Ringkasan Khotbah - 3 Januari 2016 PDF Print E-mail

Peran Gereja dalam Dunia

Yoh 8:21-29, 30-32

Vik. Daniel Santoso

Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan setiap aktivis? Dalam bacaan kita, Yesus mengatakan jika orang sedang mencari kebenaran, dia tidak boleh tidak, harus menyadari menerima Dia, yang menjadi kebenaran dan kemerdekaan itu. Dialah satu-satunya yang dapat membawa kita kembali kepada Bapa. Tanpa Kristus tidak mungkin kita menemukan kebenaran atau kemerdekaan. Saat Yesus menyatakan "Akulah Dia," Ia menuntut kesetiaan agar gereja, setiap orang yang mendengar Injil Tuhan, memiliki keyakinan bahwa kebenaran harus ditegakkan. 

Bagaimana gereja seharusnya menyatakan dignitas, kesaksian, dan relevansi dalam dunia ini? Gereja adalah manifestasi kerajaan Allah yang digagas oleh Allah sendiri di tengah dunia. Gereja dipanggil untuk memproklamirkan bahwa apa yang seharusnya milik Allah harus Ia klaim kembali. Gereja memiliki panggilan yang luar biasa sakral dan agung karena ia mewakili Tuhan untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Allah. Ironisnya, tidak sedikit gereja di dunia ini menghancurkan tugas sakral Allah. Kenapa? Karena banyak yang sudah berkompromi dengan dunia. Akibatnya apa yang seharusnya milik Allah akhirnya jatuh dan bercampur aduk dengan dunia. Inilah yang membuat dignitas, kesaksian, dan relevansi gereja sudah tidak lagi murni mewakili kerajaan Allah.

Saya senantiasa berusaha menyadarkan jemaat yang saya layani bahwa gereja tidak boleh sembarangan. Kita tidak boleh melayani dengan sembarangan dan kendor. Kita harus melayani dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Kenapa? Karena gereja tidak boleh tidak ada di dunia ini. Di dalam kedaulatan Tuhan, Ia mengirim kita melayani dan berjuang di sini. Gereja Reformed tunduk kepada Alkitab dan tunduk kepada panggilan Allah. Kita harus belajar mengagungkan prinsip firman Tuhan. Apa prinsip yang bisa kita pelajari dari Alkitab sebagai orang yang melayani Tuhan? Bagaimana kita mengadopsi setiap semangat yang ada dalam kitab suci?

Yesus mengatakan “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku” (Yoh 8:31)

Pertama, pelayan Tuhan harus memiliki sifat teosentris, yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya. Gereja harus berpusat pada Tuhan, gereja harus kembali kepada ketetapan dan kedaulatan Tuhan. Tidak ada korting atau diskon, semua anggota gereja harus kembali kepada kedaulatan Tuhan. Jika setiap orang berpusat pada Tuhan, tidak mungkin mereka main-main dalam melayani Tuhan, dalam berkhotbah, dan sebagainya karena mereka tahu hidupnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Orang yang teosentris adalah mereka yang pasti mendengarkan, belajar mentaati dan mengerjakan Firman Tuhan. Apakah kita seperti itu? Mau mendengar, taat dan mengerjakan Firman Tuhan. Banyak gereja tidak mau kembali pada sikap teosentris yang benar. Mereka menganggap gereja, doktrin, dan pelayanan mereka sudah teosentris tetapi kenyataannya mereka sudah bercampur dengan dunia. Banyak gereja sudah jatuh ke dalam kekafiran. Banyak orang yang Kristen dangkal pengertian firmannya bukan karena mereka tidak punya kesempatan belajar teologi, tetapi karena mereka tidak mau belajar teologi, maunya berkat Tuhan.

Reformed Theology diberikan terus supaya memberikan pengertian yang bukan hanya pengetahuan belaka tetapi pengetahuan yang hidup di mana kita bisa melihat bahwa Tuhan itu baik, penuh kasih, dan hidup di dalam diri kita masing-masing. Agar kita bisa melihat kelimpahan di dalam diri Tuhan kita harus belajar bersikap teosentris. Sikap ini menuntut kita mengikuti, mentaati, dan mengerjakan segala hal yang Tuhan tetapkan dan firmankan. Ini seperti misalnya seorang yang ingin menjadi konduktor yang baik dan hebat harus mengerti musik dan setiap nada secara akurat. Konduktor menuntut setiap pemusik untuk bermain secara sempurna, tetapi sebelum itu dia harus menuntut dirinya untuk mengerti setiap bagian dalam partitur dengan tepat. Banyak gereja sudah tidak lagi akurat. Banyak orang belajar firman Tuhan, tapi mereka tidak mau belajar kenapa firman Tuhan seperti itu. Gereja seharusnya kembali kepada firman, tetap kepada firman, tetapi kita juga harus belajar mengapa firman diberikan. Pasti ada rencana Tuhan yang mau diajarkan ke kita. Namun kita harus belajar bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan.

Modal kita cuma Tuhan. Banyak orang Reformed palsu, licik, dan penuh dengan dosa. Di China ada seorang teolog Reformed, Liu Xiao Feng, dan dia adalah seorang teolog yang dihormati luar biasa, doktrinnya Reformed, ia seorang Calvinist, tetapi dia mengatakan menjadi teolog Reformed adalah profesinya, sedangkan menjadi seorang komunis adalah dedikasinya. Kedua hal ini bertolak belakang, sehingga teolog ini sudah bercampur dengan dunia. Kita harus berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya gereja Reformed menjadi gereja yang semakin teosentris. Kita tidak melihat kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang memanggil gereja-Nya. 

Kedua, kita harus belajar hidup mengutamakan dan memprioritaskan Tuhan. Tuhan berada di posisi yang tepat yaitu God first, orang lain kedua, dan saya ketiga. Hidup yang mengutamakan Tuhan berpikir bagaimana pelayanan kita dapat memuliakan Tuhan. Dunia hari ini meracuni setiap generasi dengan agresif dengan mengatakan bahwa kita dapat merubah dunia, melakukan perubahan dan membuat orang merasa dirinya dapat menentukan segala sesuatu, dan tidak lagi mengutamakan Tuhan. Yang diutamakan adalah diri sendiri. Gereja sudah berubah, di dalam era postmodern, teologi kemakmuran justru merajalela. Prosperity Theology menggunakan ayat Alkitab untuk mengatakan anugerah kekayaan adalah kehendak Tuhan, ini adalah teologi palsu. Reformed theology harus menjadi berkat dan sukacita kita, semakin memelajarinya kita semakin sadar bahwa Tuhanlah yang utama dan saat kita menderita bagi Tuhan, itu adalah sebuah anugerah bagi saya. 

Ketiga, gereja dan pelayan Tuhan yang benar kembali kepada Kristus, karena Dialah satu-satunya yang membuat kita tahu bahwa teologi bisa diaplikasikan dan dikerjakan. Kristus harus menjadi pusat dari apa yang kita lakukan. Dunia mengajarkan bahwa hidup itu ditentukan oleh pikiran, pikiran kita mau diisi oleh apa? Kita sebagai orang Kristen bagaimana? Pikiran kita bagaimana? Memang ada kedaulatan Tuhan, tetapi pikiran kita harus mentaati semua yang difirmankan Tuhan. Kita adalah orang berdosa. Jika kita tidak membaca firman maka hidup kita pasti tidak beres. Banyak motivator di zaman ini yang hanya peduli pada psikis kita, tetapi tidak pada kerohanian kita, tetapi Tuhan peduli kepada kerohanian kita. Dia peduli kita kembali ke dalam hadirat-Nya. Tanpa Kristus tidak ada orang yang bisa membawa kita kembali kepada Bapa. Urusan rohani adalah urusan pertama, jika rohani tidak beres jangan anggap hidup bisa menjadi beres. Banyak dari kita menganggap firman tidak penting. Jika orang Kristen sendiri tidak mengerti Injil, bagaimana kita bisa mengerti kelimpahan-Nya?

Keempat, gereja yang mau kembali kepada kebenaran harus kembali kepada kerohanian yang utama. Gereja harus mengutamakan dan mendidik kerohanian yang sejati. Gereja harus menjalankan mandat yang Tuhan berikan, bukan hanya mandat injil, tetapi juga budaya. Menjalankan mandat injil dan budaya butuh kerohanian yang sejati. Jangan sampai gereja menjadi menara gading, jika begitu kita akan mati. Kita melihat gereja bukan hanya sekedar mengabarkan injil dan dibaptis tetapi juga mengajarkan perintah Tuhan yang harus ditaati tanpa kompromi. Gereja harus tetap memberitakan perintah Tuhan meskipun perintah itu kaku, dan itu akan memerdekakan kita. Bagaimana kita melayani dan mengabarkan injil saat ini? (Transkrip ini belum diperiksa oleh pengkhotbah, MD)

 
RocketTheme Joomla Templates