Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 30 Maret 2014 PDF Print E-mail

Gembala Yang Baik

Yoh. 10:11-18

Ev. Elvis Ratta

Setiap manusia pernah mengalami krisis di dalam hidupnya. Bahkan ada kalanya harus menghadapi krisis yang sangat berat, jauh lebih berat dari kemampuannya untuk mengatasinya. Itu sebab, ada sebagian orang yang karena tak sanggup menghadapi krisis hidupnya akhirnya bunuh diri, gila, menjadi orang jahat, atau mengeluh, Tuhan apa salahku hingga Engkau memberikan aku kesulitan yang begitu besar dalam hidupku? Yesus adalah gembala yang baik. Kalimat ini sudah sering kita dengarkan. Bahkan Penggambaran kalimat ini juga dituangkan dalam bentuk lukisan. Tetapi lebih dari pada itu, sebenarnya apa yang menjadi hal penting dari kalimat ini: Yesus adalah Gembala yang Baik?

Akulah Gembala Yang Baik. Ini adalah pernyatan keempat dari tujuh pernyataan Tuhan Yesus, ketika Dia mengatakan “Akulah …” yang merupakan keunikan Injil Yohanes dan hanya dicatat dalam Injil Yohanes. Ketujuh pernyataan "Akulah …" ini adalah: Akulah Roti Hidup (Yoh. 6:35); Akulah Terang Dunia (Yoh. 8:12); Akulah Pintu (Yoh. 10:7); Akulah Gembala yang Baik (Yoh. 10:11); Akulah Kebangkitan dan Hidup (Yoh. 11:25); Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yoh. 14:6); Akulah Pokok Anggur yang Benar (Yoh. 15:1). Dengan pernyataan ini Yesus menyatakan secara kiasan peranan-Nya dalam penebusan umat manusia. Injil Yohanes dituliskan oleh Rasul Yohanes di Efesus kepada orang-orang percaya dengan maksud membawa pembacanya supaya terus percaya kepada Yesus Kristus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah walaupun ada ajaran palsu seperti Gnostik, Doketisme (yang tidak percaya kemanusiaan Yesus) pada waktu itu. Demikian juga menyatakan dengan lebih sempurna rahasia tentang kepribadian Yesus. Injil Yohanes spesifik menjelaskan hubungan Bapa dan Anak, anak dan umat-Nya.

Alkitab menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan secara unik, manusia sebagai domba dan Tuhan sebagai Sang Gembala. Dalam kitab Mazmur misalnya, penggambaran ini begitu indah.”Kami ini umat-Mu dan kawanan domba gembalaan-Mu (Mzm. 79:13); “Ketahuilah Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (Mzm. 100:3); “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 23 Maret 2014 PDF Print E-mail

Ef. 2:1-10

Ev. Bakti Anugrah

Agustinus mengatakan bahwa tidak ada orang suci yang tidak memiliki masa lalu dan tidak ada pendosa yang tidak memiliki masa depan. Agustinus sendiri di masa lalunya adalah orang yang berdosa, hidup dengan seorang perempuan tanpa menikah dan mengikuti ajaran sesat tetapi karena kasih karunia Tuhan, ia ditarik dan bertobat. John Newton juga merupakan seorang pedagang budak tetapi kemudian ia diselamatkan oleh Allah.

Kita semua adalah orang suci sekaligus orang berdosa. Martin Luther mengatakan bahwa kita adalah semper justus et peccator, kita adalah orang yang dibenarkan tetapi pada saat yang sama kita berdosa. Kita memiliki dua hal ini di dalam diri kita. Kita punya masa lalu tetapi kita juga punya masa depan. Kekudusan kita bukan karena perbuatan tetapi karena status kita di hadapan Tuhan. Kekudusan kita bukan karena pekerjaan kita sendiri tetapi karena pekerjaan Kristus. Inilah pengertian kekudusan paling mendasar di dalam Alkitab. Kekudusan adalah anugerah, sesuatu yang tidak dimiliki sebelumnya dan diberikan kepada kita. Inilah perbedaan kekristenan dengan agama lain. Dalam agama lain seseorang harus mencapai tahapan kerohanian tertentu supaya bisa disebut kudus. Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat Korintus, jemaat Korintus adalah jemaat yang bejat tetapi rasul Paulus menyebut mereka sebagai orang kudus. Jadi status adalah yang pertama, perbuatan menyusul kemudian, inilah pernyataan Alkitab.

Ef. 1:1-3 merupakan bagian pertama mengenai bagaimana masa lalu kita sebagai orang berdosa; Ayat 4-10 merupakan masa kini sampai dengan masa depan kita sebagai orang yang dibenarkan.

Setiap orang percaya punya masa lalu dan masa lalu kita bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan karena dosa kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita dahulu telah mati karena pelanggaran dan dosa. Yang disebut mati dalam Alkitab bukanlah kematian secara fisik tetapi keterpisahan dari sumber hidup yaitu Tuhan. Saat kita belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat kita, kita terpisah dari Dia. Itulah pelanggaran baik secara moralitas (pelanggaran) dan kerohanian (dosa).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 16 Maret 2014 PDF Print E-mail

Eksposisi 1 Petrus: Supremasi Firman Tuhan dalam Hidup Orang Percaya

1 Ptr. 1:23-25

Ev. Calvin Renata

Dalam Perjanjian Baru, hanya ada 2 bagian yang membicarakan mengenai kelahiran baru kita sebagai anak Tuhan yaitu di Yoh. 3 dan Kitab 1Ptr. 1:23. Dalam 1 Ptr. 1:23 Petrus mengatakan bahwa orang percaya dilahirkan dari benih yang tidak fana oleh Firman Allah. Petrus pernah mengatakan hal yang mirip di ayat 3 yaitu “…yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Kristus…”. Dalam 2 bagian ini apakah Alkitab bertentangan? Yohanes mengatakan bahwa kita dilahirbarukan oleh Roh Kudus, pada 1Ptr. 1:3 dikatakan Bapa yang melahirbarukan kita, sedangkan pada 1Ptr. 1:23 dikatakan bahwa Firman Allah yang membangkitkan kita. Apakah kebenaran ini bertentangan satu dengan lainnya?

Kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan dirinya sendiri. Jadi bagaimanakah kita harus melihat 3 bagian dari Perjanjian Baru ini yang sepertinya berkontradiksi? Kita harus mengerti bahwa kebenaran tidak mungkin bertentangan tetapi bisa bersifat multi perspektif. Artinya kebenaran bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Tuhan memberikan kepada kita tidak hanya 1 Injil tetapi 4, maksud Tuhan adalah supaya apa yang Yesus kerjakan bisa dilihat dari 4 sudut berbeda sehingga kita bisa melihat keutuhan dari Injil yang sebenarnya.

Kelahiran baru yang akan dialami oleh setiap orang percaya bisa dibagi menjadi 2 tahap penting yaitu tahap pertama di dalam bawah sadar kita (subconscious). Kita tidak pernah tahu kapan kita dilahirkan secara fisik jika kita tidak diberitahu oleh orang lain (orang tua), kita tidak sadar akan eksistensi hidup kita sampai kita berumur kurang lebih 2 tahun. Semua pengalaman itu ada di alam bawah sadar. Saat kita dilahirkan kembali, ini adalah karya Roh Kudus di dalam hidup kita yang dikatakan dalam Yoh. 3. Kita tidak tahu kapan Roh Kudus bekerja di dalam diri kita, membangkitkan hati kita dari kematian rohani. Meskipun kita tidak sadar, tetapi kita bisa merasakan perubahan di dalam hidup kita. Roh Kudus bekerja tanpa melalui Firman Tuhan. Roh Kudus membangkitkan kita dari kematian rohani, sehingga kita merasakan ada perubahan di dalam hidup kita misalnya, kita mulai ada kerinduan mengerti firman Tuhan, kita pergi ke gereja, kita ingin mengenal Tuhan. Natur manusia berdosa tidak ingin mencari kebenaran, Tuhan atau Yesus Kristus, jika kita bisa punya keinginan mencari Dia, maka itu adalah karya Roh Kudus yang bekerja secara tersembunyi di dalam hati kita.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 09 Maret 2014 PDF Print E-mail

Dapatkah Aku Dipakai Allah?

Kej. 11:27–12:4; Kej. 15:6; Kej. 17:4

Pdt. Andi Halim, M.Th.

James Montgomery dalam bukunya “Dapatkah Kita dipakai Allah?” mengatakan bahwa orang Kristen punya motivasi masing-masing untuk mau melayani atau tidak melayani. Motivasi setiap orang berbeda dan tidak selalu jelek /baik. Ada orang yang mau dipakai Allah karena ia merasa jika ia tidak dipakai, ia menjadi tidak berguna. Ada orang yang tidak mau dipakai Allah karena ia merasa belum waktunya dipakai, ia merasa kurang rohani, dan ada juga orang yang melayani karena sok rohani.

Problem utamanya bukan karena kita mau dipakai atau tidak, dihargai atau tidak, sok rohani atau tidak, tetapi karena kita telah menerima anugerah yang begitu besar dari Allah sehingga kita mau mempersembahkan hidup kepada Allah. Dengan pemikiran seperti ini seharusnya tidak ada orang yang ribut mau melayani atau tidak. Karena prinsip dasarnya sudah jelas yaitu: kita hidup bagi Allah. Jika prinsip kita hidup bagi Allah, mungkinkah kita tidak punya konsep mengenai pelayanan? Hal inilah yang harusnya menjadi pergumulan bagi kita semua.

Bagaimana sebenarnya motif dasar di dalam pelayanan? Jika kita kembali ke prinsip Alkitab, bagaimana Tuhan memanggil dan memakai Abraham, kita bisa mempelajari prinsip Alkitab bagaimana kita dipakai Allah. Konsep umum yang kita kenal bahwa orang yang dipakai Allah adalah orang yang layak. Hal ini keliru. Memang kita juga harus menentukan kriteria dasar bagi orang yang mau melayani Allah di gereja, kita harus bertanggung jawab dan tidak boleh membiarkan sembarangan orang untuk melayani, tetapi semua orang yang dipakai Allah bukan karena dirinya layak tetapi semata-mata karena mendapat anugerah.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 8 of 65
RocketTheme Joomla Templates