Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 3 Jul'11 PDF Print E-mail

Kristus dan Langkah Iman

Roma 10:14-17

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Apa arti iman dan bagaimana pergumulan iman Saudara dalam kehidupan ini? Saya sendiri mempunyai perjalanan iman yang unik, dari atheis sampai bertobat. Kemudian memiliki iman yang salah bahkan hampir sesat terus dipimpin Tuhan sampai kepada iman yang benar. Tahun 1978 saya baru menjadi seorang Kristen yang bergumul bagaimana menerapkan iman Kristen itu dalam kehidupan nyata. Selama ini saya hanya menjadi orang Kristen keturunan yang mengetahui iman secara teori dan bukan prakteknya. Kemudian saya diajar untuk mempraktekkan iman dalam kehidupan saya. Namun pengajar saya adalah seorang ekstrimis. Ketika sakit, saya dilarang untuk minum obat, cukup “beriman” saja pasti sembuh. Apa yang saya alami juga diajarkan oleh tokoh-tokoh Kristen seperti Yonggi Chou. Yonggi Chou mengajarkan orang Kristen untuk memvisualisasikan apa yang ingin kita minta kepada Tuhan, lalu kita doakan di dalam Nama Tuhan Yesus. Hal ini juga diajarkan oleh Norman Vincent Peale. Norman Vincent Peale mengajarkan bahwa kalau kita mau berhasil kita harus mengimani apa yang kita minta maka pasti diberikan.

Saya pun dulu sempat meniru hal-hal seperti ini tetapi apa yang saya minta tidak kunjung datang. Tetapi saya bersyukur pada Tuhan karena Tuhan mengijinkan kegagalan-kegagalan seperti itu dalam hidup saya. Jika saya tidak pernah gagal dan meminta apa saja selalu berhasil, jadi apa saya sekarang ini? Jika saya berhasil terus, mungkin mata saya menjadi “buta” dan terus merasa apa yang saya lakukan itu benar. Kita selalu berpikir kegagalan itu adalah pencobaan atau musibah, sedangkan keberhasilan itu adalah berkat. Tetapi mengapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kalau kita mengalami berkat itu adalah pencobaan sedangkan kalau kita mengalami kegagalan itu adalah berkat. Karena saya gagal, maka menjadi berkat bagi saya untuk berpikir kembali apakah yang saya lakukan itu benar. Jika kita selalu berhasil dan lancar, pasti itu bukan dari Tuhan. Tuhan justru mengijinkan kegagalan dalam hidup ini supaya hidup kita berhasil dalam kebenaran firman-Nya.

Jika kita mau belajar iman yang benar, ada satu contoh yang paling ideal. Jika kita mempelajari iman Musa, Abraham, Daud, Maria memang bisa dijadikan contoh. Tetapi contoh yang paling ideal dalam menjalankan iman adalah Tuhan Yesus sendiri. Waktu Yesus menjadi manusia, Ia adalah teladan iman. Iman yang bagaimanakah?

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 Jun'11 PDF Print E-mail

Kasih Allah

1Yoh. 4:7-12

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kasih itu ada dua macam: dalam konteks anugerah umum dan dalam konteks anugerah khusus. Jika orang Kristen tidak bisa membedakan hal ini maka ia akan bingung dengan pertanyaan: Mengapa ada orang yang diselamatkan dan ada yang tidak diselamatkan? Dalam ajaran Reformed prinsip predestinasi sangat tegas. Tetapi ajaran ini sering dianggap ajaran yang menyimpang dan tidak sesuai dengan prinsip Alkitab. Banyak hamba-hamba Tuhan yang menolak predestinasi. Padahal predestinasi adalah ajaran Alkitab. Allah adalah Allah yang berdaulat dan menentukan segala sesuatu. Jika demikian apakah Allah pilih kasih?

Kasih Allah dalam konteks anugerah umum adalah bahwa Allah mengasihi semua orang. Allah memberikan matahari dan hujan pada orang benar maupun orang jahat. Tuhan bisa memberikan kepandaian, kesehatan, kekayaan kepada orang benar maupun orang jahat. Kasih Allah juga dinyatakan oleh ciptaan-Nya. Hal ini dapat kita lihat melalui keteraturan dan keharmonisan ciptaan-Nya. Seluruh ciptaan mengeskpresikan kasih Allah.

Contoh: tumbuh-tumbuhan bisa merasakan kasih sayang dari pemilik kebunnya. Allah itu kasih. Waktu Ia menciptakan baik tumbuhan, binatang, maupun manusia pasti ada ekspresi kasih-Nya. Karena itu ada relasi-relasi khusus secara umum. Contoh lain adalah binatang. Seekor anjing bisa sangat setia dan mengasihi tuannya. Demikian juga dapat kita lihat dari binatang buas yang begitu mengasihi anaknya. Termasuk manusia. Sejahat-jahatnya manusia, ia masih mempunyai ekspresi kasih seperti mengasihi istri dan anak-anaknya. Ini adalah konteks kasih secara umum. Orang Kristen pun tidak boleh kehilangan kasih dalam konteks anugerah umum ini kepada sesamanya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 19 Jun'11 PDF Print E-mail

Otoritas Pengampunan Dosa

Mat.9:1-8

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Bagian ini dimulai dari pasal 8 di mana Kristus mengadakan penyembuhan yang melewati batas-batas: kenajisan (menyentuh orang yang sakit kusta); etnis (menyempuhkan hamba seorang perwira Romawi; kepala pasukan seratus dalam bahasa Inggrisnya); dan gender (menyembuhkan mertua Petrus, seorang perempuan yang dianggap remeh pada jaman itu). Setelah itu Ia menyatakan kuasanya atas wilayah Iblis atas alam (menenangkan angin ribut); atas roh-roh jahat (yang merasuki orang di Gadara/ Gerasa); dan atas dosa (melalui penyembuhan orang lumpuh).

Mengapa Ia pertama-tama mengatakan kepada orang lumpuh itu bahwa dosanya diampuni? Bukankah yang paling diperlukannya pada waktu itu adalah kesembuhan dan bukannya pengampunan dosa? Bagi kita pembaca modern yang hidup di jaman ini hal pengampunan dosa bagi si lumpuh tidak berarti apa-apa. Tetapi pada jaman itu mereka yang kena sakit penyakit yang dianggap cukup parah dianggap oleh masyarakat sebagai kena kutukan Tuhan (bdk. Yoh. 9:2). Melalui penyembuhan si lumpuh ini Kristus mau mengatakan bahwa penyakit tidak tentu adalah akibat langsung dari dosa yang parah, melainkan kadang adalah karena ada maksud Tuhan atas hal itu.

Seringkali pemberitaan injil di rumah-rumah sakit yang kita lakukan menjadi sulit karena si sakit bukan hanya dikunjungi oleh kita saja tetapi juga oleh gereja-gereja lain yang kurang bertanggung jawab dalam pengajarannya yang mengatakan bahwa dia perlu mengaku dosanya agar sembuh. Dia sudah dipaksa-paksa mengakui hal itu bahkan semua dosa yang paling memalukan pun sudah diakui namun tidak juga sembuh. Masalahnya adalah mungkin memang Tuhan tidak bermaksud menyembuhkan dia atau paling tidak tidak dalam jangka waktu cepat.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 12 Jun'11 PDF Print E-mail

Berbahagia

Mat.5:3-4

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Manusia selalu mendambakan dan mengusahakan hidup yang berbahagia. Tidak ada orang yang dalam hidupnya mau mencari sengsara. Dalam membuat rumus tentang bahagia ada seorang yang bernama Epicuros. Ia mengatakan, “Orang berbahagia kalau segala keinginannya tercapai.” Misalnya: kita ingin mobil lalu mendapatkannya, maka kita berbahagia; ingin jodoh lalu mendapatkannya maka kita berbahagia, dsb. Tetapi Epicuros juga melihat bahwa banyak orang yang tidak berbahagia. Maka dibuatlah rumus yang kedua. Ia mengatakan, “Orang sulit berbahagia karena ada dua hal yaitu pertama, karena keinginannya terlalu banyak sehingga sulit terpenuhi.” Misalnya kita punya 1000 keinginan lalu hanya terpenuhi 5, maka masih begitu banyak yang tidak terpenuhi. Kedua, orang juga tidak bahagia karena meski keinginannya tidak banyak tetapi terlalu tinggi. Misalnya: ingin menjadi Presiden Amerika Serikat. Epicuros mengatakan, “Supaya anda cepat bahagia, keinginan anda jangan terlalu banyak atau terlalu tinggi. Turunkanlah keinginan anda.” Rumus yang ketiga dari Epicuros, “Orang yang paling berbahagia adalah orang yang sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi.”

Bisakah orang hidup sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi? Menurut Epicuros orang seperti inilah yang paling berbahagia. Mungkin seperti orang yang sudah sangat tua yang sudah tidak punya ambisi apapun. Tetapi benarkah orangtua tidak punya keinginan apa-apa lagi? Kapan orang tidak punya keinginan? Kenyataannya banyak orang yang sudah mendapat apa yang ia inginkan tetapi tetap tidak bahagia. Misalnya: sebelum seseorang punya mobil ketika satu saat ia mendapatkan mobil maka akan merasa senang sekali. Tetapi ketika 10 tahun kemudian memiliki mobil tersebut akan merasa biasa bahkan bosan.

Ada juga tawaran-tawaran kebahagiaan dalam agama-agama pada umumnya. Biasanya bersifat asketisme yang mengajarkan bahwa kita justru harus menjauhkan diri dari semua keinginan dan dari dunia. Kemudian bertapa ke gunung-gunung, menyepi, puasa bahkan menyiksa diri. Dengan melakukan semua itu maka orang akan merasa lebih dekat ke “surga” dan kedamaian yang sejati. Tetapi kalau kita mau jujur, benarkah usaha-usaha seperti itu menghasilkan kebahagiaan sejati?

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 35 of 61
RocketTheme Joomla Templates