Ringkasan Khotbah - 31 Januari 2016 PDF Print E-mail

Penganiayaan Gereja Tuhan

1Ptr. 4:12-13

Ev. Calvin Renata

Setelah panjang lebar di pasal ke-2 berbicara tentang bagaimana orang percaya hidup di dunia, pada bagian ini Petrus khusus berbicara tentang penderitaan mereka. Ini bukan sembarang penderitaan, misalnya karena sakit, perang, bisnis yang rugi, dan lain-lain tetapi penderitaan khusus berkaitan dengan iman kepada Kristus. Petrus berbicara mengenai hal ini di dalam kitabnya karena diajarkan Tuhan Yesus hal ini. 

Di dalam ayat 12 ia membuka dengan kalimat, "Jangan kamu heran akan nyala api siksaan." Kata heran di sini dalam ESV adalah surprised, terkejut atau kaget. Dalam Mat.10:22 Yesus berkata, “Kamu akan dibenci oleh semua orang demi nama-Ku.” Dalam Mat.24, khotbah Tuhan Yesus tentang akhir zaman yang paling panjang dalam PB, juga menyinggung tentang penganiayaan. Ini adalah fakta yang terus diingatkan bahwa menjadi murid Yesus konsekeensinya tidak lepas dari penganiayaan. Sehebat apakah penderitaan yang akan dialami oleh gereja, anak-anak Tuhan? 

LAI menggunakan kata "nyala api siksaan," apakah penderitaan dan penganiayaan selalu berkaitan dengan api? Tidak. Petrus memilih kata api untuk mewakili sesuatu yang merusak, menghanguskan, sekaligus yang memurnikan. Itulah sebabnya kata bahasa Yunani yang dipakai adalah purosis, artinya terbakar. Apa yang terbakar? Hidup orang percaya. Kata ini juga dipakai dalam Why.18:18, yang di akhir zaman menunjukkan kehancuran Babel. Babel, istilah lain untuk Babilonia, dalam kitab Wahyu selalu dikaitkan dengan Roma. Begitu hebatnya penganiayaan yang akan terjadi nanti, ayat 18, Petrus mengatakan bahwa orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan. Jadi mengacu kepada frase api siksaan berarti penganiayaan dan penderitaan yang akan terjadi dahsyatnya luar biasa. Apakah pada waktu Petrus menuliskan bagian ini, peristiwa penganiayaan sudah terjadi? Apakah ia sedang bernubuat akan masa yang akan datang ataukah karena peristiwa itu sedang terjadi di jemaat yang membaca surat Petrus? Kedua-duanya mungkin.

Anthony Hoekema dalam buku Bible and The Future, satu buku yang berbicara tentang eskatologi, memberikan 3 kategori tanda akhir zaman. Pertama, tanda yang berkaitan dengan anugrah Tuhan, yaitu pemberitaan Injil. Injil akan diberitakan secara luar biasa kepada segala bangsa baru tiba kesudahannya, sebelum Yesus datang KKR sudah harus terjadi di mana-mana, injil disebarkan untuk menemukan umat pilihan Tuhan sampai genap baru Tuhan datang. Ini adalah tanda yang bernada positif.

Tanda kedua bersifat sangat negatif. Ia berlawanan dengan Allah, di sini kategorinya adalah penganiayaan, kemurtadan, munculnya anti Kristus, dsb. Tanda ketiga disebut sebagai penghukuman Allah kepada dunia, perang, gempa bumi, penyakit dsb. Memang semua tanda ini sudah terjadi dari dulu, tetapi akan semakin hebat, dan memuncak menjelang kedatangan Tuhan kedua kali. Tuhan Yesus dalam Mat.24 berbicara khusus tentang akhir zaman dan siksaan yang hebat. Memang menjadi murid Kristus tidak dapat dilepaskan dari resiko penderitaan demi nama Tuhan. 

Dalam menafsirkan eskatologi banyak penafsiran berbeda, salah satunya adalah kaum dispensasionalis, yang banyak dianut oleh gereja pantekosta dan karismatik. Mereka mengatakan orang percaya tidak akan mengalami penganiayaan karena mereka akan diangkat ke langit oleh Tuhan selama 7 tahun lamanya untuk pesta Anak Domba. Lalu di dunia terjadi kekacauan, penganiayaan, dan masa sengsara yang hebat. Benarkah demikian? Alkitab mengatakan sebaliknya. Penganiayaan ditujukan untuk semua orang percaya, Gereja Tuhan di muka bumi. Teologia Reformed kembali menafsirkan seluruh PB. Kita tidak percaya adanya rapture, karena dalam Mat.24, Tuhan Yesus mengingatkan ada satu masa sengsara besar yang belum pernah terjadi dan tidak akan terulang kembali dan orang percaya akan melewati kesulitan yang begitu hebat. Bukan orang dunia yang akan sengsara tetapi orang dunia yang akan membuat orang percaya sengsara hebat.

Petrus berbicara tentang prinsip konsekuensi, tidak usah heran, terkejut, atau kaget ketika ada kesulitan dalam hidup kita. Itu sesuatu yang wajar. Selama Petrus hidup ia menjadi saksi mata bagaimana Gereja Tuhan mengalami penganiayaan. Tuhan kita bukan Tuhan yang ngawur saat menciptakan alam semesta. Dia memiliki tujuan. Ketika Tuhan mengijinkan sesuatu yang tidak enak terjadi juga ada tujuannya. Gereja Tuhan dianiaya adalah untuk diuji. Tuhan Yesus pun ketika datang ke dunia juga harus diuji oleh Bapa-Nya di padang gurun. Ketika orang Kristen dalam keadaan lancar, kita tidak bisa membedakan mana yang gandum dan ilalang, mana kambing mana domba, yang bisa membedakan adalah penganiayaan dan penderitaan, sehingga kita bisa melihat umat pilihan Tuhan yang sejati. Di dalam kesulitan kita akan menemukan teman yang sejati. Sama seperti iman kita, Tuhan mengijinkan Gereja-Nya diuji untuk membedakan mereka. Api memisahkan emas yang palsu dan yang murni. Iman kita bisa lemah dan sakit, lalu bagaimana iman kita bisa kuat dan sehat? Melalui diuji dengan api. Gereja berada dalam suatu keadaan yang aneh, dalam kondisi tenang dan lancar gereja justru hancur dan mati. Gereja di Amerika hancur karena terlalu nyaman dan tidak ada penganiayaan, tetapi gereja di tempat yang sulit justru memiliki iman yang kuat. Pada waktu gereja pertama kali berdiri di abad mula-mula, penuh dengan penderitaan tetapi justru di masa itu menghasilkan martir yang luar biasa. Tetapi setelah kaisar Konstantin menjadikan Kristen agama resmi Roma dan tidak ada lagi penganiayaan itulah titik kehancuran kekristenan dalam sejarah. 

Dalam ayat 13, Petrus mengatakan, “bersukacitalah kalau kamu dapat mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus.” Kalau kita boleh menderita bagi Kristus, kita harus bersukacita. Ini mengingatkan kita akan perkataan Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit, “Berbahagialah kamu jika kamu dianiaya karena kebenaran.” Definisi kebahagiaan dalam Alkitab berbeda sekali dengan definisi kebahagiaan oleh Plato, Aristoteles atau para filsuf lainnya. Definisi kebahagiaan dalam agama lain selalu konotasinya tenang, aman, well being, semuanya lancar dan kita mendapat sesuatu yang kita senangi. Alkitab mengatakan yang berbahagia adalah yang dianiaya karena kebenaran.

Siapakah orang yang bersukacita? Yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kata bagian di sini menggunakan kata koinonia yaitu persekutuan. Berbahagialah jika kita dipersekutukan dalam penderitaan Kristus. Ketika Paulus menuliskan pengertian union with Christ, yaitu dipersatukan dengan Kristus, dipersatukan di dalam kebangkitan-Nya, termasuk di dalam penderitaanNya. Ini adalah 1 paket, unifikasi antara orang percaya dan Kristus. Yesus berkata, siapa yang mau mengikut Dia harus mau memikul salib-Nya. Untuk apa kita menderita demi Tuhan? Ini seringkali ditanyakan oleh orang yang belum memahami untuk apa dia menjadi murid Kristus. Banyak Hamba Tuhan sekarang tidak mau berbicara mengenai penderitaan bagi Kristus. Apa faedahnya kita menderita bagi nama Kristus? Di dalam sejarah gereja banyak kaum martir yang mati bagi Kristus, dan kematian mereka memuliakan nama Tuhan dan memperluas pekerjaan Tuhan di muka bumi. Setiap kali ada penganiayaan pasti pekerjaan Tuhan akan bertumbuh di tempat itu. Bapa gereja Tertulian mengatakan "The blood of martyr is the seeds of the church," darah kaum martir adalah benih dari gereja di muka bumi. Tuhan Yesus mendirikan gereja-Nya dengan meneteskan darah dan diteruskan oleh kaum martir. Seorang penulis bernama John Fox, pernah menulis The Books of Martyrs. Isinya sejak gereja mula-mula hingga abad pertengahan ribuan orang merelakan hidupnya demi nama Kristus dan iman mereka. Dia mengatakan ada 3 media penganiayaan bagi umat Tuhan. Pertama, negara atau penguasa, yaitu kaisar-kaisar Roma. Di dalam sepanjang sejarah banyak penguasa dunia yang menjadi musuh gereja karena mereka menimbulkan banyak penderitaan bagi umat Tuhan. Kedua, yang menjadi penganiaya terbesar bagi umat Tuhan adalah agama. Sepanjang sejarah kekristenan, gereja Tuhan banyak mengalami penderitaan karena permusuhan agama. Tetapi yang paling mengejutkan, John Fox juga mengatakan, sumber penganiayaan di dalam gereja juga adalah gereja itu sendiri. Bagaimana bisa? Setelah Martin Luther melakukan reformasi, muncul 1 gerakan baru yaitu Prostetanisme yang minoritas dan tidak memiliki apa-apa dianiaya oleh gereja yang sudah mapan. 

Penderitaan adalah bagian dari murid Kristus, lalu apakah yang Kristus berikan pada kita? Petrus dalam ayat 13 mengatakan, bukan saja kita disuruh bersukacita, tetapi kita juga diingatkan supaya bergembira pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Petrus berbicara tentang upah. Dalam Kristus tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Itulah sebabnya orang-orang di sepanjang zaman mau mati demi nama Tuhan. Gereja Tuhan mau menderita demi Tuhan, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya. Jika Tuhan suatu saat memberikan kesempatan pada kita untuk mengalami apa yang Petrus tuliskan dalam bagian ini, Tuhan juga akan memberikan anugrah khusus kepada kita, pengujian, penderitaan dan penganiayaan adalah bagian resiko mengikut Kristus. (MD).

 
RocketTheme Joomla Templates