Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 12 Agustus 2012 PDF Print E-mail

Ibadah yang Berpusat pada Allah

Neh. 8:1-19

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Nehemia 8:1–19 merupakan saat di mana bangsa Israel menikmati apa yang sudah diperjuangkan oleh Nehemia dan kawan-kawannya dalam pembangunan tembok Yerusalem dan pemasangan pintu gerbang yang terbakar. Bangsa Israel telah mengalami banyak kesulitan selama pembangunan tembok misalnya: diprovokasi dan dihalangi. Hal ini menandakan bahwa pekerjaan Tuhan memang tidak mudah dan bisa mendatangkan banyak musuh dan kebencian. Orang Kristen bukan orang yang tidak punya musuh, bahkan mungkin musuhnya banyak karena orang Kristen memberitakan kebenaran. Orang yang memberitakan kebenaran justru banyak musuh dan hidupnya tambah susah. Kita diuji, apakah hidup kita mencari kebenaran atau mencari kesenangan. Oleh karena itu sebagai orang Kristen saat mengalami ujian kita tidak boleh mundur. Di Gereja ini pun kita mengalami banyak ujian dan cobaan untuk mendidik kita. Sebagai orang Kristen harusnya kita tidak mencari jalan yang mulus, enak dan gampang, supaya kita bisa tumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa dan stabil.

Hari Raya Pondok Daun adalah perayaan ucapan syukur bangsa Israel atas hasil panen. Dalam perayaan ini orang tinggal dalam pondok daun sebagai peringatan akan zaman pengembaraan dalam padang belantara. Di zaman Perjanjian Baru perayaan ini masih dikenang oleh bangsa Israel. Dalam perayaan ini mereka menjalankan ibadah. Pola ibadah yang tertulis di zaman Nehemia ini hampir sama dengan pola perayaan ibadah yang kita lakukan sekarang. Saat itu, bangsa Israel bersukacita karena mereka baru saja kembali dari tempat pembuangan ke Yerusalem. Namun tidak hanya itu, hal yang paling membuat mereka begitu bersukacita adalah karena penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka sebagai satu bangsa.

Seringkali kita bersukacita karena masalah fisik, misalnya kita sembuh dari sakit atau dagangan kita laris. Sedangkan orang Israel di sini bersukacita dalam perspektif Theokrasi, yaitu bersukacita karena dipimpin oleh Allah. Orang Israel bersukacita dalam kaitan perjanjian dengan Allah. Kaitan dengan orang Kristen saat ini sangatlah erat, kita adalah Israel rohani dan apa yang terjadi di bangsa Israel pada zaman dulu merupakan simbol-simbol yang akan terjadi pada kita sekarang secara nilai rohani, bukan fisik. Misalnya, Tuhan menggenapi janji-Nya pada bangsa Israel, Tuhan menyertai mereka kembali dari tempat pembuangan ke tanah perjanjian. Prinsip yang sama juga berlaku bagi kita, Tuhan memegang perjanjian-Nya dengan umat-Nya sampai hari ini. Hal inilah yang harus kita syukuri, karena kita juga punya perjanjian dengan Allah. Semua yang kita alami adalah penggenapan perjanjian kita dengan Allah. Apakah kita merasakan hal ini? Ataukah kita hanya merasa bahwa hidup sehari-hari kita hanya berjalan seperti biasa, makan dan minum, kerja, banyak masalah dan susah? Sebaliknya apakah kita, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bergereja, merasa bahwa hidup kita adalah penggenapan dari perjanjian-perjanjian Allah? Kita bisa mendengarkan ajaran firman yang back to the bible dan bukan ajaran yang tidak karuan merupakan bukti dari penggenapan janji Allah. Kita harusnya bersyukur karena janji Allah digenapi. Ibadah yang kita lakukan saat ini adalah ibadah syukur karena penggenapan janji Allah, bukan karena masalah fisik seperti dagangan yang laris, punya anak atau sembuh dari sakit, dsb.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 05 Agustus 2012 PDF Print E-mail

Iman Bartimeus

Mrk. 10:46–52

Pdt. Benyamin Intan, Ph.D.

Mrk. 10:46–52 menceritakan Bartimeus yang kemungkinan sudah buta sejak lahir. Saat Yesus keluar dari kota Yerikho, diikuti oleh murid-murid-Nya dan banyak orang, merupakan satu-satunya kesempatan bagi Bartimeus untuk bertemu Yesus dan meminta-Nya menyembuhkannya. Tetapi Bartimeus kecewa, karena pengikut dan murid-murid Yesus ketika mendengar Bartimeus berteriak memanggil Yesus mereka menyuruhnya diam (ayat 48). C.S. Lewis pernah mengatakan “Batu sandungan yang terbesar bagi orang untuk datang kepada Kristus bukan faktor eksternal (penganiayaan), tetapi faktor internal yaitu orang Kristen sendiri. Orang Kristen menjadi penghalang terbesar bagi orang untuk datang kepada Kristus”. Gandhi begitu mengagumi Tuhan Yesus khususnya pengajaran khotbah di bukit. Tetapi Gandhi tidak bisa jadi orang Kristen, lepas dari kedaulatan Tuhan, karena di saat yang bersamaan dia melihat Inggris menjajah India, dia melihat kolonialisme Inggris (yang adalah orang-orang Kristen). Di Indonesia juga tidak mungkin orang Kristen menjadi mayoritas, karena Belanda (yang juga adalah orang-orang Kristen) telah menjajah Indonesia selama 300 tahun, dengan kekejaman dan eksploitasi yang luar biasa kepada bangsa Indonesia.

Hati-hatilah dengan hidup kita, karena kita bisa menjadi batu sandungan yang paling besar. Dalam Luk. 17:1 Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”. Ingatkah kita kepada Petrus, saat ia baru mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, kemudian Petrus justru menghalang-halangi misi Yesus? Misi Yesus yang utama adalah menebus dosa manusia di atas kayu salib. Hati-hatilah dengan hidup kita. Jika Tuhan mengirimkan orang ke gereja kita tetapi pada saat yang sama mereka melihat kehidupan kita tidak beres, mereka bisa undur diri dari gereja.

Ef. 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”. Dalam hidup kita, jangankan berbuat baik, berhenti berbuat jahat saja susah. Hati-hati jangan kita menjadi batu penghalang yang begitu besar.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 29 July 2012 PDF Print E-mail

Mengapa Kita Berdoa?

1 Samuel 1

Pdt. Stewart Moulds

Pernahkah kita merasa percuma berdoa? Sebagai Orang Reformed, kita tahu doa itu penting, secara teori kita tahu hal tersebut tetapi seringkali kita meragukan Tuhan. Saat kita baru bertobat seolah-olah Tuhan menjawab semua doa kita, setelah beberapa bulan atau beberapa tahun, Tuhan tampaknya tidak pernah menjawab doa kita. Kita tidak tahu apakah Tuhan akan menjawab doa kita atau tidak.

Saat saya masih muda dalam iman, saya berpikir percuma saja berdoa. Pernahkah kita berpikir seperti itu? Pernah, tetapi kita tidak berani mengatakannya karena hal itu bertentangan dengan pengakuan iman kita. Ketika saya masih muda, saya mengadakan eksperimen, apakah doa itu berguna? Satu bulan saya berdoa untuk segala sesuatu, bulan berikutnya saya tidak berdoa. Setelah saya melakukan eksperimen ini, saya tidak merasa ada perbedaan. Apa gunanya berdoa? Dalam hati orang Kristen banyak yang meragukan apakah Tuhan mendengar dan menjawab doa kita.

Saat saya muda, saya jatuh cinta dengan seorang perempuan, tetapi tujuan kita berbeda. Saya ingin mengenal orang tersebut lebih dalam, tetapi perempuan tersebut hanya menganggap saya sebagai mesin ATM. Hal ini seperti doa. Mengapa kita berdoa? Apakah supaya bisa dekat dengan Tuhan? Atau seperti kita memakai mesin ATM? Kebanyakan orang Kristen, termasuk para pengkhotbah sendiri, menganggap doa seperti mesin ATM. Tetapi Tuhan bukan mesin ATM! Allah adalah Pribadi yang punya pengertian dan hati. Mengapa Tuhan menyelamatkan kita? Apa yang Tuhan harapkan waktu kita berdoa? Supaya Tuhan bisa punya hubungan intim dengan kita. Apakah yang kita harapkan sama dengan Tuhan? Hal inilah yang menyebabkan masalah dalam hubungan kita dengan Tuhan dan membuat kita kecewa dalam doa. Manusia berdoa supaya keinginannya dikabulkan, sedangkan Tuhan ingin manusia mempunyai hubungan yang lebih baik dengan-Nya.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 July 2012 PDF Print E-mail

Makna Peringatan Perjamuan Kudus

Mat. 26:17–29

Ev. Edward Oei, M.A.

Peristiwa di dalam Matius 26:17–29 menjadi suatu peristiwa dimana Tuhan menetapkan sakramen Perjamuan Kudus, suatu upacara dimana kita terus-menerus mengingat pekerjaan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Tujuan sakramen perjamuan kudus memang untuk mengingatkan kita akan pengorbanan Tuhan Yesus melalui kematian-Nya bagi kita dan kebangkitan-Nya. Pertanyaannya, ketika kita mengadakan perjamuan kudus, ketika kita melakukannya, ketika kita mengambil dan berbagian di dalamnya, sejauh apakah perjamuan kudus tersebut menguatkan iman kita, mengingatkan kita akan apa yang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita?

Menurut konteks Perjanjian Lama, penetapan Perjamuan Kudus ini ditetapkan berdasarkan peristiwa Hari Raya Roti Tidak Beragi. Bangsa Yahudi dijajah oleh Mesir selama 430 tahun. Kemudian setelah masa 430 tahun mereka dibebaskan / dikeluarkan oleh Tuhan dari Mesir. Pada malam terakhir sebelum keluar dari Mesir, mereka diperintahkan untuk mengadakan suatu perjamuan. Dalam perjamuan ini setiap keluarga harus mengambil seekor domba untuk dibakar dan dimakan, sisanya harus habis dibakar malam itu juga, tidak boleh ada bagian yang tersisa. Mereka harus memakannya dengan sayur pahit dan roti tidak beragi. Darah domba yang disembelih harus dipoleskan di pintu, di sekat di atas pintu, sehingga ketika malaikat lewat dan melihat darah tersebut, anak sulung mereka tidak dibunuh oleh Allah. Peristiwa ini mereka peringati tahun demi tahun dalam perayaan Roti Tidak Beragi. Jadi, peristiwa ini mengingatkan juga bahwa mereka tidak hanya dibebaskan dari Mesir.

Hal inilah yang merupakan kelemahan kita saat ini, saat mengadakan perjamuan kudus kita hanya mengingat satu poin yang paling simple, yang paling dekat dengan kita, yang menguntungkan bagi kita, yaitu bahwa saya diselamatkan dan masuk surga. Tuhan Yesus mati bagi kita, darah-Nya dicurahkan. Kita diselamatkan dan masuk surga. Maka saya mengingat pengorbanan-Nya dalam Perjamuan Kudus. Sehingga ketika kita sudah melakukannya berulang kali kita menikmati perjamuan kudus tanpa makna.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 31 of 69
RocketTheme Joomla Templates