Ringkasan Khotbah - 28 Feb'10 PDF Print E-mail

 

Yohanes 9:4; Kisah Para Rasul 1:7

Ev. Antonius Un, M.Div.

Antara Masa dan Waktu

Konsep waktu dalam kekristenan (Reformed) adalah konsep waktu yang bersifat linear (berjalan terus). Konsep waktu yang ada pada orang Yunani (Timur) tidak benar, yaitu bersifat melingkar. Arloji seringkali menjebak kita seolah-olah waktu itu kembali. Padahal waktu tidak pernah kembali. Detik, menit, minggu, hari, bulan semua berulang, tetapi tahun tidak. Total waktu tidak pernah berulang. Maka konsep waktu membawa kita mengerti akan waktu sebagai masa kini yang berjalan meninggalkan masa lalu. Masa lalu dan masa depan itu diam, yang bergerak adalah masa kini. Itu sebabnya kerapkali orang mengatakan waktu berlalu begitu cepat. Musa pun mengatakan waktu berjalan terburu-buru.

Lalu bagaimana kita mengerti waktu? Semua orang hidup di dalam waktu tetapi jarang yang memikirkan tentang waktu. Ruang dan waktu sama-sama diberikan Tuhan sebagai wadah supaya manusia hidup. Tetapi kesadaran manusia lebih besar terhadap ruang daripada waktu. Contoh: jika kita hidup di rumah yang sempit, kesadaran kita besar sekali. Ini dosa kita manusia berdosa yang lebih memperhatikan apa yang kelihatan (ruang) daripada yang tidak kelihatan (waktu). Manusia bisa membeli ruang, tetapi waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang. Ruang bisa ditipu, tetapi waktu tidak. Manusia bisa pergi berekreasi karena bosan dengan ruang yang ada. Manusia ribut jika kehilangan ruang, tetapi sedikit orang yang ribut saat membuang waktu. Paulus mengatakan, “kami memperhatikan yang tidak kelihatan bukan yang kelihatan, sebab yang tidak kelihatan itu kekal.” Tuhan menciptakan ruang dan waktu tetapi manusia hanya memperhatikan yang kelihatan. Akibatnya, waktu manusia mati, ia hanya diberi ruang yang paling kecil.

Sekarang kita mau melihat tentang waktu. Dalam Kis.1:7 muncul dua istilah: masa dan waktu. Melalui buku Pdt. Stephen Tong kita mengerti istilah ini dalam bahasa Yunaninya, yaitu Chronos dan Kairos.  Chronos adalah waktu kronologis. Paul Tillich mengatakan chronos adalah waktu kuantitatif, waktu setiap hari. Kata setiap menjadi penekanan. Contoh: kita sikat gigi setiap hari. Biasanya chronos jarang diingat karena setiap kali ada. Orang Yunani mengerti chronos sebagai personifikasi waktu. Chronos itu adalah hidupnya waktu, masa kini yang berjalan menuju masa depan.

Sedangkan Kairos adalah waktu krusial atau istilah Paul Tillich, waktu kualitatif. Contoh: kita menikah hanya satu kali. Kairos tidak selalu ada. Maka Paul Tillich melihat kairos sebagai waktu yang di dalamnya ada krisis di mana orang mengambil satu keputusan yang eksistensial. Eksistensial dari kata existence (keberadaan). Keputusan eksistensial artinya keputusan hidup dan mati. Makan bebek goreng bukan keputusan eksistensial. Tetapi seorang yang memutuskan menutup bisnis baksonya yang sudah berkembang sebanyak 890 outlet merupakan keputusan eksistensial. Paul Tillich mengatakan keputusan eksistensial merupakan krisis sampai kita mengambil keputusan. Keputusan eksistensial merupakan keputusan yang kita ambil sampai keluar keringat dingin.

Pertama, chronos itu rutin, Kairos itu tidak rutin (jarang). Chronos tidak memiliki satu nilai yang disebut nilai pengecualian (nilai jarang). Jarang itu bernilai (exceptional value). Contoh: barang antik itu mahal karena mempunyai beberapa nilai yaitu nilai sejarah. Beda dengan barang kuno. Barang antik adalah barang kuno yang jarang. Nilai sejarah dari barang antik adalah umurnya berapa dan siapa yang pakai. Barang antik juga memiliki nilai seni dan nilai kerumitan. Tetapi satu hal yang paling berharga adalah nilai jarang. Berapa banyak barang itu ada di dunia? Seperti inilah kairos, yaitu memiliki nilai jarang (nilai pengecualian), kesempatan yang tidak datang dua kali.

Itu sebabnya orang lebih menghargai Kairos daripada Chronos. Tetapi hal yang membuat orang tidak menghargai chronos adalah virus rutinitas. Contoh: pertama kali kita punya mobil baru, tutupnya selalu kurang keras. Tetapi lama-kelamaan tutupnya selalu kurang pelan. Begitu pula seringkali cara kita memperlakukan istri yang sehari-hari setia atau cara kita mengikuti kebaktian, kita kurang menghargai. Sampai Tuhan memakai dua cambuk untuk membuat orang menghargai berkat Tuhan, yaitu kehilangan dan perbandingan terukur. Kita bukan tidak menghargai apa yang tidak ada tetapi justru apa yang ada. Contoh: Orang tua bukan mengeluh karena tidak memiliki anak, tetapi karena anaknya nakal; manusia mengeluh karena ada kendaraan sehingga ia harus repot ganti ini dan itu. Waktu manusia sudah kena rutinitas, saat itu manusia tidak lagi menghargai anugerah Tuhan. Banyak orang membuat pesta pernikahan yang begitu meriah, tetapi tidak menghargai kehidupan pernikahan itu sendiri. Menjadi raja dan ratu sehari, pesta besar-besaran, tetapi seumur hidup menjadi budak, membayar hutang, dan rumah tangganya berantakan. Jadi benarkah chronos yang setiap hari ada itu tidak berharga?

Kedua, kekuatan kairos bukan di dalam event (peristiwa). Contoh: event adalah hari di mana kita dilantik dan memakai jas. Ini bukan kairos. Kekuatan kairos bukan dalam event tetapi moment (momentum). Contoh: kairos dalam sebuah pernikahan bukanlah soal upacara pernikahan. Tetapi kairosnya adalah kesempatan bagi mereka menjalani firman Tuhan dalam suatu insitutsi yang namanya keluarga. Bagaimana hidup sehari-hari setelah upacara pernikahan itulah yang penting. Seorang yang dilantik menjadi pendeta kairosnya bukan upacara pelantikan itu sendiri, tetapi kesempatan melayani seumur hidup. Jika orang Kristen mengerti hal ini, hidupnya beres. Kekuatan kairos itu bukan peristiwa, tetapi kesempatan. Maka kita akan melihat, yang disebut pengalaman itu bukan soal usia. Pengalaman adalah isinya, bukan lamanya. Begitu pula kairos, bukan peristiwanya tetapi kesempatannya.

Sekarang kekuatan chronos di mana? Kita jangan terjebak karena ia sering ada. Apa yang kita kenal dengan istilah setia, berarti harus mengandung elemen waktu. Jika tidak ada elemen waktu, tidak bisa disebut setia. Bagaimana dengan Tuhan? Bagi Tuhan kan tidak ada waktu? Tetapi dalam kitab Ratapan dicatat bahwa rahmat Tuhan selalu (chronos) baru setiap (chronos) hari. Maka elemen waktu adalah elemen chronos. Kesetiaan seseorang diukur dari “setiap”, dari rutinitas. Rutinitas adalah alat pengukur kesetiaan terbaik yang tidak bisa digantikan. Inilah kekuatan chronos. Chronos merupakan penentu kesetiaan. Contoh: kita seringkali lebih menghargai pengkhotbah tamu daripada pengkhotbah sehari-hari yang setia memberitakan firman setiap minggu dan menggembalakan jemaatnya. Banyak orang lebih menghargai kairos daripada chronos. Banyak suami melihat perempuan lain lebih baik dari istrinya yang setia setiap hari. Kita harus janji seumur hidup jangan pernah melupakan chronos. Siapa di antara kita yang masih ingat apa yang terjadi di hari pernikahan? Ternyata yang kita ingat adalah hal-hal yang kita lakukan setiap hari dalam rumah tangga. Karena itu orang yang tidak menghargai chronos adalah orang yang tidak setia. Marilah kita menghargai ibu kita yang setia, hamba Tuhan yang setia sehari-hari, belajar menghargai chronos. Orang yang tidak menghargai chronos sudah berdosa. Jadi orang yang menghargai chronos adalah orang yang menghargai kesetiaan.

Ketiga, chronos dan kairos sama-sama anugerah Tuhan. Kairos adalah anugerah. Seorang bisa menikah, bisa mempunyai anak, bisa menjadi menteri, itu anugerah. Tetapi Alkitab mengatakan masa dan waktu adalah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu chronos pun anugerah. Kita bisa sikat gigi setiap hari adalah anugerah. Pertama kita masih diberikan hari, diberi kesempatan melihat fajar menyingsing. Kedua, kita masih diberikan gigi untuk disikat. Banyak orang mengeluh dan melupakan anugerah Tuhan sehari-hari.

Terakhir, Pdt. Stephen Tong mengatakan di dalam setiap chronos ada kairos. Bagaimana mengubah chronos menjadi kairos? Chronos akan menjadi kairos (melihat peluang-peluang di dalamnya) saat kita mengerti firman. Kairos seharusnya merupakan akumulasi dari chronos. Contoh: sewaktu seseorang dilantik menjadi menteri, apakah ia sadar di situ ada kesempatan baginya untuk menjadi saksi? Hal lainnya, mengapa ia menjadi menteri? Karena ia sudah setia dalam bidangnya sehari-hari. Orang yang menghargai chronos, Tuhan akan memberikannya kairos. Jadi, marilah kita belajar menghargai anugerah Tuhan yang sehari-hari.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – VP)

 

 
RocketTheme Joomla Templates