Ringkasan Khotbah - 25 Oktober 2015 PDF Print E-mail

Eksposisi 1 Petrus 4:1-6

Vic. Calvin Renata, M.Div.

Di dalam pasal 4 ini, Petrus berbicara tentang waktu dan nilai. Di dalam ayat ke 3, Petrus memberikan enam contoh kebiasaan manusia setelah jatuh dalam dosa yang dapat diklasifikasikan menjadi 3: (1) hawa nafsu dan keinginan ini mewakili sesuatu yang bersifat seksual. Kata keinginan disini menggunakan kata lust yang berarti hawa nafsu yang bersifat seksual. (2) kemabukan, pesta pora, dan perjamuan minum ini mewakili kebiasaan manusia yang terkait soal makanan. (3) penyembahan berhala ini mewakili kebiasaan manusia yang bersifat spiritual. Semua yang kita lakukan berada di dalam waktu. Maka bagaimana kita berelasi dengan waktu? Hal ini adalah sesuatu hal yang penting yang perlu kita pikirkan. Petrus di sini berbicara tentang nilai di dalam hidup manusia.

Dalil ke-1 di dalam kita berelasi dengan waktu: apa yang bernilai di dalam hidup kita itulah yang memakan waktu paling banyak di dalam hidup kita. Jika kita ingin tahu apa yang paling berharga dalam hidup seseorang ikutilah, perhatikan, dan teliti hidupnya, maka kita akan tahu apa yang paling penting dalam hidup orang tersebut. Di dalam hidup manusia ada 2 indikator apa yang paling penting dalam hidup seseorang: (1) bagaimana cara dia memakai uang. Cara dia memakai uang itu akan menentukan apa yang paling penting dalam hidupnya (2) bagaimana cara dia memakai waktu, akan menunjukkan apa yang paling bernilai di dalam hidupnya. Ini adalah sesuatu dalil yang tidak bisa dibantah. Apabila seseorang menganggap bahwa sesuatu paling penting di dalam hidupnya, dia akan rela/dia akan mau menggunakan waktu dan energinya untuk hal tersebut. Apa yang kita cintai/apa yang paling kita sukai/apa yang kita anggap paling penting/bernilai, maka kita akan mau menghabiskan waktu untuk hal tersebut. Manusia tidak bisa terlepas dari waktu. Kaitan antara waktu dan nilai adalah sesuatu yang luar biasa erat di dalam hidup kita, Namun celakanya, kita tidak pernah menyadarinya.

Tuhan memberikan kita waktu sebenarnya bukan hanya untuk kita pakai/pergunakan bagi diri kita sendiri, tetapi juga untuk Tuhan. Tuhan memberikan kita waktu, sebenarnya bukan hanya untuk dipakai untuk hal-hal yang bersifat sementara, tetapi untuk hal-hal yang bernilai kekal. Tapi sayangnya/celakanya, setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia membuang nilai kekekalan dan kemulian dari waktu. Manusia menggunakan waktu untuk kepentingan diri dan yang bersifat sementara. Ini bukan berarti kita tidak boleh bekerja. Bekerja itu harus. Paulus mengatakan yang tidak mau bekerja tidak usah makan, namun hidup manusia bukan hanya bekerja saja. Ini juga bukan berarti kita tidak boleh shopping, rekreasi, jalan-jalan, namun hidup manusia bukan untuk itu saja. Ada sesuatu yang penting yang Tuhan ingin kita kerjakan di dalam waktu yang telah Ia berikan kepada kita.

Petrus mengingatkan pembacanya bahwa mereka dulu juga orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi hidup mereka sekarang telah mengalami perubahan sehingga mereka mengerti bagaimana mengisi waktu-waktu. Maka di ayat 4 Petrus berkata bahwa orang-orang yang dulu menjadi teman/kawan mereka heran mengapa mereka bisa berubah. Ayat ini mengingatkan bahwa konsep waktu kita bisa berubah. Mengapa bisa berubah dan siapa yang bisa merubah? Hanya Tuhan sendiri.

Apa yang dulu kita anggap penting, pada saat kita berubah, akan menjadi sesuatu yang kurang penting. Maka kita tidak akan menghabiskan waktu untuk hal tersebut.

Alkitab memberikan sesuatu contoh seseorang yang dirubah konsep nilai hidupnya yang mempengaruhi pemakaian waktunya. Siapa dia? Paulus. Dulu Paulus memiliki konsep yang salah. Dia bangga dengan kefarisiannya, keyahudiannya, dan kesukuannya. Namun setelah dia berjumpa dengan Kristus konsep nilainya berubah. Dia mengatakan dulu yang dia banggakan itu, sekarang dianggapnya sebagai sampah. Penggunaan waktu-waktunya pun berubah. Dulu dia memakai waktunya untuk menganiaya dan membunuh orang Kristen. Sekarang dia memakai seluruh hidup dan waktunya untuk melayani Tuhan. Ini bukan berarti kita semua harus menjadi hamba Tuhan, namun ini mengingatkan kita bahwa jikalau ibadah itu maka kita harus mau menghabiskan waktu untuk beribadah. Jikalau hal-hal rohani itu penting bagi kita, kita harus mau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bersifat rohani, entah itu berdoa atau pelayanan.

Apa yang paling penting di dalam hidup kita? Jika kita menggunakan waktu kita semuanya hanya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan jasmani kita dan mengabaikan aspek rohani, maka kita akan menyesal karena hal-hal yang bersifat jasmani/materi suatu saat akan kita tinggalkan dan tidak bernilai apa-apa.

Dalam bagian ini, Petrus mengatakan kepada pembaca suratnya bahwa mereka sekarang sudah berubah, tidak lagi seperti teman-teman mereka. Maka mereka begitu heran dengan perubahan itu sehingga akhirnya memfitnah/menghujat mereka. Inilah reaksi yang umum terjadi terhadap perubahan hidup seseorang. Kita akan sedih jika kita melihat dulunya ada orang yang rajin ke gereja dan sekarang sudah tidak pernah ke gereja lagi karena di dalam diri kita ada nilai kesucian dan kebaikan Tuhan. Sebaliknya jika ada orang yang jahat menjadi baik, maka teman-temannya akan marah. Inilah yang dialami oleh Petrus. Ia mengingatkan pembaca suratnya bahwa keheranan orang fasik akan berubah menjadi fitnahan.

Petrus bukan hanya mengingatkan bagaimana cara menggunakan waktu-waktu di dalam hidup kita, tetapi juga pertanggungjawaban kita kepada Tuhan (ayat 5). Siapakah mereka? Orang-orang yang menghujat/mengolok-olok orang percaya suatu saat akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan. Alkitab memberikan kepada kita beberapa bagian dengan jelas bahwa Kristus akan datang kembali sebagai hakim yang akan menghakimi orang yang hidup dan mati (Mat 16:36; 2Tim.4:1; Rm.14:9; Kis.10:42; Yoh.5:22).

Ada 2 hal yang dipertanggungjawabkan di hadapan Kristus:
(1) Hujatan mereka. Hujatan adalah sesuatu dosa yang berkaitan dengan kata-kata, entah yang bersifat melecehkan atau menghina hal-hal rohani atau sesuatu yang berkaitan tentang diri Tuhan sendiri. Ketika Yesus mengusir roh jahat Ia dihujat bahwa Ia mengusir dengan kuasa setan. Maka Yesus mengatakan barangsiapa menghujat Anak Manusia masih bisa diampuni tetapi barangsiapa yang menghujat Roh Kudus tidak ada pengampunan kembali. Apa maksud ayat tersebut? Karena orang Yahudi menyamakan Kuasa Tuhan Yesus dengan kuasa iblis itu adalah penghujatan. Suatu saat Yesus akan datang sebagai hakim dan menuntut segala sesuatu, bahkan hal yang kita anggap remeh di dalam hidup kita, yaitu kata-kata. Banyak kata-kata kita yang meremehkan orang lain, lebih membunuh karakter orang lain daripada menjadi berkat yang membangun orang lain.

(2) Waktu yang berkaitan di dalam hidup mereka. Orang-orang yang mengolok-olok pembaca surat Petrus juga menggunakan waktunya secara sia-sia. Waktu-waktu di dalam hidup kita sebenarnya kita pakai untuk apa sih? Berapa banyak waktu yang kita pergunakan untuk kesenangan diri? Berapa banyak waktu yang kita berikan kepada Tuhan? Berapa banyak waktu yang telah kita pergunakan untuk hal-hal yang sia-sia? Berapa banyak waktu yang kita pergunakan untuk hal-hal yang bernilai kekal dan bersifat rohani? Jika kita tidak memiliki kepekaan dan hikmat dalam menggunakan waktu, suatu saat kita akan menyesal menggunakan waktu kita secara sia-sia. Inilah yang akan Tuhan tuntut suatu saat di dalam hidup kita.

Dalil ke-2 dalam kita berelasi dengan waktu adalah nilai dari waktu itu bukan sama sekali diukur dari durasi atau lamanya waktu, tetapi dari nilai atau isi di dalam waktu itu sendiri. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita bahwa nilai waktu itu terukur dari berapa lama, tetapi dari isinya. Marilah kita melihat bahwa waktu itu bernilai dari isi yang kita lakukan di dalam waktu. Setiap orang yang mengisi waktu-waktu hidupnya untuk sesuatu yang bernilai kekal, yang memiliki isi yang tidak dibatasi oleh waktu, memiliki nilai yang abadi yang direnungkan, dipikirkan, dan diwariskan dari zaman ke zaman. Buat apa orang berumur panjang, jika sepanjang hidupnya tidak pernah menjadi berkat bagi orang lain, jika di dalam hidupnya tidak mengerjakan sesuatu yang bernilai kekal, jika di dalam hidupnya tidak pernah membawa kemulian bagi Tuhan? Waktu dan nilai adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa diipisahkan didalam hidup kita. Apa yang paling penting di dalam hidup kita?

Waktu adalah harta yang Tuhan berikan kepada kita yang tidak bisa diperpanjang dan dipersingkat. Waktu itu sudah pasti, dan suatu saat kita akan persembahan kembali kepada Tuhan. Tuhan inilah waktu-waktu didalam hidupku. Tuhan akan menilai Untuk apa? Untuk siapa? Dan bernilai apa?

Petrus di dalam ke-6 ayat ini berbicara tentang waktu dan nilai serta penghakiman bahwa suatu saat kita akan mempertanggungjawabkannya dan Petrus mengakhiri dengan sedikit penginjilan. Apa arti dari ayat 6? Ayat ini sering sulit untuk dimengerti. Yang perlu kita ketahui adalah ayat ke-6 adalah anak kalimat dari ayat ke-5. Maka ayat ini tidak berdiri sendirian, tetapi merupakan bagian dari ayat 5. 3 penafsiran tentang ayat ini: (1) Agustinus dan Clemen mengatakan orang mati di sini menunjuk kepada orang yang mati secara rohani, yaitu orang-orang yang belum percaya. Mereka diinjili dan akhirnya percaya. Namun tafsiran ini lemah. Kenapa lemah? Karena konteks bagian ini bukan berbicara tentang orang yang mati secara rohani, tetapi berbicara tentang orang yang mati secara jasmani. (2) William Barclay (orang liberal) mengatakan bahwa bagian ini mengajarkan tentang penginjilan kepada orang mati. Ini tafsiran yang keliru dan menyesatkan. Kenapa? Karena Tuhan dan rasul-rasul tidak mengajarkan tentang penginjilan kepada orang-orang yang sudah mati. (3) Injil itu diberitakan kepada orang-orang yang dulunya masih hidup, namun sekarang sudah meninggal. Inilah yang paling benar.

Marilah kita menggunakan waktu-waktu kita dengan baik bukan untuk hal-hal yang sementara, karena hal yang sementara kita akan tinggalkan, tetapi untuk melakukan hal-hal yang bernilai kekal. (JWL)

 
RocketTheme Joomla Templates