Ringkasan Khotbah - 5 Jul'09 PDF Print E-mail

Matius 22:34-40

Ev. Gito

Setelah pada perikop sebelumnya, Tuhan Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam maka kemudian berkumpulah orang-orang Farisi dan kemudian seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus dengan maksud mencobai Dia. Kata mencobai di dalam bagian ini menyatakan suatu arti, dari arti kata Yunani yang dipakai, sebagai ujian untuk maksud menjatuhkan. Kata ‘mencobai’ dalam bhs. Yunani yang dipakai dalam bagian ini sama persis dengan penggunaanya pada bagian ketika Tuhan Yesus dicobai oleh Iblis.

Lalu apa yang dimaksud dengan Taurat yang disebutkan dalam bagian ini? Di dalam Alkitab seringkali muncul kata ini. Di dalam bhs. Yunani, kata Taurat itu hanya menggunakan satu arti yaitu ‘nomos’ (artinya hukum). Dalam PB, Taurat ini bisa memiliki tiga pengertian dimana ketiga-tiganya menggunakan istilah Taurat tetapi dengan pengertian yang berbeda-beda. Taurat bisa dimengerti sebagai seluruh PL, atau dimengerti untuk menunjukkan lima kitab pertama yang ditulis oleh Musa, Pentateukh, yaitu Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Ulangan, atau Taurat itu dimengerti hanya dalam 10 Perintah Allah yang diberikan kepada Musa oleh Allah sendiri di Gunung Sinai (Kel 20). Dan pada bagian ini Taurat yang dimaksud mungkin adalah dalam pengertian ke-5 Kitab Musa tersebut karena menyangkut perihal hukum yang dipertanyakan oleh ahli Taurat kepada Tuhan Yesus.

Semua bagian di dalam hukum Taurat itu penting dan ahli Taurat yang bertanya kepada Tuhan Yesus itu hendak menjebak dan mencari kesalahan-Nya dengan mempertanyakan manakah hukum yang lebih terutama. Tetapi Tuhan Yesus tidak menjawab ‘yang mana’ dari pertanyaan tersebut melainkan memberi jawaban ‘bagaimana’ yang terlihat tidak berhubungan langsung dengan pertanyaan sang ahli Taurat itu. Sebenarnya dalam hukum Taurat itu tidak ada yang tidak penting dan yang terpenting sebab semuanya merupakan suatu produk hukum yang sama pentingnya namun ada dua prinsip penting tentang bagaimana kita menjalankannya dan kita harus menjalankannya dengan kasih.

Prinsip pertama adalah kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Perkataan ini diucapkan Tuhan Yesus dengan mengutip tulisan Musa di Kitab Ulangan (Ul 6:5). Orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu orang-orang yang beragama secara legalis dan mereka melakukan peraturan hukum yang sangat banyak itu (613 aturan hukum) tetapi tanpa kasih kepada Tuhan dan lebih peduli dengan peraturan hukum yang harus dilakukan/ditaati. Jawaban Tuhan Yesus tentang bagaimana menjalankan hukum itu menjadi sesuatu hal yang baru bagi mereka. Ketika kita mengerjakan apa pun juga termasuk pelayanan gerejawi, apakah itu sudah dilakukan untuk Allah dan dengan kasih kita yang tertuju kepada Allah? Ataukah sekedar menjalaninya dengan baik dan sesuai dengan “aturan main”nya?

Kata Yunani dari kasih yang digunakan dalam ayat 37 ini adalah ‘agape’. Alkitab menggunakan kata agape ini lebih tinggi – berbeda dengan budaya Yunani yang menggunakan istilah ‘eros’ lebih tinggi – dimana istilah kata agape bila diterjemahkan ke dalam kalimat bhs. Inggris itu menjadi ‘I love’ sedangkan kata eros bila diterjemahkan dalam kalimat bhs. Inggris itu menjadi ‘I’m in love’. Dua perkataan yang berbeda pengertiannya, itu juga lah perbedaan pengertian kasih eros dibandingkan dengan kasih agape. Kasih agape umumnya digunakan untuk segala sesuatu yang baik dan sopan serta komitmen yang kuat. Tuhan Yesus merombak konsep kasih dari kasih eros dibalikkan menjadi kasih agape lalu dijelaskan lebih lengkap oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13. Penjelasan yang lebih sederhana tentang kasih agape adalah seperti perkataan ‘I do my best’ sehingga kasih itu bukanlah berbicara tentang berbuat sesuatu melainkan berbicara mengenai bagaimana melakukannya. Kasih bukanlah berbicara tentang seberapa banyak melainkan seberapa besar kesungguhan kita. Jikalau kita melakukan sesuatu, sudahkah kita melakukannya dengan segenap hati/sesungguh-sungguhnya? Tuhan Yesus berbicara tentang kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dst. Maka kasih itu berbicara tentang keseluruhan hidup dan dengan penuh kesungguhan. Dalam bagian ini Tuhan Yesus mengaitkan hukum dengan kasih dimana hukum itu adalah materinya sedangkan kasih itu adalah cara menjalankannya.

Selanjutnya dari hal pertama (karena sebenarnya tidak ada kata hukum di dalam bahasa aslinya) dikaitkan dengan hal yang kedua dimana tak ada perbedaan (juga tidak bisa dipisahkan namun tetap ada urutannya) antara hal yang pertama dengan yang kedua karena keduanya adalah sama-sama satu produk yang dinamakan hukum yang terutama. Hal mengasihi Tuhan itu berkaitan dengan hal mengasihi sesama, juga termasuk mengasihi diri sendiri. Hal mengasihi Tuhan hanya satu unsur dalam kalimat ‘Kasihilah Tuhan Allahmu…’ sedangkan hal mengasihi sesama itu terdapat dua unsur dalam kalimat ‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ yaitu mengasihi sesama dan mengasihi diri sendiri. Dan ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan dalam prinsip kasih. Kita perhatikan hal mengasihi Allah dengan segenap diri dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Mengasihi Allah itu harus teraplikasi dalam seluruh aspek hidup kita dan menjadi refleksi bagi kita apakah apa pun yang kita kerjakan karena kasih kita kepada Allah atau tidak dan mengasihi sesama, yang tentunya berarti kita mengasihi mereka yang sama-sama manusia seperti kita. Itu berarti bukan hanya kepada sesama dalam arti orang-orang yang kita kenal saja. Maka tanggung jawab kita dalam mengasihi sesama itu sangat besar karena sesama kita itu bukan hanya orang-orang yang kita telah kenal melainkan orang-orang yang tidak kita kenal pun itu juga sesama kita dan seberapa besar dan sungguh-sungguhkah kita melayani orang-orang yang telah kita kenal apalagi kepada orang-orang yang tidak kita kenal?

Di dalam membaca Alkitab memang banyak sekali bagian demi bagian yang harus ditaati dan digumulkan namun tetap pada prinsip ketiga hal ini, yaitu hidup yang memuliakan Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri (untuk tujuan mengasihi sesama). Ketika kita mengasihi sesama maka sebetulnya kasih kepada sesama merupakan refleksi dari kasih terhadap diri sendiri. Sehingga kedua hal itu (mengasihi sesama dan mengasihi diri) saling berkaitan dan bersifat organik. Tuhan sudah mengajarkan kepada kita ‘loving management’ yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ketiga hal tersebut itulah yang menjadi urusan sepanjang hidup kita. Dan ketiga hal itu juga merupakan inti dari seluruh Hukum Taurat (baik PL, Kelima Kitab Musa/Pentateukh, maupun seluruh kitab para nabi).

*) Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
RocketTheme Joomla Templates