Ringkasan Khotbah - 02 Desember 2012 PDF Print E-mail

Menyambut Kerajaan Allah

Matius 3:1-12)

Ev. Bakti Anugrah

Natal sebenarnya bukan di bulan Desember, karena Desember merupakan musim dingin. Pada musim dingin, rumput sulit dicari sehingga para gembala tidak mungkin menggembalakan dombanya pada musim dingin. Natal disepakati untuk dirayakan di bulan Desember untuk menggantikan hari raya penyembahan dewa matahari. Yesus menjadi matahari kebenaran.


Matius 3 ini dimulai dengan kisah Yohanes Pembaptis yang tiba-tiba muncul di Yudea dan memberitakan pertobatan untuk menyambut kerajaan Allah. Bagian akhir dari Matius 2 menceritakan tentang masa kanak-kanak Yesus kembali dari Mesir dan kembali ke Nazaret yang berada di sebelah utara. Matius 3 terjadi kurang lebih sekitar 25 - 26 tahun kemudian, di mana Yohanes muncul di Yudea yang terletak di bagian selatan. Yohanes waktu itu tidak mengenal Yesus itu siapa.

Yohanes Pembaptis lahir dari keluarga yang saleh. Orangtuanya Zakharia dan Elizabeth yang merupakan keturunan imam. Elizabeth juga mempunyai hubungan keluarga dengan Maria, ibu Yesus.

Yohanes Pembaptis dicatat sebagai pembuka jalan bagi Yesus. Ia muncul di padang gurun Yudea. Padang gurun merupakan pengingat sejarah bagi bangsa Israel. Tuhan memimpin mereka menuju tanah perjanjian melalui padang gurun. Tuhan memberikan 10 perintah Allah di gunung Sinai dan disampaikan kepada bangsa Israel di padang gurun. Padang gurun merupakan tempat bersejarah yang mengingatkan mereka akan pimpinan Tuhan.

Jarak antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah 450 tahun di mana Tuhan tidak berfirman. Kemunculan Yohanes Pembaptis di padang gurun secara tiba-tiba, mengingatkan bangsa Israel akan  pimpinan dan hukuman Tuhan yang mereka alami di padang gurun. Ketika Yohanes mulai memberitakan firman Tuhan di padang gurun bangsa Israel mulai tertarik dan mendengarkan. Hal ini menarik karena bangsa Israel sudah terbiasa hidup di daerah perkotaan sehingga perjalanan ke padang gurun merupakan hal yang sulit.

Firman yang diberitakan Yohanes Pembaptis adalah firman yang muncul pertama kali setelah 450 tahun, di mana bangsa Israel banyak mengalami penderitaan. Mereka dijajah, dibuang, bahkan bait Allah sempat dinajiskan. Tetapi bangsa Israel tetap menantikan kerajaan Israel dipulihkan sehingga kemunculan Yohanes Pembaptis yang memberitakan tentang kerajaan surga menjadi hal yang penting bagi bangsa Israel.

Bertobat merupakan perubahan arah pikiran untuk menyambut kedatangan Tuhan (metanoia). Bangsa Yahudi merupakan bangsa yang takut akan Tuhan. Mereka tidak berani menyebut nama Allah secara sembarangan, sehingga Matius yang menuliskan kisah ini menuliskan kerajaan surga, bukan kerajaan Allah.

Matius memberikan penjelasan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan orang yang dimaksud oleh nabi Yesaya. Yohanes Pembaptis merupakan nabi terakhir dari Perjanjian Lama yang berkaitan dengan berita tentang kerajaan Allah.

Yohanes Pembaptis merupakan orang yang sangat sederhana. Hal ini terlihat dari penampilannya yang memakai jubah bulu unta yang tahan terhadap segala cuaca, pakaian ini dipakai oleh orang-orang di padang gurun. Selain itu Yohanes Pembaptis bertahan hidup dengan memakan belalang dan madu hutan. Kedua jenis makanan ini sangat sederhana pada zaman tersebut. Hal ini menegaskan bahwa pesan yang disampaikan lebih penting daripada penampilan Yohanes Pembaptis.

Orang dari seluruh Yudea, Yerusalem, dan sekitar sungai Yordan datang kepada Yohanes. Mereka mengaku dosa dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Ada yang mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan sekte Qumran.

Sekte Qumran merupakan sekte yang menulis Dead Sea Scrolls, yang menyendiri di dalam gua dan bersiap untuk berperang. Sekte Qumran dan Yohanes Pembaptis sama-sama melakukan pembaptisan Tetapi ada perbedaan dari kedua baptisan ini, yaitu baptisan di sekte Qumran merupakan baptisan untuk bangsa non Yahudi dan bisa dilakukan berulang-ulang, sedangkan baptisan Yohanes diberikan kepada bangsa Yahudi yang bertobat dan hanya dilakukan sekali.

Baptisan Yohanes berbeda dengan baptisan yang kita lakukan sekarang, yaitu baptisan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Baptisan Yohanes merupakan baptisan untuk pertobatan, mengaku dosa dan mempersiapkan diri untuk menyambut Mesias.

Di antara bangsa Israel yang datang untuk dibaptis, mau bertobat untuk dipimpin oleh Tuhan, muncul juga orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis. Orang Farisi dan Saduki membentuk dewan Mahkamah Agama yang ada di pusat kota Yerusalem. Kedua kelompok ini biasanya bertentangan. Orang Farisi merupakan kaum yang memisahkan diri, mempelajari kitab suci dengan lebih sungguh-sungguh dan lebih dekat dengan rakyat. Kaum Saduki merupakan keturunan dari iman Zadok, mereka berkompromi dengan pemerintah Romawi dan mendapatkan penghasilan yang cukup banyak, dan kurang dekat dengan rakyat.

Saat orang Farisi dan Saduki mendengar banyak jemaat mereka yang pergi ke padang gurun untuk mendengarkan Yohanes Pembaptis mereka pergi ke padang gurun untuk menyelidiki Yohanes. Yohanes mengetahui maksud mereka, menegur mereka dengan keras (ay. 7-12).

Yohanes memberitakan penghakiman dan undangan pertobatan. Dua hal ini disampaikan Yohanes supaya kita bisa menyiapkan diri untuk menyambut kerajaan Surga.
Pertama, penghakiman, Tuhan pasti melakukan penghakiman kepada umat-Nya. Penghakiman dimulai dari gereja, orang-orang yang terdekat, pemimpin agama. Kita sebagai orang Kristen harus berhati-hati karena kita dibenarkan bukan karena jabatan ataupun latar belakang kita secara keturunan. Banyak orang Kristen terjebak dalam tradisi kekristenan, tetapi tidak ada pertobatan sungguh-sungguh. Yohanes menginginkan pertobatan yang sejati. Ia seorang yang jujur dan berani sehingga umurnya pendek. Banyak orang Kristen ingin seperti Ayub (kekayaan), Daud (kekuasaan), ataupun Salomo (kebijaksanaan), tetapi jarang dari kita yang ingin menjadi Yohanes Pembaptis yang penuh dengan kejujuran dalam memberitakan firman Tuhan.

Orang Farisi dan Saduki disebut sebagai keturunan ular beludak yang suka menyerang dengan tiba-tiba. Mereka meremukkan tumit Kristus melalui pemerintahan Romawi seperti yang telah dinubuatkan di Kejadian 3:15. Orang Farisi dan Saduki berpikir mereka aman (selamat) karena mereka belajar firman Tuhan dan keturunan Abraham, tetapi tidak ada buahnya. Hal ini menjadi peringatan bagi kita dalam masa adven ini. Apakah kita mengaku Kristen karena keturunan tetapi tidak ada buah dalam kehidupan kita, ataukah kita benar-benar bertobat dan mengaku Tuhan sebagai Juruselamat kita?

Kita tidak diselamatkan karena keturunan. Pertobatan di hadapan Allah merupakan pertobatan individu. Hal ini menjadi peringatan bagi kita dalam mendidik anak-anak kita. Teladan iman dari orangtua mempunyai peran penting bagi anak-anak kita. Kecenderungan zaman ini, pendidikan anak diserahkan kepada media (iPad, Tab, dll) dan kepada babysitter. Kita bertanggungjawab secara pribadi di hadapan Tuhan. Didikan anak harus dilakukan secara serius oleh orangtua. Banyak orangtua mengabaikan hal ini karena menganggap Tuhan akan mengurus keluarga kita, tanpa kita berusaha karena kita sudah melayani Tuhan.

Bertobat merupakan pertobatan pribadi, meskipun kita diselamatkan secara satu tubuh, satu umat. Kita perlu menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Kekristenan zaman sekarang kurang berbuah, dan kita nyaman dengan status kita saat ini.

Setelah Yohanes Pembaptis mengucapkan kata-kata penghakiman, Ia menyampaikan undangan pertobatan. Baptisan dengan air merupakan tanda pertobatan, bukan menyelamatkan. Bagi orang dewasa, baptisan merupakan tanda Roh Kudus sudah menyentuh hati saya dan membersihkan saya dari atas ke bawah. Bagi anak kecil, baptisan merupakan tanda ikatan perjanjian masuk ke rumah Tuhan, setelah itu orangtua harus mendidik dengan baik sesuai dengan firman Tuhan.

Yohanes dengan rendah hati mengakui bahwa Mesias yang akan datang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api. Roh Kudus diberikan kepada orang yang benar-benar percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Roh Kudus akan menyertai kita sampai selama-lamanya, membaptis, dan menyucikan kita. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita. Ia menegur dosa-dosa kita. Baptisan api melambangkan penghakiman.

Di dalam gereja Tuhan ada ilalang dan gandum, domba dan kambing. Pada akhir zaman, Tuhan akan mengumpulkan dan memisahkan semua orang menjadi dua kelompok yaitu baptisan Roh Kudus (orang percaya) dan baptisan api (orang tidak percaya). Saat firman diberitakan, pendengarnya dibagi menjadi 2 kelompok, orang yang betul di dalam Tuhan dan tidak. Yang berada dalam Tuhan mendengarkan dan bertumbuh, yang tidak akan dihukum. Firman yang diberitakan menjadi pedang bermata dua yang memisahkan.

Kita tidak bisa mengaku kita bertobat karena keturunan. Pertobatan yang sejati adalah mengaku dosa kita dan mengikut Tuhan. 2 macam ajakan yang diberikan Yohanes, penghukuman atau penyertaan Roh Kudus. Di manakah kita berada? Jika kita belum bertobat, undangan Yohanes masih berlaku bagi kita, kerajaan surga sudah dekat, berdoa kepada Tuhan untuk menganugerahkan Roh Kudus sebagai Pembimbing kita. Bagi kita yang sudah percaya, mohonlah kepada Tuhan agar kekristenan kita bukan hanya sebagai profesi, hanya pengakuan saja, tetapi Tuhan tolong dalam hidup kita, supaya layak menerima kerajaan surga dan menghasilkan buah yang layak. (MD).

 
RocketTheme Joomla Templates