Ringkasan Khotbah - 04 Des'11 PDF Print E-mail

Perumpamaan tentang Benih dan Seorang Penabur

Mat.13:1-23

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Bagian ini menceritakan bagaimana orang banyak berbondong-bondong mengikut Dia. Namun respon Tuhan Yesus tidak terlalu senang jika ada orang banyak yang mengikut Dia. Berbeda dengan respon manusia pada umumnya. Jika kita sebagai pemimpin kita cenderung senang jika diikuti oleh banyak orang. Tuhan Yesus sepertinya tidak terlalu menyambut orang banyak itu. Tuhan Yesus sama sekali bukan ingin menyenangkan manusia. Yesus tahu motivasi orang banyak itu. Yesus pernah memberi peringatan keras kepada 5000 orang yang setelah diberi makan datang mencari Yesus dengan motivasi yang tidak benar. Perkataan Yesus saat itu sangat tidak menyenangkan telinga orang-orang Yahudi. Apakah Tuhan Yesus merasa gagal dengan pelayanan-Nya yang banyak ditentang oleh orang-orang Yahudi saat itu? Sama sekali tidak. Kita tidak dapat memakai kuantitas sebagai patokan untuk menentukan kesuksesan suatu pelayanan. Seringkali kita terjebak dengan jumlah dalam melakukan penilaian. Benar atau tidak benarnya suatu pelayanan seharusnya dievaluasi berdasarkan firman dan kebenaran yang disampaikan, bukan berdasarkan jumlah orang yang hadir. Kesetiaan pada firman adalah kriteria paling mendasar dalam melakukan penilaian.

Contoh: Stefanus yang dilempari batu sampai mati. Apakah pelayanan Stefanus gagal? Tentu tidak. Dalam penilaian Allah, Stefanus sangat sukses karena sebelum matinya ia masih memohon kepada Tuhan untuk mengampuni orang-orang yang tidak tahu apa yang mereka lakukan waktu membunuhnya. Namun bagi dunia Stefanus pasti dianggap gagal. Begitu juga Yohanes Pembaptis yang waktu menyatakan kebenaran harus mati dipenggal. Di mata dunia Yohanes Pembaptis mati konyol. Namun Tuhan Yesus menegaskan, “Di antara yang lahir di dunia ini tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis.” Kita menilai kesuksesan menurut penilaian dunia atau penilaian Allah?

Orang-orang yang mengikut dan mencari Yesus bukannya disambut dengan ramah tetapi justru ditegur dengan keras, “sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” Yesus menegur hal yang paling utama: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (ayat 11). Kata-kata Yesus jelas di sini bahwa Ia tidak menginginkan pertobatan orang-orang yang bukan pilihan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus merindukan pertobatan orang-orang yang tidak Ia pilih. Ini kalimat yang aneh. Dari ayat 11 – 17 jelas bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki pertobatan orang-orang yang Ia pilih.

Kemudian Yesus memberi perumpamaan benih dan seorang penabur.

(Ayat 19) Benih menggambarkan firman tentang Kerajaan Surga yang diberitakan. Benih yang pertama tidak sampai bertumbuh tetapi diambil burung-burung. Ini menunjukkan orang yang sama sekali tidak tertarik dengan firman Tuhan. Tidak ada kepedulian, kerinduan atau keinginan mendengar firman. Bahkan orang seperti ini menganggap firman Tuhan sebagai sampah dan tidak tersentuh sama sekali. Orang-orang ini mungkin datang ke gereja karena dipaksa teman atau karena kristen keturunan. Firman Tuhan segera dilupakan.

(Ayat 20) Benih kedua tumbuh di tanah berbatu-batu. Ini menunjukkan orang yang menerima firman dengan begitu gembira tetapi hanya bertahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, maka orang itu segera murtad.

Kata murtad di sini sering menjadi dasar orang Armenian yang mengatakan bahwa ayat ini adalah bukti orang yang di dalam Kristus bisa murtad. Benih ini segera tumbuh, tetapi di tanah yang tipis, lalu karena terik matahari maka layulah dan tidak berakar. Orang Armenian menafsir bagian ini sebagai orang yang sudah bertobat, senang mendengar firman tetapi karena tidak waspada, tidak belajar setia dan taat maka di tengah jalan menjadi kandas dan kehilangan keselamatan. Ini teologi Armenian yang menganggap keselamatan bisa hilang (Ada juga kelompok Armenian yang menerima sekali selamat tetap selamat). Meski demikian, tetap kelompok Armenian tidak pernah menerima predestinasi apalagi double predestinasi.

Jadi tafsiran yang benar bagaimana? Orang yang mendengar firman dengan gembira tidak menjamin bahwa ia adalah orang yang diselamatkan karena banyak orang yang hanya senang mendengar firman yang cocok dengan dirinya. Ia merasa senang karena menyenangkan telinganya. Namun orang seperti ini tidak dijamin adalah orang yang sudah bertobat dan sudah menerima anugerah keselamatan. Herodes pun dicatat senang mendengar firman yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis (Mrk.6:20).

Contoh: kotbah dari kelompok muslim pun bisa menyejukkan dan mengagumkan hati kita jika didengarkan. Namun jika kita senang mendengar kotbahnya bukan berarti kita pasti adalah orang muslim. Demikian juga bukan berarti orang yang senang mendengar kotbah-kotbah Kristen pasti orang Kristen lahir baru. Orang yang menerima firman karena cocok dengan dirinya adalah orang yang mudah pergi saat firman yang didengarnya sudah tidak cocok lagi.

(Ayat 22) Benih ketiga tumbuh di semak duri lalu semakin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Benih ketiga adalah gambaran dari orang-orang yang tidak bisa bertumbuh setelah mendengar firman karena godaan kekayaan dunia dan kekuatiran menghimpit dirinya. Contoh: istri Lot. Sewaktu Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan ia masih terikat dengan harta dunia kemudian ia menoleh ke belakang sehingga binasalah dirinya.

Ketiga benih ini bukanlah orang Kristen sejati. Ketiga orang tipe ini adalah orang Kristen yang tidak pernah lahir baru dan bertobat, hanya ikut-ikutan saja.

(Ayat 23) Benih keempat adalah benih yang tumbuh di tanah yang baik dan berbuah. Hal ini tidak pernah dimengerti oleh ketiga orang sebelumnya. Orang yang mengerti firman menunjukkan hati yang sudah dicelikkan oleh Tuhan. Ini bukan masalah cocok atau tidak cocok, gembira atau tidak gembira, tetapi hati yang sudah dibukakan, diubahkan dan dilahirbarukan oleh Tuhan untuk mengerti berita Kerajaan Surga.

Mari kita lihat Tit.3:5. Inilah keselamatan yang sejati. Pekerjaan kelahiran baru bukan karena usaha kita tetapi karunia Allah semata-mata. Begitu juga Yeh.36:25-27. Inilah yang membuat kita dapat mengerti dan berbuah. Allahlah yang memberi karunia hati yang taat dan Roh yang bekerja dalam kehidupan kita sehingga kita dicelikkan mengerti kebenaran demi kebenaran. Kasih karunia Allah mengerjakan kesadaran dalam hati kita sehingga kita dapat berespon dengan benar. Kita juga tidak mengikuti Reformed Hyper Calvinistic yang percaya pada nasib dan terjebak pada fatalisme sehingga tidak ada usaha untuk berbuat yang lebih baik dari sebelumnya. Hal seperti ini dapat membuat kita hidup dalam kemalasan. Kita harus melakukan yang terbaik bagi Allah kita. Cara Tuhan adalah memulihkan mata rohani kita hingga tercelik.

Meski demikian bukan berarti kita menjadi orang yang tanpa dosa. Setiap saat kita tidak pernah berhenti berdosa di hadapan Tuhan karena kita tidak pernah bisa mencapai standar Allah yang sempurna. Setiap detik kita tidak sempurna dan ternoda dengan dosa. Kita masih penuh kekurangan. Namun kesadaran ini yang membuat kita masuk dalam proses pembentukan terus-menerus. Itu sebabnya kita perlu terus melekat pada Pokok Anggur yang benar. Ini menunjukkan relasi yang dekat dengan Allah yang benar. Mungkin saja kita merasa berelasi dengan Allah tetapi sesungguhnya Allah tidak pernah mengakui pernah berelasi dengan kita. Buah yang sejati tidak dapat dibuat-dibuat. Buah asli pastilah dari pohon yang asli. Tuhan Yesus mengatakan dari pohon yang tidak baik mengeluarkan buah yang tidak baik, dari pohon yang baik mengeluarkan buah yang baik. Orang yang sudah diperbarui hatinya oleh Tuhan dan mengikut Yesus yang sejati, jika padanya tertimpa masalah, ancaman ini tidak akan membuatnya menyangkali imannya ataupun membuat ia kehilangan keselamatannya. Harga keselamatan terlalu mahal untuk ditukarkan dengan kepentingan diri sendiri. Tidak mungkin orang yang sudah menemukan mutiara asli akan menggantikan mutiara tersebut dengan puntung rokok. Tidak ada istilah murtad bagi orang percaya sejati. Hati yang sudah diperbarui akan didorong oleh api yang tidak terpadamkan untuk memberitakan firman meskipun resikonya adalah mati. Roh Kudus menggembleng anak-anak Tuhan. Tuhan terus mengasah anak-anaknya, tidak mungkin mereka amblas di tengah jalan. Sementara tipe orang 1 sampai 3 tidak pernah mengalami pembaruan oleh Roh Kudus seperti ini.

Apakah kita merasa menjadi orang yang belum lahir baru? Jika kita meragukan bahwa kita belum lahir baru pasti Roh Kudus yang justru sedang bekerja dalam hati kita. Orang yang belum lahir baru tidak mungkin memikirkan mengenai hal ini.

Apakah kita adalah orang yang sudah lahir baru? Jangan kita kemudian merasa diri mampu dan merasa apa yang kita kerjakan adalah hasil kerja keras diri sendiri. Kita harus sadar bahwa apapun yang dapat kita kerjakan adalah semata-mata kasih karunia Allah. Orang yang lahir baru akan terus diinsafkan untuk memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu. Mari kita belajar makin bergantung kepada Dia dan hidup memuliakan Nama-Nya.

(Ringkasan belum diperiksa pengkotbah. VP)

 
RocketTheme Joomla Templates