Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 18 Des'11 PDF Print E-mail

Mat.16:21-28

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Pada umumnya seorang pemimpin akan senang jika pengikutnya menyenanginya. Berbeda dengan Yesus. Yesus tidak peduli berapa banyak orang yang mengikuti-Nya. Yesus tidak bertujuan untuk menyenangkan manusia, yang penting bagi Yesus adalah kebenaran diberitakan. Kita pun harus belajar dengan berani dan setia membawa orang kepada kebenaran terlepas dari berapa banyak orang yang menyukai dan bersedia menerimanya.

(Ayat 21) Tuhan Yesus memberitakan sesuatu yang tidak lazim. Yesus seharusnya menjadi pemimpin yang hebat, megah dan luar biasa tetapi Ia justru memberitakan sesuatu yang berbeda dari pemimpin-pemimpin yang lain. Bagaimana seorang Pemimpin yang dikagumi begitu banyak orang akhirnya harus ditangkap, disiksa dan dibunuh? Semua perkataan ini tidak disukai pendengarnya. Bukankah pemimpin yang sukses makin lama makin besar dan makin banyak pengikut? Yesus berkata Ia akan mengalami penderitaan, dibunuh tetapi akan bangkit pada hari yang ketiga. Bagian terakhir mengenai kebangkitan-Nya sudah tidak diperhatikan lagi oleh para pendengar-Nya. Di sini Yesus menerobos pikiran murid-murid-Nya dan membukakan pada mereka pikiran Allah.

(Ayat 22) Petrus langsung bereaksi terhadap perkataan Yesus, “Kiranya Allah menjauhkan hal itu!” Bukankah tidak mungkin orang yang disertai Allah mengalami penderitaan bahkan kematian? Ini pikiran manusia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 04 Des'11 PDF Print E-mail

Perumpamaan tentang Benih dan Seorang Penabur

Mat.13:1-23

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Bagian ini menceritakan bagaimana orang banyak berbondong-bondong mengikut Dia. Namun respon Tuhan Yesus tidak terlalu senang jika ada orang banyak yang mengikut Dia. Berbeda dengan respon manusia pada umumnya. Jika kita sebagai pemimpin kita cenderung senang jika diikuti oleh banyak orang. Tuhan Yesus sepertinya tidak terlalu menyambut orang banyak itu. Tuhan Yesus sama sekali bukan ingin menyenangkan manusia. Yesus tahu motivasi orang banyak itu. Yesus pernah memberi peringatan keras kepada 5000 orang yang setelah diberi makan datang mencari Yesus dengan motivasi yang tidak benar. Perkataan Yesus saat itu sangat tidak menyenangkan telinga orang-orang Yahudi. Apakah Tuhan Yesus merasa gagal dengan pelayanan-Nya yang banyak ditentang oleh orang-orang Yahudi saat itu? Sama sekali tidak. Kita tidak dapat memakai kuantitas sebagai patokan untuk menentukan kesuksesan suatu pelayanan. Seringkali kita terjebak dengan jumlah dalam melakukan penilaian. Benar atau tidak benarnya suatu pelayanan seharusnya dievaluasi berdasarkan firman dan kebenaran yang disampaikan, bukan berdasarkan jumlah orang yang hadir. Kesetiaan pada firman adalah kriteria paling mendasar dalam melakukan penilaian.

Contoh: Stefanus yang dilempari batu sampai mati. Apakah pelayanan Stefanus gagal? Tentu tidak. Dalam penilaian Allah, Stefanus sangat sukses karena sebelum matinya ia masih memohon kepada Tuhan untuk mengampuni orang-orang yang tidak tahu apa yang mereka lakukan waktu membunuhnya. Namun bagi dunia Stefanus pasti dianggap gagal. Begitu juga Yohanes Pembaptis yang waktu menyatakan kebenaran harus mati dipenggal. Di mata dunia Yohanes Pembaptis mati konyol. Namun Tuhan Yesus menegaskan, “Di antara yang lahir di dunia ini tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis.” Kita menilai kesuksesan menurut penilaian dunia atau penilaian Allah?

Orang-orang yang mengikut dan mencari Yesus bukannya disambut dengan ramah tetapi justru ditegur dengan keras, “sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” Yesus menegur hal yang paling utama: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (ayat 11). Kata-kata Yesus jelas di sini bahwa Ia tidak menginginkan pertobatan orang-orang yang bukan pilihan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus merindukan pertobatan orang-orang yang tidak Ia pilih. Ini kalimat yang aneh. Dari ayat 11 – 17 jelas bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki pertobatan orang-orang yang Ia pilih.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 27 Nov'11 PDF Print E-mail

Syarat mengikut Yesus

Luk.14:25-35

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Pada waktu itu orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus karena Ia melakukan mujizat-mujizat dan memberikan pengajaran-pengajaran yang luar biasa. Motivasi mereka bermacam-macam. Yesus menegur, mengingatkan, dan menginsyafkan mereka yang mengikut Dia dengan motivasi yang keliru. Dalam bagian ini, Yesus memberi peringatan kepada mereka yang mengikuti-Nya dengan bermacam-macam motivasi. Kali ini Yesus memberi syarat-syarat bagaimana mengikuti-Nya.

(Ayat 26) Kata membenci di sini tentu tidak dapat diterjemahkan secara harafiah karena Tuhan Yesus sendiri mengajari kita untuk mengasihi. Lalu mengapa di sini Yesus mengatakan membenci istrinya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya? Tentu ada maksudnya. (Mat.10:37) Maksud membenci adalah kita tidak boleh mengasihi yang lain lebih daripada Tuhan. Kita memang diajar untuk mengasihi tetapi mengasihi berlebihan itu yang tidak benar. Jika kita mengasihi istri, anak, saudara, harta, lebih daripada mengasihi Tuhan maka kita sudah berdosa.

Mengapa kita harus mengasihi Tuhan lebih dari segalanya?

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 20 Nov'11 PDF Print E-mail

 Ketekunan dalam Menghadapi Ujian & Pencobaan

Yak.1:1-11

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Yakobus yang menuliskan kitab ini adalah saudara Tuhan Yesus, bukan rasul Yakobus. Yakobus juga adalah saudara Yudas, penulis kitab Yudas (bukan Yudas Iskariot) yang juga adalah saudara Tuhan Yesus. Yakobus ini juga sebagai pemimpin gereja di Yerusalem dan seorang Yahudi. Peranan Yakobus sangatlah besar meski demikian ia tidak merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, dalam surat ini ia menyebut dirinya sebagai seorang hamba Tuhan (bukan saudara kandung-Nya); dan ia menulis surat ini kepada 12 suku yang tersebar di antara bangsa-bangsa. Pada waktu itu 12 suku Israel sudah tidak ada lagi. Jadi 12 suku yang dimaksud di sini adalah orang-orang Kristen Yahudi.

Ia langsung memulai suratnya dengan mengatakan bahwa ujian dalam hidup kita harus diterima dengan sukacita karena hasil dari ujian itu baik bagi iman kita. Kedua, kita juga perlu meminta hikmat dari Tuhan agar waktu menghadapi ujian itu kita dapat menganggapsya sebagai sukacita.

Ujian dan Pencobaan. Yakobus menasehatkan kita supaya menganggap sebagai sukacita yang murni apabila kita menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Sukacita murni berarti sukacita yang penuh atau mencapai kegenapannya. Terjemahan Indonesia “apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” di sini kurang tepat (orang yang jatuh dalam dosa harusnya sedih bukan bersukacita). Terjemahan yang lebih tepat adalah menghadapi ujian. Ujian di sini artinya adalah sesuatu yang kita terima secara tidak siap dan tidak memiliki antisipasi apa-apa. Orang Kristen mula-mula di bawah penjajahan Romawi waktu itu kebanyakan hidup miskin. Hanya sedikit sekali yang kaya. Inilah keadaan jemaat pada waktu Yakobus menulis surat ini. Waktu itu orang Kristen juga mulai dibenci oleh pemerintahan Romawi karena mereka tidak menyembah Kaisar sebagai Tuhan melainkan menyembah Yesus sebagai Tuhan. Tadinya agama Kristen hanya dianggap sebagai sekte kecil karena itu diberi kebebasan hak otonomi untuk mengatur agamanya sendiri. Namun lama-kelamaan penyebarannya begitu cepat. Kaisar tidak dianggap sebagai Tuhan dan karena itu mulailah terjadi penganiayaan-penganiayaan.

Read more...
 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Next > End >>

Page 31 of 62
RocketTheme Joomla Templates