Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 4 Sep'11 PDF Print E-mail

Berdoa – bagian kedua

1Yoh 5:13-21

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Hari ini kita akan membahas satu bagian (ayat 14-15) yang disukai namun sering disalahmengerti oleh kelompok orang-orang Karismatik dan Teologi Kemakmuran. Ayat ini ditafsirkan oleh mereka bahwa Tuhan bisa berubah dan tergerak hati-Nya pada waktu kita ngotot dan sungguh-sungguh menjerit kepada-Nya. Namun jika kita hanya mengritik doa-doa mereka yang seperti itu, pertanyaannya adalah bagaimana kita seharusnya berdoa? Tidak dipungkiri bahwa orang Reformed di kebanyakan tempat terkenal kurang berminat dalam berdoa. Gejala apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa kita yang diberikan ajaran yang benar malas berdoa? Apakah kita berpikir karena kehendak Tuhan tidak mungkin diubah oleh manusia jadi tidak perlu berdoa? Mungkin kita baru mulai ngotot berdoa saat hidup kita dalam masalah atau terkena musibah.

Apakah karena orang yang tidak Reformed rajin berdoa sementara orang Reformed tidak punya semangat berdoa berarti ajaran Reformed yang salah? Tentu tidak! Bukan berarti sesuatu yang “kelihatan lebih baik” pasti benar. Hasil yang baik tidak menjamin bahwa itu pasti benar. Orang yang sungguh-sungguh giat dan bertanggung jawab pun tidak dijamin pasti benar. Contoh: seorang yang dibina oleh kelompok saksi Yehova, baru sadar bahwa ia harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Hidupnya berubah menjadi disiplin dan tertib. Demikian juga orang-orang yang ikut kelompok Pria Sejati. Mereka baru sadar bahwa ia harus menjadi suami yang menghargai istrinya, setia, saleh, takut akan Tuhan. Memang ini baik. Namun begitu banyak kesalahan di balik pengajaran Pria Sejati yang kelihatan baik itu. Demikian juga banyak orang yang tidak Kristen namun hidup begitu baik, dermawan dan saleh. Apa yang kelihatan baik belum tentu benar!

Mengapa yang salah bisa menghasilkan yang baik sementara yang benar menghasilkan yang kurang baik? Mengapa kita malas berdoa? Dimana letak kesalahannya? Kita harus hati-hati jangan menyimpulkan bahwa pengajaran Reformed-lah yang salah. Kita yang harus koreksi diri. Sudahkah kita yang menekuni ajaran Reformed juga menghidupi kebenaran ajaran itu? Ajaran Reformed jangan dijadikan kambing hitam dengan mengatakan bahwa ‘sejak di Reformed saya jadi kehilangan semangat melayani dan menjadi kering’. Bukan salah ajaran Reformed! Pasti ada penafsiran atau logika berpikir yang salah dalam diri kita sehingga kita meresponi ajaran yang benar dengan keliru. Hal ini terjadi di Alkitab. Tuhan Yesus mengajarkan yang benar namun murid-murid terus salah tangkap. Kita tidak dapat mengatakan Tuhan Yesus yang salah dan murid-murid yang benar. Ada sesuatu yang salah dalam pola pikir murid-murid sehingga salah berespon. Ini kelihatan waktu Yesus hendak naik ke surga dan murid-murid masih menanyakan soal pemulihan kerajaan Israel.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 28 Agt'11 PDF Print E-mail

Berdoa

Yak.5:16b

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita akan merenungkan mengenai doa. Doa adalah salah satu unsur dalam pertumbuhan jemaat dalam berakar, bertumbuh dan berbuah. Kita akan mulai dengan konsep yang salah. Yak.5:16b ini seringkali dimengerti secara keliru. Bagaimana seharusnya orang Reformed berdoa? Apakah kita orang Reformed sudah berdoa? Bukan hanya sekedar berdoa tetapi serius berdoa dan serius memikirkan tentang doa? Seringkali orang Reformed tidak antusias ketika diajak berdoa. Kita mungkin mengkritik gereja lain yang berdoa dengan motivasi untuk kepentingan diri sendiri. Mereka mungkin salah berdoa tetapi mereka rajin berdoa. Pertanyaannya adalah sudahkah kita berdoa dengan benar? Jika sudah, rajinkah atau dengan sungguh-sungguhkah kita menyampaikan doa yang benar itu? Ini adalah suatu langkah yang berbeda. Jangan-jangan kita hanya doa sambil lewat saja tanpa merenungkan makna doa sebenarnya.

Yakobus mengatakan doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. Kesan dari ayat ini adalah doa harus disampaikan dengan yakin dahulu baru besar kuasanya. Norman Vincent Peale mengajarkan bahwa doa harus disertai dengan berpikir positif dan penuh keyakinan maka kita pasti mendapatkannya. Memang kita berdoa harus yakin. Namun bagaimanakah yakin yang benar itu? Kita akan mempelajarinya satu per satu.

Apa maksudnya ‘besar kuasanya’? Kita akan melihat konteks bagian ini (ayat 13-16). Sebetulnya bagian ini berorientasi kepada doa yang bagaimana? Doa bukan sekedar berorientasi pada kesembuhan orang yang sakit. Bagian ini mengatakan bahwa orang yang sakit itu akan diselamatkan oleh Tuhan dan jika ia berbuat dosa maka dosanya diampuni. Dalam ayat 16 juga ditegaskan supaya kita saling mengaku dosa dan mendoakan supaya sembuh. Beberapa penafsir mengatakan sembuh di sini bukan sekedar sembuh penyakit jasmani tetapi sembuh penyakit rohani. Oleh karena itu dengan berorientasi pada nilai-nilai rohani – di mana orang dapat diselamatkan dan diampuni dosanya – itulah orientasi doa yang bila dengan yakin didoakan besar kuasanya. ‘Besar kuasanya’ bukan berarti kehebatan-kehebatan spektakular seperti yang dipamerkan dalam doa-doa kesembuhan ilahi sekarang ini ataupun dalam ‘pameran festival kuasa Allah’. Namun ‘besar kuasa’ di sini harus kita mengerti dalam konteks kuasa menyelamatkan, mengampuni dosa dan menyembuhkan penyakit rohani seseorang.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 21 Ags'11 PDF Print E-mail

Luk.6:17-26

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Jika kita membaca Matius 5 disebut dengan kotbah di bukit. Tetapi Lukas 6 ini adalah kotbah di dataran (Luk.6:17). Setelah Yesus melakukan berbagai mujizat lalu Yesus menyampaikan ucapan-ucapan firman yang kontras, ucapan bahagia dan peringatan.

Jika kita mau membuat daftar hal-hal apa yang dicari orang pada umumnya kita akan menemukan bahwa kebutuhan-kebutuhan ini sangat kontras dengan ucapan bahagia yang dikatakan Yesus. Hal-hal yang dicari orang biasanya adalah pertama uang, lalu bagi yang belum menikah ingin pasangan hidup, bagi yang sakit ingin sembuh, bagi yang sedang menderita ingin lepas dari penderitaan, bagi yang sedang lemah ingin mendapatkan kekuatan, bagi yang bekerja sebagai karyawan ingin suatu saat menjadi bos, dan lain-lain. Waktu kita mendaftar kebutuhan-kebutuhan ini satu per satu kita langsung menemukan kontras yang sangat besar dengan firman Tuhan. Kita akan menemukan kontras antara keinginan kita dan apa yang ditawarkan dunia dengan apa yang Tuhan berikan.

Alkitab mengatakan cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Yesus mengatakan apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Waktu Yesus mengatakan “Berbahagialah kamu yang miskin karena engkau adalah yang empunya Kerajaan Surga” bukan berarti Tuhan membela orang miskin pasti mendapatkan surga. Di sini miskin memiliki maksud yang lain, miskin jenis yang lain yang artinya tidak pernah merasa dirinya cukup kaya. Tidak merasa cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient) tetapi bergantung pada Tuhan. Inilah keadaan miskin yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Kebergantungan kita kepada Tuhan bisa hilang saat kita sudah cukup secara fisik, materi bahkan rohani. Jika kita sudah memiliki segala sesuatu kebergantungan kita bisa bergeser kepada ciptaan-Nya, bukan lagi pada Sang Pemberi berkat tetapi kepada berkatnya. Tuhan sedang membalikkan hal ini.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 14 Ags'11 PDF Print E-mail

Kekuatiran

Mat.6:25-34

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Hari ini kita akan melihat apa kaitan ayat ini dengan bagian sebelumnya. Mengapa orang seringkali kuatir? Dari ayat sebelumnya Tuhan Yesus sudah menegaskan sumber kekuatiran setiap orang (6:19-24 – hal mengumpulkan harta). Kekuatiran berkaitan dengan harta. Kita bisa memahami hal ini karena setiap manusia di dunia sudah diajar untuk mencintai harta. Orang tua mendidik anaknya untuk sekolah supaya pintar, pintar supaya dapat pekerjaan baik, pekerjaan baik supaya dapat harta dan uang banyak. Orientasi semua orang tertuju pada harta. Tentunya hal ini menimbulkan kekuatiran-kekuatiran karena ia akan menganggap tumpuan hidupnya adalah harta. Jika harta lenyap maka pegangan hidupnya lenyap dan ia akan goncang. Bagaimana dengan kita? Apakah fokus hidup kita adalah harta? Jika demikian benarlah yang dikatakan Yesus, di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Inilah gambaran bahwa apa yang menjadi pegangan kita itu tidak kekal.

Jadi bagaimana supaya kita tidak dikuasai oleh kekuatiran? Kuatir ada yang sehat ada yang tidak sehat. Kuatir yang sehat adalah kuatir yang bertanggung jawab. Misalnya: Kita menyeberang jalan. Kuatir tertabrak mobil. Ini kekuatiran yang sehat karena membuat kita jadi waspada. Begitu juga kekuatiran akan kesehatan sehingga kita memelihara tubuh dengan baik. Ini benar dalam konteks bertanggungjawab. Contoh lain: kuatir hutang tidak bisa bayar sehingga kita kerja bertanggungjawab supaya dapat melunasi hutang.

Kuatir yang salah atau dikuasai kekuatiran adalah saat arah hidup kita terpengaruh oleh kekuatiran kita itu. Inilah yang ditegur oleh Tuhan Yesus: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Apakah dengan dikuasai kekuatiran kita akan membuat hidup kita lebih baik? Tentu tidak. Secara psikologis kekuatiran akan membuat hidup lebih kacau dan tidak benar. Misalnya: Orang yang bertinju jika kuatir sebelumnya maka ia sudah kalah sebelum bertanding dan permainannya akan kacau.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 33 of 61
RocketTheme Joomla Templates