Profil PDF Print E-mail

GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA

SEJARAH BERDIRINYA GRII NGAGEL JAYA

GRII Ngagel Jaya dimulai dari MRII[1] (Mimbar Reformed Injili Indonesia). MRII dimulai dari terbentuknya persekutuan doa dari beberapa anggota yang rindu, bergumul dan terbeban untuk memulai suatu Pos PI baru dalam naungan Sinode GRII. Kerinduan ini terjadi karena setelah melihat hasil dari followup beberapa pelayanan gerakan reformed selama ini yang menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk diadakan suatu wadah ibadah yang rutin bagi jiwa-jiwa yang baru bertobat dan yang tidak mendapat tempat pembinaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka.

Penyusunan Proposal membentuk pos PI yang baru (MRI2) dimulai bulan Mei 1995 dan selesai pada bulan Juni 1995. Setelah proposal selesai, maka sejak saat itu (Juli 1995) persekutuan dari rumah tangga ke rumah tangga dijalankan. Peserta persekutuan pada awalnya sekitar 6-7 orang. Setelah beberapa kali persekutuan dan karena melihat kebutuhan dan pertumbuhan peserta persekutuan yang makin meningkat, maka persekutuan dipindah pada hari Minggu dan esensinya diubah menjadi “kebaktian” dengan menggunakan nama “KRIS” (Kebaktian Reformed Injili Surabaya).

Dengan makin meningkatnya peserta kebaktian, maka dibutuhkan tempat yang permanent untuk kebaktian. Kemudian KRIS meminjam ruang pertemuan (lt.2) dari bank CNB di Jalan Pucang Anom Timur. Setelah kurang lebih 4 bulan bulan kemudian, maka kebaktian Natal tanggal 24 Desember 1995 adalah kebaktian terakhir menggunakan ruang pertemuan CNB.

Awal bulan Januari 1996, kebaktian KRIS telah dipindah dari CNB ke Hotel Tunjungan dengan jumlah peserta kebaktian sekitar 20-30 jemaat. Jumlah meningkat terus, sampai pada tanggal 28 Mei 1996, di Hotel Hyatt “KRIS” telah diresmikan oleh sinode GRII (dengan mengutus Pdt Yoshua Lie) menjadi MRI. Pada waktu itu jemaat yang rutin hadir di kebaktian jumlahnya sekitar 30-40 orang.

Perkembangan dan kesulitan yang terjadi di Tunjungan hotel (karena kebutuhan ruang sekolah Minggu dan tempat permanent untuk kegiatan yang lain) makin menuntut panitia untuk mencari tempat permanent yang dimiliki sendiri, sehingga bebas mengadakan kegiatan dengan pembinaan-pembinaan yang lain. Sementara belum menemukan tempat yang permanent, maka kegiatan seperti pemahaman Alkitab, katekisasi dan persekutuan doa masih meminjam tempat dari beberapa jemaat.

Sakramen baptis-sidi pertama kali diadakan pada tanggal 15 Desember 1996 di Tunjungan Hotel, pada waktu itu membaptis 4 dewasa, anak-anak 5, sidi 2 , atestasi 12.

Setelah panitia pembangunan berkeliling mencari tempat yang tepat dan dirapatkan beberapa kali, maka diputuskan untuk membeli ruko Manyar Megah Indah Plaza (eks Kebon Bibit) blok K1-2. Dana yang dikumpulkan berasal dari GRII Pusat Jakarta, panitia dan jemaat MRI Ngagel Jaya .

Setelah mengadakan renovasi gedung beberapa bulan, maka pada bulan April ’97 kebaktian dari Tunjungan Hotel telah dipindah ke Ruko Manyar Megah Indah Plaza K1-2 (ex Kebon Bibit), Jalan Ngagel Jaya Selatan, Surabaya. Gedung ini diresmikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong pada tanggal 4 Mei 1997. Pada saat itu jemaat yang rutin hadir dalam kebaktian rata-rata sekitar 40-50 orang.

Jemaat GRII Ngagel Jaya terus bertumbuh dan jumlah anggota resmi yang Baptis-Sidi dan Atestasi sudah mencapai lebih dari 50 orang dewasa, maka pada tanggal 13 Desember 1998, Sinode GRII Pusat mengutus Pdt. Yoshua Lie untuk meresmikan perubahan status MRI (di Ngagel Jaya) didewasakan menjadi GRII (di Ngagel Jaya).


[1] MRII sudah ada terlebih dahulu sejak 1988

 

 
RocketTheme Joomla Templates