Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 11 Mar'12 PDF Print E-mail

 Tuhanlah yang membuatnya berhasil

Neh. 2:19-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Ayat 20 ini menunjukkan satu penghayatan iman dari Nehemia kepada Allah. Nehemia mengenal Allah. Nehemia percaya dan berserah kepada Allah yang hidup. Pimpinan Tuhan atas Nehemia begitu jelas. Ketika Nehemia mengumpulkan orang-orang untuk memulai membangun pintu gerbang dan tembok Yerusalem yang sudah terbakar, ada hambatan yang harus terjadi. Mengapa Tuhan tidak membuat lancar saja apa yang dilakukan Nehemia dari awal sampai akhir? Seringkali kita juga ingin hidup kita tanpa hambatan dan kesulitan tetapi Tuhan mengijinkan kesulitan terjadi. Semua terjadi dalam kedaulatan dan rencana-Nya. Tuhan menetapkan Nehemia mengalami kesulitan, bukan kebetulan. Tuhan pun menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Prinsip ini diteguhkan dalam Mzm.127:1,2, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah sia-sialah orang yang membangunnya” dan Mzm.124.

Mengapa Tuhan mengijinkan Nehemia dan orang-orang pilihannya mengalami banyak kesulitan? Juga Daud, Musa, dan semua anak-anak Tuhan harus mengalami kesulitan? Janji-janji palsu yang diucapkan orang-orang yang bernubuat bahwa orang percaya tidak mungkin alami kesulitan, tidak ada dalam Alkitab. Memang ada kalimat-kalimat yang berbunyi, “Tuhan akan membuat kamu berhasil jika kamu setia memegang perintah-Nya”, tetapi kalimat ini tidak berarti orang percaya tidak mungkin mengalami hambatan dan kesulitan. Satu hal yang pasti Tuhan mengijinkan kesulitan hidup adalah karena Tuhan mau melatih iman dan kualitas rohani saudara dan saya. Tanpa kesulitan, rohani kita tidak akan teruji sama sekali. Sampai kitab Yakobus pun menulis berbahagialah orang yang mengalami berbagai-bagai pencobaan karena mereka sedang diuji.

Iman Nehemia pun sedang diuji oleh Tuhan, apakah ia mengandalkan Tuhan. Tentunya ujian yang diberikan sesuai dengan kemampuan Nehemia. Pencobaan yang kita alami tidak melampaui kekuatan kita (1Kor.10:13). Dalam melewati ujian-ujian hidup, kita tetap dituntun oleh Tuhan agar memiliki iman yang makin berkualitas. Nehemia dilatih untuk beriman dan percaya kepada Tuhan sepenuhnya. Ketika Nehemia ditempat pembuangan, ia dipercaya menjadi juru minuman raja. Ini kedudukan yang sangat berharga dan bukan dilakukan dengan tipuan-tipuan. Sebagai orang buangan seharusnya Nehemia dijadikan budak atau bahkan dibunuh tetapi justru Nehemia mendapat kedudukan yang luar biasa. Di situlah Nehemia mengalami tangan pimpinan Tuhan yang membimbingnya selangkah demi selangkah. Waktu menjadi juru minuman raja bukan berarti ia bebas masalah. Nehemia terus diuji, mirip seperti kisah Yusuf. Lalu mengapa kita tidak seperti Nehemia? Kedudukan kita mungkin tidak tinggi dan terus mengalami kegagalan? Manusia condong merasa tidak puas dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ini hal yang tidak benar. Sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan maka seharusnya kita percaya bahwa tidak ada masa di mana kita tidak diberkati oleh Tuhan karena bagi orang beriman setiap detik kita diberkati Allah. Apapun yang terjadi adalah berkat Allah. Sekalipun kita mengalami musibah itu pun bagian dari berkat Tuhan yang sedang memproses kita. Tuhan pun sedang memproses Nehemia. Nehemia tidak merasa Tuhan meninggalkannya. Nehemia tidak merasa bahwa penyertaan Tuhan sudah habis. Jadi, Tuhan juga mau melatih kualitas iman kita untuk percaya pada Tuhan dalam segala kondisi yang kita alami dengan tetap menjalani tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Kesulitan apapun yang kita alami tetap harus ada tanggungjawab terhadap apa yang Tuhan percayakan. Jika Tuhan mengijinkan kegagalan itu adalah bagian dari pendidikan Tuhan demi kebaikan kita. Hajaran Tuhan itu bukan untuk menghabisi anak-anak-Nya tetapi demi kasih-Nya pada kita.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 04 Mar'12 PDF Print E-mail

Menjalankan kehendak Allah dengan Visi & Kesehatian

Neh. 2:19-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Nehemia sudah alami kenyamanan hidup dengan segala fasilitasnya. Setiap kita yang nyaman dan hidupnya berkelimpahan bisa hilang kepekaan terhadap apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang harus kita kerjakan yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Kita bisa terlena dan tertidur, tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Apa yang penting bisa kita angap tidak penting, demikian juga sebaliknya.

Tapi hal ini bukan hanya terjadi pada mereka yang mapan saja. Itu juga bisa terjadi pada kita yang menghadapi masalah dan kesulitan yang besar. Karena begitu tegang menjalani tantangan hidup, kita bisa lupa bahwa hidup ini adalah hidup bagi Allah dan mengerjakan pekerjaan-Nya yang sudah disediakan bagi kita.

Memang menurut theologi Reformed kita percaya bahwa Tuhan yang menggerakkan orang yang dipilih-Nya dan rencana-Nya pasti tergenapi. Akan tetapi kita juga punya tanggung jawab dan harus memiliki kesadaran akan panggilan dan pekerjaan Tuhan. Jangan tertidur dan terbuai baik oleh kenyamanan maupun kesulitan dan tantangan hidup.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 26 Feb'12 PDF Print E-mail

Doa dan Tindakan Nehemia

Neh.2:11-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita sudah belajar bagaimana Nehemia yang berada di dalam kenyamanan dan kenikmatannya bekerja sebagai juru minuman raja tetap memikirkan pekerjaan Tuhan. Banyak orang waktu dalam keadaan yang nyaman sudah berpuas diri dan tidak lagi memikirkan pekerjaan Tuhan. Nehemia tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Nehemia mengerti apa arti dan tujuan hidup orang yang beriman kepada Tuhan. Tujuan hidup orang yang beriman bukanlah hidup bagi kepuasan diri sendiri tetapi sadar bahwa hidupnya diciptakan oleh Allah yang mempunyai maksud bagi ciptaan-Nya. Nehemia sudah hidup enak tetapi cari susah, sudah mapan tetapi cari perkara. Tentunya cari perkara atau masalah di sini maksudnya adalah tetap meresponi panggilan Tuhan dan berani susah di tengah keadaannya yang nyaman.

Hidup karena anugerah adalah ajaran Reformed. Seorang teolog mengatakan bahwa menerima anugerah bukan sekedar bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan melainkan ada yang namanya tanggung jawab; menerima anugerah harus disertai respons dan disiplin. Jangan karena kita menerima anugerah lalu kita hidup sembarangan dan menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Nehemia dalam meresponi anugerah Tuhan tidak hanya diam dan menunggu tetapi ia berdoa, berpuasa, berkabung dan menanti apa yang Tuhan perintahkan untuk ia kerjakan. Bagaimana dengan kita? Sebagai orang yang menerima anugerah Allah ada pekerjaan yang harus kita lakukan, pertama-tama adalah berdoa! Jangan menyia-nyiakan anugerah Tuhan, kita harus tahu diri.

Mengapa Nehemia bisa berbuat demikian? Karena Nehemia punya relasi dengan Tuhan. Orang yang tidak pernah memikirkan panggilan dan pekerjaan Tuhan pasti karena ia tidak punya relasi yang baik dengan Tuhan. Sebaliknya orang yang punya relasi yang baik dengan Tuhan pasti memiliki kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan. Orang yang punya relasi dengan Tuhan pasti peduli dan tidak nyaman jika hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia sadar hidupnya adalah untuk meresponi anugerah Allah. Orang yang tidak peduli dengan pekerjaan Allah adalah sama dengan orang yang menghina Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 19 Feb'12 PDF Print E-mail

Yesus Mengutuk Pohon Ara

Mat.21:18-22

Ev. Joseph Yisrael, M.Div.

Dalam perikop yang kita baca ini, ayat 22 seringkali menjadi ayat favorit banyak orang Kristen. Namun bagian ini juga sering disalahmengerti. Apakah Yesus itu sungguh-sungguh Allah? Mengapa masih pagi-pagi buta Yesus menemukan pohon ara yang tidak berbuah langsung dikutuki-Nya? Ada juga orang yang mengatakan Yesus tidak dapat mengendalikan diri karena lapar. Bagaimana seharusnya kita mengerti bagian ini? Bagi orang-orang liberal bagian ini hanya dianggap sebagai dongeng. Padahal waktu kita mengerti bagian ini tidak boleh terlepas dari konteksnya. Kita harus mengerti alurnya.

Hari sebelumnya Yesus baru saja memporak-porandakan alat-alat berjualan para pedagang di Bait Allah. Yesus berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Spirit kemarahan Yesus karena dosa umat-Nya ini masih melekat di hati Yesus. Kerajaan Allah sudah datang, firman Allah sudah disampaikan tetapi kebebalan tetap ada di hati mereka. Suasana pagi itu sebenarnya adalah suasana yang menegangkan karena apa yang dilakukan Yesus pasti membuat galau hati imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (ayat 15). Sekarang pagi-pagi, Tuhan seolah-olah sudah menghadang orang-orang yang mau datang ke Bait Suci. Tuhan berperkara dengan mereka. Para murid pun pasti masih tegang (20:17-19). Tuhan sudah mengutarakan apa yang akan dialami-Nya untuk ketiga kalinya. Tuhan mengutarakannya dengan sangat serius kepada para murid-Nya tersendiri di dalam perjalanan. Ini perjalanan yang serius.

Kemudian masuk bagian yang kita baca di mana pagi-pagi sekali Yesus mengutuk pohon ara. Apa maksudnya? Apa hubungannya? Jika memang karena Tuhan Yesus lapar dan mau makan, mengapa Ia harus langsung mengutuk pohon tersebut? Bukankah pasti ada pohon yang lain di sepanjang jalan itu? Apalagi zaman itu belum seperti sekarang, pasti banyak pohon. Tetapi mengapa hanya pohon Ara ini? Matius di dalam pimpinan Roh Kudus sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu. Matius menuliskan kitabnya untuk orang-orang Yahudi Kristen, orang-orang yang punya latar belakang Taurat dengan begitu kental dan kuat. Ketika Injil disampaikan kepada mereka, Matius harus menuliskannya dengan latar belakang yang jelas dan benar. Maka sejak pasal 1 Matius sudah menonjolkan bahwa Yesus adalah Anak Daud dan Anak Abraham. Matius langsung mengaitkan silsilah kelahiran Yesus dengan tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Lama. Jelas orang-orang Yahudi yang membacanya sangat memahami kaitan ini.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 29 of 62
RocketTheme Joomla Templates