Ringkasan Khotbah - 01 July 2012 PDF Print E-mail

Ibadah yang sejati

Ef.5:1-2, Rm. 11:36 - 12:1-8

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Ada dua kalimat yang saya garis bawahi dalam kotbah hari ini. Pertama, tidak ada korban, tidak ada ibadah. Kedua, tidak ada ibadah tanpa korban. Apa yang dimaksud dengan ‘tidak ada korban, tidak ada ibadah’? Mengapa kita sekarang bisa beribadah? Apakah karena keinginan kita sendiri? Banyak orang ingin beribadah dalam hidupnya tetapi apakah ibadahnya benar-benar sampai pada tujuan?

Tidak ada korban tidak ada ibadah. Kita perlu melihat latar belakang ibadah yang dilakukan oleh bangsa Israel. Dalam ibadah bangsa Israel satu hal yang mutlak adalah mereka mempersembahkan korban penebus dosa. Karena ada yang dikorbankan maka ibadah mereka boleh terjadi. Karena ada korban mereka baru benar-benar dapat beribadah. Pengertian korban penebus dosa adalah manusia pada dasarnya sudah jatuh ke dalam dosa, terputus hubungannya dengan Allah dan manusia yang terputus hubungannya dengan Allah tidak mungkin berelasi dengan Allah yang benar karena artinya ia sudah mati rohani. Tidak ada ibadah yang dapat mencapai Allah yang benar, karena itu jalannya hanya satu yaitu korban penebus dosa. Karena ada korban penebus dosa hubungan manusia yang sudah putus dengan Allah dipulihkan kembali. Inilah arti ibadah. Itulah sebabnya ‘tidak ada korban, tidak ada ibadah’. Hubungan manusia yang terputus dengan Allah hanya dapat dipulihkan oleh Kristus melalui karya penebusan-Nya di kayu salib.

Mengapa korban penebus dosa harus diulang terus-menerus? Karena korban tak bercacat yang dipersembahkan melambangkan Mesias yang akan datang, sebagai Korban yang paling sempurna. Itulah sebabnya pengulangan perlu terus dilakukan supaya mengarahkan hati umat Allah kepada Sang Mesias – Korban yang Sempurna itu – yang akan datang. Kristus datang sebagai Korban yang paling sempurna menebus dosa manusia, sekali untuk selamanya, maka dalam ibadah kita sekarang tak perlu korban lagi. Hubungan kita dengan Allah telah dipulihkan. Inilah yang disebut sebagai damai sejahtera yang sejati.

Damai sejahtera tidak identik dengan hati damai atau hati tenang dan nyaman. Saat ini banyak gereja-gereja mempraktekkan doa hening, meditasi atau doa taize. Ini sama sekali bukan damai sejahtera melainkan praktek mistik. Mengapa demikian? Karena manusia seolah-olah bisa menghadirkan Allah dalam ketenangan, keheningan, kesunyian dan konsentrasi. Ini adalah spirit anthroposentris, spirit mencari ketenangan diri. Manusia mengatur di mana dan kapan Tuhan bisa hadir. Ini tidak betul. Tuhanlah yang berhak mengatur manusia dan bukan sebaliknya. Kehadiran Tuhan bukan diatur oleh manusia karena Ia hadir di mana-mana. Jika kita lihat dalam Perjanjian Lama, nabi-nabi tidak mencari damai sejahtera diri. Hati mereka penuh dengan pergolakan, konflik, dan ketegangan untuk memberitakan kebenaran di tengah-tengah umat yang memberontak. Meskipun demikian, Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya. Tuhan menyertai para nabi-Nya apapun yang terjadi. Jadi arti damai sejahtera bukanlah hati damai melainkan hubungan yang sudah dipulihkan. Kita yang putus hubungan dengan Allah sudah dipulihkan. Hubungan ini tidak akan tergoyahkan oleh segala kondisi, masalah, problema, kesulitan, tantangan, malapetaka, musibah, bahkan kematian sekalipun karena kita sudah dipertemukan dengan Allah yang benar. Itu sebabnya kita dapat beribadah saat ini dan kita tidak perlu lagi mempersembahkan korban penebus dosa karena Kristus sudah menggenapinya.

Tentunya hal ini tidak berhenti sampai di sini. Untuk apa kita diperdamaikan dengan Allah? Supaya kita mempersembahkan hidup bagi Tuhan sebagai korban persembahan dan ucapan syukur bagi Dia. Korban di Perjanjian Lama adalah korban penebus dosa yang menantikan Mesias yang akan datang. Setelah Mesias datang dan menggenapi, selesailah sudah korban penebus dosa itu. Kini kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita seutuhnya sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.

Tidak ada ibadah tanpa korban. Jangan berpikir karena sekarang kita tidak perlu mempersembahkan korban penebus dosa, maka kita tidak perlu mempersembahkan apa-apa sama sekali. Justru karena kita sudah dibeli lunas oleh darah Kristus di atas kayu salib, hidup kita bukanlah milik kita lagi. Persembahkanlah hidup kita bagi kemuliaan Nama-Nya. Banyak orang berpikir dan bertanya bahwa sekarang kita tidak wajib lagi memberikan persembahan pada Tuhan, termasuk memberikan persepuluhan. Tetapi apa motivasi orang-orang yang berpikir demikian? Pasti karena ingin bebas dari memberi persembahan, bebas dari memberikan persepuluhan. Padahal dalam Perjanjian Baru Tuhan bukan menekankan sepersepuluh lagi melainkan seluruh hidup kita dipersembahkan untuk Tuhan.

Seorang kepala bank pernah mengatakan, “Kualitas hidup manusia dapat dilihat dari bagaimana sikapnya terhadap uang.” Kalimat ini ada benarnya tetapi tetap tidak dapat dijadikan dasar. Tuhan Yesus pernah berkata, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Berarti sikap kita terhadap uang menunjukkan kualitas hidup kita. Seorang yang berkata sudah menyerahkan hidupnya untuk Tuhan, tetapi begitu pelit dalam hal uang dan tidak mau memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan sama sekali, ini menjadi suatu tanda tanya besar. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, soal uang pasti bukanlah masalah besar. Jika kita bisa ikut serta untuk memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan, ini adalah hak istimewa dan ucapan syukur atas anugerah-Nya pada kita.

(Rm.12:1) Sudahkah kita melaksanakan ibadah yang sejati yaitu mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah? Ini menjadi introspeksi bagi kita bersama, sudahkah kita beribadah kepada Tuhan? Tidak ada ibadah tanpa korban.

Apa maksudnya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup? Pertama, maksudnya adalah perubahan akal budi. Iman Kristen yang benar bukan menekankan fenomena dan hal-hal lahiriah melainkan menekankan hati seseorang yang dimulai dengan pembaharuan akal budi (renewing mind). Perubahan akal budi akan diikuti dengan perubahan tingkah laku dan perbuatan-perbuatan. Kedua, maksudnya adalah menyadari bahwa saya sebagai anggota tubuh Kristus diberi karunia oleh Allah untuk berperan bagi gereja-Nya. Inilah arti mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.

Buat apa Tuhan menyelamatkan dan mengubah hidup kita jika kita tidak berfungsi sama sekali sebagai anggota tubuh Kristus? Tidak ada anggota tubuh Kristus yang tidak berfungsi. Setiap orang diberi karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi. Ini dalam rangka pertumbuhan gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dengan kata lain kita sedang dipanggil berjuang menjalankan misi Kerajaan Allah. Urusan dunia bukan urusan manusia. Urusan dunia adalah urusan Kerajaan Allah karena sebelum kita lahir misi kerajaan Allah sudah ada, waktu kita hidup Kerajaan Allah juga sedang berlangsung dan waktu kita mati Kerajaan Allah masih terus akan berlangsung. Karena itu dunia ini sedang melaksanakan urusan Kerajaan Allah. Ada yang lebih penting dari apa yang kita anggap penting. Nanti apa yang kita anggap penting akan selesai, namun Kerajaan Allah akan terus ada selama-lamanya. Dalam batu nisan John Wesley ditulis, “Di sini hamba Tuhan dikuburkan tetapi pekerjaan Tuhan akan terus berlangsung.”

Sekarang kita hidup, pertanyaannya adalah apakah kita mengerjakan pekerjaan Kerajaan Allah? Karena itu seharusnyalah kita berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” Jangan kita mengatakan ‘datanglah kerajaan-Mu’ jika fokus hidup kita bukanlah kerajaan Allah. Yohanes Pembaptis sudah menyerukan, “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah datang.” Tuhan Yesus mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya”. Oleh karena itu, marilah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada-Nya. Hidup kita bukanlah milik kita sendiri, tetapi milik Allah.

(Rm. 11:36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, kita pun dari Dia. Segala sesuatu adalah oleh Dia. Kita diciptakan oleh Allah dan dipelihara oleh Allah. Segala sesuatu adalah kepada Dia. Segala sesuatu yang kita kerjakan kembali kepada Allah karena Dia yang mencipta, memelihara dan berhak menerima segala persembahan hidup kita. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Soli Deo Gloria.
(Ringkasan belum diperiksa oleh pengkotbah. VP).

 
RocketTheme Joomla Templates