Ringkasan Khotbah - 14 Jun'09 PDF Print E-mail

Amsal 30:18-19

Ev. Gito T. Wicaksono

Kitab Amsal seringkali berbicara hal-hal yang biasa, dibandingkan dengan tulisan-tulisan surat Paulus seperti Surat Roma yang berbicara hal doktrinal. Sedangkan kitab-kitab hikmat itu lebih ke arah yang menyenangkan untuk dipelajari termasuk seperti Kitab Ayub dimana Kitab Ayub dapat disimpulkan bahwa kitab tersebut menyatakan kebahagian itu adalah memaknai duka. Kebahagiaan karena hal-hal berupa materi itu hanyalah kebahagiaan yang dangkal sifatnya, tetapi ketika kita mengalami duka lalu bisa memaknainya dan berbahagia maka itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Bahagia menurut Amsal 3 itu adalah ‘jalan terus’ artinya bahwa dalam kondisi apa pun tetaplah berjalan terus (the show must go on). Kebahagiaan itu tidak berhenti pada satu kondisi seperti contohnya mengalami kondisi sehat terus-menerus dan tidak pernah sakit, justru bukan yang seperti itu yang dimaksud dengan bahagia. Sebab kebahagiaan kadang berada di tengah-tengah kesedihan ketika kita dapat memaknainya dengan apa yang Tuhan kehendaki melalui firman-Nya.

Di dalam Amsal ini mengajak kita untuk melihat hal-hal yang terlihat biasa namun kita bersyukur untuk hal-hal itu. Hal-hal yang terlihat kecil pun seharusnya membuat kita bahagia dan bersyukur. Kita mempelajari beberapa pengertian dari amsal ini namun tidak semua ayat dalam Amsal 30 ini akan dibahas.

Pertama, kita perhatikan ayat 18-19. Agur disini memperhatikan jalan rajawali di udara. Rajawali merupakan binatang yang dapat terbang tinggi dengan stabil tanpa harus mengepakkan sayapnya berkali-kali seperti burung lainnya. Rajawali terbang di udara dimana di udara itu tidak ada jalur atau rute seperti jalur lalu-lintas di bumi dan hal tersebut mengagumkan bagi Agur. Bagi kita hal itu adalah biasa namun ternyata itu mengagumkan bahwa rajawali itu terbang ke suatu tempat lalu ke tempat lainnya tanpa tersesat dan bertabrakan di tengah wilayah udara yang sangat luas dimana tidak adanya ‘rambu-rambu lalu lintas’ di udara seperti di bumi. Binatang kedua yang diperhatikan oleh Agur adalah ular yang berjalan di atas cadas. Cadas itu adalah batu yang keras dan tajam. Tetapi ular yang berjalan diatasnya tidak pernah terluka dan juga tidak pernah tersesat sehingga dia bisa kembali ke sarangnya. Lalu selanjutnya, jalan kapal di tengah-tengah laut. Kapal yang berjalan di tengah lautan pun tak ada rute, yang ada hanyalah kompas sebagai pedoman dalam menempuh perjalanan. Hal ini pun mengagumkan bagi Agur pada waktu itu. Dan yang terakhir adalah jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis. Bila memperhatikan kalimat ini dalam bahasa Indonesia saja itu hanya terlihat biasa saja tetapi akan berbeda bila kita memperhatikan bahasa aslinya, Ibrani. Dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan untuk laki-laki adalah ‘gibor’ yang artinya adalah pahlawan/orang kuat. Seorang laki-laki itu adalah seorang ‘warrior’ (pahlawan perang) yang gagah berani, tetapi di hadapan seorang gadis, laki-laki itu bisa terlihat malu-malu. Hal seperti itulah yang diperhatikan oleh Agur. Agur mengajak kita untuk melihat hal-hal yang sederhana dan mengaguminya. Dan dari hal yang sederhana itu terdapat hikmat Allah dan dari hal yang kecil sekali pun, harusnya kita tetap bisa bersyukur. Kita terbiasa bersyukur karena hal-hal yang besar di dalam kehidupan.

Selanjutnya kita memperhatikan ayat 24-28. Agur menyebutkan ada empat binatang yang terkecil tetapi yang sangat cekatan. Dalam bahasa aslinya, kata ‘sangat cekatan’ itu menunjuk pada pengertian ‘double wisdom’, sedangkan dalam terjemahan NIV disebutkan ‘extremely wise’. Binatang yang pertama adalah semut. Semut adalah bangsa binatang yang tidak kuat (karena masih mempunyai senjata apalagi pada semut api) dan tidak mempunyai pemimpin tetapi mempunyai manajemen yang sangat baik dan rajin serta selalu mengumpulkan makanan pada waktunya sehingga tidak pernah kehabisan makanan. Di bagian lain dari Kitab Amsal ini justru menegur orang yang malas untuk belajar pada semut. Selanjutnya binatang yang kedua ialah pelanduk. Pelanduk itu sejenis marmut atau kelinci gunung yang ukurannya kecil sekali. Pelanduk disebut binatang yang lemah karena tidak mempunyai senjata tetapi rumahnya di bukit batu yang tempatnya tinggi. Pelanduk yang lemah tetapi mempunyai kekuatan besar untuk mencapai rumahnya di tempat yang tinggi. Binatang berikutnya adalah belalang. Belalang tidak mempunyai raja tetapi belalang itu mempunyai keteraturan dan kecepatan justru tanpa adanya pengaturan. Terakhir adalah cicak, binatang yang tidak asing lagi bagi kita semua. Cicak juga tidak mempunyai senjata dan binatang yang mudah ditangkap dengan tangan tetapi cicak itu bisa berada di mana saja, tulus, sampai bisa masuk ke istana raja. Agur mengajak kita untuk juga belajar dari keempat binatang yang terkecil yang dipandang sederhana, tidak diperhatikan, dan tidak ada artinya.

Setelah berbicara mengenai binatang-binatang terkecil, kini berbicara mengenai tiga binatang yang gagah jalannya bahkan di bagian ini juga dikatakan bahwa ada 4 hal yang gagah jalannya. Binatang pertama ialah singa. Singa yang terkuat di antara binatang dan tak pernah mundur terhadap apa pun. Itulah kehebatan singa tersebut. Binatang kedua adalah ayam jantan yang angkuh dengan cakarnya. Dan yang ketiga adalah kambing jantan dengan tanduknya untuk memamerkan kekuatannya. Lalu selanjutnya dibandingkan dengan raja yang berjalan di depan rakyatnya. Raja yang berjalan dengan gagahnya di depan semua rakyatnya. Seperti halnya seorang raja Perancis, Raja Louis XIV, yang sangat terkenal dan berkuasa kemudian mengatakan bahwa dirinya itu adalah sinar bagi dunia. Sewaktu raja Perancis tersebut dimakamkan, dia meminta semua penerangan dimatikan dan hanya ada satu lilin di dekat jenazah raja itu dimana hal ini hendak menyatakan bahwa diri raja itu adalah terang dunia, tetapi sang pastor meniup mati lilin tersebut sambil berkata, ‘Hanya Tuhan yang besar’. Sebenarnya pada bagian ini merupakan kritikan pedas dari Agur karena setelah berbicara tentang binatang-binatang lalu dibandingkan dengan raja yang adalah seorang manusia. Setujukah kita jikalau kita dikatakan tidak lebih berhikmat daripada semut? Seringkali yang ditujukan kepada manusia, kalau digambarkan, adalah seperti ayam jantan yang angkuh, singa, atau kambing gunung. Dan ternyata secara mengejutkan Agur membandingkan binatang-binatang seperti itu dengan raja. Maksudnya dari itu ialah seorang pemimpin yang mempunyai kuasa itu mirip seperti binatang. Mungkin kita mempunyai harta, kuasa, atau kedudukan namun hal itu sedang menunjukkan bahwa kekuasaan itu berlaku di dunia binatang. Agur hendak menegur bahwa kuasa, kekuatan, dan kehebatan kita itu tidak lebih daripada binatang maka janganlah kita menjadi sombong karena kita itu lemah dan ‘nothing’. Maka dari itu ayat 32 menjelaskan kepada kita apa yang harus dilakukan saat kesombongan diri itu hendak muncul baik tanpa atau dengan berpikir. Tutup mulut, diamlah dan jangan bicara lagi! Ini adalah teguran yang keras. Dilanjutkan dengan kalimat di ayat 33, sebab masih baik jika susu ditekan karena menghasilkan mentega tetapi hidung yang ditekan akan menghasilkan darah dan kemarahan yang ditekan akan menghasilkan pertengkaran. Sedangkan kesombongan yang keluar maka sebenarnya kita sedang mengerjakan sesuatu yang lebih parah daripada hidung yang ditekan, lebih parah daripada kemarahan yang ditekan, yaitu kita melakukan sesuatu yang menentang otoritas Allah. Agur menutup bagian ini dengan kalimat, ‘jangan menyombongkan diri’ karena kalimat-kalimat Agur yang dituliskan lebih dulu di ayat 1-5 (Ams 30:1-5) dimana Agur mengajak kita berpikir tentang hal yang kecil dan sederhana, lalu membawa kita kepada Allah dan kalimat-kalimat Agur ini diawali dengan pemahamannya akan Allah. Kitab Amsal tidak membuat kita ‘anthropocentris’ dengan hanya melihat hal-hal yang sederhana dan untuk dunia ini saja karena hal seperti itu adalah hikmat dunia. Tetapi Agur membawa kita melihat hal-hal yang sederhana untuk kembali kepada Allah. Hal itu terlihat jelas pada ayat 1-3. Maka kita perlu mengingat apa yang telah tertulis pada ayat 1-3 bahwa kita ini bodoh, bahkan lebih bodoh dari manusia lain, jika kita mencari hikmat tetapi tidak menemukan Allah. Hikmat tersebut bukanlah hikmat. Seharusnya hikmat itu membawa kita kepada Allah.

*)Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

 
RocketTheme Joomla Templates