Ringkasan Khotbah - 1 November 2015 PDF Print E-mail

Pertobatan yang sejati dari orang percaya

Matius 12:39-42; 23:15; 1 Yoh 1:9

Pdt. Andi Halim, M.Th

Mat 12:39 mengajarkan kita bahwa mereka yang selalu menuntut mujizat/tanda adalah orang yang tidak percaya. Orang percaya sejati akan tetap bersyukur apapun yang terjadi dan imannya tidak bergantung kepada mujizat/tanda.

Apa yang dimaksudkan oleh ayat 41-42? Ratu selatan dalam ayat ini adalah yang hidup pada zamannya Salomo. Ia berasal dari bangsa kafir yang datang kepada Salomo untuk mendengarkan hikmatnya. Orang Niniwe juga adalah orang kafir yang bertobat setelah mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan oleh Yunus. Maka yang ingin ditekankan oleh Tuhan Yesus adalah pertobatan yang sejati dan kesungguhan dari ratu selatan serta orang Niniwe.

Berbeda dengan angkatan ini (ahli Taurat dan orang Farisi) yang hanya menginginkan mujizat/tanda saja dan tidak mengutamakan kebenaran firman Tuhan. Orang Niniwe tidak melihat mujizat, tetapi mau bertobat. Ratu selatan juga tidak melihat mujizat, tetapi mengutamakan hikmat Salomo yang datang dari Tuhan. Inilah model pertobatan yang diinginkan oleh Tuhan Yesus. Jikalau kita sebagai orang Kristen hanya menuntut tanda/mujizat, sebenarnya kita ini bukan orang percaya dan pertobatan kita diragukan.

Pertobatan yang bagaimana yang Tuhan kehendaki? Pada zaman sebelum Reformasi, Gereja Roma Katolik pernah menjual surat pengampunan dosa dengan mengajarkan bahwa dengan membelinya orang dapat menyelamatkan mereka yang masih berada dalam api penyucian (purgatori). Saat uang pembelian surat ini dijatuhkan ke dalam kotak maka jiwa yang tersiksa di api penyucian akan meloncat ke surga. Martin Luther sangat kesal dengan hal ini dan akhirnya ia memberontak dan memakukan 95 dalilnya di pintu gereja Wittenberg. Apakah sebenarnya pertobatan itu? Apakah pertobatan memerlukan pengantara? 1 Yoh 1:9 menunjukkan bahwa kita bisa mengaku dosa di hadapan Tuhan langsung tanpa melalui perantara seperti yang dilakukan oleh Katolik di hadapan pastor.

Ada beberapa macam pertobatan: (1) Pertobatan Moral. Dulu seseorang adalah perampok, sekarang bukan. Dulu pemabuk, sekarang tidak, dsb. Kekristenan tidak mengajarkan hanya sekedar pertobatan moral. Pertobatan moral ini bisa juga disebut fenomena agama karena bukan hanya terjadi di kalangan orang Kristen saja tetapi juga di dalam semua agama. Pertobatan moral ini tidak menjamin bahwa seseorang mengalami pertobatan yang sejati. Apakah kita hanya sebatas mengalami pertobatan secara moral saja dan tidak pernah mengalami pertobatan secara sejati?

(2) Pertobatan kambuhan/kapok lombok (kapok memakan cabai karena pedas tetapi diulangi lagi di lain waktu). Pertobatan jenis ini hanya sesaat saja, setelah itu lupa dan melakukan dosanya lagi. Pertobatan kapok lombok ini adalah gambaran hidup kita. Tuhan pukul kita untuk bertobat, maka kita bertobat. Namun saat Tuhan tidak pukul lagi, kita melakukan dosa lagi. Yak.1:23-24 adalah contoh pertobatan kapok lombok. Ada orang yang mendengarkan firman tertegur dan bertobat, tetapi setelah itu lupa lagi dan berbuat dosa lagi. Apakah kita juga termasuk orang yang seperti ini? Apakah kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bertobat atau tidak?

Orang yang tidak pernah mengalami pertobatan sejati adalah seperti babi yang diberikan mutiara (bdk.Mat.7:6). Ia lebih suka berada di tempat yang kotor daripada diberikan mutiara. Orang yang mendapat firman yang bagus tetapi sebentar saja firman itu dibuang. Selain babi ada juga anjing yang menjilat kembali muntahannya (bdk. Ams 26:11; 2Ptr 2:22). Kedua binatang ini adalah gambaran dari orang yang tidak mengalami pertobatan sejati.

(3) Pertobatan yang sejati yang diajarkan oleh Alkitab yaitu (a) kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Saat itulah arah dan tujuan hidup kita berubah, bukan hanya perbuatannya yang berubah secara moral saja. Secara hurufiah arti pertobatan adalah berbalik arah. Dulu hidup bagi kepentingan diri sendiri, sekarang hidup bagi kemuliaan Allah. Kita sebagai orang percaya jangan hidup berpusat pada kepentingan diri sendiri lagi. Mengapa? Karena hidupku sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Aku bukan milikku lagi, tetapi milik Tuhan. Darah Kristus yang mahal sudah membeliku maka hidupku bukan milikku lagi, tetapi bagi kemuliaan Dia.

Kita tidak bisa menyangkal bahwa kita masih mementingkan si aku, masih memikirkan kepentingan diri. Ini disebabkan karena manusia lama kita masih ada. Perbedaan dari orang yang sudah bertobat dan orang belum bertobat, adalah yang belum bertobat fokus hidupnya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Orang yang sudah bertobat juga masih bisa memikirkan dirinya sendiri. Bedanya adalah orientasinya, arah hidupnya, tujuan hidupnya, kesadaraannya berubah yaitu bahwa saya adalah milik Kristus. Yang bertobat sejati sadar bahwa kemuliaan bukan menjadi hakku lagi tetapi hanya bagi Allah.

(b) Pertobatan yang sejati diwarnai dengan paradoks. Maksudnya apa? Bagi orang percaya ada pergumulan yang sangat hebat antara manusia lama dan manusia baru. Kita terus bergumul untuk mematikan manusia lama kita dan manusia baru kita terus-menerus diperbaharui oleh Roh Kudus. Orang percaya tidak pernah hidup tenang-tenang dan damai tanpa pergumulan tetapi memiliki kepekaan yang terus-menerus bertumbuh. Orang percaya sejati tidak ada yang merasa bahwa dirinya sudah tidak berdosa lagi. Semakin dekat dengan Tuhan semakin kita peka akan dosa, semakin sadar bahwa kita tidak layak di hadapan Tuhan.

Tidak mungkin orang yang di dalam Kristus bersenang-senang di dalam dosa. Ada 2 indikasi orang yang belum bertobat: (1) merasa telah saleh di hadapan Tuhan, (2) tenang-tenang saja menikmati dosa dan tidak ada pergumulan sama sekali. Kedua hal ini sama-sama tidak beres. Orang Kristen sejati tidak pernah tenang dan mengalami pergumulan yang hebat. Memang orang Kristen sejati juga memiliki damai sejahtera dari Yesus Kristus yang menaungi kita, yang sudah memenangkan dosa, dan karenanya kita sudah didamaikan dengan Allah. Namun dalam proses pengudusannya kita selalu mengalami pergumulan-pergumulan yang hebat. Inilah paradoksnya.

(c) Pertobatan sejati diikuti pembaharuan akal budi dan hidup yang terus-menerus. Apakah kita tidak mengalami pembaharuan terus-menerus? Apakah kita merasa sudah puas dengan apa yang kita ketahui dan cukup akan pertumbuhan rohani kita? Ini sangat berbahaya. Semakin dekat Tuhan pergumulan yang dihadapi juga semakin besar. Semakin dekat dengan Tuhan, maka konflik juga semakin besar. Dulu kita berfokus kepada kepentingan diri sendiri, sekarang kita berpikir untuk mempersembahkan hidup bagi kemulian Allah.

Pertobatan sejati adalah berusaha agar hidup memuliakan Allah dan dapat dipakai bagi gereja-Nya. Salah satunya misalnya melalui kita menjangkau teman-teman kita dan membawanya ke gereja dan terlibat dalam pelayanan apapun supaya gereja Tuhan bertumbuh. Inilah pemikiran dan gaya hidup mereka yang mengalami pertobatan sejati.

(d) Pertobatan doktrinal. Tidak cukup orang Kristen hanya mempersembahkan hidup bagi Tuhan namun juga perlu mengalami pertobatan doktrinal. Pertobatan yang sejati juga termasuk hal ini. Kenapa demikian? Karena doktrin mempengaruhi cara berpikir kita. Jika doktrin kita salah, kita akan melakukan pelayanan dengan cara yang salah. Jika kita mengerti Kristus yang berbeda atau salah, maka kita menyembah Kristus yang keliru. Pertobatan sejati harus diikuti dengan pengertian doktrin yang benar. Tanpa doktrin yang benar, tidak mungkin seseorang dapat melayani Tuhan dengan benar. Selain itu kita juga tidak dapat menerjemahkan/mengaplikasikan setiap kebenaran firman Tuhan dengan tepat dalam seluruh aspek kehidupan kita. Adakah kerinduan kita untuk belajar firman Tuhan baik-baik? Apakah kita punya kerinduan untuk mengali Alkitab dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab?

(e) Terakhir, pertobatan sejati menjalankan 2 mandat, yaitu mandat injil dan mandat budaya. Semuanya demi kerajaan Allah. Hidup kita bukanlah untuk melaksanakan pekerjaan kita, melainkan pekerjaan Tuhan karena dunia ini milik-Nya, Bapa kita. Hidup yang sementara adalah untuk melaksanakan misi kerajaan Allah. Inilah pertobatan sejati. (belum dikoreksi pengkotbah - JWL)

 
RocketTheme Joomla Templates