Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 26 Feb'12 PDF Print E-mail

Doa dan Tindakan Nehemia

Neh.2:11-20

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita sudah belajar bagaimana Nehemia yang berada di dalam kenyamanan dan kenikmatannya bekerja sebagai juru minuman raja tetap memikirkan pekerjaan Tuhan. Banyak orang waktu dalam keadaan yang nyaman sudah berpuas diri dan tidak lagi memikirkan pekerjaan Tuhan. Nehemia tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Nehemia mengerti apa arti dan tujuan hidup orang yang beriman kepada Tuhan. Tujuan hidup orang yang beriman bukanlah hidup bagi kepuasan diri sendiri tetapi sadar bahwa hidupnya diciptakan oleh Allah yang mempunyai maksud bagi ciptaan-Nya. Nehemia sudah hidup enak tetapi cari susah, sudah mapan tetapi cari perkara. Tentunya cari perkara atau masalah di sini maksudnya adalah tetap meresponi panggilan Tuhan dan berani susah di tengah keadaannya yang nyaman.

Hidup karena anugerah adalah ajaran Reformed. Seorang teolog mengatakan bahwa menerima anugerah bukan sekedar bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan melainkan ada yang namanya tanggung jawab; menerima anugerah harus disertai respons dan disiplin. Jangan karena kita menerima anugerah lalu kita hidup sembarangan dan menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Nehemia dalam meresponi anugerah Tuhan tidak hanya diam dan menunggu tetapi ia berdoa, berpuasa, berkabung dan menanti apa yang Tuhan perintahkan untuk ia kerjakan. Bagaimana dengan kita? Sebagai orang yang menerima anugerah Allah ada pekerjaan yang harus kita lakukan, pertama-tama adalah berdoa! Jangan menyia-nyiakan anugerah Tuhan, kita harus tahu diri.

Mengapa Nehemia bisa berbuat demikian? Karena Nehemia punya relasi dengan Tuhan. Orang yang tidak pernah memikirkan panggilan dan pekerjaan Tuhan pasti karena ia tidak punya relasi yang baik dengan Tuhan. Sebaliknya orang yang punya relasi yang baik dengan Tuhan pasti memiliki kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan. Orang yang punya relasi dengan Tuhan pasti peduli dan tidak nyaman jika hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia sadar hidupnya adalah untuk meresponi anugerah Allah. Orang yang tidak peduli dengan pekerjaan Allah adalah sama dengan orang yang menghina Allah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 19 Feb'12 PDF Print E-mail

Yesus Mengutuk Pohon Ara

Mat.21:18-22

Ev. Joseph Yisrael, M.Div.

Dalam perikop yang kita baca ini, ayat 22 seringkali menjadi ayat favorit banyak orang Kristen. Namun bagian ini juga sering disalahmengerti. Apakah Yesus itu sungguh-sungguh Allah? Mengapa masih pagi-pagi buta Yesus menemukan pohon ara yang tidak berbuah langsung dikutuki-Nya? Ada juga orang yang mengatakan Yesus tidak dapat mengendalikan diri karena lapar. Bagaimana seharusnya kita mengerti bagian ini? Bagi orang-orang liberal bagian ini hanya dianggap sebagai dongeng. Padahal waktu kita mengerti bagian ini tidak boleh terlepas dari konteksnya. Kita harus mengerti alurnya.

Hari sebelumnya Yesus baru saja memporak-porandakan alat-alat berjualan para pedagang di Bait Allah. Yesus berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Spirit kemarahan Yesus karena dosa umat-Nya ini masih melekat di hati Yesus. Kerajaan Allah sudah datang, firman Allah sudah disampaikan tetapi kebebalan tetap ada di hati mereka. Suasana pagi itu sebenarnya adalah suasana yang menegangkan karena apa yang dilakukan Yesus pasti membuat galau hati imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (ayat 15). Sekarang pagi-pagi, Tuhan seolah-olah sudah menghadang orang-orang yang mau datang ke Bait Suci. Tuhan berperkara dengan mereka. Para murid pun pasti masih tegang (20:17-19). Tuhan sudah mengutarakan apa yang akan dialami-Nya untuk ketiga kalinya. Tuhan mengutarakannya dengan sangat serius kepada para murid-Nya tersendiri di dalam perjalanan. Ini perjalanan yang serius.

Kemudian masuk bagian yang kita baca di mana pagi-pagi sekali Yesus mengutuk pohon ara. Apa maksudnya? Apa hubungannya? Jika memang karena Tuhan Yesus lapar dan mau makan, mengapa Ia harus langsung mengutuk pohon tersebut? Bukankah pasti ada pohon yang lain di sepanjang jalan itu? Apalagi zaman itu belum seperti sekarang, pasti banyak pohon. Tetapi mengapa hanya pohon Ara ini? Matius di dalam pimpinan Roh Kudus sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu. Matius menuliskan kitabnya untuk orang-orang Yahudi Kristen, orang-orang yang punya latar belakang Taurat dengan begitu kental dan kuat. Ketika Injil disampaikan kepada mereka, Matius harus menuliskannya dengan latar belakang yang jelas dan benar. Maka sejak pasal 1 Matius sudah menonjolkan bahwa Yesus adalah Anak Daud dan Anak Abraham. Matius langsung mengaitkan silsilah kelahiran Yesus dengan tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Lama. Jelas orang-orang Yahudi yang membacanya sangat memahami kaitan ini.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 12 Feb'12 PDF Print E-mail

Kesalehan Ayub

(Ayub 1 - 2)

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Kesalehan menjadi sesuatu yang langka di zaman kita. Barang langka cenderung menjadi mahal atau dianggap aneh. Seorang yang saleh itu dapat menjadi aneh di tempat di mana kekudusan itu langka terjadi. Ayub mungkin merupakan tokoh yang paling tua bahkan mungkin sebelum Abraham. Jadi sebelum Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dalam Kej.15, Allah telah menyatakan Diri-Nya kepada Ayub. Ayub tinggal di tanah Us. Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur. Kitab ini mau menunjukkan bahwa di dalam dunia di mana kejahatan terjadi, orang-orang benar mungkin akan mengalami penderitaan yang tidak adil. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi dan Tuhan yakin dengan iman percaya anak-anak-Nya. Meskipun si jahat mencobai anak-anak-Nya sampai habis namun mereka tetap percaya kepada Tuhan. Inilah Ayub.

Ayub adalah seorang benar tetapi bukan berarti ia tidak memiliki pergumulan iman. Ayub bergumul mengerti maksud Tuhan yang tidak diungkapkan. Ayub pasal 1 & 2 tidak pernah diketahui oleh Ayub sendiri, kitalah yang tahu. Pasal 1 dimulai dengan pendahuluan kesalehan Ayub di bumi. Pasal 1 & 2 merupakan pasal yang begitu penting untuk mengerti seluruh kitab Ayub.

Ayub diperkenalkan sebagai seorang yang takut akan Tuhan, ia menjauhi kejahatan dan hidupnya dilimpahi dengan kemakmuran. Takut akan Tuhan adalah dasar dari hikmat, dari pengertian. Ini tema utama khususnya kitab Amsal. Pengertian takut akan Tuhan di sini lebih kepada bijaksana dalam orang yang hidup takut akan Tuhan. Ayub dicatat sebagai seorang yang saleh (blameless) dan jujur (upright) atau tidak ada kesalahannya dan lurus. Kata saleh di sini mengacu pada kematangan rohani dan integritas hidupnya. Sebagai anak-anak Tuhan, hidup kita seharusnya mengarah kepada blameless. Seringkali kita hidup tanpa integritas, apa yang kita percayai dan sikap hidup kita terlalu berbeda jauh, kita menjadi orang yang munafik. Ayub tidak demikian. Apa yang ia ketahui itulah yang ia hidupi. Sedangkan kata upright berhubungan dengan bagaimana Ayub menghadapi hidupnya dalam cara Tuhan, lurus mengikuti jalur (seperti kereta api yang berjalan di dalam relnya). Ayub tahu jalurnya dan ia hidup mengikutinya. Ia menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan. Keempat karakter ini dimiliki Ayub.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 5 Feb'12 PDF Print E-mail

Doa Nehemia (2)

Neh. 2

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita sudah belajar tentang latar belakang dan pergumulan Nehemia akan Yerusalem. Dari beberapa penafsir mereka memperhitungkan bahwa Nehemia berada di Persia, kota Susan / kota pembuangan, dalam jangka waktu yang cukup lama. Jadi ada kemungkinan Nehemia lahir bukan di Yerusalem tetapi di Persia. Jika kita lahir di kota lain, biasanya kita kurang punya beban terhadap kota asal kita. Namun tidak demikian dengan Nehemia. Meski ia lahir di Persia, Nehemia sangat terbeban terhadap Yerusalem. Mengapa demikian? Pasti ada sesuatu yang penting bagi Nehemia. Apa sesuatu itu?

Pada waktu itu, orang-orang Israel sudah melupakan bahasa asli mereka. Ini sesuatu yang wajar karena generasi demi generasi berlalu di mana mereka sudah meninggalkan negara asalnya. Jadi apa yang dilihat Nehemia dalam jarak yang begitu jauh antara Persia dan kota Susan (sekitar 1500 km lebih)? Nehemia melihat Yerusalem sebagai satu pekerjaan Tuhan yang harus dilaksanakan. Sebagai anak Tuhan, kita tidak mungkin bisa mengabaikan pekerjaan Tuhan yang harus dilaksanakan. Ketidakpedulian terhadap pekerjaan Tuhan sama dengan penghinaan terhadap Allah itu sendiri!

Nehemia merenungkan panggilan Tuhan ini tanpa merasa berjasa sedikitpun. Seringkali orang melayani dalam pekerjaan Tuhan kemudian merasa berjasa. Orang yang merasa berjasa, jika satu saat sakit hati pasti cepat mogok dan tidak mau melayani lagi karena ia merasa bersumbangsih dalam pekerjaan Tuhan. Ini tidak benar. Pdt. Stephen Tong mengatakan, “No one come to help, no one come to contribute”. Jangan motivasi kita melayani karena mau menolong dan memberi jasa kepada Tuhan. Seolah-olah Allah berhutang kepada kita. Ini salah besar. Jadi bagaimana yang benar? Kita melayani adalah hak istimewa yang Tuhan berikan. Kita sebenarnya tidak layak melakukan pekerjaan Tuhan. Kita patut dibinasakan tetapi Tuhan karena belas kasihan-Nya mau memberi kepercayaan pada kita. Jadi orang yang terlibat dalam pelayanan bukan menjadi sombong, tetapi harusnya semakin menyadari ketidaklayakkannya di hadapan Tuhan. Inilah Nehemia. Nehemia tidak memberi kontribusi kepada Allah. Sikap Nehemia begitu rendah hati. Sikapnya adalah menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa. Ini sikap orang yang tidak merasa berjasa.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 29 of 62
RocketTheme Joomla Templates