Ringkasan Khotbah - 24 Januari 2016 PDF Print E-mail

Belajar menjadi Murid yang Percaya

Markus 4:35-41

Vic. Bakti Anugrah, M.Th

Penerima Injil Markus adalah jemaat yang sedang dilanda penganiayaan dan sebentar lagi bait Allah akan dihancurkan oleh jendral Titus pada tahun 70 M. Perikop ini sangat relevan di sepanjang zaman karena umat Tuhan tidak akan pernah lepas dari pergumulan, penderitaan, kesulitan, dan penganiayaan. Salah satu penekanan injil Markus adalah pemuridan. Mulai dari kisah murid-murid pertama dipanggil, dipilih, diajar, dan diutus untuk mengabarkan injil. Juga bagaimana mata rohani dari para murid yang buta akan kesengsaraan Tuhan Yesus. Tidak mungkin menjadi murid Tuhan, tetapi tidak mengalami penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan. 

Pada perikop ini Markus menguraikan ke-Tuhan-an Yesus Kristus. Di sini Yesus menyatakan bahwa Diri-Nya adalah Tuhan atas alam. Setelah itu diikuti dengan uraian tentang pemuridan. Ini adalah titik penting dari injil Markus yaitu Kristologi dengan pemuridan. Kristologi berbicara tentang siapakah Kristus dan pemuridan berbicara tentang bagaimana kita, umat percaya, mengikuti Dia.

Para murid sedang menempuh perjalanan untuk menyeberangi danau menggunakan perahu di tengah-tengah badai, sebaliknya Yesus sedang tertidur. Ini dapat dilihat sebagai simbol gereja/jemaat Tuhan yang berada di tengah-tengah dunia menghadapi banyak pergumulan dan tantangan, tetapi Tuhan menyertai mereka.

Pada pasal-pasal sebelumnya, Markus mencatat bahwa Yesus telah melihat langit yang terbuka dan Roh Kudus turun ke atas-Nya. Yesus Kristus berespon pada pimpinan Roh Kudus. Dia menerima dari pelayanan malaikat. Yesus bahkan mendapatkan kesaksian dari iblis yang Yesus usir dari seorang yang kerasukan bahwa Dia adalah Anak Allah.

Yesus telah menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan mengampuni dosa. Bagian ini memulai hal baru dengan menyatakan bahwa Yesus berkuasa atas alam. Di dalam PL, Yahweh adalah penguasa atas alam dan atas gejala-gejala alam. Ia memberikan 10 tulah kepada bangsa Mesir, membelah Laut Merah sehingga bangsa Israel bisa menyeberanginya, menghentikan aliran sungai Yordan supaya Yosua dan bangsa Israel dapat menyeberang, dan mujizat-mujizat lainnya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan di dalam PL adalah Tuhan yang berkuasa atas alam.

Kisah ini dimulai dengan Yesus Kristus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya untuk bertolak ke seberang (Mrk 4:35). Pembatas wilayah antara orang Yahudi dan non-Yahudi adalah danau Genesaret/ Galilea dan sungai Yordan lalu turun ke selatan sampai ke laut Mati. Dengan demikian ketika mereka menyeberangi danau Genesaret, mereka memasuki daerah orang kafir. Injil Markus ingin menyatakan bahwa kerajaan Allah itu juga mencakup wilayah-wilayah kafir. Mereka yang tadinya bukan orang Yahudi/umat Tuhan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya. Pagar pembatas yang ada di dalam pemikiran orang Yahudi dihancurkan.

Saat mereka menyeberang ternyata ada perahu-perahu yang lain mengikuti mereka. Ada penafsir yang mengatakan bahwa Tuhan sengaja memberikan para saksi atas peristiwa supaya orang tahu bahwa ini betul-betul peristiwa sejarah. Ini bukan kisah yang dibuat-buat tetapi betul-betul terjadi. Mereka di perahu lain juga akan mengalami sendiri kuasa Tuhan dan menyaksikan sendiri bahwa Yesus menghentikan badai.

Di dalam bahasa aslinya ada kata ‘besar’ yang diulangi 3 kali di dalam ay.37 (angin yang besar), 39 (ketenangan yang besar), dan 41 (ketakutan yang besar). Kata ‘besar’ yang pertama adalah angin yang besar. Angin yang besar adalah gambaran/simbol penganiayaan dan kematian bagi pembaca Injil Markus. Di jaman itu, laut/danau adalah gambaran dari kekacauan, kejahatan, dan terror.

Ketika angin besar terjadi, Tuhan Yesus sedang tidur. Secara alami Yesus tidur menunjukkan Ia sangat lelah. Namun dari pemahanan yang lain, ini bukan sekedar kelelahan alami/natural, tetapi tentang iman Tuhan yang yang luar biasa tenang di dalam kekacauan sedemikian. Mzm. 44:23-24 dinyanyikan di dalam ibadah. Jadi di dalam liturgi orang Yahudi mereka “membangunkan” Tuhan. Tuhan 8:36). Tuhan Yesus tidur menunjukkan kuasa dan kedaulatan-Nya atas alam semesta. Dengan demikian ini tidak berarti tidak peduli akan nasib jemaat-Nya.

Ketika angin besar terjadi, para murid membangunkan Tuhan Yesus (Mrk. 4:38). Akan tetapi mereka menyebut-Nya sebagai guru dan bukan sebagai Tuhan. Kenapa para murid memanggil Tuhan Yesus? Apakah para murid memanggil Yesus dengan iman supaya Ia menghentikan angin besar itu? Mereka mirip dengan para pelaut kafir yang membangunkan Yunus yang sedang tertidur. Mereka jengkel karena di tengah perjuangan mereka supaya kapal tidak tenggelam Yunus malah tidur. Maka ada pemikiran yang sama ketika para murid membangunkan Tuhan Yesus. Ini bukan panggilan iman, tetapi panggilan keputusasaan. Perasaan bahwa Tuhan tidak solider ("Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?"). Tuhan Yesus tidur bukan berarti Dia tidak peduli, tetapi menunjukkan bahwa Dia berkuasa dan berdaulat atas alam semesta.

Lalu Tuhan Yesus bangun (Mrk. 4:39). Ia menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Kata-kata yang persis sama ‘menghardik’ dan ‘diam’ muncul juga di Markus 1:25 yang digunakan Tuhan Yesus untuk menghardik setan. Ini menunjukkan bahwa ada kuasa berpribadi di balik badai yang besar itu. Kenapa? Karena Tuhan Yesus sedang menyeberang untuk memberitakan injil kepada bangsa-bangsa lain dan setan tidak ingin hal itu terjadi. Maka Tuhan Yesus menghardik setan yang menghalangi pekerjaan Tuhan melalui badai besar yang digunakan oleh setan. Gereja Tuhan menghadapi kuasa setan yang ingin selalu menggagalkan pekerjaan Tuhan.

Namun ayat 39 bagian akhir mengatakan bahwa angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Ini adalah bagian kedua dari kata ‘besar’ yaitu ketenangan yang besar. Ketenangan yang besar terjadi setelah Tuhan Yesus redakan angin dan badai. Peristiwa ini mirip dengan Zakharia 2:10-3:2, Tuhan yang menghardik setan adalah Tuhan yang sama yang tinggal bersama-sama dengan umat-Nya sehingga mereka memiliki ketenangan yang besar. Sebelum Tuhan melepaskan kita dari kuasa dosa, kita tidak akan mungkin dapat memiliki ketenangan yang sesungguhnya.

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Mrk 4:40). Kata ‘takut’ dilawankan dengan iman/percaya. Arti kata ‘takut’ di dalam bahasa aslinya di dalam konteks ini adalah seorang pengecut yang menghadapi badai/kesulitan. Perintah yang sangat pendek dan sering diulang di seluruh Alkitab adalah, “Jangan takut!” Ini adalah perintah yang pendek, tetapi justru perintah inilah yang sering kita langgar ketika menghadapi badai dan hal-hal yang menakutkan. Maka alternatifnya adalah iman. Dalam hal ini, iman ada 2, yaitu (a) iman seperti Yesus Kristus. Yesus di tengah badai tenang karena Ia percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Ketenangan dari Tuhan Yesus Kristus adalah ketenangan akan pemeliharaan Tuhan. Inilah iman yang pertama yaitu iman yang meneladani Tuhan. (b) Iman kepada Yesus Kristus sendiri. Kristus bukan hanya menjadi teladan iman tetapi juga Dia adalah objek dari iman kita. Kita beriman kepada Dia yang berkuasa atas segala sesuatu.

Kata ‘besar’ yang ketiga adalah ketakutan yang besar (Mrk 4:41). Ayat 41 adalah respon mereka terhadap apa yang mereka telah lihat. Mereka melihat bahwa apa yang dilakukan Yesus Kristus adalah sesuatu yang tidak mungkin yang bisa dilakukan oleh manusia, tetapi yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Sekarang mereka memiliki respon yang seharusnya. Ada penafsir yang lain mengatakan bahwa ketakutan ini bukan sesuatu ketakutan yang benar. Kenapa? Karena para murid hanya menginginkan Yesus yang bersahabat, manusiawi, dan umum dikenal. Mereka tidak ingin Yesus yang supranatural (Mrk. 9:6; 16:8). Yohanes, murid Tuhan Yesus yang paling dekat dengannya secara manusiawi pun menjadi ketakutan setengah mati saat Ia menyatakan diri di dalam kemuliaan-Nya yang paling penuh (Why.1:12-17).

Mereka takut ketika menghadapi badai, namun ketakutan ini tidak bisa mengalahkan ketakutan ketika mereka harus menyadari bahwa Kristus adalah Tuhan. "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" Ini adalah alasan ketakutan mereka.
Ada beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita: kita tidak tahu kesulitan, badai dan pergumulan apa yang akan terjadi di dalam hidup kita ke depan. Tapi, kita boleh belajar beriman kepada Tuhan dan rencana-Nya, meskipun tidak terpahami bagi kita. Tuhan tetap yang memimpin hidup kita apa pun yang terjadi. (JWL)

 
RocketTheme Joomla Templates