Ringkasan Khotbah - 7 Ags'11 PDF Print E-mail

Hatiku milik-Mu

Yoh.12:1-8, Mrk.14:1-3, 9-11

Pdt. Antonius Un, M.Div

Markus sengaja menuliskan kisah ini dengan teknik sandwich untuk menginterupsi cerita yang sedang berkembang. Ketika berbicara mengenai pengkhianatan terhadap Yesus oleh Yudas dan Imam Kepala, Markus memasukkan cerita Maria mengurapi Tuhan Yesus. Sandwich tujuannya memberikan kontras antara cerita yang sedang berkembang dengan interupsinya. Cerita yang tiba-tiba masuk itulah yang menjadi penekanan. Itulah sebabnya kisah Maria di sini menjadi penekanan yang lebih perlu diceritakan daripada kisah pengkhianatan Yudas.

Markus ingin membandingkan hati Maria dengan hati Yudas. Apakah hati manusia? Hati adalah tempat yang menjadi pusat kehidupan manusia. Ams.4:23 – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar seluruh kehidupan. Hati mengontrol kehidupan manusia sehingga baik perkataan maupun tindakan keluar dari hati. Hati menjadi sangat berbahaya jika menjadi licik (Yer.17). Hati memiliki kekuatan yang sangat besar. Cinta kasih dan iman ada di dalam hati. Iman bukan emosi tetapi bagian dalam hati manusia yang lebih besar dan lebih kaya dari pikiran, emosi atau kemauan. Itulah hati manusia. Jika hati licik dan bengkok maka hidupnya pun akan bengkok. Hati dapat menipu diri sendiri. Misalnya: orang Kristen harus berdoa tetapi ia malas berdoa. Ia akan memberi alasan pada dirinya sendiri kemudian menerima dirinya sendiri. Itu namanya rasionalisasi internal yang akan menjadi kerumitan dalam dirinya.

Hari ini kita akan merenungkan mengenai hati. Setiap hari kita harus berdoa supaya Tuhan memberi kita hati yang bersih. Hati yang bersih, jujur, tulus, murni, clear supaya hidup kita sebagai orang Kristen beres.

Beda hati Maria dan Yudas:

1.Hati Yudas licik, hati Maria tulus. Yudas adalah seorang yang sudah biasa mencuri. Kata-kata Yudas tidak sembarangan tetapi mengandung satu serangan pada Yesus. Ia mengatakan pada Yesus sebaiknya uang yang digunakan Maria untuk mengurapi Yesus dijual dan dibagikan pada orang miskin. Yudas merenungkan dan memikirkan baik-baik kata-katanya sebelum mengatakannya. Berbeda dengan Pilatus waktu mengatakan kalimat yang besar, “Apakah kebenaran itu?” ia tidak pernah merenungkan dan tidak mengharapkan jawabannya. Sedangkan Yudas merenungkan kalimat-kalimat licik yang kemudian diungkapkannya menjadi kalimat yang kelihatannya berkuasa. Seolah-olah Yudas membela orang miskin. Namun implikasinya Yudas mau mengatakan bahwa ketika minyak itu ditumpahkan, Yesus tidak layak menerimanya. Orang miskin yang lebih layak menerimanya. Persembahan kepada Yesus dianggap sebagai pemborosan. Bahkan ia menganggap dirinya lebih layak daripada Tuhan Yesus. Yudas sedang menghina Tuhan Yesus.

Yudas seperti membela orang miskin padahal ia memakai mereka untuk kepentingannya. Di Indonesia pun banyak  kasus-kasus seperti ini. Di Departemen Agama pernah dibongkar korupsi, dana bantuan diberikan untuk 700 pesantren yang ternyata fiktif. Yudas seperti DPR hari ini. Korupsi dan kejahatan masuk sampai pada semua lini di negara kita. Korupsi sudah menjadi budaya. Yudas memakai hal yang mulia untuk tujuan yang hina. Yudas memakai penampilannya yang menarik untuk menipu. Tidak mungkin Yudas berpenampilan buruk dan lusuh. Itulah sebabnya murid-murid yang lain tidak menyangka bahwa Yudaslah yang akan menjual Yesus. Bahkan setelah Yesus mengatakan, “Siapa yang mencelupkan roti ke dalam cawan-Ku, dialah yang akan menyerahkan Aku.” Setelah itu Yudas mencelupkan roti. Sebenarnya sudah jelas tetapi murid-murid tidak menduga bahwa Yudas akan menjual Yesus. Pasti salah satu alasannya karena penampilan Yudas yang luar biasa. Jika Yudas penampilannya mencurigakan pasti Yudas sudah mati lama. Kadang-kadang orang yang hati tulus lebih mencurigakan daripada orang yang licik hatinya.

Yudas menggunakan ciuman sebelum menjual Yesus. Mengapa Yudas harus mencium Tuhan Yesus? Jika Yudas ingin menghancurkan Yesus mengapa tidak langsung dicaci maki, dihina dan dipukul? Karena Yudas melakukan penghujatan. Saat itu, seorang murid yang menghargai gurunya ditandai dengan menciumnya sebagai bentuk penghargaan. Sekarang Yudas melakukannya sebagai penghujatan. Yohanes, Petrus, dan Yakobus tidak pernah mencium Tuhan Yesus. Penderitaan yang Yesus alami selain fisik juga penghujatan. Mengapa orang lebih merasa terhina waktu diludahi ketimbang dipukul, bukankah diludahi hanya air? Karena maknanya. Begitu pula orang-orang yang dijadikan lelucon dan diperkosa pada zaman Nazi merasa diperlakukan begitu keji dan terhina. Yudas mencium Tuhan Yesus merupakan penghujatan begitu keji. Lebih baik Yudas memukul kemudian menjual Tuhan Yesus daripada mencium baru menjual Tuhan Yesus. Yudas begitu keji.

Hati Maria yang simple, single, total, begitu sederhana. Ayat 8 mengatakan bahwa ia telah melakukan apa yang terbaik yang dapat ia lakukan, dengan satu hati saja yaitu untuk menyenangkan Tuhan. Ia tidak rumit-rumit dan berpikir macam-macam. Cuma satu dan total. Pada kasus Marta ia berani menentang kakaknya dan tidak ikut masak-masak. Biar kakaknya marah-marah. Ia total memberikan dirinya untuk Tuhan. Maka hati kita juga tidak boleh macam-macam. John Calvin adalah orang yang pikirannya rumit tetapi hatinya begitu sederhana untuk Tuhan. Hati tidak boleh kompleks tetapi suci, sederhana, untuk senangkan Tuhan saja.

George Muller mengatakan bahwa jika hati kita murni berdoa minta sesuatu jangan tanggung-tanggung, bahkan minta hal yang mustahil: misalnya seorang ibu yang minta agar anaknya jadi hamba Tuhan yang lebih besar daripada Pdt. Stephen Tong. Tapi hatinya murni tidak? Kalau murni tidak usah takut. Tidak usah takut berkorban dan mengalami luka kalau hati kita murni, asalkan untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Kalau Tuhan senang, apalagi Ia juga berhak atas hidup kita, maka kita luka pun tidak apa-apa. Ini adalah dasar kekristenan: hati yang murni. Kita semua mungkin memiliki begitu banyak kekurangan, itu hal yang wajar sebagai manusia berdosa, tetapi hati yang curang adalah hati yang paling parah dibandingkan apapun. Di Alkitab Tuhan tidak pernah membuang orang-orang yang hatinya murni meskipun ia punya banyak kekurangan. Contoh Yakub dan Daud meskipun secara kelihatan Esau dan Saul seperti lebih baik dan lebih tidak berdosa dibandingkan mereka, tetapi mereka tidak punya hati untuk Tuhan. Yudas tidak banyak ditegur, tidak seperti Petrus (itu juga alasannya Tuhan tidak mau terlalu pakai Yudas, sebab itu ia tidak banyak ditegur). Tapi jangan dibalik bahwa kekurangan berarti boleh-boleh saja asal hati murni. Orang yang hatinya murni pasti tidak menikmati dosa. Dosa itu namanya jatuh, bukan direncanakan. Berdoalah minta hal ini. Tidak boleh ada hati cabul, hati untuk uang, hati untuk kemuliaan diri, tidak boleh ada hati yang licik dan jahat, tapi hati yang semata-mata untuk menyenangkan Tuhan. Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang hatinya suci.” Salah satu orang yang hatinya paling baik di Alkitab adalah Daud, sewaktu Absalom dan Saul matipun ia tidak bersukacita. Ia lebih ingin mereka berdua bertobat daripada dibunuh. Itulah sebabnya Tuhan memberkati Daud meskipun ia memiliki banyak kekurangan. Jikalau mau mendoakan para hamba Tuhan doakanlah supaya mereka punya hati yang murni, yang lurus untuk Tuhan seumur hidupnya.

2.Yudas punya hati cinta uang sedangkan Maria punya hati cinta Tuhan. Yudas saking cinta uang rela Tuhan Yesus dijual. Ia berbeda dengan Imam Kepala yang begitu benci Yesus sampai uang pun rela dikeluarkan. Itu sebabnya dia tidak mau berkorban tetapi mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Orang kalau sudah mencintai uang apapun bisa dilakukan. John Sung melihat seorang wanita yang waktu kapal mau tenggelam harta bendanya begitu banyak dan sudah susah payah kumpulkan bertahun-tahun tidak rela dibuang lalu mati bunuh diri terjun ke laut. Ini seperti cerita seorang muda yang kaya yang tidak rela ikut Yesus kalau disuruh jual semua hartanya. Memberikan uang dalam kemiskinan lebih mudah daripada memberikan uang dalam kekayaan. Makin besar penghasilan kita makin berat beri perpuluhan. Uang dan penderitaan terbalik. Uang datangnya susah perginya gampang, penderitaan sebaliknya. Uang seperti orang sibuk, susah datang, penderitaan seperti orang nganggur, datangnya gampang perginya susah. Orang yang mulai usaha dari nol lalu rugi dan kembali lagi jadi nol sebetulnya tidak rugi, toh kembali lagi kan? Tapi manusia tidak boleh cinta uang, hatinya bisa menjadi jahat. Kiyosaki keliru waktu bilang akar segala kejahatan adalah kurang uang. Siapa bilang? Pedagang narkoba kelas kakap tidak kurang uang tapi terus dagang karena cinta uang. Voltaire mengatakan di dalam hal uang semua agama sama. Machiavelli mengatakan bahwa manusia lebih takut kehilangan warisan daripada kehilangan ayahnya. Maria karena cinta Tuhan bukan cinta diri berani berkorban. Marta bukan melayani Tuhan tapi melayani diri. Marta bukan bermasalah di pelayanan tapi di dalam hati. Kalau kita ekstrim ikut Maria maka tidak ada KKR dan tidak ada yang mau jadi panitia. Yesus saat itu dalam perjalanan ke Yerusalem untuk disalibkan. Marta kuatir Yesus lapar dalam perjalanan. Marta berfokus pada perut Yesus dan mulut jasmani-Nya, Maria berfokus pada hati Yesus dan mulut rohani-Nya. Setan berfokus pada apa yang masuk mulut manusia sedangkan Tuhan Yesus berfokus pada apa yang keluar dari mulut Allah. Marta hidup bukan melayani Tuhan tapi melayani diri dan kegelisahannya sendiri. Cinta kasih Maria membuat ia berkorban. Paulus juga demikian dalam pelayanannya yang ingin memenangkan orang-orang Yahudi rela berkorban. Kalau kita sudah mengasihi jiwa yang berdosa dan memberitakan injil maka jangan lagi gengsi-gengsi dan merasa diri terlalu penting untuk berkorban bagi dia. Yang Tuhan tagih kali pertama kelak dalam kekekalan adalah teman kita yang kita lalai untuk beritakan Injil. Kalau teman kita diselamatakan maka sukacita kita dobel, pertama teman sendiri, kedua perjuangan kita menginjili butuh waktu. Kalau kita memberitakan Injil maka perjuangkan sampai orang itu terima Tuhan, itu lebih daripada kita mendapat uang 1 trilyun. Tuhan Yesus tidak pernah berbicara soal sukacita surga kecuali kalau satu orang bertobat seluruh surga bersukacita. Misionaris di Hokaido ada yang rela makan makanan mentah sampai muntah-muntah dan makan lagi asal ada orang yang bertobat. Tidak apa-apa, menyenangkan Tuhan kok. Kalau mencintai Tuhan harus rela terluka, demi kerajaan-Nya. Asal Tuhan senang. Hati semacam itu yang harus ada pada kita: rela berkorban dan rela menyangkal diri.

3.Yudas punya hati yang mengorbankan orang lain, Maria punya hati yang mengorbankan diri. Yudas memanfaatkan orang miskin, memanfaatkan Maria dan ingin jual Yesus. Yudaslah yang datang kepada Imam Kepala, bukan sebaliknya. Yudas yang memanfaatkan Imam Kepala. Kalau Yesus tidak disalibkan mungkin Yudas akan jual semua murid-murid Tuhan Yesus yang lain. Minyak narwastu murni yang mahal harganya itu pasti bukan hasil kerja Maria (perempuan jaman itu tidak bekerja) tetapi pasti merupakan warisan keluarga turun temurun. Minyak itu 10 tahun sekali pun tidak tentu dapat 1, berasal dari Nepal, India, dan susah payah dibawa sampai ke Yerusalem. Orang yang tidak cinta uang pun pasti matanya terbelalak melihat apa yang Maria lakukan: ditumpahkan ke kaki Yesus.

Marilah kita minta hati yang mencintai Tuhan dan memberikan yang terbaik bagi-Nya. (Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah. VP)

 
RocketTheme Joomla Templates