Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 24 Mei 2015 PDF Print E-mail

Kuasa Pentakosta

Kis. 2:14–28

Vic. Bakti Anugrah

Hari Pentakosta merupakan hari perayaan panen bagi orang Israel di Perjanjian Lama. 50 hari setelah Paskah orang-orang Yahudi pun berkumpul di Bait Suci dan mempersembahkan hasil pertama dari panen mereka.

Kini, pada saat orang-orang Yahudi sedang berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan dan 3000 orang bertobat setelah mendengar kotbah Petrus. Sama seperti waktu orang Israel mempersembahkan hasil pertama panen mereka di hari Pentakosta, pada hari ini pula 3000 orang bertobat. Merekalah buah-buah sulung bagi Tuhan. Artinya masih akan ada buah-buah pertobatan susulan. Di Yerusalem adalah buah pertama. Berikutnya adalah Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi seperti pesan dan janji Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga (Kis.1:8).

Yesus naik ke surga 40 hari setelah Paskah dan Ia meminta para murid-Nya untuk tinggal, berpuasa dan berdoa, mempersiapkan hati untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Puasa mereka lakukan untuk mengenang dan mengingat pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Orang Kristen juga baik untuk melatih disiplin rohani dalam hal berpuasa ini karena puasa menyadarkan kita bahwa ada kebutuhan lain dalam hidup ini selain makan dan minum, yaitu kebutuhan rohani.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 17 Mei 2015 PDF Print E-mail

Menderita karena Kebenaran

1 Petrus 3:13 – 17

Vic. Calvin Renata

Kondisi jemaat di mana Petrus mengirim surat ini adalah waktu mereka mengalami penganiayaan. Penganiayaan itu bisa dalam bentuk fisik mau pun non fisik. Dalam ayat 8, Petrus mengajarkan agar mereka saling mendoakan dan menguatkan dalam penganiayaan. Dan ayat 13 – 17 ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya.

Petrus mengatakan dalam ayat 13 bahwa jika kita rajin berbuat baik, biasanya orang pun tidak ingin berbuat jahat pada kita. Tapi ini bukan suatu rumusan yang baku atau mutlak. Bukan berarti jika kita rajin berbuat baik, maka pasti tidak akan ada orang yang berbuat jahat pada kita. Sebab dalam ayat 14 diajarkan bahwa kita pun harus siap menderita karena kebenaran. Hal ini tidak bisa disangkali. Meski pun kita sudah berbat baik, tetap tidak tertutup kemungkinan kita menerima kejahatan dari orang lain. Orang lain ini bisa orang yang kepadanya kita tidak berbuat baik atau bahkan orang yang kepadanya kita berbuat baik.

Kehidupan Tuhan Yesus itu adalah contoh yang paling jelas. Yesus sudah berbuat baik, menjadi teladan, dan mengasihi murid-muridNya, tetapi Yudas, salah satu murid-Nya, justru mengkhianati Dia. Maka ayat ini bukan berarti mutlak. Dalam ayat 14 itu pula Petrus mengatakan suatu nasehat yang aneh, yaitu jika kita harus menderita karena kebenaran, maka kita berbahagia. Hal ini merupakan kutipan dari Mat. 5:10, di mana Yesus mendefinisikan tentang bahagia. Salah satunya adalah ”Berbahagialah kamu pada waktu kamu dianiaya karena kebenaran.” Ini adalah definisi tentang bahagia yang tidak ada dalam pemikiran mana pun di dunia. Dalam filsafat Barat mau pun Asia, dibahas juga mengenai bahagia. Tujuan hidup orang itu adalah menjadi bahagia. Tapi apa bahagia itu? Bagaimana bisa bahagia? Ini memberikan pemahaman yang berbeda-beda.

Dalam filsafat Yunani diajarkan bahwa orang menjadi bahagia jika orang itu hidup dengan baik, dalam arti hidup sebagai manusia sebagaimana mestinya, khususnya hidup dengan rasio, berpikir, dan hidup berfilsafat. Itu adalah hidup yang berbahagia. Ini adalah definisi dalam filsafat dan agama-agama. Ternyata tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Cita-cita manusia itu bahagia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 10 Mei 2015 PDF Print E-mail

Melayani Tuhan dengan Rendah Hati

Ul.8:1-30

Pdt. Andi Halim, M.Th

Bangsa Israel itu unik. Seluruh Alkitab menceritakan peran Allah bagi bangsa ini. Pertama Allahlah yang memilih bangsa ini. Tetapi bangsa ini adalah bangsa yang keras kepala, tegar, tengkuk dan sulit diatur. Kesimpulan kita: bisa jadi Tuhan salah pilih, kenapa tidak pilih bangsa lain saja?

Ada yang mengatakan bahwa lebih mudah Tuhan turun ke dalam dunia daripada mengatur bangsa ini. Akan tetapi apakah Allah salah pilih? Tidak. Kedaulatan Allah yang memutuskan segala sesuatu tidak mungkin keliru. Kalau kita mungkin salah. Misalnya salah pilih jodoh.

Yang unik adalah adakah satu bangsa seperti bangsa Israel yang begitu keras kepala dan memberontak kepada Allahnya dan berkelahi dengan Allahnya?

Bagaimana membuat Allah tidak marah dan tidak menghukum kita? Bangsa Israel tidak pernah menemukan rumus untuk mengendalikan Allah karena Allah Israel adalah Allah yang punya pendirian dan rencana-Nya sendiri. Allahlah yang memaksa Israel untuk tunduk kepada kehendak-Nya. Allah adalah Allah yang mendidik bangsa ini seperti ayah mendidik anaknya. Bagaimana mungkin Ia kewalahan dan sulit mendidik?
Tapi cara kerja Tuhan bukan instan atau keras seperti algojo menghabisi pesakitan sebaliknya Tuhan seperti ayah mengajari anaknya (Ul.8:5). Ini adalah cerita yang melihat ke belakang apa yang selama ini sudah Tuhan kerjakan kepada bangsa ini, yaitu membuat bangsa ini rendah hati (8:2-3).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 03 Mei 2015 PDF Print E-mail

Bagaimana Kita Melayani Tuhan?

2Taw.7:13-14, Mi.6:8

Pdt. Andi Halim, M.Th

Prinsip melayani Tuhan yang sudah pernah dibahas adalah: (1) Tuhan tidak mau dinomorduakan, tetapi seringkali kita menomorduakan Tuhan; (2) Melayani Tuhan dengan kasih. Kasih yang mau berkorban seperti Tuhan yang mengorbankan anak-Nya.

Hari ini kita akan berbicara mengenai melayani dengan rendah hati. Kita jarang sekali membahas mengenai kerendahhatian karena dianggap semua jemaat sudah tahu. Tetapi secara tidak sadar kita kehilangan kerendahhatian kita karena menganggap diri paling benar karena mengerti ajaran Reformed. Jika kita mengerti teologi dan menjadi sombong maka kita menjadi orang yang lupa diri.

Sifat alami manusia sebenarnya sombong dan merasa diri hebat. Misalnya masalah kesukuan: masing-masing kita merasa suku kita paling hebat. Jika natur ini diteruskan dan kita tidak menahan diri maka kita akan menjadi arogan dan merasa superior. Sebaliknya kita juga harus berhati-hati jangan sampai merasa kita sudah rendah hati karena dalam perasaan tersebut kita sudah menyombongkan kerendahhatian kita. Ini adalah natur keberdosaan yang tidak bisa kita lepas. Jika kita sudah menyadari natur keberdosaan manusia ini marilah kita belajar maksud rendah hati menurut Alkitab.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 2 of 71
RocketTheme Joomla Templates