Ringkasan Khotbah - 15 Jan'12 PDF Print E-mail

Doa Nehemia

Neh.1:4-11

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Nehemia hidup di zaman yang sangat tidak enak. Saat itu bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan dan penghukuman Tuhan. Israel sudah terpuruk. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan. Kita pun mungkin akan merasa putus asa, kecewa, dan merasa ditinggalkan Tuhan jika berada di posisi bangsa Israel saat itu. Meski demikian, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Tuhan sedang bekerja dan menggenapi rencana-Nya. Ini yang dipercaya oleh Nehemia. Nehemia sadar bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, Tuhan sedang mendidik umat-Nya.

Keyakinan Nehemia ini seharusnya juga menjadi keyakinan kita. Janji bahwa Tuhan menyertai kita bukan berarti masalah hidup itu tidak ada melainkan dalam kondisi apapun Ia tidak pernah meninggalkan kita.

Nehemia sendiri pada waktu itu hidup dalam keadaan berkelimpahan sebagai juru minuman raja. Tetapi ia tidak tenggelam dalam kenikmatannya sendiri melainkan Nehemia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa ketika mendengar kehancuran bangsa Israel. Bagaimana dengan kita? Apakah kita peduli dengan gereja Tuhan dan ikut memikirkan pekerjaan-Nya? Jangan menjadi orang yang tidak punya kepedulian sama sekali. Ketidakpedulian adalah salah satu bentuk penghinaan terhadap Allah dan pekerjaan-Nya. Nehemia adalah orang yang peduli terhadap umat Tuhan dan pekerjaan-Nya. Meskipun ia berada jauh dengan mereka tetapi hati Nehemia ada pada mereka. Jangan sampai kita begitu dekat dengan pekerjaan Tuhan tetapi hati kita jauh.

Bagaimana Nehemia berdoa? Jika Nehemia sampai dipercaya menjadi juru minuman raja, berarti Nehemia memiliki prestasi yang cukup berkualitas sehingga ia diangkat dan dipercaya oleh raja. Pasti Nehemia setia dalam pekerjaan yang diberikan kepadanya. Di tengah pergumulan-pergumulan Nehemia, ia tetap mengutamakan Allah dan pekerjaan-Nya. Apa yang Nehemia kerjakan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Pekerjaan Tuhanlah yang menjadi doa Nehemia. Demikianlah seharusnya doa-doa kita. Apakah kita mengutamakan Kerajaan Allah dalam doa-doa kita? Yesus Kristus datang ke dunia untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menggenapi rencana Bapa.

Bagaimana dengan kita? Apa yang menjadi prioritas dalam doa kita? Jika kita mementingkan kepentingan pribadi dalam doa-doa kita, maka kita sama dengan orang yang menyembah berhala. Orang yang menyembah Allah yang benar pastilah seorang yang berpusat pada Allah. Dirinya dipersembahkan kepada Allah sepenuhnya. Bukan berarti kita tidak boleh berdoa untuk kepentingan pribadi, tetapi kita harus ingat bahwa itu bukanlah pusatnya. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup kita adalah demi Allah dan pekerjaan-Nya. Misalnya dalam dunia bisnis biarlah kita boleh menjadi saksi, teladan yang baik dan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Demikian juga dalam profesi kita yang lain. Semua profesi adalah berpusat bagi kemuliaan Allah dan kerajaan-Nya. Inilah hidup yang berintegritas. Untuk apa Allah memberikan kita kekayaan dan kepandaian? Jika hanya dipakai bagi kepentingan dan kepuasan diri sendiri artinya kita belum sungguh-sungguh seorang Kristen yang mengerti panggilan Tuhan.

Dalam doa Nehemia, ia mengakui dosa dan kesalahan bangsa Israel yang selama ini dilakukan. Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk. Mereka sudah dipimpin dengan luar biasa tetapi mereka kurang ajar terhadap Tuhan. Sampai kemudian mereka meminta raja karena ingin seperti bangsa-bangsa lain. Ini adalah sikap yang tidak tahu aturan dan tidak tahu terimakasih. Bangsa Israel menerima hukumannya. Mereka dibuang oleh Tuhan dan Nehemia berdoa untuk Israel. Waktu Nehemia berdoa, ia tidak merasa diri lebih baik dari bangsa Israel. Ketika mendoakan orang lain hati-hati supaya kita jangan jatuh kepada kesombongan karena merasa lebih baik dari orang yang berdosa itu. Tidak demikian halnya dengan Nehemia (ayat 6). Pemahaman Nehemia mengenai dosa sangat reformed. Nehemia bukan pengikut agama moralis yang mendefinisikan dosa sebagai perbuatan diluar (menipu, merampok, mencuri, dll) karena Alkitab memang tidak menyatakan demikian. Waktu kita mencuri waktu, mencuri uang Tuhan, kita sudah berdosa. Nehemia sadar bahwa dirinya pun adalah orang berdosa yang tidak layak di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya dalam doa Nehemia, ia tidak sekedar mengaku dosa.

Pengakuan dosa harus disertai dengan penyesalan dan pertobatan. Pengakuan dosa yang tidak disertai dengan penyesalan yang dalam dan pertobatan adalah orang yang sedang membenarkan diri sendiri. Nehemia dalam doanya kepada Tuhan menyadari bahwa dirinya juga bobrok. Nabi-nabi pun waktu berjumpa dengan Allah tidak pernah merasa dirinya benar dan tanpa dosa. Mereka mengatakan, “celakalah aku orang berdosa ini karena aku bertemu dengan Allah yang Mahakudus”. Syarat doa yang benar adalah menyadari bahwa kita orang berdosa yang tidak layak di hadapan Tuhan. Jika kita dapat terlibat dalam pekerjaan-Nya, itu karena belas kasihan Tuhan dalam hidup kita. Dengan kesadaran bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain, kita tidak mungkin datang ke hadapan Tuhan dengan kesombongan melainkan kehancuran dan kerendahan hati. Jadi, doa Nehemia adalah doa yang dipenuhi dengan kesadaran akan dosa-dosanya di hadapan Tuhan.

Selain itu, doa Nehemia juga adalah doa yang bersandarkan pada perjanjian Allah. Nehemia adalah seorang yang mengikatkan diri dengan Perjanjian Allah. Perjanjian Allah itu yang bagaimana? Banyak orang Kristen saat ini salah berpikir tentang janji Allah. Allah tidak pernah berjanji bahwa orang yang beriman pasti hidupnya lancar tetapi Tuhan berjanji bahwa apapun yang terjadi, Tuhan akan menyertai umat-Nya. Waktu berdoa Nehemia sadar bahwa ia bukan sedang menggugah Tuhan melainkan sedang memohon belaskasihan Tuhan padanya yang tidak layak. Demikian pula seharusnya sikap hati kita dalam berdoa. Nehemia berpegang pada perjanjian Allah yang pernah dinyatakan-Nya pada Musa (ayat 8).

Perjanjian Allah dengan umat-Nya harus dimengerti dalam konteks yang tepat. Konteks kita sekarang sudah berbeda jauh dengan konteks pada saat itu. Zaman Perjanjian Lama adalah zaman pemerintahan Teokrasi di mana Allah memimpin satu bangsa, yaitu bangsa Israel. Sedangkan dalam Perjanjian Baru yang namanya Israel sudah bukan lagi Israel secara jasmani tetapi Israel secara rohani maka janji-janji Allah yang secara lahiriah di Perjanjian Lama tidak dapat diterjemahkan secara lahiriah di Perjanjian Baru. Perjanjian Baru lebih banyak menekankan nilai-nilai rohani, demikian juga janji-janji Allah. Dalam Perjanjian Lama memang ada tanda-tanda yang diberikan Allah secara fisik sedangkan dalam Perjanjian Baru Perjanjian Allah diberikan dalam konteks rohani. Memang Allah berkuasa untuk melakukan mujizat tetapi tidak ada jaminan bahwa umat Tuhan tidak akan pernah terkena musibah dan hidupnya lancar. Janji Tuhan bagi kita sekarang adalah apapun yang terjadi Ia pasti menyertai kita. Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Inilah janji Tuhan.

Nehemia tidak hanya berdoa dengan sambil lalu. Kita seringkali asal-asalan waktu berdoa. Berdoa lewat begitu saja, tanpa kesungguhan. Nehemia tidak seperti itu. Ia berdoa dengan kesungguhan hati, dengan menangis, berkabung sampai ia berpuasa. Nehemia tidak sekedar mengucapkan kata-kata yang bagus untuk Tuhan tetapi ia juga melakukan tindakan yang nyata sesuai dengan apa yang ia doakan. Setelah berdoa Nehemia menyerahkan hidupnya bagi perkejaan Allah.

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita doakan dalam hidup kita? Apakah kita memprioritaskan Tuhan dan pekerjaan-Nya?

(Ringkasan belum diperiksa pengkotbah. VP)

 
RocketTheme Joomla Templates