Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 22 April 2012 PDF Print E-mail

Orang yang Sempurna menurut Kitab Suci

Rm.13:8-9

Pdt. Dr. Stephen Tong

Di dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menuntut kita supaya menjadi manusia sempurna karena Ia adalah Tuhan yang penuh dengan anugerah. Tuhan Allah menuntut Abraham dengan tuntutan yang begitu tinggi, “Jadilah sempurna di hadapan-Ku”. Mungkin tidak? Kalau kesempurnaan tidak mungkin dicapai dan tidak ada orang yang pernah mencapainya, lalu apa gunanya tuntutan ini? Apakah Allah menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak mungkin? Siapa di sepanjang sejarah yang pernah mencapai kesempurnaan ini? Adakah orang yang sempurna selain Kristus? Jawabannya tidak ada. Orang yang dianggap paling rohani dan agung pun ada kelemahannya. Meskipun Daniel, Yusuf, dua pemuda dalam Perjanjian Lama ini, tidak pernah dicatat kesalahannya, kita percaya mereka pun tetap adalah manusia berdosa. Demikian pula, Nuh, Musa, Petrus, Paulus, Daud, rasul-rasul dan nabi-nabi lain semua ada kelemahannya. Jika demikian apa artinya kesempurnaan? Mari kita merenungkan hal ini dengan serius dan menanggapinya dengan benar.

Dalam teologi Reformed kita percaya bahwa kita tidak mungkin mencapai satu kesempurnaan secara kuantitas selama di dunia ini (berbeda dengan kelompok kaum Methodist (John Wesley) yang percaya bahwa orang Kristen mungkin mencapainya). Dalam kitab Filipi kita percaya kesempurnaan yang bersifat paradoks yaitu bahwa kita semua mengarah pada satu kesempurnaan sebagai satu eskatos sebagai titik akhir di mana kita sedang bergumul dan menuju pada poin yang ingin kita capai. Kesempurnaan itu merupakan pemberian Allah sendiri dan bukan usaha kita. Kristus menjadi poin eskatos (terakhir) yang tertinggi sehingga kita selalu dengan gentar menghadapi diri kita yang tidak sempurna, dengan pergumulan yang tidak habis-habis, menuju pada titik telos (tujuan) yang terakhir itu. Kesempurnaan dengan sasaran tertinggi menjadi daya tarik, dorongan dalam hidup kita untuk tidak henti-hentinya maju. Dorongan ini menjadikan kita memiliki motivasi kesempurnaan. Kita terus tidak puas pada diri, terus memecut diri, mengingingkan kesempurnaan yang sudah diwujudkan dalam teladan Kristus yang mendorong kita. maka kesempurnaan dalam teologi Reformed bukan sesuatu yang bisa kita capai. Hal ini akan membuat kita menjadi sombong. Kesempurnaan ada pada Kristus dan Kristus menjadi motivasi dan tujuan kita untuk terus–menerus mau menjadi seperti Kristus yang adalah teladan kesempurnaan kita. Jika kita mengerti prinsip ini maka tidak heran jika Paulus yang paling menjadi teladan dan tinggi rohaninya justru berkata bahwa ia tidak merasa memiliki kesempurnaan itu.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 29 April 2012 PDF Print E-mail

Mengapa menginjili?

Yun. 4:10,11; Rm. 1:14-16

Pdt. Antonius Un

Apa itu penginjilan? Penginjilan adalah memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Penginjilan adalah mengajak orang lain supaya bertobat dari dosa mereka dan menerima Yesus Sang Juruselamat. Ada penginjilan langsung (direct evangelism), ada juga penginjilan tidak langsung. Penginjilan langsung terbagi dua yaitu short-cut evangelism dan friendship evangelism. Sedangkan penginjilan tidak langsung misalnya penginjilan melalui mengirim traktat, sms dan lain-lain.

Mengapa menginjili?
Pertama, menginjili berarti menghormati otoritas Tuhan yang memerintahkan penginjilan. Waktu menginjilli kita sedang menghormati otoritas Tuhan. Sebelum Tuhan memberikan perintah menginjili, Ia menyatakan otoritas-Nya terlebih dahulu, “Kepadaku diberikan kuasa (dalam bahasa Yunaninya berarti otoritas) di surga dan di bumi karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku”. Waktu kita tidak menginjili berarti kita menghina otoritas-Nya. Dalam Perjanjian Lama waktu Tuhan memberikan 10 perintah Allah, Ia pun menyatakan otoritas-Nya terlebih dahulu, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari perbudakan Mesir”. Berarti Tuhan sangat serius. Tuhan memberi perintah untuk dijalankan. Demikian pula waktu kita tidak menginjili, kita sedang menghina otoritas Tuhan yang begitu serius memberikan perintah. Dalam 2 Tawarikh pasal terakhir, Tuhan marah kepada Zedekia, Raja Yehuda, karena ia tidak merendahkan diri di hadapan Yeremia yang membawa pesan Tuhan kepadanya. Demi Tuhan, demi Raja di atas segala raja, kita harus minta ampun atas dosa kita selama ini yang tidak pergi menginjili.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 15 April 2012 PDF Print E-mail

Doa Musa

Kel.32:30-35, Kel.33

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Ada sebuah kisah: Seorang antropolog melakukan percobaan pada anak-anak di Afrika. Anak-anak ini diminta untuk lomba lari menuju sebuah pohon. Di bawah pohon itu ditaruh sebuah keranjang yang berisi banyak buah dan anak yang menang dari perlombaan itu akan mendapatkan seluruh isi keranjang buah tersebut. Hal yang mengejutkan si antropolog ini adalah ketika perlombaan dimulai anak-anak ini serempak bergandengan tangan dan lari bersama-sama menuju keranjang buah tersebut. Setibanya mereka di bawah pohon tersebut, mereka membagi dan menikmati buah di dalam keranjang tersebut bersama-sama. Ketika ditanya oleh sang antropolog ini bukankah jika mereka melakukannya sendiri maka yang menang akan dapat menikmati lebih banyak buah ketimbang mereka harus membagi untuk dimakan bersama-sama, mereka menjawab: “Ubuntu: Bagaimana kami dapat bersukacita kalau salah satu dari antara kami ada yang bersedih?” Ubuntu dalam bahasa Afrika artinya I am because we are (saya menjadi seperti sekarang ini karena kami adalah). Mereka mengerti bahwa hal-hal yang baik itu bukan untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dinikmati bersama.

Hal ini menegur kita orang-orang modern ini yang berpikir kesuksesan kita adalah karena hasil usaha kita sendiri. Posisi, gelar, jabatan, yang kita miliki sekarang adalah hasil usaha sendiri. Bahkan kita bawa pula sikap ini ke gereja. Kita pikir kita paling memuliakan Tuhan kalau kita lebih baik dari orang lain, kalau kita menjadi nomor satu. Tetapi ini memuliakan Tuhan atau memuliakan diri?

Dalam bagian kitab Keluaran yang kita baca, konteksnya adalah persis setelah Musa menerima 10 perintah Allah dalam bentuk loh batu, bangsa Israel melanggar perintah Allah yang pertama: Jangan ada padamu allah lain dari pada-Ku dan jangan menyembah berhala. Mereka membuat anak lembu emas dan menyembahnya. Tuhan murka, 3000 orang mati. Setelah itu murka Tuhan surut. Setelah semuanya selesai, Musa bukan tipe orang yang setelah selesai menghukum lalu puas. Musa justru ingin mengadakan pendamaian bagi mereka. Musa adalah tipologi dari Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama. Kristus mewakili umat-Nya menanggung dosa mereka, Musa pun mengadakan pendamaian bagi dosa bangsa Israel. Musa berkata pada Tuhan, “bangsa ini dosanya besar karena mereka telah membuat anak lembu emas menggantikan Allah, tetapi kiranya Tuhan sekarang berkenan mengampuni dosa mereka.” Kalimat Musa belum selesai. Musa separuh ‘mengancam’, “jika tidak hapuskanlah namaku dari kitab yang pernah Engkau tulis itu”.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 April 2012 PDF Print E-mail

Maut telah Ditelan Dalam Kemenangan

1Kor.15:54-57

Pdt. Stephen Tong (relay)

Jika Kristus tidak bangkit maka kita adalah orang-orang yang paling kasihan lebih dari orang-orang yang tidak beragama. Kekristenan bukanlah organisasi, upacara, budaya, atau liturgi. Kekristenan adalah Yesus Kristus. Kekristenan adalah iman manusia terhadap Kristus. Pada waktu liberalisme menjadikan sifat moral Kristus menggantikan sifat ilahi; tingkah lakunya menggantikan imannya terhadap Kristus; waktu menjadikan jasa diri kita menggantikan kemenangan Kristus di atas kayu salib; waktu itu Kekristenan gagal dan mulai merosot. Lalu apa itu Kekristenan? Kekristenan adalah Kristus. Semua anugerah berada pada Kristus. Iman manusia diperkenan Allah Bapa adalah karena Kristus. Demikianlah pusat dari iman kita adalah Kristus yang tersalib. Inti dari pemberitaan Injil kita adalah Kristus yang bangkit dari kematian. Injil tanpa Kristus bukanlah Injil. Salib tanpa kebangkitan adalah salib yang gagal. Kristus yang adalah firman yang menjadi manusia, kehidupan-Nya yang tanpa dosa, pengorbanan-Nya di atas kayu salib yang menggantikan kita, Ia bangkit dari kematian menggenapkan Taurat, naik ke surga dan satu saat nanti akan datang kembali menghakimi seluruh umat manusia. Semua ini adalah fakta sejarah yang membuat kekristenan melampaui semua agama. Ini adalah perbedaan iman Kristen dan mitos Yunani. Mitos Yunani tidak pernah ada dalam sejarah tetapi Kristus yang lahir, mati, bangkit, dan naik ke surga serta akan datang kembali adalah intervensi Allah Pencipta langit dan bumi di tengah-tengah umat manusia. Setelah Allah menciptakan kita, Ia tidak meninggalkan kita. Ia tinggal di tengah-tengah umat manusia dan membawa anugerah kebenaran secara limpah.

Yesus Kristus mengatakan, waktu kalian melihat Aku kalian bukan melihat Aku tetapi kalian melihat Bapa. Waktu kalian percaya kepada-Ku, kalian percaya kepada Bapa yang mengutus Aku. Allah kita adalah Allah yang mewahyukan diri-Nya. Tetapi tidak ada seorang pun yang mencari Dia, tidak ada seorang pun yang berbuat baik dan tidak seorang pun yang mengerti Aku. Maka apakah yang manusia cari dalam agama? Dalam agama manusia cari kaya, selamat, bisnis lancar, dan lain-lain. Itu sebabnya Allah mengatakan bahwa kita tidak mencari Dia. Agustinus mengatakan jika disimpulkan dalam hidupnya hanya ada 2 perkara yang ingin dicari tahunya yaitu ia ingin mencari tahu: Siapa Allah dan siapa aku? Orang yang mengenal Tuhan barulah akan mengenal dirinya; jika orang sungguh-sungguh meneliti dirinya sendiri, ia akan menemukan relasinya dengan Allah. Alkitab mengatakan hanya dalam Yesus Kristus kita dapat mengenal Allah. Hanya dalam Kristus pula kita dapat kembali kepada Allah. Hanya dalam Kristus kita menerima hidup yang kekal (Kis.4:12). Hanya satu Allah. Antara Allah dan manusia hanya ada satu mediator. Roh Kudus yang mewahyukan Alkitab membawa kita mengenal Dia. Hari ini banyak orang Kristen menjadikan keluarga dan harta bendanya menggantikan Kristus. Bahkan kita tidak menginginkan segala hal yang Allah janjikan pada kita dalam Kristus. Agustinus mengatakan Ia ingin mengenal Allah. Melalui Kristus kita mengenal Allah dan mengerti akan nilai terhadap diri sendiri. Sungguhkah kita mengenal Siapa Dia? Kita berasal dari mana? Mengapa kita hidup dalam dunia ini? Setelah mati kita ke mana? Semua jawaban hanya ada dalam Kristus.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 April 2012 PDF Print E-mail

 Nehemia: Pemimpin Berstrategi, Berenergi, Motivator, Rasionil & Religius

Neh.2:20, 4:1-23

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Siapakah Nehemia? Nehemia adalah seorang pemimpin yang berstrategi, berenergi, motivator, rasionil dan religius. Seringkali orang berpikir dan berkesan bahwa Gerakan Reformed ini berjalan tanpa strategi apa-apa. Namun ini tafsiran. Memang Gerakan Reformed berbeda dengan gereja-gereja pada umumnya yang begitu terencana tetapi sebetulnya Gerakan Reformed ini ada strategi. Masalahnya antara strategi dan mengikuti pimpinan Tuhan itu perlu kepekaan. Ini yang dipikirkan oleh pendiri gerakan kita, Pdt. Stephen Tong. Ini namanya pemimpin yang religius. Sama seperti Nehemia. Pemimpin religius adalah pemimpin yang menggabungkan antara strategi menurut pikiran manusia dengan pimpinan Tuhan. Dalam menggandengkan kedua hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Begitu juga permulaan Gereja ini. Dimulai dari mengajar STRIS. Mengapa mengajar? Karena saya senang mengajar dan senang belajar teologi. Tetapi mengenai pengajaran ini mau berkembang bagaimana, rencana ke depan bagaimana, menghadapi zaman yang seperti apa, itu belum terpikir. Ini bukan suatu hal yang mudah. Banyak ‘penonton’ gerakan ini yang terus mengritik karena mereka tidak sungguh-sungguh mengerti dan terlibat di dalam gerakan ini. Oleh karena itu, sebagai pengikut gerakan ini mari kita bersama-sama merenungkan bagaimana sebetulnya yang Tuhan mau untuk kita kerjakan melalui Gerakan Reformed yang sampai saat ini sudah diberkati Tuhan dan berkembang luar biasa.

Kita kembali kepada Nehemia yang memikirkan strategi, berenergi (mau kerja keras), motivator (penggerak), rasionil (berpikir baik-baik), dan seorang yang religius (ia berdoa). Nehemia bukan hanya orang yang rasionil tetapi juga seorang yang berdoa. Bukan hanya berdoa tetapi juga bekerja keras. Biasanya kita hanya mau mengerjakan salah satu dari aspek-aspek ini saja tetapi marilah kita belajar semua sikap ini dari Nehemia. Mungkin apa yang kita kerjakan sukses di mata manusia, tetapi apakah sukses di mata Allah? Nehemia meski bekerja keras tetapi tidak mengandalkan diri sendiri. Nehemia selalu mencari perkenanan Tuhan dalam bertindak.

Sanbalat, Tobia dan teman-teman lain memusuhi beberapa orang yang mengerjakan pekerjaan untuk kemuliaan Tuhan. Ini aneh tetapi sebenarnya terjadi juga dalam gerakan kita saat ini. Ada orang-orang yang tambah lama tambah benci kepada Gerakan Reformed maupun kepada orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan. Musuh kita banyak. Begitu pula waktu Pdt. Stephen Tong mendirikan gerakan ini, banyak sekali mendapat pertentangan seolah-olah ia melakukan suatu dosa yang besar. Banyak orang yang tidak memahami apa yang dilakukan Pdt. Stephen Tong. Mengapa jika mesjid bertambah banyak orang Kristen tidak protes tetapi kalau tambah gereja justru protes? Seharusnya kita senang jika gereja bertambah asalkan orang yang mendirikannya memiliki motivasi yang murni, pengajaran yang bertanggung jawab dan berjuang untuk mempertumbuhkan kerohanian jemaat. Di tengah-tengah pengajaran gereja yang tidak bertanggung jawab, kita seharusnya dukung pendirian gereja yang memiliki motivasi murni seperti ini. Tuhan memberikan visi, misi, spirit dan strategi kepada Pdt. Stephen Tong.

Read more...
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Page 22 of 50
RocketTheme Joomla Templates