Ringkasan Khotbah
Ringkasan Khotbah - 15 Februari 2015 PDF Print E-mail

Dua Macam Pembangun

Luk.6:46–49

Vic. Bakti Anugrah

Perikop ini memiliki kesamaan juga perbedaan dengan Mat.7:24–27. Mat.7:24–27 merupakan penutup dari khotbah di bukit, sedangkan Luk.6:46–49 merupakan penutup dari khotbah di dataran. Kedua perikop sama-sama membicarakan tentang dua macam dasar, namun Matius lebih menekankan tentang dua macam bangunan yang diuji dengan badai, sedangkan Lukas lebih menekankan pada dua macam pembangun yang mempersiapkan pondasinya. Tetapi keduanya menekankan bahwa pengajaran Kristus memiliki otoritas mutlak dan harus diterima penuh. Ini berarti penting sekali untuk mengikuti ajaran Kristus dan tidak boleh menganggapnya enteng.

Pembaca juga ditantang untuk merespon pada ajaran Tuhan. Kita harus memperhatikan setiap Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, mendalam, dan tidak meremehkannya. Jadi perikop ini menekankan bahwa Firman Tuhan harus didengarkan dan juga harus dilakukan. Tema tentang mendengar dan melakukan Firman Tuhan dalam Injil Lukas ini sangat ditekankan.
Dalam perikop sebelumnya (6:45) Lukas memandang kebaikan sebagai suatu ketaatan akan Firman Tuhan, tetapi yang mengabaikan Firman Tuhan itu dianggap sebagai orang yang bodoh dan jahat.

Perikop ini memberi perumpamaan mengenai dua pembangun, yaitu pembangun yang sungguh-sungguh dan pembangun yang sembarangan. Pembangun yang sembarangan menunjukkan orang yang jahat, yaitu yang meremehkan Firman Tuhan, sedangkan pembangun yang sungguh-sungguh menunjukkan orang yang taat akan Firman Tuhan. Banjir dalam perikop ini berarti ketika air sungai yang meluap dan menimbulkan aliran air yang sangat deras.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Februari 2015 PDF Print E-mail

Tua-tua dalam Penglihatan Yohanes

Wahyu 4:2 - 5:14

Vic. Gito T.Wicaksono.

Tawaran utama kita saat menginjili adalah keselamatan dan masuk surga. Tetapi surga yang kita bayangkan seringkali seperti surga dalam cerita Mahabarata, atau surga dari orang yang mengatakan pernah ke surga /neraka. Kita perlu melihat pandangan mengenai surga yang dinyatakan di dalam Alkitab.

Posisi kita disucikan oleh Allah, seperti yang digambarkan dalam kitab Wahyu, bahwa kita dikenakan pakaian putih. Ada relasi antara apa yang kita hidupi saat ini, dengan apa yang akan kita hidupi nanti di surga. Hidup kita saat ini diarahkan menuju kehendak Allah, termasuk orientasi kita. Pembicaraan tentang surga biasanya hanya muncul saat ada orang yang meninggal, tetapi seharusnya kemuliaan surga itu turun ke dalam kita.

Yohanes diberikan penglihatan oleh Tuhan mengenai surga dan Yohanes menuliskan penglihatan tersebut karena perintah Tuhan, supaya kita manusia yang hidup sekarang ini memiliki orientasi menuju surga. Saat kita berdoa Bapa Kami, kita sedang mengundang Kerajaan Surga untuk bertahta di dunia ini. Umumnya sebuah kerajaan menguasai suatu daerah dengan menaklukkan daerah tersebut, tetapi Tuhan Yesus turun ke dunia bukan untuk menaklukkan, tetapi memberikan cinta. Orientasi hidup kita sepenuhnya harus tertuju kepada surga.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 Februari 2015 PDF Print E-mail

Hidup mengutamakan Tuhan

Mat 22:37-39; Yoh 15:17; 2Yoh.1:6; 1Yoh 4:9-10; 5:3

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Hidup sebagai orang percaya bukan hidup yang mementingkan kepentingan pribadi. Kita memang orang berdosa dan orang berdosa pasti mementingkan kepentingan pribadi. Namun Alkitab mengajarkan untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi. Ajaran Alkitab itu sesungguhnya melawan natur manusia yang telah jatuh dalam dosa. Ada juga sebagian kasus yang seolah-olah mementingkan kepentingan orang lain, tapi orientasinya adalah kepentingan pribadi. Misalnya pendeta yang orientasinya supaya dihormati dan dipuji orang lain. Ada kasus lain yang memang mementingkan orang lain, tapi dengan cara yang salah, seperti teroris yang rela melakukan bom bunuh diri untuk kepentingan organisasinya. Itu semua akibat manusia telah jatuh dalam dosa.

Lalu apa yang menjadi dasar bagi kita untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi untuk melayani Tuhan? Dasarnya adalah kasih Kristus. Apa gunanya mengorbankan diri mementingkan orang lain, tapi tidak ada kasih? Tidak ada. Selain kasih, kita juga harus punya komitmen. Dan komitmen ini akan menimbulkan perjuangan. Namun jika hanya komitmen tanpa kasih, tidak ada gunanya.

1Kor.13:1-3 mengajarkan kita bahwa pengorbanan pun bisa sia-sia jika tidak ada kasih. Meskipun kita punya disiplin yang tinggi, ilmu yang luas, dan iman yang bisa memindahkan gunung yang tinggi, namun jika tanpa kasih pun tidak ada artinya. Di sini Paulus menegur secara bertahap. Yang pertama adalah apakah kita punya prioritas dalam hidup? Apakah kita mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Apakah aku masih mementingkan diri sendiri? Ini hanya step awal dan mendasar. Jika kita terus berkanjang dalam step awal ini, maka kita tidak bisa maju. Kita harus belajar menyerahkan hidup dan tidak mementingkan kepentingan pribadi.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 25 Januari 2015 PDF Print E-mail

Sikap dalam Berdoa

Luk.11:5-8

Ev. Bakti Anugrah

Ada 3 bagian dalam injil Lukas 11:1-13 ini: 1) isi doa (ayat 1-4); 2) sikap dalam doa (ayat 5-8); 3) jaminan jawaban doa (ayat 9-13). Kali ini kita hanya akan membahas bagian yang kedua, yaitu sikap di dalam berdoa. Oleh beberapa penafsir bagian ini disebut sebagai “Perumpamaan Sahabat di Tengah Malam.”

Tuhan Yesus berbicara dalam konteks pedesaan orang Yahudi. Di jaman itu keramahtamahan Timur Tengah adalah sesuatu yang menonjol yang menjadi semacam hukum yang tidak tertulis untuk melayani orang asing, khususnya mereka yang singgah di tengah perjalanan. Ini termasuk menyediakan akomodasi dan makanan bagi sang tamu. Jikalau mereka sampai gagal atau lalai melakukan hal ini maka akan ada semacam rasa malu, apalagi bila yang membutuhkan bantuan adalah seorang sahabat.

Mengapa sahabatnya mengunjungi orang itu pada tengah malam? Kondisi Palestina pada siang hari tentu saja sangat panas dan melelahkan jikalau mengadakan perjalanan sehingga ada kemungkinan sahabat orang ini memilih berangkat sore atau malam hari. Akibatnya ia terpaksa bermalam di rumah sahabatnya pada waktu yang tidak diduga-duga apabila ia kemalaman dan belum sampai ke kota tujuannya. Tentu saja jaman itu belum ada telpon, sms, bbm, dan sebagainya sehingga ia tidak bisa membuat janji terlebih dahulu untuk bermalam seperti di jaman sekarang. Jadi setiap orang bisa diganggu sewaktu-waktu.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 2 of 68
RocketTheme Joomla Templates