Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 25 Maret 2012 PDF Print E-mail

Karakter Jemaat, Kekuatan Gereja

Rm.12:2

Pdt. Karyanto

Terjemahan lain dari ayat ini adalah: Jangan meniru kebiasaan dari dunia ini melainkan jadilah orang dengan kepribadian yang sama sekali baru dalam perbuatan dan pikiran niscaya saudara akan mengerti dari pengalaman sendiri bahwa jalan-jalan-jalan Allah itu sempurna dan sungguh-sungguh memuaskan saudara.

Disadari atau tidak disadari sebenarnya tutur kata kita, sepak terjang kita dalam hidup sehari-hari sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang ada dalam diri kita. Apa sistem nilai yang saya maksud? Mana hal yang terpenting, yang cukup penting dan tidak penting dalam diri kita? Alkitab banyak sekali pengajaran tentang sistem nilai.

Contoh: Tuhan Yesus dalam Mat.6 mengatakan bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Ini sebuah sistem nilai yang sedang Tuhan ajarkan. Tuhan Yesus juga berkata tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Dalam Mat.10 Tuhan berkata pada murid-murid-Nya supaya mereka jangan takut kepada mereka yang hanya bisa membunuh tubuh melainkan takutlah kepada Dia yang bisa membunuh tubuhmu sekaligus melemparkan jiwamu juga ke dalam neraka. Kita seharusnya juga bisa menempatkan diri seperti murid-murid Yesus yang sedang diajar-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 18 Maret 2012 PDF Print E-mail

Allah Perjanjian

Kej.12:1-3, 15:1-21

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Ada beberapa perjanjian yang sangat penting dalam Alkitab. Pertama, perjanjian Allah dengan Adam (perjanjian penciptaan), dengan Nuh (perjanjian pemeliharaan Allah setelah membinasakan manusia dengan air bah), dengan Abraham dan keturunannya, dengan Musa (pemberian 10 perintah Allah), dengan Daud (keturunan Daud akan memerintah untuk sampai selama-lamanya), dan yang terakhir penggenapan perjanjian oleh Yesus Kristus Tuhan kita (dalam perjamuan terakhir). Perjanjian adalah hal yang paling mendasar bagi iman kita. Hal ini dapat kita lihat dalam Alkitab. Alkitab dibagi hanya ke dalam dua perjanjian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perjanjian yang dimaksud Alkitab bukan seperti perjanjian jaman sekarang di mana kedua belah pihak saling menyepakatinya dan menandatangani surat yang disegel dengan meterai. Perjanjian dalam Alkitab memiliki dua aspek penting. Pertama, perjanjian itu dimulai oleh Allah sendiri secara berdaulat dan kedua, perjanjian itu dilakukan dengan darah dan itu berarti menyangkut masalah hidup dan mati. Dua hal ini mengikat seluruh Perjanjian dalam Alkitab. Pengertian perjanjian baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris (Testament) ini kurang tepat. Kata yang lebih tepat seharusnya adalah kovenan. Kata ini tidak ada dalam budaya kita namun inilah yang dilakukan Tuhan kepada Abraham. Kata Testament lebih mengacu kepada wasiat yang diberikan seseorang yang akan meninggal. Akan tetapi kasusnya bukan demikian karena Allah kita bukan Allah yang mati tetapi Allah yang hidup. Kita menjadi anak Allah karena itu kita adalah ahli warisnya Tuhan. Waktu kita menjadi anak Allah itu bukan karena Allah kita mati lalu kita mendapat warisan sebagai anak-Nya. Kita yang tidak layak ini diangkat menjadi anak; diadopsi; bukan karena Dia mati. Sehingga pengertian kata perjanjian yang tepat adalah kovenan dan bukan testament. Selain itu dalam mengikat perjanjian istilah yang dipergunakan adalah memotong kovenan (to cut a covenant) yang artinya perjanjian itu dilakukan di atas dua belah potongan binatang yang berdarah.

Iman yang dipercaya nenek moyang kita bisa turun sampai kita hari ini adalah karena Allah yang berjanji. Di taman Eden Allah berjanji kepada Adam, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej.2:16,17). Jika Adam mau taat maka ia akan memperoleh hidup yang kekal tetapi Adam gagal dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi Tuhan tidak selesai pada Adam, Ia memperbarui perjanjian-Nya. Setelah manusia bertambah jahat, Tuhan memusnahkan mereka semua dan menyisakan Nuh. Tuhan memberi perjanjian dengan Nuh bahwa tidak akan ada lagi air bah yang memusnahkan seluruh bumi seperti yang sudah dilakukan-Nya. Setiap kali setelah hujan Ia akan melihat tanda di langit yaitu pelangi dan mengingat janji-Nya. Perjanjian ketiga dibuat-Nya dengan Abraham.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 11 Mar'12 PDF Print E-mail

 Tuhanlah yang membuatnya berhasil

Neh. 2:19-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Ayat 20 ini menunjukkan satu penghayatan iman dari Nehemia kepada Allah. Nehemia mengenal Allah. Nehemia percaya dan berserah kepada Allah yang hidup. Pimpinan Tuhan atas Nehemia begitu jelas. Ketika Nehemia mengumpulkan orang-orang untuk memulai membangun pintu gerbang dan tembok Yerusalem yang sudah terbakar, ada hambatan yang harus terjadi. Mengapa Tuhan tidak membuat lancar saja apa yang dilakukan Nehemia dari awal sampai akhir? Seringkali kita juga ingin hidup kita tanpa hambatan dan kesulitan tetapi Tuhan mengijinkan kesulitan terjadi. Semua terjadi dalam kedaulatan dan rencana-Nya. Tuhan menetapkan Nehemia mengalami kesulitan, bukan kebetulan. Tuhan pun menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Prinsip ini diteguhkan dalam Mzm.127:1,2, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah sia-sialah orang yang membangunnya” dan Mzm.124.

Mengapa Tuhan mengijinkan Nehemia dan orang-orang pilihannya mengalami banyak kesulitan? Juga Daud, Musa, dan semua anak-anak Tuhan harus mengalami kesulitan? Janji-janji palsu yang diucapkan orang-orang yang bernubuat bahwa orang percaya tidak mungkin alami kesulitan, tidak ada dalam Alkitab. Memang ada kalimat-kalimat yang berbunyi, “Tuhan akan membuat kamu berhasil jika kamu setia memegang perintah-Nya”, tetapi kalimat ini tidak berarti orang percaya tidak mungkin mengalami hambatan dan kesulitan. Satu hal yang pasti Tuhan mengijinkan kesulitan hidup adalah karena Tuhan mau melatih iman dan kualitas rohani saudara dan saya. Tanpa kesulitan, rohani kita tidak akan teruji sama sekali. Sampai kitab Yakobus pun menulis berbahagialah orang yang mengalami berbagai-bagai pencobaan karena mereka sedang diuji.

Iman Nehemia pun sedang diuji oleh Tuhan, apakah ia mengandalkan Tuhan. Tentunya ujian yang diberikan sesuai dengan kemampuan Nehemia. Pencobaan yang kita alami tidak melampaui kekuatan kita (1Kor.10:13). Dalam melewati ujian-ujian hidup, kita tetap dituntun oleh Tuhan agar memiliki iman yang makin berkualitas. Nehemia dilatih untuk beriman dan percaya kepada Tuhan sepenuhnya. Ketika Nehemia ditempat pembuangan, ia dipercaya menjadi juru minuman raja. Ini kedudukan yang sangat berharga dan bukan dilakukan dengan tipuan-tipuan. Sebagai orang buangan seharusnya Nehemia dijadikan budak atau bahkan dibunuh tetapi justru Nehemia mendapat kedudukan yang luar biasa. Di situlah Nehemia mengalami tangan pimpinan Tuhan yang membimbingnya selangkah demi selangkah. Waktu menjadi juru minuman raja bukan berarti ia bebas masalah. Nehemia terus diuji, mirip seperti kisah Yusuf. Lalu mengapa kita tidak seperti Nehemia? Kedudukan kita mungkin tidak tinggi dan terus mengalami kegagalan? Manusia condong merasa tidak puas dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ini hal yang tidak benar. Sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan maka seharusnya kita percaya bahwa tidak ada masa di mana kita tidak diberkati oleh Tuhan karena bagi orang beriman setiap detik kita diberkati Allah. Apapun yang terjadi adalah berkat Allah. Sekalipun kita mengalami musibah itu pun bagian dari berkat Tuhan yang sedang memproses kita. Tuhan pun sedang memproses Nehemia. Nehemia tidak merasa Tuhan meninggalkannya. Nehemia tidak merasa bahwa penyertaan Tuhan sudah habis. Jadi, Tuhan juga mau melatih kualitas iman kita untuk percaya pada Tuhan dalam segala kondisi yang kita alami dengan tetap menjalani tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Kesulitan apapun yang kita alami tetap harus ada tanggungjawab terhadap apa yang Tuhan percayakan. Jika Tuhan mengijinkan kegagalan itu adalah bagian dari pendidikan Tuhan demi kebaikan kita. Hajaran Tuhan itu bukan untuk menghabisi anak-anak-Nya tetapi demi kasih-Nya pada kita.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 04 Mar'12 PDF Print E-mail

Menjalankan kehendak Allah dengan Visi & Kesehatian

Neh. 2:19-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Nehemia sudah alami kenyamanan hidup dengan segala fasilitasnya. Setiap kita yang nyaman dan hidupnya berkelimpahan bisa hilang kepekaan terhadap apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang harus kita kerjakan yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Kita bisa terlena dan tertidur, tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Apa yang penting bisa kita angap tidak penting, demikian juga sebaliknya.

Tapi hal ini bukan hanya terjadi pada mereka yang mapan saja. Itu juga bisa terjadi pada kita yang menghadapi masalah dan kesulitan yang besar. Karena begitu tegang menjalani tantangan hidup, kita bisa lupa bahwa hidup ini adalah hidup bagi Allah dan mengerjakan pekerjaan-Nya yang sudah disediakan bagi kita.

Memang menurut theologi Reformed kita percaya bahwa Tuhan yang menggerakkan orang yang dipilih-Nya dan rencana-Nya pasti tergenapi. Akan tetapi kita juga punya tanggung jawab dan harus memiliki kesadaran akan panggilan dan pekerjaan Tuhan. Jangan tertidur dan terbuai baik oleh kenyamanan maupun kesulitan dan tantangan hidup.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 34 of 68
RocketTheme Joomla Templates