Ringkasan Khotbah - 17 Jul'11 PDF Print E-mail

Kebun Anggur Nabot

1 Raja-raja 21

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Pasal 21 ini dapat kita bagi ke dalam beberapa bagian: Ayat 1-4 menyatakan tawaran Raja Ahab yang ditolak oleh Nabot. Ayat 5-10 adalah tipu muslihat Izebel untuk memperoleh kebun anggur Nabot. Ayat 11-16 adalah pelaksanaan tipu muslihat tersebut. Ayat 17-24 adalah penghakiman Tuhan atas Ahab. Ayat 25-26 menyatakan riwayat singkat dari Ahab. Ayat 27-29 menyatakan respon Ahab atas seluruh firman Tuhan yang diberikan kepadanya.

Kisah kebun anggur Nabot ini terjadi setelah pasal 18 dan 19 dimana Elia sudah mengalahkan 500 nabi Baal. Dalam pasal 20 adalah nubuatan yang akan menimpa Ahab. Setelah itu terjadilah kasus Nabot. Jika peristiwa ini dicatat secara kronologis berarti ada masalah-masalah yang krusial yang sangat parah. Pertemuan Elia dan Ahab bukanlah pertemuan yang pertama. Elia sudah pernah memperingatkan Ahab tentang masa kekeringan selama tiga tahun kemudian Elia berdoa hujan turun, dan benar hujan pun turun. Kemudian terjadilah kasus Ahab yang merebut kebun anggur Nabot.

Kisah ini terjadi di wilayah Israel. Israel waktu itu sudah terpecah menjadi dua wilayah: Kerajaan Israel (Utara) dan Kerajaan Yehuda (Selatan). Perpecahan ini terjadi setelah masa Salomo yang memiliki istri begitu banyak. Israel utara dimulai oleh Yerobeam, Israel Selatan oleh Rehabeam. Kedua Kerajaan ini banyak berseteru. Banyak yang dicatat mengenai raja di Israel utara adalah raja-raja yang jahat, termasuk Ahab. Ahab memerintah 21 tahun lamanya dan ia melakukan hal yang begitu jahat melebihi raja-raja sebelumnya. Ahab pun mengambil Izebel, anak raja Sidon, dan pergi beribadah kepada Baal. Inilah dosa Ahab yang paling besar. Ia kawin campur dengan bangsa kafir dan beribadah kepada Baal. Kesalahan Salomo diulangi lagi oleh Ahab. Kesalahan ini ternyata punya efek besar dalam rumah tangga Ahab.

(Ayat 1-4) Ahab meminta kebun anggur Nabot untuk dijadikan kebun sayur baginya. Kebun anggur Nabot bersebelahan dengan rumah Ahab. Sebetulnya permintaan Ahab ini cukup adil. Karena Ahab berjanji akan mengganti dengan uang atau diberikan kebun anggur yang lebih baik. Mungkin harga yang diberikan bisa jauh lebih baik. Tetapi jawaban Nabot begitu keras seolah-olah ia tidak tahu terima kasih. Jika kita baca sekilas kita akan mengira Nabot begitu kasar. Tetapi orang Israel diberikan tanah pusaka oleh Tuhan sendiri dan tanah tersebut hanya boleh turun kepada keturunannya. Jika tidak ada keturunan, keluarga terdekat sang pemilik tanah harus menjadi penebus dari kerabat mereka. Inilah ketetapan yang diberikan Tuhan. Karena itulah Nabot lebih menghargai milik pusaka Tuhan daripada harga yang ditawar oleh Ahab.

Nabot bukan tidak tahu mengenal hal ini namun ia tetap memintanya. Ahab meskipun raja tetap tidak bisa mengambil tanah tersebut seenaknya. Ahab telah melanggar firman Tuhan. Nabot pasti tahu Ahab itu raja yang seperti apa, tetapi Nabot lebih takut kepada Tuhan sehingga ia menolak dengan tegas tidak akan menjual milik pusaka itu kepada Ahab. Ini adalah contoh dari umat Tuhan yang takut akan Tuhan lebih daripada takut akan manusia. Nabot harusnya sadar konsekuensi apa yang akan dihadapinya waktu ia menolak Ahab. Respon Ahab pun seperti anak kecil. Ia ngambek, tidak mau makan, gara-gara tidak dapat kebun. Inilah sifat asli Ahab, tidak mendapat apa yang diinginkan, ngambek. Berbeda sekali dengan Nabot yang menolak mentah-mentah tawaran Ahab karena ia takut kepada Tuhan.

(Ayat 5-10) Bagian kedua adalah muslihat Izebel untuk memperoleh kebun anggur Nabot. Izebel, si orang kafir itu, menasehati suaminya. Dalam rumah tangga, jika fungsi kepala keluarga sudah beralih kepada istri, apalagi istri yang tidak takut akan Tuhan, celakalah. Izebel memberikan jalan keluar supaya suaminya tidak ngambek lagi. Izebel mempunyai pola pikir kafir. Ia berpikir mengapa harus susah? Bukankah Ahab raja yang bisa mengambil kebun anggur Nabot dengan paksa? Namun Izebel juga mengerti bahwa tidak bisa semudah itu karena konteksnya adalah Israel. Israel berada di bawah pemerintahan Tuhan, Teokrasi. Raja berada di bawah hukum dan harus takluk pada hukum. Untuk itu Izebel meminta supaya dikeluarkan surat atas nama Ahab, dengan meterai raja. Di sini kelihatan siapa yang menjadi kepala keluarga. Dalam dunia berdosa, kadang hubungan suami istri menjadi tidak jelas lagi. Semenjak kejatuhan Adam dan Hawa, perempuan ingin menguasai suaminya. Posisi berubah. Ini pun terjadi pada keluarga Ahab.

Izebel mengirim surat kepada tua-tua dan pemuka Israel. Mau apa Izebel? Izebel mau minta mereka menjadi juri atas peristiwa rekaan. Seluruh kota diperintahkan untuk puasa dan Nabot harus duduk di paling depan di antara rakyat. Pada waktu, jika seluruh bangsa disuruh untuk berpuasa artinya ada dosa yang sangat berat sampai seluruh kota harus puasa. Bahkan ada yang berkabung untuk meredakan murka Tuhan dan orang yang bersalah harus dihukum. Ini dulu terjadi pada Akhan di kitab Yosua. Izebel mengerti tradisi ini dan ia memakainya. Nabot disuruh duduk di paling depan dan menjadi terdakwanya. Dua orang dursila, para penjahat yang hati nuraninya sudah mati, diminta untuk bersaksi palsu mengenai Nabot. Izebel tahu bahwa saksi harus dua orang. Orang yang satu membenarkan kesaksian yang lain. Kemudian Nabot dilempar batu sampai mati.

(Ayat 11-16) Para tua-tua dan pemuka Israel melakukan persis seperti yang diperintahkan Izebel. Mereka taat mutlak pada Izebel. Nabot difitnah kalau ia telah mengutuk Allah dan Raja. Setelah itu mereka menyuruh orang memberitahu Izebel bahwa Nabot sudah mati. Kemudian Izebel memberitahukan Ahab untuk segera merebut kebun anggur Nabot. Orang-orang sekota Nabot yang seharusnya membela Nabot, malah memfitnah dan mengeksekusi Nabot. Mereka lebih takut kepada Izebel daripada kepada Tuhan, kontras dengan Nabot yang lebih takut akan Tuhan daripada manusia.

Zaman itu, orang yang pertama kali bersaksi adalah orang yang harus pertama kali melempari terdakwa tersebut dengan batu. Itulah sebabnya Izebel memanggil dua orang dursila, yang sudah tidak memiliki hati nurani lagi, untuk dengan tega melempari Nabot sampai mati. Sebetulnya tidak ada perkara sama sekali tetapi ceritanya dibuat-buat oleh Izebel sedemikian rupa sehingga masalah Nabot menjadi masalah terbuka dan sah. Nabot mati. Ahab pun tidak peduli. Ahab hanya memikirkan keinginannya yang kini terpenuhi. Jika 1 Raja-raja 21 ini berhenti di ayat 16 ini, kita akan frustrasi. Bangsa itu begitu rusak dan seperti tidak ada hati nurani sama sekali.

Dari bagian ini kita belajar bahwa umat Tuhan harus siap mengalami ketidakadilan dalam dunia ini. Waktu umat Tuhan mempertahankan kebenaran tidak perlu heran jika hal ini akan merugikan bahkan mengancam nyawa mereka (1Ptr.4:12-13a). Nabot, umat Tuhan, waktu mempertahankan firman Tuhan, mengalami ketidakadilan dan harus mati. Ketidakadilan ini seringkali terjadi dikarenakan oleh pemerintah atau penguasa. Berulang kali Alkitab mencatat hal ini. Para nabi dibunuh oleh raja-raja yang jahat. Yohanes Pembaptis dipenggal karena Herodes mengikuti perkataan istrinya. Tuhan Yesus juga mati dibunuh karena pemerintah. Paulus pun dibunuh oleh pemerintah Roma. Berapa banyak gereja saat ini dibakar, ditutup, dianiaya? Di mana pemerintah? Ini ketidakadilan yang terus terjadi. Tetapi kita sebagai umat Tuhan memiliki contoh, Nabot. Tidak gampang menjadi umat Tuhan yang mempertahankan kebenaran. Namun puji Tuhan dalam Perjanjian Baru ada Nabot yang lain (Mat.21). Mat.26:59-61, saksi-saksi dusta bangkit melawan Tuhan kita. Nabot dalam Perjanjian Lama adalah tipologi dari Nabot Perjanjian Baru, yaitu Yesus Kristus. Kita sebagai umat Tuhan pun sama. Kalau Nabot dibegitukan, umat Tuhan dibegitukan, Tuhan pun dibegitukan, kita pun akan mengalami hal yang sama. Konflik, pergumulan, kesulitan akan dialami dalam mempertahankan kebenaran. Tuhan kita pun mengalami ketidakadilan. Ini adalah darah orang benar yang akan terkumpul sampai akhir zaman. Pada waktu murka Tuhan datang, hukuman itu akan diberikan.

(Ayat 17-24) Tuhan tetap Tuhan yang berkuasa. Raja Ahab pun yang kelihatannya sangat berkuasa itu tetap harus takluk pada Tuhan. Tidak ada satu pun dari manusia di dunia ini yang lepas dari hukuman. Orang yang melakukan ketidakadilan tidak akan lolos. Darah Ahab pun tertumpah sama seperti Nabot. Ini digenapi dalam pasal 22:34 dst. Ahab mati dan darahnya dijilat oleh anjing. Upah Ahab setimpal dengan apa yang sudah dilakukannya.

Namun ada satu hal yang kelihatannya menganggu. Mengapa Tuhan tidak melepaskan Nabot sebelum ia mati? Mengapa keadilan Tuhan baru nyata setelah Nabot mati? Mengapa Tuhan tidak cegah? Ini adalah misteri dalam Alkitab yang tidak bisa kita jawab. Ini sudah terjadi dalam Kej.4. Mengapa Habel harus mati dulu baru Kain diberi hukuman? Mengapa Habel tidak diberi jalan keluar? Mengapa para nabi harus mati dipenggal, dianiaya baru bangsa Israel dibuang ke dalam pembuangan? Mengapa Yesus harus disalib kemudian orang-orang yang menyalibkan Dia masih berkeliaran di mana-mana? Mengapa Tuhan tidak langsung membalas dengan segera? Meskipun demikian yang pasti adalah waktu Tuhan tidak pernah terlambat! Kematian Nabot seperti sesuatu kekalahan, tetapi tidak. Nabot mempertahankan imannya, memilih apa yang benar dan bernilai lebih dari sekedar mendapat harta, kebun anggur yang lebih baik. Tuhan melihat hal ini dan menyatakan penghukuman. Ini adalah penghiburan luar biasa. Sebagai umat Tuhan, kita akan menemukan banyak kali Tuhan seperti tidak langsung membenarkan kita. Namun ini bukan tanpa alasan.

Ayat 20, Ahab langsung berkata kepada Elia, "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Ini taktik Ahab. Sebelum diserang, lebih baik serang lebih dahulu. Elia tidak mempedulikan Ahab. Elia menyatakan penghukuman Tuhan. Ahab berpikir ia bebas melakukan apa saja dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tetapi Ahab tidak sadar ia sedang memperbudak dirinya dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Hukuman Tuhan atas Ahab dan Izebel dinyatakan Elia kepada Ahab.

Dimulai dari hal yang kelihatan sepele, Ahab memilih istri yang tidak seiman, tidak mengenal Tuhan, hidupnya rusak menyembah Baal dan dipengaruhi istrinya. Ini tema yang terus berulang di sepanjang Alkitab. Berapa banyak anak Tuhan yang jatuh dalam hal ini? Rusak seluruh hidupnya dan ia menjauh dari Tuhan? Keturunan Ahab mati semua. Tidak ada keturunan Ahab yang menyembah Tuhan. Tidak ada anak laki-laki Ahab yang menjadi raja. Mati semua. Ini hanya karena Ahab sudah menjual hak kesulungannya, Ia mencintai Izebel. Inilah sifat dosa. Kita tidak butuh penyimpangan besar. kita hanya butuh menyimpang 1 derajat saja, teruskan, maka penyimpangan itu akan begitu jauhnya. Inilah yang terjadi pada Ahab. Ia tidak sadar. Ia menyebabkan seluruh bangsa Israel berdosa. Ia pemimpin. Dosa apa yang ada dalam hidup kita? Kita harus bereskan. Jangan sembarang bersekutu dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Ahab membuang imannya. Nabot tidak. Nabot dicatat sebagai orang benar.

(Ayat 25-26) Kesimpulan hidup Ahab: “Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya.” Apa yang dilakukan Ahab tercatat dalam Alkitab dan dibaca oleh manusia sepanjang zaman. Semua orang yang hidupnya jauh dari Tuhan, sangat tidak menyenangkan, hidupnya hancur, bangkrut. Nabot kelihatan kalah, tetapi ia menang di mata Tuhan. Habel mati dibunuh, tetapi ia mati sebagai orang benar. Tuhan kita Yesus Kristus, mati disalib, tetapi Ia menang.

Jadi, sebagai umat Tuhan kita harus siap mengalami ketidakadilan. Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran (Mat.5:12). Inilah yang terjadi pada Nabot dan Tuhan kita Yesus Kristus. Tidak ada perintah yang diberikan Tuhan pada kita yang tidak dilakukan dan dialami-Nya terlebih dahulu. Ketidakadilan terus berlangsung juga karena para pemuka yang seharusnya takut pada Tuhan lebih memilih takut pada manusia. Seandainya kita tahu Tuhan kita Mahakuasa, kita tidak perlu takut pada manusia. Takutlah pada Tuhan!

(Ayat 27-29) Kini Ahab berpuasa. Ahab pun bisa bertobat. Ia memakai kain kabung. Betulkah ia bertobat? Ia tidak pernah mengembalikan kebun anggur Nabot, tidak pernah mengakui kesalahannya, ia hanya takut hukuman. Banyak orang seperti ini. Namun respon Tuhan begitu mengherankan. Tuhan menarik penghukuman-Nya. Tuhan kita begitu panjang sabar kepada orang-orang jahat yang melawan-Nya, termasuk pada kita. Tuhan terus memberi kesempatan, termasuk pada Ahab. Namun kesempatan ini tidak diresponi oleh Ahab. Panjang sabar Tuhan adalah kesempatan untuk kita bertobat. Bersyukurlah jika kita masih ditegur-Nya. Celakalah jika Allah sudah mendiamkan kita. Ahab yang bertobat palsu saja diberikan anugerah begitu besar, apalagi bagi orang-orang yang sungguh-sungguh bertobat. Kristus di atas kayu salib mati untuk kita yang sudah membunuh Dia, untuk kita yang harusnya dibinasakan. Jika sekarang kita sudah ditebus menjadi umat-Nya, marilah kita hidup takut akan Tuhan lebih daripada takut kepada manusia. Meskipun kesulitan yang harus kita alami mungkin panjang, tetapi Tuhan pasti menyatakan keadilan-Nya. Marilah kita memandang pada kemuliaan Tuhan kelak yang akan dinyatakan-Nya. (VP)

 
RocketTheme Joomla Templates