Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 15 Juni 2014 PDF Print E-mail

Belajar dari Kisah Yusuf

Kejadian 50:15-21

Pdt. Ivan Kristiono, M.Div.

Pada waktu kecil kita sering mendengar kisah. Misalnya kita mendengarkan cerita dari nenek dan kakek dan orang tua kita. Namun sebenarnya kita bukan hanya mendengarkan kisah saja karena setiap kita punya kisah sendiri yang harus kita hidupi dan menjadi pelakonnya. Di dalam kisah tersebut kita juga harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kisah seperti apa yang akan kita jalani?

Tuhan membentuk dan menyucikan kita anak-anak-Nya secara progresif atau bertahap. Tuhan sudah memilih dan memanggil, melahirbarukan, mengaruniakan iman, mengaruniakan pertobatan, membenarkan, dan melibatkan kita dalam pekerjaan-Nya. Pertanyaannya adalah kisah hidup seperti apa yang kita jalani sekarang?

Bagaimana dengan hidup yang dibangun hanya dengan terus-terusan makan dan minum saja, isinya makan lagi dan tidur lagi? Coba Anda berpikir hidup Anda membosankan tidak? Allah menciptakan Saudara, Allah menuntut pertanggungjawaban kita. Apakah kita mengisi dan mempersiapkan hidup kita sehingga suatu saat nanti ketika Tuhan mau memakai kita sudah siap? Apakah di dalam menunggu kita menggumulkan firman, memeriksa hati, berperang dalam dosa, dan melakukan tindakan-tindakan yang dikehendaki oleh Tuhan?

Di dalam Alkitab ketika tokoh-tokoh di dalamnya menunggu akan sesuatu maka hal ini adalah sesuatu yang aktif. Menunggu bukan sesuatu yang pasif. Waktu menunggu sesuatu engkau mempersiapkan diri karena bagian engkau menunggu adalah bagiannya Tuhan. Tidak ada tokoh dalam Alkitab yang tidak menunggu: Musa menunggu 40 tahun, Yusuf menunggu di dalam penjara, Abraham menunggu anak 25 tahun, Daud juga. Tetapi pertanyaannya sewaktu menunggu kita mengisi hidup kita dengan apa?

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Juni 2014 PDF Print E-mail

Pentakosta

Kis 1:4-5; Kis 2:1-4,16,37-38,41

Pdt. Andi Halim, M. Th.

Hari Pentakosta merupakan hari yang kelihatannya biasa dan tidak semeriah perayaan Natal, Jumat Agung atau Paskah. Hari Pentakosta ini menimbulkan masalah besar bagi gereja. Hari Pentakosta menimbulkan beberapa perpecahan di dalam gereja, dikarenakan perbedaan konsep tentang Pentakosta. Sehingga muncullah gereja Pantekosta, penyebutan Pantekosta ini sudah salah kaprah, seharusnya yang benar adalah Pentakosta. Gereja karismatik merupakan perkembangan dari gereja Pantekosta.

Orang Kristen yang mengikuti gereja Pantekosta dan Karismatik mengejar mujizat, bahasa roh dan kejadian-kejadian spektakuler lainnya. Menurut orang Pantekosta, orang Kristen tidak cukup hanya dengan percaya saja. Jika percaya tetapi tidak mempunyai kuasa Allah maka orang Kristen menjadi orang percaya yang impoten dan tidak berkelimpahan berkat dan kuasa Allah yang nyata dalam kehidupannya. Pandangan ini begitu ditekankan dalam gereja mereka dan menjadi obsesi pengikutnya.

Orang-orang Kristen yang tidak setuju dengan pandangan Pantekosta ini berkumpul dan membentuk wadah sendiri, seperti di Gereja Reformed, tidak menonjolkan mujizat, bahasa roh, ataupun kejadian-kejadian spektakuler lainnya. Apakah gereja seharusnya seperti ini? Hanya karena suka atau tidak suka? Anggapan orang Pantekosta, orang Kristen harus disertai kuasa, karena para rasul pun disuruh menunggu di Yerusalem untuk mendapatkan kuasa, sehingga kita pun harus menunggu supaya dapat kuasa. Penekanan seperti ini menjadikan orang-orang Kristen yang “tidak punya kuasa”, tidak sembuh dari penyakit menjadi rendah diri karena mengganggap diri kurang layak. Image seperti ini yang selalu diangkat oleh Pantekosta dan menyebabkan gereja pecah menjadi Pantekosta dan Protestan dan tidak pernah bisa bergabung. Hal ini harus diperhatikan, karena banyak orang merasa permusuhan ini tidak berarti dan berfokus hanya kepada persamaan dan mengabaikan perbedaan yang ada. Sehingga akhirnya banyak orang Kristen tidak mau belajar firman baik-baik karena menganggap hal itu akan memecah belah. Semakin belajar semakin menimbulkan masalah, sehingga akhirnya mereka tidak mau belajar. Masyarakat Kristen menjadi masyarakat yang tidak mau belajar baik-baik.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 Juni 2014 PDF Print E-mail

Ef 1:4-11, Rom 8:28-39

Pdt. Andi Halim, M. Th

Buku “Ambillah, Aku Melayani Engkau” oleh Michael Griffiths memaparkan hal yang paling mendasar dan terus menerus menjadi kesegaran bagi orang percaya. Hakekat kehidupan kita seharusnya melayani Tuhan dan kita harus terus menerus mengingat hal ini. Manusia seringkali lupa dan mengabaikan Tuhan, kita berjalan menurut kehendak kita sendiri. Firman Tuhan terus mengingatkan kita supaya kita sadar, siapakah kita? Hidup kita untuk apa dan kita dipanggil untuk apa?

Hal yang sangat mendasar dalam doktrin Reformed adalah menekankan kedaulatan Allah. Kenapa kedaulatan Allah? Bukankah Alkitab menekankan kasih Allah? Bukankah kasih yang terbesar? Tetapi mengapa Reformed malah berbicara mengenai kedaulatan Tuhan? Bukan berarti ajaran Reformed mengabaikan kasih Allah, Reformed menekankan kedaulatan Allah bukan berarti hal lain dalam diri Allah, seperti kasih, tidak ada. Sudah banyak gereja dan orang Kristen yang mengabaikan faktor kedaulatan Allah yang begitu penting dipaparkan dalam Alkitab. Pernyataan kasih Allah juga pasti disertai dengan kedaulatan Allah. Tidak ada kasih dalam kedaulatan dan tidak ada kedaulatan tanpa kasih. Tidak ada kasih tanpa keadilan dan tidak ada keadilan tanpa kasih. Semuanya ini terangkum dalam diri Allah yang sempurna.

Siapa yang dipakai Allah? Orang-orang yang berdosa. Orang yang tidak ada kebenaran dari dirinya sendiri, orang yang sebenarnya tidak layak dan tidak pantas tetapi Tuhan mau memakai. Kenapa Tuhan mau pakai? Karena kedaulatan-Nya dan karena kasih-Nya. Jadi bukan karena kelayakan, kehebatan, keluarbiasaan manusia. Tuhan tidak mengandalkan kehebatan manusia, apalagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Jika dibandingkan dengan kesempurnaan dan kemahakuasaan Allah dan kedaulatan-Nya segala yang Dia mau pasti Dia bisa. Apakah Tuhan membutuhkan manusia?

Ada orang yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak bisa melakukan segala sesuatu tanpa adanya manusia. Saat Tuhan melakukan sesuatu Dia membutuhkan manusia. Ilustrasi yang diberikan pun tampak masuk akal, misalnya mencetak Alkitab. Alkitab memang karya Tuhan, tetapi manusia yang menciptakan kertas, tinta, dll. Sehingga disimpulkan bahwa Tuhan butuh manusia untuk membuat Alkitab. Dengan menyetujui bahwa Tuhan membutuhkan manusia berarti kita menganggap jasa manusia besar di mata Tuhan. Tetapi pendapat ini merupakan pendapat yang konyol dan tidak benar. Hal ini sama sekali bertentangan dengan teologi Reformed. Allah kita adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa sepenuhnya. Ia bisa mengerjakan apa saja yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang bisa menggagalkan. Secara teologis kita setuju bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu tetapi mungkin secara praktis kita tidak mengakui hal ini. Sehingga akhirnya kita menjadi anthroposentris. Kedaulatan tidak sepenuhnya berada di tangan Allah, tetapi juga ada di tangan manusia. Ini bukan spirit theologi Reformed di mana segala-galanya bersumber dari Allah. Kita bisa hidup, berpikir, dan mempunyai keahlian karena siapa? Kita seperti kacang lupa kulitnya. Kita bisa seperti sekarang karena kita telah diciptakan oleh Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 18 Mei 2014 PDF Print E-mail

Kej. 14:14-24

Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

Dalam Kej 14, setelah menang, Abraham diperhadapkan dengan raja Sodom dan imam yang mahatinggi yaitu Melkisedek. Dari bagian Alkitab ini kita akan belajar mengenai karakter Abraham yang penuh keberanian dari Tuhan, kerendahan hati Abraham, dan kepekaan hati Abraham akan perintah Tuhan. Kita akan belajar bagaimana pentingnya kita membangun hidup di dalam mengikuti Tuhan dan bisa melihat situasi sulit di dalam pimpinan Tuhan, dan melihat kebesaran Tuhan mengalahkan kelemahan diri kita sendiri.

Raja Kedorlaomer adalah raja yang sedang berkuasa saat itu. Selama 12 tahun ia berkuasa di Timur. Ia bersekutu dengan 4 kerajaan di Mesopotamia. Seluruh Sodom dan Amori berada di bawah pemerintahan Raja Kedorlaomer. Saat itu raja Kedorlaomer paling ditakuti, hingga tahun ke-13 pemerintahannya, semua kerajaan bersatu dan menyerang raja Kedorlaomer dan sekutunya. Tahun itu merupakan tahun yang penuh kesusahan karena raja Kedorlaomer satu persatu mengalahkan raja-raja yang menyerangnya. Lot dan keluarga, hartanya dirampas. Abraham yang mendengar hal itu berbalik akan menyerang Kedorlaomer meskipun secara perbandingan senjata ia kalah.

Kenapa ia berani menyerang raja Kedorlaomer? Apakah Abraham nekat? Umumnya orang tidak akan berani melawan pasukan yang 100 kali lipat lebih banyak dari yang dipunyai. Kita tidak berani karena kita melihat diri. Jika kita melihat segala sesuatu berdasarkan diri kita, kelemahan kita, di sinilah iman kita menjadi lemah. Abraham tidak berpikir secara logika mengenai pasukan yang dipunyainya, yang dia pikir saat itu adalah Tuhan harus dinyatakan kebesaran-Nya. Lot dan keluarganya harus kembali karena Abraham ditunjuk untuk memimpin Lot. Abraham hanya mempunyai 318 pasukan yang tidak terlatih melawan ribuan pasukan Kedorlaomer yang merupakan prajurit terlatih. Menurut analisa Abraham pasti kalah dalam peperangan ini. Tetapi Abraham dapat mengalahkan Kedorlaomer dan 4 kerajaan sekutunya.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 7 of 66
RocketTheme Joomla Templates