Who's Online

We have 2 guests online

Search

Artikel
Kepastian Keselamatan PDF Print E-mail

KEPASTIAN KESELAMATAN

Ev. Gito T. Wicaksono, S.Sos., M.Div.


Di dunia ini ada 4 jenis manusia;

Diselamatkan - tidak yakin akan keselamatannya (pergumulan)

Tidak diselamatkan - yakin dirinya diselamatkan (percaya diri – tidak berbuah)

Diselamatkan - yakin akan keselamatannya (berbuah)

Tidak diselamatkan – tidak yakin diselamatkan (terhilang)

 

Mengapa keselamatan kita bersifat pasti? Karena keselamatan kita dikerjakan oleh Allah, bukan berdasarkan usaha kita. Jika keselamatan adalah usaha kita, atau 50-50, maka bukan saja keselamatan itu bisa hilang, tetapi pasti hilang.

Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Lukas 18:7, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya”

Kisah Para Rasul 13:48, “…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.”

Roma 8:29-30, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.

Efesus 1:4-5, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

Harus dibedakan: kepastian keselamatan dan ketidakyakinan akan keselamatan. Keselamatan dari Allah adalah kepastian, namun siapa yang diselamatkan tidak ada yang tahu. Maka, keselamatan adalah kepastian, namun memahami diri diselamatkan adalah sebuah proses pergumulan hidup.

John Calvin: “Ketika kita mengajarkan bahwa iman haruslah yakin dan pasti, kita tidak dapat membayangkan adanya keyakinan yang tidak ternodai oleh keraguan, atau kepastian yang tidak diserang oleh rasa was-was. Di sisi lain, kita berkata bahwa orang-orang percaya terus-menerus berada di dalam konflik dengan rasa tidak percaya mereka sendiri” (Institutio III.ii.17)

Keselamatan Itu Pasti

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji (2Kor. 13:5)

Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1Yoh. 5:13)

Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita(2 Kor. 1:20-22).

supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, (Kol. 2:2)

Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan- Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan (2Tim. 1:12)

Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya (Ef. 3:12)

Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu (1Tes. 1:5)

Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita(1Yoh. 3:24)

Keyakinan yang Diuji

Keselamatan dari Allah layak untuk diyakini, tetapi keyakinan adalah sebuah proses seumur hidup. Itulah sebabnya mengapa sepanjang hidup kita terus mengalami ujian!

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1Ptr. 1:6-7)

Perjuangan kita belum selesai. Maka, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh (2Ptr. 1:10).

Pekerjaan Allah hanya ada yang pasti, keselamatan adalah karya Allah yang pasti. Tetapi membutuhkan suatu pergumulan untuk mengerti apaka kita secara pribadi diselamatkan oleh Allah? Jika ya, maka itu akan terlihat dari hidup kita. Kepastian keselamatan tidak sama dengan percaya diri (self-confidence), tetapi keyakinan kita dikerjakan oleh Roh Kudus.


Sumber:  www.remove. or.id

 

 
Hamba Tuhan dan keluarganya PDF Print E-mail

Hamba-hamba Tuhan dan Keluarganya, Dewakah Mereka ??

Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th


PENILAIAN YANG SALAH

Kehidupan Imam Eli dan keluarganya adalah salah satu contoh yang sangat realistis dan tepat dalam setiap zaman, termasuk pada zaman dimana kita hidup sekarang ini. Eli adalah seorang hamba Tuhan, Imam yang melayani di Bait Suci Tuhan.

Sebenarnya setiap orang Kristen adalah hamba Tuhan (Roma 6:22), namun dalam topik kali ini, yang dimaksud hamba Tuhan adalah seseorang yang secara khusus terpanggil sebagai full (part) timer dalam bidang pelayanan kerohanian didalam suatu lembaga pelayanan gereja atau parachurch (misalkan pendeta atau penginjil).

Seringkali secara umum jemaat memandang hamba Tuhan sebagai suatu contoh atau pola teladan kehidupan yang ideal, yang sempurna, baik dalam kehidupan secara pribadi, dalam pelayanan dan termasuk pula dalam keluarganya.

Bila suatu saat, oleh salah satu badan intelejen tercanggih yang ada diatara jemaat, terbongkar suatu rahasia, bahwa ada seorang hamba Tuhan yang mempunyai kejelekan, kelemahan, kekurangan apalagi dosa-dosa tertentu, baik yang dilakukan secara pribadi, atau dari pihak keluarganya, maka hamba Tuhan ini akan seperti babi yang dicincang, diadili, dan dihakimi oleh jemaat-jemaatnya sebelum ia dipanggang.

Namun ada pula reaksi lain dari sebagian jemaat yang hatinya terlalu lembut. Mereka tidak sanggup secara kanibal memanggang habis hamba Tuhan tersebut, namun sempat mengalami kekecewaan (stress) yang sangat mendalam, dan imannya rontok gara-gara perbuatan hamba Tuhan yang pernah dibanggakannya itu. Ia tidak lagi mau kegereja, berdoa dan melayani. Jadi boleh dikata, secara matematik, imam adalah FUNGSI dari PERBUATAN hamba Tuhan? Lagi-lagi hamba Tuhan yang dipersalahkan. Kasihan memang menjadi hamba Tuhan itu. Ia dianggap bukan seperti manusia lagi, tetapi seperti manusia luar angkasa, yang harus mempunyai kelainan-kelainan dibandingkan dengan manusia di bumi ini.

TOPENG-TOPENG YANG DISUKAI

Pengadilan yang sangat “menakutkan” hamba-hamba Tuhan ini, salah satu akibatnya, dapat membuat mereka hidup serba munafik dan menutup-nutupi keberadaan dirinya yang sebenarnya. Ia tidak mau kelehamahannya diketahui oleh jemaatnya, ia ingin supaya jemaatnya selalu memandang dirinya sebagai orang yang tidak punya kekurangan, kelemahan dan dosa-dosa. Makin jemaatnya kagum padanya, makin senang hatinya.

Dan ternyata jemaatnya juga senang “ditipu” jemaat sangat senang bila ada hamba Tuhan yang suci 100%, selalu sempurna, selalu menyenangkan hati mereka, selalu tidak punya kesalahan, kekurangan dan lain sebaginya. Hamba Tuhan yang seperti itulah yang selalu dipuji-puji dan diagungkan.

Sayang, banyak hamba Tuhan yang terjebak dalam dunia sandiwara ini, dan banyak pula jemaat yang menikmati sandiwara yang dituntutnya sendiri. Jemaat “menciptakan” hamba Tuhan yang sempurna, hebat dan tanpa cacat menurut selera yang mereka inginkan; dan hamba Tuhan juga me”make-up” wajahnya menurut selera yang jemaatnya inginkan.

Kasihan memang bagi hamba Tuhan yang tidak pandai ber“make-up” Ia selalu diejek, dicela dan dibenci karena “wajahnya” yang jelek.

Ada jemaat yang berkata, bagi yang mau menjadi hamba Tuhanya tau sendiri konsekwensinya, ia harus bisa menjadi lebih dari manusia biasa !! Ha, apa betul ya dan apa bisa ya?

MEMANDANG HAMBA TUHAN DALAM ALKITAB

Herannya ternyata Alkitab berkata lain tentang hal ini. Alkitab tidak pernah me“make-up” hamba Tuhan, dan Alkitab tidak pernah memperkenalkan hamba Tuhan seperti makhluk luar angka yang mempunyai “keanehan-keanehan” yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Alkitab tidak pernah menyatakan ada manusia luar biasa didunia ini. Elia ternyata juga mempunyai dosa dan kelemahan (Yakobus 5:17a), Musa mempunyai dosa dan kelemahan, Yosua mempunyai dosa dan kelemahan. Meskipun Alkitab tidak mengungkapkan dosa-dosa dan kelemahan dari Henokh ataupun Yusuf anak Yakub, namun bukan berarti Henokh maupun Yusuf tidak mempunyai dosa dan kelemahan.

Tuhan Yesus pernah berkata, bahwa tidak ada seorangpun yang baik (Lukas 18:19), didalam kitab Roma 3:10-12,23 dikatakan, bahwa tidak ada seorangpun yang benar, semua sudah berbuat kejahatan, dalam kitab Yesaya 64:6 nabi Yesaya pun mengakui, bahwa perbuatan baik manusia itu seperti kain yang kotor dihadapan Allah.

Dengan perkataan lain Alkitab menegaskan, bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak punya dosa, yang tidak punya kelemahan, kekurangan, keterbatasan, dan perbuatan-perbuatan tercela, termasuk hamba Tuhan!!. Karena itu Alkitab menegaskan, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan karena perbuatannya (Efesus 2:8-9) !!.

Jadi kalau ada jemaat yang melihat ada hamba Tuhan yang tanpa cacat, cela, tanpa ada dosa dan kelemahan apapun, yang dinilai sangat hebat luar biasa, seperti SIX MILLION DOLLAR MAN atau WONDER WOMAN, maka ada dua kemungkinan yang terjadi: pertama jemaat itu belum sungguh-sungguh mengenal siapa sebenarnya hamba Tuhan itu, kedua hamba Tuhan itu sangat pandai bersandiwara, menciptakan kesalahan palsu sehingga jemaat itu tertipu.

Ada jemaat yang beri komentar, kalau begitu kita jangan terlalu dalam mengenal siapa hamba Tuhan itu sebenarnya, nanti kita akan kecewa kalau mengetahui kelemahan dan dosanya. Sikap seperti ini juga tidak dapat dibenarkan, sebab perbuatan semacam ini sama dengan usaha menipu diri sendiri dan tidak berani menghadapi realita.

Bila kita tetap mau memandang raja Daud, Musa, Elia, Abraham, sebagai hamba-hamba Tuhan, meskipun kita juga diberitahu akan kelemahan, kekurangan dan bahkan dosa-dosa mereka, mengapa, kita tidak dapat memandang hamba-hamba Tuhan pada zaman sekarang ini masa seperti kita memandang hamba-hamba Tuhan yang diperkenalkan Alkitab? Atau apakah penilaian kita sudah tidak lagi berpatokan pada apa yang Alkitab beritakan dan ajarkan, dan kita mau memandang hamba-hamba Tuhan zaman sekarang harus melebihi kriteria hamba-hamba Tuhan yang disaksikan oleh Alkitab?

TAK KENAL, MAKA TAK SAYANG, MAKIN MENGENAL MAKIN MEMBENCI ?

Ada seorang pemuda yang menceritakan, bahwa ia sekarang tidak lagi mengasihi istrinya setelah ketahuan, bahwa istrinya ternyata adalah seorang yang pernah berzinah pada masa remajanya. Katanya, dahulu pada waktu masih berpacaran, ia sangat mengasihi calon istrinya. Dalam kasus seperti ini kita perlu bertanya, apakah kasih yang seperti ini dapat disebut sebagai kasih yang benar? Kalau kita mau lebih teliti, sebenarnya pemuda ini dari dahulu TIDAK PERNAH mengasihi pacarnya yang sekarang telah menjadi istrinya. Ia ‘mengasihi” dalam ketidaktahuan dan dalam pengenalan yang meraba-raba, atau sekedar emosi belaka. Ia tidak sungguh-sungguh mengenal siapa yang dikasihinya.

Orang yang mengasihi seseorang tanpa dasar pengenalan yang benar dan waktu yang cukup, maka kasih itu belum teruji dan perlu dipertanyakan kesungguhannya.

Demikian pula dengan orang yang begitu menghormati hamba Tuhan, dan sangat mengaguminya, padahal ia belum tahu dengan benar siapa hamba Tuhan itu dan bagaimana kehidupan sehari-harinya, maka kekaguman itu hanya merupakan kekaguman semu atau kekaguman yang kekanak-kanakan, yang hanya berdasarkan penilaian lahiriah saja. Kekaguman itu akan dengan mudah lenyap, bila pengetahuan kita ditambah dengan informasi-informasi yang tidak memenuhi kriteria kekaguman tersebut.

SIKAP YANG TEPAT

Akitab mengajarkan pada kita, bahwa kita harus saling menghormati, mengasihi, dan khususnya kepada hamba-hamba Tuhan (I Tesalonika 5:12-13, I Timotius 5:17), bukan karena mereka tidak pernah berbuat dosa, namun karena kita ini adalah sesama anak-anak Tuhan, sesama murid-murid Kristus yang harus saling menopang dan menguatkan (Yohanes 13:34-35)

Ilustrasi tubuh yang diberikan oleh rasul Paulus dalam kitab Korintus menunjukkan adanya saling ketergantungan mutlak dari setiap anggota tubuh. Tidak ada anggota tubuh yang merasa dirinya paling hebat, paling tinggi dan tidak membutuhkan anggota yang lain. Tidak ada anggota tubuh yang bersukacita bila ada anggota lainnya yang sedang menderita atau jatuh dalam kelemahannya (I Korintus 12:21-26).

Hamba Tuhan tidak mungkin dapat membangun jemaat seorang diri saja. Ia membutuhkan partner kerja, ia membutuhkan support (dukungan), ia membutuhkan anggota-anggota tubuh Kristus yang lain.

HAMBA TUHAN DAN KELUARGANYA

Sebenarnya peran membina keluarga yang harmonis, baik itu oleh hamba Tuhan maupun jemaat umum mempunyai bobot yang sama beratnya yaitu sebagai seorang Kristen, sebagai murid Kristus, yang harus memberikan teladan terbaik dalam setiap perbuatannya.
Mari kita melihat kehidupan imam Eli. Meskipun Eli adalah seorang hamba Tuhan ternyata keluarganya berantakan. Alkitab menegaskan, bahwa kesalahan Eli adalah membiarkan anak-anaknya berbuat hal yang tidak benar dipandang Tuhan, dan bahkan lebih daripada itu, Eli ikut menikmati hasil perbuatan yang benar dari anak-anaknya. Eli tidak memperhatikan peringatan-peringatan yang sudah disampaikan kepadanya dengan serius, dan ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (I Samuel 2:29).

Ini merupakan peringatan bagi semua orang, bahwa kehidupan hamba Tuhan dan keluarganya bukan merupakan jaminan pasti serba sukses, lancar, tanpa kesulitan dan cacat cela. Mendidik anak dan membina hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah tantangan yang sama berat dan sulitnya bagi setiap anak Tuhan!.

Alkitab dengan terbuka juga menunjukkan banyaknya “kegagalan” dalam memelihara hubungan yang harmonis dari anak Tuhan yang baik-baik, seperti anak Samuel (I Samuel 8:3), keluarga Abraham, keluarga Ishak, keluarga Yakub, keluarga Daud, keluarga Salomo, dan seterusnya.
Dari contoh-contoh diatas, kita seharusnya tidak lagi saling menuding dan menghakimi, tapi waspadalah!. Kegagalan dalam keluarga yang sedang kita soroti dapat juga terjadi dalam keluarga kita kelak. Kesalahan imam Eli juga dapat kita lakukan sendiri bila kita lengah.
Bila kita menyadari prinsip satu tubuh, maka kegagalan dari salah satu anggota tubuh, adalah bagian dari kegagalan kita juga, kegagalan kita dalam membangun sesama anggota tubuh Kristus. Kejatuhan salah seorang anggota tubuh Kristus adalah merupakan salah satu akibat dari bentuk ketidak pedulian kita pada saudara kita seiman.

Seharusnya bila kesatuan tubuh itu nyata, maka kejatuhan tubuh yang lain dapat dihindarkan dengan menjalin kesehatian, saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan, menegur, menasehati, memberi saran-saran, mencarikan jalan keluar, mengatasi segala godaan dengan tindakan pencegahan-pencegahan.

PENUTUP

Orang yang dibenarkan Allah bukanlah orang yang mampu untuk tidak berbuat dosa sama sekali dalam kehidupannya, namun orang yang mau ditegur, dan mau menyadari akan dosa-dosanya, serta mengakuinya dihadapan Tuhan dengan penyesalan, dan akhirnya bertekad untuk terus menerus belajar memperbaiki kehidupannya hari demi hari makin sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Yesus bukan mengasihi orang yang sempurna dan benar, melainkan orang berdosa yang menyadari dan menyesali akan dosanya, serta mau datang kepada Tuhan dan belajar terus menerus untuk meperbaiki kehidupannya.

Yang tidak disenangi oleh Tuhan justru adalah orang yang berpura-pura, orang yang selalu merasa dirinya benar dan membenarkan dirinya sendiri, tidak mau mengakui segala kekurangan dan kelemahannya, orang yang membanggakan perbuatannya yang “saleh”, yang selalu membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain (Lukas 18:9-14, bnd Markus 2:17).

Keluarga Eli dan hamba Tuhan yang lain dalam Alkitab menjadi peringatan bagi kita semua, supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan supaya kita tidak gampang-gampang menghakimi semua orang dengan seenaknya. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah figur yang dipaparkan Alkitab kepada kita sebagai tipe orang yang selalu merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain lebih jelek dari dirinya.

Bila suatu saat kita melihat kelemahan dan kejatuhan seseorang, jangan cepat-cepat tertawa sebelum kita sadar, bahwa suatu saat kita juga bisa jatuh bila mengalami godaan yang sama dengan sikon yang sama pula (bnd I Korintus 10:12, Matius 7:3).

Sebenarnya tidak ada satupun diantara kita yang layak dihadapan Allah. Kita semua sama-sama jeleknya. Tuhan mengajarkan kita supaya mengasihi sesama kita bukan karena orang telah berbuat baik kepada kita atau telah memuaskan hati (keinginan dan konsep) kita (Lukas 6:23).
Tuhan beserta kita sekalian. Amin.

 

 
Reformasi dan Pembaharuan PDF Print E-mail

REFORMASI DAN PEMBAHARUAN

Pdt. Ir. Andi Halim S.Th.

Yang jelas dalam reformasi telah terjadi suatu peristiwa yang besar, yaitu PEMBAHARUAN. Melihat sejarah masa lalu, sejak agama Kristen diresmikan sebagai agama yang sah di negara Romawi (abad ke-4) sampai berkembang menjadi agama negara, dan terus mentradisi sampai sekitar abad ke-16, gereja telah mengalami resesi hebat hampir dalam segala bidang. Martin Luther dengan 95 dalilnya telah berperan sebagai salah satu tokoh reformator pada zaman itu.

Reformasi telah terjadi, namun demikian bukan berarti semua masalah telah lenyap. Sama sekali tidak. Manusia tetap diwarnai dengan dosa-dosa dalam perbuatannya, banyak perpecahan yang berulang kali terjadi setelah reformasi, sehingga kesimpulannya Reformasi tidak pernah boleh berhenti dalam sejarah manusia.

Namun apa yang paling pokok terjadi pada hari Reformasi waktu itu adalah pernyataan 3 hal prinsip Iman Kristen, yaitu Sola Fide, Sola Gratia dan Sola Scriptura. Keselamatan bukan melalui perbuatan atau usaha manusia, tetapi hanya melalui iman kepada Tuhan Yesus, serta merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma. Alkitab adalah Firman Allah, satu-satunya landasan kebenaran untuk segala pengajaran Iman Kristen dan berotoritas mutlak dalam setiap aspek kehidupan.

Yohanes Calvin meneruskan misi pembaharuan untuk memurnikan ajaran gereja dari segala penyelewengan yang dilakukan. Doa untuk orang mati, kesempatan bertobat setelah mati, meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati, konsep tentang kepala gereja di dunia, tentang unsur mistis dalam perjamuan kudus dan ajaran lainnya ditolak dengan tegas.

Yang jelas, REFORMASI itu diijinkan Tuhan terjadi agar semua gereja melihat pentingnya saling mengoreksi dan memeriksa diri serta tidak merasa diri yang paling benar. Sampai hari ini pun tidak ada gereja yang sempurna tanpa kelemahan dan kekurangan.

REFORMASI tidak hanya terjadi dalam masalah gereja, tetapi juga dalam kehidupan pribadi orang Kristen serta lingkungannya. Yang pasti setiap orang Kristen meskipun secara status telah disebut sebagai orang kudus, ia tetaplah orang yang masih punya dosa-dosa, kelemahan, kekurangan dan keterbatasan. Karena itu dalam perjalanan hidupnya ia harus mengalami PEMBAHARUAN secara pribadi terus-menerus (II Kor 3:18b, 4:16, Efesus 4:23, Kolose 3:10).

Kehadiran orang Kristen bagi lingkungannya digambarkan sebagai garam dan terang. Garam untuk menggarami yang tawar, sedang terang untuk menerangi yang gelap. Semua ini menunjukkan, bahwa di mana pun orang Kristen hadir, ia harus membawa pengaruh PEMBAHARUAN bagi lingkungannya. Dunia ini memang semakin bobrok, Alkitab sudah menubuatkannya, namun bukan berarti bahwa orang Kristen ikut berjuang menambah kebobrokan di dunia ini.

Meskipun dunia semakin bobrok, namun sejarah tetap mencatat terjadinya pembaharuan-pembaharuan, antara lain: runtuhnya komunisme, Uni Sovyet dan tembok Berlin, kemerdekaan berbagai negara yang dijajah, jatuhnya Hitler dan pemerintahan diktator lainnya.

Akhirnya, untuk mengingat sejarah reformasi, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing. Pertama, sudahkah kita mengalami PEMBAHARUAN terus-menerus secara dinamis dalam hidup pribadi kita ? Kedua, tindakan konkrit apa yang kita lakukan untuk menanggapi PEMBAHARUAN yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita ? Ketiga, sudahkah kehadiran kita, di mana pun kita berada, membawa pengaruh PEMBAHARUAN yang nyata bagi lingkungan kita ? Kiranya kita bukan menjadi penonton tokoh-tokoh PEMBAHARUAN, tetapi boleh menjadi PELAKU PEMBAHARUAN. Amin.

Referensi :

Buletin Lembaga Reformed Injili Indonesia “REFORMATA” 1994

 

 


RocketTheme Joomla Templates