Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 06 Juli 2014 PDF Print E-mail

Kekristenan dan Pemerintahan

Rm. 13:1-7

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Kita hidup di Indonesia bukan karena kebetulan. Bersyukur kepada Tuhan, kita boleh bebas beribadah, meskipun ada beberapa tempat yang mengalami intimidasi sehingga tidak bisa bebas beribadah. Dalam Rm. 13:1-7, kita diperintahkan untuk taat kepada pemerintah. Ada orang Kristen yang menjawab bahwa pemerintahan baru akan ditaati jika pemerintahan baik dan bagus, serta taat kepada Tuhan. Namun bagaimana jika pemerintah tidak taat kepada Tuhan?

Ada orang Kristen tidak mau membayar pajak karena banyak koruptor dalam pemerintahan, sehingga ia merasa lebih baik menggunakan uangnya untuk kebutuhan lain daripada uangnya digunakan oleh para koruptor. Ada pula yang tidak mau taat kepada pemerintah karena pemerintah tidak bijaksana dan menganak-tirikan umat Kristen.

Pada saat rasul Paulus menuliskan ayat ini, pemerintahan saat itu bukanlah pemerintahan Yahudi melainkan pemerintahan Romawi. Saat itu bangsa Israel sedang dijajah oleh bangsa Romawi yang merupakan bangsa kafir, tidak percaya kepada Allah dan menyembah berhala. Keadaan kekaisaran Romawi sangat kejam luar biasa dan menginjak-injak kebebasan, keadilan, dan kebenaran. Pemerintahan Romawi tidak taat terhadap aturan Tuhan. Dalam keadaan seperti itulah Paulus menegaskan kepada jemaat Tuhan bahwa mereka harus tunduk kepada pemerintahan Romawi. Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari Tuhan. Semua pemerintahan, baik yang benar maupun yang tidak, semua berasal dari Tuhan (Rm. 13:1). Pemerintahan yang ada ditetapkan oleh Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 Juni 2014 PDF Print E-mail

Eksposisi

1 Ptr. 2:9-10

Ev. Calvin Renata

Dalam ayat 4-8 Petrus memberikan kepada kita suatu Kristologi yang unik sekali dalam PB yang memberikan gambaran Kristus sebagai batu yang hidup, batu penjuru, sekaligus batu sandungan. Gambaran Kristus sebagai batu yang tidak ada dalam Kristologi rasul Paulus. Petrus mengkontraskan status dari batu yang hidup itu: batu itu dibuang oleh manusia dan tukang bangunan tetapi dipilih dan dihormati oleh Tuhan dan memiliki fungsi sebagai batu penjuru / The Cornerstone.

Kita melanjutkan pembahasan Petrus, Yesus sebagai batu sandungan. Petrus membahas Kristologi ini dari Perjanjian Lama. Dalam Yes. 8:14 Yesus adalah secara posistif batu penjuru dan saat yang sama scara negatif adalah batu sandungan. Pada waktu Tuhan inkarnasi ke dalam dunia, Ia dibawa oleh Maria dan bertemu dengan Simeon yang mengatakan kalimat yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama, “Anak ini ditentukan untuk membangkitkan atau menjatuhkan banyak orang di Israel” (Luk.2:34). Dalam diri dan hidup Yesus Kristus sudah ada penggenapan bahwa Ia akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang menolak Dia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 15 Juni 2014 PDF Print E-mail

Belajar dari Kisah Yusuf

Kejadian 50:15-21

Pdt. Ivan Kristiono, M.Div.

Pada waktu kecil kita sering mendengar kisah. Misalnya kita mendengarkan cerita dari nenek dan kakek dan orang tua kita. Namun sebenarnya kita bukan hanya mendengarkan kisah saja karena setiap kita punya kisah sendiri yang harus kita hidupi dan menjadi pelakonnya. Di dalam kisah tersebut kita juga harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kisah seperti apa yang akan kita jalani?

Tuhan membentuk dan menyucikan kita anak-anak-Nya secara progresif atau bertahap. Tuhan sudah memilih dan memanggil, melahirbarukan, mengaruniakan iman, mengaruniakan pertobatan, membenarkan, dan melibatkan kita dalam pekerjaan-Nya. Pertanyaannya adalah kisah hidup seperti apa yang kita jalani sekarang?

Bagaimana dengan hidup yang dibangun hanya dengan terus-terusan makan dan minum saja, isinya makan lagi dan tidur lagi? Coba Anda berpikir hidup Anda membosankan tidak? Allah menciptakan Saudara, Allah menuntut pertanggungjawaban kita. Apakah kita mengisi dan mempersiapkan hidup kita sehingga suatu saat nanti ketika Tuhan mau memakai kita sudah siap? Apakah di dalam menunggu kita menggumulkan firman, memeriksa hati, berperang dalam dosa, dan melakukan tindakan-tindakan yang dikehendaki oleh Tuhan?

Di dalam Alkitab ketika tokoh-tokoh di dalamnya menunggu akan sesuatu maka hal ini adalah sesuatu yang aktif. Menunggu bukan sesuatu yang pasif. Waktu menunggu sesuatu engkau mempersiapkan diri karena bagian engkau menunggu adalah bagiannya Tuhan. Tidak ada tokoh dalam Alkitab yang tidak menunggu: Musa menunggu 40 tahun, Yusuf menunggu di dalam penjara, Abraham menunggu anak 25 tahun, Daud juga. Tetapi pertanyaannya sewaktu menunggu kita mengisi hidup kita dengan apa?

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Juni 2014 PDF Print E-mail

Pentakosta

Kis 1:4-5; Kis 2:1-4,16,37-38,41

Pdt. Andi Halim, M. Th.

Hari Pentakosta merupakan hari yang kelihatannya biasa dan tidak semeriah perayaan Natal, Jumat Agung atau Paskah. Hari Pentakosta ini menimbulkan masalah besar bagi gereja. Hari Pentakosta menimbulkan beberapa perpecahan di dalam gereja, dikarenakan perbedaan konsep tentang Pentakosta. Sehingga muncullah gereja Pantekosta, penyebutan Pantekosta ini sudah salah kaprah, seharusnya yang benar adalah Pentakosta. Gereja karismatik merupakan perkembangan dari gereja Pantekosta.

Orang Kristen yang mengikuti gereja Pantekosta dan Karismatik mengejar mujizat, bahasa roh dan kejadian-kejadian spektakuler lainnya. Menurut orang Pantekosta, orang Kristen tidak cukup hanya dengan percaya saja. Jika percaya tetapi tidak mempunyai kuasa Allah maka orang Kristen menjadi orang percaya yang impoten dan tidak berkelimpahan berkat dan kuasa Allah yang nyata dalam kehidupannya. Pandangan ini begitu ditekankan dalam gereja mereka dan menjadi obsesi pengikutnya.

Orang-orang Kristen yang tidak setuju dengan pandangan Pantekosta ini berkumpul dan membentuk wadah sendiri, seperti di Gereja Reformed, tidak menonjolkan mujizat, bahasa roh, ataupun kejadian-kejadian spektakuler lainnya. Apakah gereja seharusnya seperti ini? Hanya karena suka atau tidak suka? Anggapan orang Pantekosta, orang Kristen harus disertai kuasa, karena para rasul pun disuruh menunggu di Yerusalem untuk mendapatkan kuasa, sehingga kita pun harus menunggu supaya dapat kuasa. Penekanan seperti ini menjadikan orang-orang Kristen yang “tidak punya kuasa”, tidak sembuh dari penyakit menjadi rendah diri karena mengganggap diri kurang layak. Image seperti ini yang selalu diangkat oleh Pantekosta dan menyebabkan gereja pecah menjadi Pantekosta dan Protestan dan tidak pernah bisa bergabung. Hal ini harus diperhatikan, karena banyak orang merasa permusuhan ini tidak berarti dan berfokus hanya kepada persamaan dan mengabaikan perbedaan yang ada. Sehingga akhirnya banyak orang Kristen tidak mau belajar firman baik-baik karena menganggap hal itu akan memecah belah. Semakin belajar semakin menimbulkan masalah, sehingga akhirnya mereka tidak mau belajar. Masyarakat Kristen menjadi masyarakat yang tidak mau belajar baik-baik.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 4 of 63
RocketTheme Joomla Templates