisme dengan alasan perbedaan-perbedaan pengalaman antar satu dengan orang lain. Relativisme yang dimaksud itu adalah bahwa tiap-tiap orang mempunyai kebenarannya sendiri sehingga tidak ada kebenaran yang mutlak. Kebenaran yang relatif dan menolak kebenaran mutlak ini menjadi satu ciri khas di era postmodernisme zaman ini. Reformed mengakui bahwa Allah bekerja secara berbeda-beda pada tiap-tiap pribadi tetapi di dalam perbedaan pada tiap-tiap pribadi itu terdapat prinsip dasar yang sama. Contohnya adalah pengalaman pertobatan tiap orang memang berbeda namun ada satu prinsip dasar yang sama dari semuanya itu yaitu barangsiapa yang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat maka akan menerima keselamatan. Itulah prinsip dasarnya.
  2. Karena pengalaman itu bersifat khusus pada pribadi seseorang dan bukan bersifat umum untuk semua orang. Contohnya ada seorang yang disembuhkan karena orang tersebut berdoa dengan iman maka tidak berarti semua orang yang berdoa dengan iman pasti akan disembuhkan. Pengalaman kesembuhan pada diri seseorang seperti itu khusus bagi orang tersebut sehingga apa yang terjadi pada diri seseorang tidak dapat menjadi suatu pola yang sama bagi orang lain. Contoh dari satu ayat dalam Alkitab yang sering ditafsirkan secara salah karena ditafsirkan secara general (umum) yaitu Kis 16:31. Kis 16:31 itu bukanlah ayat berkenaan dengan pengajaran iman Kristen tetapi ayat ini menjelaskan tentang suatu peristiwa. Jadi ayat ini tidak bisa ditafsirkan secara umum bahwa hal seperti ayat tersebut bisa terjadi kepada siapa saja.
  3. Karena pengalaman itu bisa salah. Bukan hanya pengalamannya saja yang salah tetapi motif/tujuannya bahkan pemahaman akan esensi pengalaman itu sendiri juga bisa salah. Mungkin pengalamannya bisa benar tetapi pemahaman, motif, tujuannya bisa salah. Maka dari itu pengalaman itu perlu diuji baik oleh waktu maupun kebenaran firman Tuhan. Apakah pengalaman itu benar sesuai prinsip Kitab Suci? Ini yang penting. Pengalaman-pengalaman yang Tuhan ijinkan terjadi dalam setiap kehidupan kita seharusnya tidak boleh menjadi penghalang untuk kita makin dekat dengan Allah. Jangan sampai pengalaman kita itu membuat hidup kita makin jauh dari Allah dan menghalangi kita untuk bertumbuh di dalam kebenaran firman-Nya. Tujuan Allah memberikan pengalaman rohani dalam kehidupan kita itu dengan tujuan supaya kita makin mengutamakan dan memuliakan Allah bukan untuk kepentingan atau pun kenikmatan diri sendiri.

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah

 

 
<< Start < Prev 61 62 Next > End >>

Page 61 of 62
RocketTheme Joomla Templates