Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 5 Jun'11 PDF Print E-mail

Dampak Kenaikan Yesus Kristus

Kis.1:1-11; 28:30; Luk.24:50-52; Dan.7:13-14

Ev. Eko Aria, M.Div

Lukas menekankan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan selama 40 hari Ia berulang-ulang mengajarkan tentang kerajaan Allah. Paulus juga di bagian akhir dari Kisah Para Rasul terus mengajarkan tentang Kerajaan Allah dan tentang Tuhan Yesus Kristus. Lalu mereka juga memberitakan injil sampai ke ujung bumi yang waktu itu mereka bayangkan sebagai Roma.

Sementara itu di bagian lain juga sangat ditekankan tentang kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Bagian ini terus diulang-ulang baik di Injil Lukas maupun dalam Kisah Para Rasul. Berarti ini adalah hal yang penting. Umat Tuhan harus bersikap dengan tepat terhadap hal ini. terangkatnya Tuhan Yesus sangat terkait erat dengan Kerajaan Allah. Para murid waktu itu sangat tertantang pada waktu berbicara tentang Kerajaan Allah karena waktu itu yang sangat menjadi penekanan adalah kerajaan Romawi, Pax Romana, kedamaian secara relatif di bawah pemerintahan kekuasaan Romawi. Mereka cukup aman, tentram, dan damai. Injil Kerajaan Allah ini sangat besar maknanya.

Kita sendiri juga secara mulut mengakui Allah dan Kerajaan Allah. Kita menggantungkan hidup kita kepada Tuan kita Yesus Kristus atau kepada rekening kita? Ini menjadi satu hal yang lucu. Sewaktu kita menerima SMS yang diakhiri dengan GBU kita tidak merasakan apa-apa padahal berkat Tuhan itu di dalam nama Tuhan atas umat-Nya. Sebaliknya pada waktu kita melihat angka dalam rekening kita bertambah kita bisa sangat bersukacita. Kalau turun kita bisa stress. Jadi yang tuan sebenarnya yang mana? Kerajaan rupiah atau Kerajaan Surga? Para murid juga waktu itu dalam pertentangan apakah Yesus Kristus sebagai raja atau kaisar Agustus sebagai raja? Yang mana yang menang yang akan memberikan ketentaraman? Ikut Yesus yang tersalib itu atau kaisar yang dianggap sebagai titisan dewa? Lukas dengan cermat mencatat bagaimana mereka harus menyingkirkan penyembahan kepada kaisar dan hanya menuhankan Yesus Kristus.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 29 Mei'11 PDF Print E-mail

Beban dalam Mengikut Kristus

Mat. 11:25-30

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Bagian ini didahului dengan kecaman Tuhan Yesus terhadap kota-kota yang dilayani yang tetap tidak mau percaya (ay. 20 dst.). Aneh, di tempat paling banyak Tuhan melalukukan mujizat justru banyak yang tidak mau percaya. Ayat ini diambil oleh kelompok Armenian yang menganggap orang bisa percaya bukan ditentukan Tuhan tetapi oleh pilihannya sendiri. Ayat-ayat ini dijadikan bukti oleh mereka bahwa Tuhan punya kerinduan banyak orang bertobat melalui mujizat yang dilakukan. Tetapi ternyata tidak ada. Jadi harapan Allah bisa gagal. Berarti percaya atau tidak bergantung pada orang itu sendiri bukan pada Tuhan. Itu tafsiran model Armenian. Tafsiran kedua lain, justru hal ini menunjukkan bahwa jikalau orang tidak dapat kasih karunia dari Tuhan meskipun dikasih mujizat banyak tetap tidak mau percaya. Ini berbeda dengan penafsiran pertama. Sekarang mau pilih tafsiran yang mana? Tuhan yang tidak mampu atau kasih karunia yang tidak diberikan?

Hal berikutnya yang dapat kita simpulkan adalah ayat-ayat ini justru menunjukkan mujizat tidak menjamin pertobatan seseorang. Lihat Firaun yang mengalami begitu banyak mujizat berupa tulah tetap tidak mau percaya. Bangsa Israel menyeberang Laut Merah, dipimpin tiang awan dan tiang api, diberi makan manna 40 tahun tetap terkenal keras kepala, tegar tengkuk. Mereka tidak pernah benar-benar bertobat. Maka ayat 25 ini menegaskan doktrin pilihan. Orang bisa bertobat bukan pilihannya sendiri tetapi anugerah dari Tuhan. Dalam ayat ini ada kebenaran yang disembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi dinyatakan kepada orang kecil dan lemah. Siapa orang-orang ini? Yang bijak dan pandai adalah orang yang merasa dirinya sudah benar, sudah pandai, sudah penuh kebijakan sehingga ia tidak memerlukan bimbingan, teguran, atau penginsafan Tuhan karena merasa diri sudah cukup. Ini kondisi banyak orang Yahudi yang merasa diri sudah benar, dipilih Tuhan, sudah bijak. Sehingga waktu berdiskusi dengan Tuhan Yesus mereka mengatakan bahwa bapa mereka adalah Abraham, Allah mereka adalah Bapa di surga. Tetapi Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan kepada mereka bahwa bapa mereka adalah Iblis! Orang yang merasa diri pandai justru Allah menyembunyikan kebenaran iitu dari mereka.

Orang yang kecil bukan orang yang badannya kecil atau masyarakat dengan kelas sosial rendah, tetapi terjemahan harafiahnya adalah anak-anak. Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa jikalau kita tidak menjadi seperti anak kecil kita tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Ini adalah kondisi kita memerlukan bimbingan, tuntutan, belum dewasa, belum merasa cukup, perlu penuntun dan pembimbing. Inilah kondisi orang yang disebut sebagai anak kecil. Kanak-kanak adalah masa di mana seseorang belajar, dibimbing, tidak ada anak yang sudah merasa sudah tahu semua. Ciri mereka adalah bertanya terus. Mereka juga secara umum penuh dengan ketulusan, kepolosan, dan keterbukaan untuk diajar. Maka rahasia Allah dinyatakan kepada anak-anak, bukan mereka yang merasa dirinya sudah hebat.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 Mei'11 PDF Print E-mail

Allah dan Pelayan-Pelayan-Nya

1Tim.3:1-13

Ev. Calvin Renata

Tatkala Allah membuat satu perjanjian (covenant) dengan manusia, kita melihat ada semacam satu paradoks yang sering dilupakan sekaligus sering dipertanyakan orang. Paradoks apakah? Pada waktu Allah memanggil bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya, di situ Allah memilih dan memanggil bangsa Israel tanpa memberi syarat apapun pada mereka. Mengapa Allah memilih mereka? Apakah bangsa Israel lebih baik dan lebih suci dari bangsa-bangsa lain? Tidak. Allah memilih bangsa Israel dari sekian banyak bangsa untuk menjadi umat kesayangan-Nya, tanpa syarat apapun! Tuhan telah memilih bangsa Israel melalui Abraham untuk menjadi umat pilihan-Nya.

Tetapi ketika Allah telah memilih mereka menjadi umat-Nya, barulah Allah memberikan satu syarat bagaimana bangsa Israel harus hidup di hadapan Allah sebagai umat kesayangan-Nya. Inilah yang sering dilupakan oleh kita pada waktu kita membaca kitab Perjanjian Lama. Allah memilih tanpa syarat, tetapi setelah dipilih barulah syarat itu diberikan. Karena itu dalam Perjanjian Lama kita sering membaca kalimat, “Kuduslah kamu sebab Aku ini Allahmu Kudus.” Kalimat ini diulang tiga kali mulai dari Kejadian sampai Ulangan, dan dikutip oleh Petrus dalam Perjanjian Baru. Ketika Allah memanggil 12 suku Israel untuk melayani-Nya, Allah memberikan 1 syarat yang lebih berat kepada satu suku ketimbang kepada suku yang lain, yaitu suku Lewi.

Dalam Imamat 21, Tuhan menjabarkan syarat-syarat seorang imam. Seorang imam tidak boleh menyentuh mayat dan tidak boleh membiarkan janggutnya terurai tidak terawat. Jika demikian, apakah Allah bersifat dikotomi/ dualistik? Mengapa Allah di satu pihak memilih bangsa Israel tanpa syarat apapun tetapi kemudian diberikan syarat kepada mereka? Dualisme adalah satu pandangan yang memiliki standar ganda. Contoh: sebagai orang tua secara tidak sadar kita seringkali memiliki standar yang berbeda-beda bagi anak-anak kita, untuk hal yang sama yang satu anak diperbolehkan dan anak yang lain tidak. Kita jangan berpikir Allah memiliki dobel standar seperti manusia. Justru Allah memilih bangsa Israel tanpa syarat di tengah-tengah keberdosaan mereka untuk dijadikan umat Allah. Persyaratan yang diberikan tersebut justru karena Tuhan menginginkan bangsa Israel hidup berbeda dari bangsa-bangsa lain, tidak lagi hidup menurut persyaratan bangsa-bangsa lain. Mereka yang hidup sebagai umat Allah hidup berdasarkan standar yang Allah berikan pada mereka. Dalam diri Allah tidak ada inkonsistensi. Allah bekerja melampaui akal manusia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 15 Mei'11 PDF Print E-mail

Mengikuti Pimpinan Baru Tuhan

Luk.5:33-39

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Perikop tentang puasa ini dicatat dalam ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) dan uniknya ini dicatat setelah peristiwa Lewi pemungut cukai yang bertobat. Setelah si Lewi ini dipanggil untuk mengikut Tuhan, ia mengadakan perjamuan besar. Tuhan Yesus makan bersama dengannya dan orang berdosa lainnya. Lalu muncul pertentangan dari orang Farisi. Mereka bersungut-sungut karena Yesus makan dengan orang berdosa. Yesus menjawab, “Bukan orang sehat yang perlu tabib tetapi orang sakit.” Ia datang bukan untuk panggil orang benar tetapi orang berdosa. Orang-orang Farisi tetap tidak puas. Mereka mengatakan murid-murid Yohanes saja berpuasa, mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa melainkan makan dan minum? Padahal orang Farisi tidak cocok dengan Yohanes tetapi pada waktu itu demi kepentingan mereka sendiri mereka mengutip perkataan Yohanes.

Tuhan Yesus menjawab mereka dengan satu analogi yang sangat dapat mereka terima, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?” (Ayat 34). Pada waktu itu bagi orang Yahudi, pernikahan adalah peristiwa besar. Sebelum mereka menikah ada pesta besar dan ada sahabat dari mempelai laki-laki. Mereka bersukacita bersama-sama. Nanti ada waktunya mempelai laki-laki itu akan diambil (setelah laki-laki itu menikah) dan mereka akan berpuasa. Tuhan Yesus mau mengatakan waktu Ia ada bersama-sama dengan para murid-Nya, itu adalah waktu yang penuh sukacita. Waktu sukacita adalah waktu kebersamaan dengan-Nya, waktu mereka diampuni dosanya seperti Lewi. Karena itulah mereka mengadakan perjamuan pesta dan mengucap syukur. Tetapi hal ini dicela oleh orang Farisi. Waktu bersukacita orang-orang Farisi tidak mau ikut bergabung, waktu berdukacita mereka tidak mau berkabung. Orang Farisi mau mengerjakan maunya sendiri dan menentukan bentuk luaran yang harus dilakukan, dalam hal ini yaitu berpuasa.

Mengapa dalam bagian ini dicatat mempelai itu akan diambil? Yesus sedang memprediksikan kematian-Nya. Sekarang sebelum Yesus mati, mereka dapat makan dan minum bersama-Nya. Tetapi nanti ada waktunya dimana Ia akan disalib dan tidak ada lagi bersama-sama dengan mereka, waktu itulah mereka harus berpuasa. Selama masih ada Yesus belum waktunya mereka puasa. Yesus tidak menentang puasa. Sebelum memulai pelayanan-Nya Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun. Tuhan tidak menentang praktek ini tetapi yang jadi masalah adalah orang Farisi telah menjadikan puasa sebagai ritual yang tidak ada hubungannya dengan kerohanian mereka.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 33 of 58
RocketTheme Joomla Templates