Ringkasan Khotbah - 22 November 2015 PDF Print E-mail

Eksposisi 1 Petrus: Hidup Orang Kristen

1 Ptr. 4:7-11

Vic. Calvin Renata, M.Div

Jika kita merunut kembali ke khotbah sebelumnya, Petrus banyak memberikan nasihat antara suami istri, anak dan orang tua, serta rakyat dengan pemerintah. Ayat 7-11 adalah bagian keempat yang khusus berbicara mengenai etika komunitas orang percaya. Petrus menjelaskan bagaimana orang percaya harus hidup di dalam komunitas, baik dalam gereja atau parachurch lainnya. Nasihat Petrus ini bersifat praktis di dalam kehidupan sehari-hari, tetapi justru hal seperti ini yang jarang dipraktekkan di dalam gereja dan sudah kita lupakan.

Petrus membuka nasihatnya dengan “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.” Apa yang dimaksud Petrus dengan kalimat ini? Ia seolah berbicara mengenai hal yang negatif. Ada 2 tafsiran, pertama menunjuk kepada kehancuran Yerusalem di tahun 70 Masehi dan hancurnya bait Allah di Yerusalem. Tafsiran kedua menunjuk kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Secara kronologis peristiwa jatuhnya Yerusalem memang lebih dekat dengan waktu di mana Petrus mengatakan kalimat ini, tetapi secara arti, tafsiran kedua lebih tepat. Ada 2 alasan mengapa tafsiran kedua lebih tepat yaitu: hampir semua penulis dalam Perjanjian Baru mengatakan hal yang bernada sama. Misalnya dalam Rm.13:11; Yak 5:8; 1Yoh 2:18. Para rasul mendambakan kedatangan Yesus kedua kalinya pada saat mereka masih hidup. Alasan kedua adalah di bagian surat yang lainnya Petrus berulang kali membahas tentang kedatangan Kristus yang kedua kali.

Tetapi kenapa sejak Petrus mengatakan kalimat ini sampai sekarang Tuhan Yesus tidak datang? Karena waktu dan dan rencana Tuhan Yesus berbeda dengan konsep kita. Di dalam surat 2 Petrus, ia mengutip Mazmur bahwa 1 hari di mata Tuhan adalah 1000 tahun dan 1000 tahun di mata Tuhan tidak sama dengan 1 hari. Petrus sedang membandingkan konsep waktu di mata Tuhan dan manusia.

Segala sesuatu indah pada waktunya. Kalimat ini tidak hanya berlaku bagi pergumulan pribadi kita. Tetapi juga berbicara mengenai kedatangan kedua Yesus.

Petrus mengingatkan kepada pembacanya, sebelum Yesus datang ke dalam dunia, apakah yang harus dilakukan :

Pertama, Kuasailah dirimu dan jadilah tenang. Ini adalah kalimat perintah dari Petrus kepada pembacanya. Apa hubungannya kedua perintah ini dengan kedatangan Tuhan kedua kalinya? Kalimat perintah ini juga dikatakan oleh Paulus. Kedatangan Tuhan bisa menimbulkan 2 reaksi yaitu ketakutan dan terlalu gembira. Reaksi kedua inilah yang dirasakan pembaca surat Petrus. Petrus menasihatkan supaya para pembaca suratnya untuk tetap tenang dan menguasai diri. Orang di Tesalonika mengalami hal yang sama, mereka mengira Tuhan akan datang dan mereka tidak mau bekerja dan menanti Tuhan sehingga Paulus menasihatkan kepada mereka supaya tetap bekerja dan melakukan kegiatan sehari-hari, seperti biasa. Petrus juga menasihatkan kepada mereka untuk berdoa (relasi vertikal). Petrus tidak ingin kedatangan Tuhan mengganggu relasi mereka dengan Tuhan. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, baik senang maupun sedih, jangan sampai keduanya menjadi penganggu di dalam relasi kita dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan bisa diganggu karena hati yang terlalu gembira atau pergumulan yang kita anggap sangat hebat dan meninggalkan Tuhan. Petrus mengingatkan supaya kita menguasai diri, sehingga bisa menjaga relasi dengan Tuhan di dalam doa.

Kedua, “Yang terutama ialah kasihilah sungguh sungguh seorang dengan yang lain” (ayat 8). Perintah ini merupakan perintah dalam relasi horizontal. Kata kasih yang dipakai Petrus dalam ayat ini adalah agapen dari kata dasar agape. Banyak orang salah mengira bahwa kasih agape adalah kasih dari Tuhan untuk manusia, dan philea/storge adalah kasih antara sesama manusia, dan eros adalah kasih antara suami dan istri. Manusia mengklasifikasikan keempat kata ini dalam bentuk hierarki. Penggolongan seperti ini keliru. Di dalam Alkitab, kata agape tidak selalu dipakai untuk menjelaskan kasih Tuhan kepada manusia. Dalam bagian ini Petrus memakai kata agapen. Maka kita harus berhati-hati dalam mengajarkan mengenai 4 pengertian kasih ini.

Kata “sungguh-sungguh” yang dipakai oleh Petrus juga dipakai oleh Lukas (Luk.22:4) ketika menerangkan Yesus berdoa di taman Getsemani. Kata sungguh-sungguh dalam bahasa aslinya adalah ektenes. Mengapa Petrus memakai kata ektenes ini? Petrus bukan hanya menginginkan kita mengasihi saudara seiman kita karena itu kewajiban/tugas tetapi betul-betul dari hati dan membuang tenaga kita demi mengasihi dia (sincere).

Seringkali kita mengasihi orang hanya karena kewajiban, maka kita akan mundur kembali ke hukum Taurat, yang merupakan kewajiban. Kata sungguh-sungguh ini bermaksud untuk menekankan bahwa kasih kepada sesama adalah kasih yang kita lakukan dengan kesadaran kita, dengan sengaja kita mau mengasihi orang lain. Mau membuka hati dan membagi hidup dengan sesama saudara seiman. Orang di luar kekristenan bisa melakukan kasih sebagai kewajiban, tanpa ketulusan (sincere). Tema kasih adalah tema sentral dalam Perjanjian Baru. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus memberikan perintah kepada para rasul (Yoh.13), untuk saling mengasihi satu sama lain, supaya dunia tahu bahwa mereka adalah murid Yesus. Tuhan mengidentifikasi murid-Nya dengan saling mengasihi. Kita harus saling mengasihi karena kasih menutupi banyak dosa. Ini bukan berarti ketika kita mengasihi seseorang kita menutupi dosa orang tersebut. Tetapi ketika kita mengasihi orang lain kita membatalkan potensi dosa di dalam diri kita. Manusia hanya ada 2 kemungkinan dalam hidupnya, taat kepada Tuhan atau memberontak. Saat kita taat kepada Tuhan dalam mengasihi orang lain, kita menggugurkan kemungkinan kita tidak taat kepada Tuhan. Kenapa kita sulit menemukan kasih sungguh-sungguh di kalangan orang percaya? Ada 2 kemungkinan yaitu kita masih egosentris, ingin orang terlebih dahulu bertindak baru kita membalasnya, Dalam 1Kor.13 Paulus menjelaskan mengenai definisi kasih, dan semua kata “kasih” adalah kata kerja. Jadi di dalam sifat kasih, ada keaktifan. Kasih menuntut kita berbuat bagi orang lain dan membuka diri dan membagi hidup kita. Kemungkinan berikutnya adalah, di dalam tubuh Kristus terpecah-pecah menjadi kelompok yang bersifat eksklusif (seperti jemaat Korintus).

Ketiga, “Berilah tumpangan seorang dengan yang lain.” Kalimat seorang dengan yang lain ini diulang-ulang dalam bagian ini. Kata berilah tumpangan dalam bahasa aslinya adalah philosenos. Dan kalimat ini oleh NIV diterjemahkan menjadi over hospitability. Apa yang Petrus jelaskan bukan hal yang aneh, budaya orang Yahudi pada saat itu terbiasa menerima tamu. Sejauh manakah kita ramah terhadap orang asing? Di dalam PL ada buku berjudul didakhe, dan di dalamnya tertulis jika ada seorang Hamba Tuhan datang ke rumah seseorang percaya ia harus menerimanya di dalam rumahnya. Namun ia harus mengusirnya jika Hamba Tuhan tersebut tinggal lebih dari 3 hari, karena ia bukan Hamba Tuhan sejati. Ada orang-orang yang hanya memanfaatkan kebaikan orang lain. Kita perlu bersikap ramah (hospitable) dalam menolong sesama kita, namun diperlukan hikmat. Kita harus mempunyai hati yang bijaksana dalam membedakan orang yang baik dan tidak baik.

Keempat, ayat 10-11, “Layanilah seorang dengan yang lain, sesuai dengan karunia tiap-tiap orang.” Bagian ini berbicara tentang pelayanan. Ada beberapa prinsip penting tentang pelayanan dalam bagian ini. Setiap orang percaya pasti menerima karunia Roh Kudus di dalam hidupnya. Karunia Roh Kudus diberikan untuk melayani satu dengan yang lain. Petrus mengajak kita bukan sekedar melayani, tetapi bagaimana melayani sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan oleh kita. Kita harus menemukan apa karunia Roh Kudus dalam hidup kita. Banyak orang Kristen dalam gereja hanya menjadi penonton sehingga tidak bisa menemukan karunia Roh Kudus di dalam dirinya. Tuhan sudah menyelamatkan kita supaya kita mengambil bagian di dalam tubuh Kristus. Gereja akan berkembang dan diberkati ketika memiliki Hamba Tuhan yang benar dan baik dan jemaat yang mau melayani. Ketika kita ke gereja jangan hanya ingin dilayani, kita harus membalik paradigma hidup bergereja kita dan belajar menjadi pelayan. Kita harus mencari karunia yang Tuhan berikan kepada kita dan menjadikannya pelayanan kita.

Jika kita bisa mempraktekkan keempat hal ini, gereja pasti akan berkembang dengan luar biasa. Maukah kita melayani? Maukah kita melakukan 4 nasihat yang dikatakan Petrus? (Transkrip ini belum diperiksa pengkhotbah, MD)

 
RocketTheme Joomla Templates