Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 14 Juni 2015 PDF Print E-mail

Dua Cerita tentang Pelita

Luk 8:16–18; 11:33–36

Vic. Bakti Anugrah

Bertahun-tahun lalu di Amerika ketika kereta api dan kereta kuda dipakai menjadi kendaraan pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan seluruh anggota keluarga di sebuah perlintasan kereta api. Sang penjaga ditanyai berbagai pertanyaan dan mampu menjawab bahwa ia telah melakukan tugasnya dengan baik. Akhirnya disimpulkan bahwa kejadian itu adalah murni kecelakaan yang penyebabnya tidak diketahui. Namun bertahun-tahun kemudian saat ia menua dan sekarat kejadian itu kembali terlintas di benaknya dan ia meratapi keluarga yang malang itu berkali-kali. Temannya mencoba menghiburnya dan mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya dan hasil pemeriksaan telah menyatakan ia terbukti tidak bersalah. Ia menjawab bahwa ada satu pertanyaan yang tidak ditanyakan penyidik kepadanya pada waktu itu yaitu apakah lentera, yang menjadi penanda pada waktu itu, ia nyalakan saat ia menggoyang-goyangkannya untuk memperingatkan kereta kuda yang akan lewat itu. Karena kelalaiannya matilah seisi keluarga dalam kereta kuda itu.

Pelita kita harus tetap menyala agar orang lain bisa melihat dan diselamatkan. Jikalau pelita kita padam, maka bisa jadi ada, bahkan banyak, orang di sekitar kita mati, keluarga, teman, dan rekan-rekan kita. Jika pelita kita menyala, maka kita harus memancarkannya/membiarkan itu terpancar, bukannya disembunyikan, agar orang lain dapat melihat dan diselamatkan. Pelita adalah simbol tanggung jawab kita untuk menyatakan terang kebenaran Firman Tuhan.

Terang itu mendatangkan hidup, tapi kegelapan mendatangkan kematian. Itu membuktikan bahwa terang dan gelap tidak bisa bersatu. Kita tidak bisa hidup dalam Kristus, namun tetap berkanjang dalam dosa. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Pasti kita akan cenderung mengabdi pada salah satu tuan dan menyingkirkan yang lain.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 07 Juni 2015 PDF Print E-mail

Amanat Agung

Mat.16:18; 28:19-20

Pdt. Andi Halim, M.Th

Kita perlu mengaitkan keberadaan kita dan gereja dengan sejarah kerajaan Allah. Tidak semua gereja berkaitan dengan hal ini. tidak semua gereja benar, bahkan ada gereja yang sesat yang justru memberitakan ajaran Iblis. Miisalnya ada gereja mengajarkan positive thinking. Ini bukan ajaran berpikir posistif tetapi merupakan aliran bahwa hidup kita sukses atau tidak ditentukan oleh kekuatan pikiran. Film The Secret menyatakan bahwa pikiran manusia dapat mengendalikan hal-hal yang luar biasa tanpa agama dan iman secara spektakuler sekalipun mereka adalah orang atheis, bahkan bisa menyembuhkan penyakit.

Di mana sesatnya? Ini jelas bukan theosentris, hidup dan nasib kita bukan ditentukan dan berpusat pada Allah, tetapi pada kekuatan pikiran manusia. Saya yakin ini pasti dari setan. Gereja yang mengajarkan hal ini pasti bukan dari Tuhan. Lainnya adalah theologi sukses: asalkan mau beriman pasti apapun yang diminta akan kita dapatkan. Ini dipraktekkan melalui sugesti diri oleh banyak motivator. Hal ini memang mempengaruhi orang secara kejiwaan karena orang pasti akan bersemangat kalau didorong terus. Sekarang istilah “semangat pagi!” sudah populer. Belum lagi ajaran kalau beriman pasti sembuh. Lain lagi adalah ajaran bahwa hari ini masih ada nabi dan rasul dan wahyu tambahan.

Pertanyaannya adalah apakah gereja kita sekarang masih meneruskan visi kerajaan Allah atau mau lari ke mana? Ayat-ayat yang kita baca ini membicarakan tentang ikatan perjanjian dengan Allah. Gereja yang masih menjalankan misi kerajaan Allah berarti masih melanjutkan ikatan perjanjian dengan Allah ini di dalam kegiatan-kegiatannya. Hidup yang berarti dan bernilai adalah hidup yang disertai dengan perjanjian. Misalnya orang menikah, bisnis, bekerja di perusahaan,atau bahkan menjadi warga negara Indonesia pun ada ikatan perjanjiannya. Kalau tidak ada ikatan perjanjian berarti tidak jelas. Menjadi anggota gereja dan mau beribadah pun ada ikatan perjanjiannya, kita tahu jam kebaktiannya yang harus kita setujui, umumkan dan nyatakan kepada jemaat dan harus dihadiri.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 31 Mei 2015 PDF Print E-mail

Esensi Pencurahan Roh Kudus

Bil.11:24–30; Yl.2:28–32; Kis.1:8

Vic. Gito T. Wicaksono

Musa, dalam Bil.11:24–30 ini mengajarkan bahwa pimpinan Roh itu tidak hanya bagi para tua-tua, tetapi juga berlaku bagi orang yang bukan golongan tua-tua, yaitu Eldad dan Medad. Di sini Musa merindukan semua orang bisa menjadi nabi. Dalam konteks ini memiliki arti bahwa pimpinan Roh Kudus itu tidak hanya bagi para hamba Tuhan atau pemimpin-pemimpin agama saja, tetapi juga berlaku bagi semua orang yang dikehendaki-Nya. Di sini Musa merindukan semua orang bisa bersaksi di bawah pimpinan dan kuasa Roh Kudus tersebut. Ini juga menunjukkan bahwa jika Roh Kudus memimpin kita untuk bersaksi, maka kita harus bersaksi. Sebaliknya, jika Roh Kudus tidak memimpin, maka kita harus diam.

Perikop dalam Yl.2:28–32 ini dikutip oleh Rasul Petrus pada khotbahnya setelah Hari Pentakosta (bnd. Kis.2:17–21). Nubuatan Nabi Yoel ini mengajarkan bahwa suatu hari nanti Roh Kudus akan dicurahkan ke atas semua orang percaya, bukan hanya para pemimpin agama saja. Dan nubuatan ini – juga yang adalah kerinduan Musa (Bil.11:29) – digenapi pada Hari Pentakosta. Para murid yang notabene bukan dari golongan pemimpin agama dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga mereka dapat bersaksi dalam berbagai bahasa lain yang mereka belum pernah pelajari. Hal ini menunjukkan bahwa saat Roh Kudus tercurah pada orang-orang itu maka kuasa Roh Kudus tersebut menjadi milik mereka. Sehingga selama Roh Kudus memimpin mereka maka Firman Tuhan menjadi milik merekadan bisa dipelajarioleh mereka.

Kalau Roh Kudus memenuhi kita maka akibat bawaannya adalah kita selalu ingin bersaksi. Hal itu tidak akan bisa dihentikan. Sekuat-kuatnya kita menolak atau ingin melepaskannya, selalu ada sesuatu yang mencegahnya. Ada suatu kuasa yang membuat kita tetap ingin bersaksi (Kis.1:8). Sayangnya dalam hal pencurahan Roh Kudus kita seringkali lebih tertarik pada fenomenanya saja, bukan esensinya. Esensi pencurahan Roh Kudus adalah bagaimana kuasa Roh Kudus membuat kita terus bersaksi. Yang paling penting adalah esensi kuasa Roh Kudus, bukan fenomenanya. Dalam Bil.11:25 di bagian akhir bahkan dikatakan bahwa fenomena turunnya Roh Kudus tidak terjadi lagi namun yang terjadi terus-menerus adalah esensi turunnya Roh Kudus, yaitu kesaksian. Kuasa ini tidak memanipulasi kita secara emosi melalui suasana tetapi membuat kita tidak bisa berhenti bersaksi dalam kondisi apa pun, bahkan kematian sekalipun.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 24 Mei 2015 PDF Print E-mail

Kuasa Pentakosta

Kis. 2:14–28

Vic. Bakti Anugrah

Hari Pentakosta merupakan hari perayaan panen bagi orang Israel di Perjanjian Lama. 50 hari setelah Paskah orang-orang Yahudi pun berkumpul di Bait Suci dan mempersembahkan hasil pertama dari panen mereka.

Kini, pada saat orang-orang Yahudi sedang berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan dan 3000 orang bertobat setelah mendengar kotbah Petrus. Sama seperti waktu orang Israel mempersembahkan hasil pertama panen mereka di hari Pentakosta, pada hari ini pula 3000 orang bertobat. Merekalah buah-buah sulung bagi Tuhan. Artinya masih akan ada buah-buah pertobatan susulan. Di Yerusalem adalah buah pertama. Berikutnya adalah Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi seperti pesan dan janji Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga (Kis.1:8).

Yesus naik ke surga 40 hari setelah Paskah dan Ia meminta para murid-Nya untuk tinggal, berpuasa dan berdoa, mempersiapkan hati untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Puasa mereka lakukan untuk mengenang dan mengingat pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Orang Kristen juga baik untuk melatih disiplin rohani dalam hal berpuasa ini karena puasa menyadarkan kita bahwa ada kebutuhan lain dalam hidup ini selain makan dan minum, yaitu kebutuhan rohani.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 8 of 77
RocketTheme Joomla Templates