Natal PDF Print E-mail

NATAL

Natal adalah bentuk kepedulian Allah kepada umat pilihanNya. Kepedulian Allah ini sampai mau merendahkan diriNya menjadi manusia yang terbatas dan bukan lahir di istana raja, melainkan di kandang binatang (Luk 2:7). Bahkan lebih dari itu, sampai rela mengalami hukuman yang paling dianggap rendah pada waktu itu, yaitu disalib (Fil 2:6-8), padahal IA tidak bersalah dan lebih lagi dari itu, IA disalib bagi orang yang sama sekali tidak layak, yaitu saudara dan saya. Inilah spirit kekristenan, bukan dalam kemewahan, bukan dalam glamour tetapi dalam kerendahan dan kesederhanaan (Efe 5:21). Hidup tidak untuk kepentingan diri sendiri, tapi mau peduli dan berkorban bagi sesama, terutama saudara seiman (Fil 2:4, Gal 6:10).

Ini merupakan peringatan bagi kita yang hidup dalam zaman penuh dengan tuntutan hidup mewah, glamour dan individualistis. Bahkan tidak sedikit gereja yang benar-benar menekankan segala kemewahan, glamour dan eksklusifisme termasuk gedungnya, fasilitasnya dan gaya hidup.

Kesederhanaan tidak berarti tidak boleh kaya dan tidak boleh memiliki dan menggunakan fasilitas. Alkitab tidak melarang orang menjadi kaya dan menggunakan kekayaannya. Yang tidak diperkenan adalah hidup yang dikuasai ambisi untuk menjadi kaya plus pembedaan status manusia berdasarkan kekayaan yang dimilikinya. Orang kaya atau tidak adalah sama di hadapan Allah, dan semuanya merupakan anugerah Tuhan, namun bila Tuhan memberikan kita kekayaan harta, maka itu bukan tujuan hidup kita dan bukan menentukan tingkatan hidup kita di hadapan Allah dan sesama. Harta itu hanya merupakan titipan Allah bagi kita supaya kita mempergunakannya dengan bertanggung jawab di hadapan Allah. Terutama diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan secara konkrit. Kerendahan timbul dari belas kasihan terhadap sesama, dan tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang lain. Kaya yang dikehendaki Allah adalah kaya dalam kemurahan walaupun kita miskin secara harta (bnd 2Kor 8:2). Miskin yang dikehendaki Allah adalah miskin dalam arti rohani, yaitu orang yang selalu merendahkan diri di hadapan Allah, rindu, berharap dan bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah (Mat 5:3).

Sejauh mana kepedulian terhadap sesama sudah nyata dalam hidup kita? Apakah saudara dan saya selama ini hanya mempedulikan diri kita sendiri? Adakah kita terlalu gengsi untuk merendahkan diri? Mungkin waktu kita masih mahasiswa, kata merendahkan diri masih cocok bagi kita, tetapi bagaimana dengan sekarang, jika kita sudah menjadi orang kaya, bila kita sudah menjadi pimpinan, bila kita sudah kedudukan yang bergengsi di mata masyarakat, apakah kita masih mau merendahkan diri atau terlalu mahal buat kita untuk melakukan itu?

Namun tidak hanya itu, tidak berhenti sampai disini. Kepedulian kita terhadap sesama, seharusnya juga sejalan dengan tujuan kepedulian Allah, yaitu demi keselamatan sejati dan pertumbuhan untuk makin mengenal Allah dan kehendakNya serta belajar untuk mau mentaatinya dengan bersandar penuh pada RohNya yang Kudus. Tanpa tujuan ini, maka tujuan kita hanya sampai kepada humanisme belaka, dengan standard dan batas nilai yang tidak jelas. Kekristenan bukan identik dengan lembaga bantuan sosial, tetapi hati Allah yang mau menyelamatkan umat pilihanNya terpancar dalam hidup setiap anak-anakNya. Mari kita berdoa agar kita boleh makin giat melaksanakan panggilan Tuhan.

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung (2Pet 1:10)

Amin.

Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th.

 

 
RocketTheme Joomla Templates