Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 18 Jul'10 PDF Print E-mail

Luk.5:31-32

“Gereja buat Siapa?”

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Seringkali saat kita mengajak orang datang ke gereja alasannya bermacam-macam. Biasanya ada yang mengatakan nanti saja, saya belum saatnya ke gereja. Dia merasa masih tidak layak, tidak pantas ke gereja. Nanti kalau sudah merasa cukup layak baru mau ke gereja. Ini adalah jawaban penolakan halus, berbeda dengan orang yang terang-terangan menolak ke gereja karena berbeda kepercayaan. Lain halnya dengan mereka yang separuh Kristen atau Kristen KTP yang penolakannya lebih halus: saya masih ada dosa, tidak layak dan sebagainya.

Konsep seperti ini seringkali dipengaruhi konsep-konsep lain. Tunggu sampai kapan? Sampai saya layak. Jadi dia berpikir dia baru ke gereja kalau dia sudah layak atau pantas. Lebih lagi kalau dia berpikir gereja itu hanya untuk orang suci, orang baik-baik dan dia merasa dirinya bukan orang baik. Maka pikirannya kalau mau ke gereja harus benar-benar sudah suci dan pantas. Sebaliknya ada juga orang yang memikirkan yang negatif: gereja kelihatannya saja penuh orang suci dan pantas tapi banyak juga orang munafik yang hanya bisa omong saja. Saling munafik, sok suci, sok rohani dan berpura-pura tapi wajahnya penuh dengan kasih. Ini menyakitkan dan tidak enak didengar. Apakah saya di sini orang suci, orang yang layak dan pantas? Apakah kita semua di sini yang datang ke sini adalah orang yang layak dan pantas?

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 11 Jul'10 PDF Print E-mail

 

Kisah Para Rasul 4:1-22, 5:27-29, 41-42

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Hari ini saya akan mengkotbahkan semangat seorang percaya dalam melaksanakan Amanat Agung-Nya. Ternyata gereja mula-mula yang berdiri dan disertai Allah dengan tanda luar biasa tidak luput dari tantangan, kesulitan, serangan dan ancaman. Maka hal ini menegaskan bahwa pekerjaan Allah bukan pekerjaan yang mulus, tanpa kesulitan. Jika orang mengatakan “selama Tuhan pimpin kita pasti tidak ada hambatan dan kesulitan” ini tidak benar. Justru jika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan, iblis tidak pernah diam dan selalu ingin menghambat pekerjaan Tuhan. Jika pekerjaan Tuhan tidak ada masalah, tantangan, hambatan dan perlawanan maka perlu dipertanyakan. Jika iblis tidak menyerang bahkan menyambut apa yang kita lakukan, ini menjadi tanda tanya. Jangan-jangan kita sejalan dengan iblis. Tetapi jika kita melakukan kehendak Allah, pasti iblis tidak tinggal diam.

Kita melihat dengan gamblang para rasul yang memiliki kerinduan besar setelah hari Pentakosta untuk memberitakan Injil. Saat itu muncul masalah besar. Mereka berhadapan dengan Mahkamah Agama yang pada waktu itu diberi mandat, wewenang oleh pemerintah Romawi untuk mengurus hal-hal keagamaan orang Yahudi. Misalnya: pemerintahan Itali ada Vatikan, ada kekuasaan gereja Katolik yang sangat dihormati oleh pemerintah. Paus dianggap memiliki kedudukan begitu tinggi. Begitu juga Mahkamah Agama. Para rasul dituntut untuk tidak memberitakan tentang Tuhan Yesus. Pemerintah yang menangkap para rasul ternyata juga pemerintah yang tidak berani sewenang-wenang. Mereka takut dengan orang banyak. Pada waktu itu orang-orang banyak takjub dengan mujizat yang dilakukan para rasul. Pemerintah takut rakyat membela para rasul kemudian memberontak. Karena itu mereka hanya berani melarang. Tetapi ternyata para rasul tidak kehilangan semangat ketika dilarang. Para rasul tahu bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 04 Jul'10 PDF Print E-mail

 

1Yoh. 4: 7-21

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Saya sudah mengkotbahkan kasih beberapa kali. Kasihlah yang menjadi landasan bagi gereja Tuhan dalam menjalankan seluruh aktivitasnya. Firman Tuhan mengatakan bahwa tanpa kasih semua menjadi sia-sia. Kita boleh iat luar biasa tapi tanpa kasih semua menjadi tidak berguna. Memang gereja bisa bergerak, berjalan, mempunyai banyak kegiatan dan diikuti oleh banyak jemaat tetapi tanpa kasih yang benar. Kasih banyak yang sudah diselewengkan menjadi kasih yang egosentris, demi kepentingan diri sendiri. Itu namanya bukan kasih.

Misalnya jemaat dimotivasi untuk giat berdoa karena Tuhan mengasihi kita dan akan memberikan apa pun yang kita minta. Ini adalah kasih yang diselewengkan: bahwa Allah mengasihi demi kepentingan pribadi kita, Allah mau berkorban demi kepuasan dan kenikmatan diri kita sendiri.

Saya sudah menyatakan bahwa manusia sebagai gambar dan rupa Allah semua manusia memiliki kasih. Ini juga bahkan ditemukan dalam binatang, bahkan binatang buas sekalipun yang ganas tapi bisa mengasihi anak-anaknya. Memang binatang tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah tetapi karena ia diciptakan oleh Allah maka ia memiliki ciri dari hikmat Allah yang ergambar dalam ciptaan-Nya. Maka manusia yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah juga memiliki atribut-atribut Allah di antaranya kasih. Oleh sebab itu mereka yang berada di luar agama Kristen pun juga memiliki kasih.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 27 Jun'10 PDF Print E-mail


Yoh. 13: 34-35

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Sebetulnya perintah mengasihi ini sudah ada sebelumnya tetapi perintah ini ditekankan kembali, diberikan dalam bentuk yang baru: seperti Tuhan Yesus mengasihi para murid-Nya demikian pula mereka harus saling mengasihi. Memang Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mengajar sesuatu yang baru di luar PL. Semua ajaran-Nya bersumber dari Taurat, dari Firman. Bicara soal kasih juga bukan hal yang asing bahkan bagi orang yang bukan Kristen. Menurut saya terlalu arogan jikalau kita mengatakan bahwa di luar kekristenan tidak ada kasih. Apakah suami istri dan keluarga yang bukan Kristen tidak saling mengasihi? Bahkan mereka yang tidak punya agama pun juga saling mengasihi, misalnya kasih di antara saudara kandung dan sepasang kekasih. Bahkan binatang pun juga memiliki kasih. Misalnya induk singa yang ganas dan dapat mengoyak-ngoyak mangsanya ternyata begitu mengasihi anak-anaknya.

Akan tetapi apa yang menjadi ciri dari kasih menurut iman Kristen? Kasih yang bagaimana? Jikalau kasih Kristen dengan yang bukan Kristen sama saja buat apa kita menjadi Kristen? Biar hal ini menjadi pertanyaan yang kita pikirkan. Rasul Paulus mengajarkan bahwa kasih itu bukan sekedar boleh ada ataupun tidak. Di dalam 1Kor.13 rasul Paulus begitu memutlakkan kasih. Sepandai dan sehebat apapun kita jikalau kita tidak memiliki kasih kita sama sekali tidak ada gunanya. Jikalau apa yang kita lakukan hanya sekedar suatu kewajiban, bahkan jika ada orang yang mengorbankan hidupnya untuk dibakar sekalipun tetapi jika tidak memiliki kasih sama sekali tidak ada gunanya. Tanpa kasih sehebat apapun prestasi dan kerja keras kita semua itu percuma dan nol.

Read more...
 
<< Start < Prev 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Next > End >>

Page 43 of 58
RocketTheme Joomla Templates