Ringkasan Khotbah - 8 November 2015 PDF Print E-mail

Mandat Injil

1 Korintus 9:1-27

Pdt. Andi Halim, M.Th

Ada beberapa hal pada bagian ini. 

(1) Rasul Paulus ingin mengajarkan para pembaca suratnya tentang hak mereka yang melayani Tuhan, yang menjadi rasul, atau mereka yang memberitakan Injil. Mungkin ada jemaat Korintus yang bertanya kepada rasul Paulus, “Apakah orang yang memberitakan Injil/melayani Tuhan perlu didukung oleh jemaat?” Maka inti bagian ini adalah penegasan rasul Paulus bahwa adalah hukumnya bahwa orang yang memberitakan Injil/melayani Tuhan ditunjang hidupnya dari pemberitaan Injil/pelayanan itu.

Hal yang sama juga berlaku ketika seorang petani membajak sawah. Ia akan mendapatkan penghidupannya dari kegiatan bercocok tanam itu. Orang yang bekerja akan mendapatkan penghidupan dari pekerjaannya. Maka orang yang melakukan pengabaran Injil akan mendapatkan penghidupannya dari pelayanan pengabaran Injil. Hal ini tidaklah aneh dan haram. Namun rasul Paulus mengatakan bahwa ia memang tidak menggunakan hak tersebut. Ini bukan berarti semua hamba Tuhan tidak boleh menggunakan hak tersebut. Ini adalah suatu hukum, maka kita harus mentaatinya. Orang yang melakukan pengabaran Injil, hidupnya orang ini juga dari pekabaran Injil. Jika tidak, maka dari manakah orang ini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya?

Namun mengapa rasul Paulus tidak menggunakan haknya? Karena dalam rangka pembangunan jemaat mula-mula. Jemaat-jemaat baru ini mungkin ada yang belum mengerti tentang kewajiban memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan. Mungkin ada jemaat yang tersandung apabila hamba Tuhan ditunjang dari pelayanan. Maka rasul Paulus tidak menggunakan haknya supaya ia tidak menjadi batu sandungan bagi jemaat yang masih baru. Jemaat yang sudah dewasa seharusnya sudah mengerti hak dari orang yang memberitakan Injil/melayani Tuhan.

(2) Rasul Paulus menekankan motivasi mengabarkan Injil. Mengapa rasul Paulus mau mengabarkan Injil? Di dalam memberitakan Injil ia tidak mempunyai alasan untuk memegahkan dirinya sebab hal itu adalah keharusan baginya. Celakalah dia jikalau tidak memberitakan Injil. Andaikata ia melakukannya menurut kehendaknya sendiri, memang ia berhak menerima upah. Tetapi karena ia melakukannya bukan menurut kehendaknya sendiri maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadanya (ay.17). Maka memberitakan Injil adalah suatu keharusan, bukan sebuah pilihan.

Jika memberitakan Injil adalah suatu keharusan, celakalah kita jika tidak memberitakan Injil. Apakah kita tidak pernah merasa celaka/berhutang ketika kita tidak memberitakan Injil? Mungkin ada yang menafsirkan bahwa memberitakan Injil itu hanya bagi mereka yang dipanggil Tuhan secara khusus untuk memberitakan Injil sedangkan orang awam tidak perlu. Ini adalah suatu hal yang salah. Jika kita memiliki pengertian demikian.

Ada beberapa hal yang kita perlu ingat: (a) Kita adalah ciptaan Allah yang seharusnya tunduk kepada Sang Pencipta. Konsep yang salah adalah apabila sebagai ciptaan kita berpikir bisa mengatur Sang Pencipta. Yang benar adalah Pencipta yang mengatur ciptaan. Pencipta menguasai dan mengatur ciptaan. (b) Kita sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus. Kita yang sudah ditebus oleh darah Kristus adalah orang yang berhutang hukuman maut kepada Allah. Sebenarnya hutang hukuman itu harus kita bayar sendiri, tetapi kita tidak mampu membayarnya. Kristuslah yang membayar hutang kita. Inilah status kita: hamba/budak yang sudah dibeli oleh tuannya. Maka kita sekarang menjadi hak dari tuan yang membeli kita untuk kita mengerjakan apa yang ia inginkan.

Dengan kesadaran inilah rasul Paulus memberitakan Injil. Ini seharusnya juga menjadi komitmen kita bahwa mengabarkan Injil adalah suatu keharusan. Injil dengan rasul Paulus adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagaikan roh dengan tubuh yang tidak bisa dipisahkan. Maka Injil dengan orang percaya bagaikan roh dengan tubuh yang merupakan suatu kehidupan.

Rasul Paulus melakukan segala hal demi Injil. Bagi orang Yahudi ia bertindak menjadi seperti orang Yahudi. Bagi orang-orang hidup di bawah hukum Taurat ia menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat ia berlaku seperti orang yang tidak hidup dibawah hukum Taurat. Bagi orang lemah ia menjadi seperti orang yang lemah. Tujuan semua ini adalah supaya rasul Paulus dapat memenangkan mereka yang dilayaninya. Segala usaha, upaya, pikiran, dan cara difokuskan demi untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin orang. Pernahkah kita berpikir untuk menjangkau jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan? Jika tidak maka kita harus bertobat.

Kita tidak boleh memberitakan Injil dengan motivasi untuk dapat uang/kepentingan diri sendiri. Rasul paulus mengingatkan kita, “Upahku ialah ini bahwa aku memberitakan Injil tanpa upah. Suatu hal yang salah adalah apabila ada orang yang memberitakan Injil hanya untuk ingin mendapatkan keuntungan-keuntungan. Orang yang memberitakan Injil harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapinya. Mungkin saja kita ditolak, ditangkap, atau bahkan mati. Namun rasul Paulus mengatakan bahwa resiko-resiko di dalam memberitakan Injil adalah suatu hak yang istimewa.

Jemaat harus menyadari kewajiban untuk menunjang kehidupan hamba Tuhan. Sedangkan mereka yang melayani harus memiliki motivasi yang murni, bukan untuk upah. Jika kita melayani hanya ingin upah, itu adalah suatu yang tidak beres. Motivasi memberitakan Injil tanpa upah sebenarnya bukan hanya berlaku untuk hamba Tuhan yang dipanggil secara khusus, namun juga berlaku untuk jemaat.

(3) Semangat dan berjuang seperti orang yang akan bertanding. Kita sedang bertanding untuk mendapatkan jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan. apakah kita juga mau berusaha seperti orang yang akan bertanding? Hidup orang percaya adalah hidup bertanding, hidup yang berperang bagi Tuhan. (belum dikoreksi pengkotbah - JWL)

 
RocketTheme Joomla Templates