Ringkasan Khotbah - 8 Mei'11 PDF Print E-mail

Mat.27:45-50

Pdt. Ivan Kristiono, M.Div.

Pemandangan salib sangat tidak baik untuk pendidikan. Di salib terjadi kutukan antara yang disalibkan dan yang menyalibkan. Salib tujuannya adalah untuk mempermalukan orang. Penganiayaan dan siksaan itu bukan hanya secara fisik. Aniaya secara fisik itu sudah kejam akan tetapi orang paling disakiti waktu ia dipermalukan. Tuhan Yesus mengalami kedua-duanya: fisik-Nya dianiaya habis dan harga diri-Nya ditaruh pada titik nol.

Rasa keadilan dan ingin dihargai membuat kita tidak terima apabila kita atau orang lain dipermalukan. Orang yang diperkosa fisiknya bisa sembuh tetapi mentalnya hancur karena merasa dirinya diperlakukan di titik nol, kotor, dan merasa najis. Ini dipermalukan, dibunuh karakternya. Ini dialami Tuhan Yesus, Ia ditelanjangi di kayu salib. Ia diarak, ditelanjangi, diludahi, dimaki, dan dihina habis-habisan. Orang jaman itu kalau lewat dan melihat orang disalibkan tanpa tahu apa salahnya langsung memaki orang itu.

Tuhan Yesus dihina oleh prajurit Romawi dan dipukuli, dihina orang Farisi dan ahli Taurat, dihina para penjahat yang disalib di kanan-kiri-Nya, dan Ia juga dihina oleh orang-orang yang lewat. Ia dihabisi sampai titik nol. Tidak diterima langit dan tidak diterima bumi. Mati-Nya tergantung.

Tapi di salib kita melihat hal unik: hati Yesus benar-benar hatinya Tuhan. Ia memiliki kualitas yang berbeda dengan ciptaan. Di salib semua hinaan itu hanya satu arah. Belum pernah ada orang yang disalib mampu mengeluarkan hanya tujuh kata dan tujuh kata itu adalah tujuh kata yang penuh hikmat dan bijasana. Ini seperti yang dikatakan dalam kitab Amsal 10:19, 21. Inilah Tuhan kita, kalimatnya memberikan kesegaran bagi orang yang di bawah-Nya. bayangkan, saat orang menunggu Ia mengumpat Ia malah mendoakan mereka. Ia sendiri mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Hal ini hanya bisa dilakukan orang yang kualitas rohaninya benar-benar baik, tak lain hanya Tuhan saja yang mampu melakukan hal ini.

Berapa banyak orang Kristen masih menyimpan kepahitan dan dendam secara diam-diam kepada suami, istri, anak, dan orang-orang lain? kepahitan dan dendam itu selalu lebih merugikan mereka yang memiliki perasaan itu ketimbang orang yang kepadanya ia merasa sakit hati dan dendam. Tuhan yang memerintahkan kita untuk mengasihi itu sendirinya adalah yang juga mengerti penderitaan yang paling dalam dan Ia sendiri juga mengampuni kita. Mungkin kita mengatakan kepada Tuhan kalau kita mau mengampuni tetapi jangan orang yang ini. Kita harus menuntut keadilan bukan? Silahkan tuntut keadilan tetapi serahkan kepada Tuhan yang membalas dengan adil, bukan kita sendiri yang membalas. Boleh menuntut keadilan dan membela diri tetapi dendam dan membenci orang lain itu soal lain. Alkitab mengajarkan kita mengampuni.

Cara terbaik menghilangkan musuh adalah mengampuninya, demikian Abraham Lincoln. Memang tidak terlalu gampang  kalau hati kita disakiti. Tapi Tuhan memerintahkan kita mengampuni orang yang bersalah dan Ia berjanji untuk memberikan kekuatan itu kepada kita. Saat kita bisa mengampuni saat itulah kita baru berhak menyandang gelar murah hati. Satu hari Tuhan akan menguji kita untuk disakiti habis-habisan untuk menguji apakah kita bisa mengampuni atau tidak.

Kerohanian berarti bersinggungan dengan orang lain dan meresikokan diri. Mengampuni berarti murah hati, murah hati berarti kaya karena hanya orang yang kaya yang dapat memberi kepada orang lain. Ini adalah ucapan di kayu salib yang pertama. Sampai dengan ucapan ketiga di kayu salib kita masih bisa menerimanya tetapi pada ucapan keempat, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” muncul kebingungan di antara orang Israel yang berpikir bahwa Tuhan Yesus sedang memanggil Elia, tokoh Perjanjian Lama yang sangat mereka hormati yang dijanjikan kedatangannya dalam kitab Perjanjian Lama yang terakhir. Yohanes Pembaptislah yang menjalankan peran Elia itu tetapi mereka tidak mengenalnya. Padahal di dalam Mzm. 22:2 hal ini sudah jelas, Yesus sedang mengutip Mazmur ini dan bukannya sedang memanggil Elia. Hal ini pun juga sudah diklarifikasi oleh Alkitab.

Kesalahan kedua dipengaruhi oleh bidat Docetisme yang menyatakan bahwa yang tergantung di kayu salib hanya seolah-olah Yesus padahal bukan. Mereka mengatakan ada Manusia Yesus dan Tuhan Yesus, lalu waktu disalibkan Tuhan Yesus meninggalkan Manusia Yesus sehingga Manusia Yesus berseru “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Itu salah kaprah dan salah fatal yang sudah dinyatakan bidat oleh para bapa gereja.

Kesalahan fatal ketiga tidak separah kedua tapi fatal juga, muncul dalam masa gereja awal. Seolah Tuhan Yesus tertipu, terjebak karena berpikir disalibkan memang menderita dan penuh romantisme (bukankah kita waktu melayani Tuhan juga lebih sering tertipu pikiran romantis tentang hidup menderita dan menjadi martir daripada benar-benar mencintai Tuhan?) tapi tidak menyangka bahwa separah itu penderitaannya maka kalimat itu muncul. Plato mengajarkan dalam titik itu orang harus ada keberanian. Yesus dalam Injil Yohanes mengatakan, “Engkau semua akan meninggalkan Aku tetapi Aku tidak takut karena Bapa menyertai Aku.” Tuhan sudah tahu secara detail tentang apa yang akan Ia alami.

Kita telah melihat tiga penafsiran yang salah. Sekarang mari kita lihat penafsiran yang benar. Waktu Ia mengatakan “Eli, Eli Lama Sabakhtani” apa artinya?

Pertama, Mazmur 22:7,13. Mazmur ini menunjuk kepada Yesus. Waktu Yesus mengutip Mazmur ini maksudnya adalah Ia mau menyingkapkan satu rahasia bahwa kematian-Nya itu sudah dinubuatkan sejak Perjanjian Lama. Orang-orang Israel pasti sudah tahu Mazmur ini. Seharusnya mereka kaget dan ingat Mazmur 22 ini waktu mendengar Yesus mengatakan Eli Eli Lama Sabakhtani. Dengan demikian, jika Tuhan tidak mengatakan Eli, Eli Lama Sabakhtani maka kita tidak akan tahu. Karena itu jika kita dapat mengerti firman jangan sombong karena segala sesuatu adalah anugerah. Kita dapat tahu itu adalah berasal dari Tuhan.

Dalam Kitab Suci ketika Petrus ditanya siapakah Kristus, Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias yang hidup.” Tetapi Yesus bukan mengatakan pada Petrus, “Tepat sekali, jawabanmu akurat, engkau orang yang sangat canggih,” melainkan “Simon, bukan manusia yang mengatakan itu melainkan Bapa di surga yang menyatakannya padamu.” Berarti Roh Kudus berkomunikasi dengan kita. Waktu kita mengatakan mengerti firman, sejauh mana kita ‘mengerti’? Tingkat pengertian itu berbeda kedalamannya. Mungkin kita tahu secara kognitif tetapi belum secara keseluruhan terintegrasi dalam kehidupan kita. Mari kita rendah hati dan terbuka untuk mempelajari segala sesuatu. Kita jangan hanya pintar deskripsi, tetapi harus pintar memeluk kebenaran. Jangan hanya pintar menjelaskan tetapi tidak melakukan. Di dalam kerohanian kita harus tahu dosa apa yang ada dalam diri kita secara spesifik. Misalnya: saya sombong. Sombongnya bagian yang mana? Kita perlu tahu spesifik untuk bisa memperbaikinya. Seperti kita berobat ke dokter, kita perlu penjelasan dokter kita sakit apa secara akurat supaya dapat diobati. Ini butuh anugerah.

Kedua, “Eli, Eli, Lama Sabakhtani” adalah doa penyerahan diri (Mzm.22:26-30). Apa artinya? Pemazmur mau mengatakan saya susah dan mengalami kesulitan. Tetapi di tengah kesulitan ini saya bersyukur. Jadi Mzm.22 ini adalah doa ucapan syukur dan penyerahan diri karena berserah kepada Tuhan. Ini adalah iman. Iman adalah berserah diri pada Tuhan di saat tidak ada fondasi. Kadang-kadang dalam hidup Tuhan ijinkan tidak ada sandaran siapapun dalam hidup kita. Masihkah kita percaya kepada Tuhan disaat-saat seperti itu?

Ketiga, “Eli, Eli, Lama Sabakhtani” di sini berarti Tuhan sedang mengajarkan kita untuk fokus. Yesus mengajarkan poin yang paling mengerikan bukanlah saat kita dipermalukan atau dihina. Apa hal yang paling mengerikan dalam hidup ini yang diajarkan oleh Alkitab? Lihat Kel.33:1-4. Tidak ada hal yang paling mengerikan selain ditinggalkan Tuhan!! Musa mengerti hal ini. Bangsa Israel tahu hal ini. Daud pun tahu hal ini. Daud berdoa, “Jangan ambil roh-Mu daripadaku ya Tuhan. Jangan tinggalkan, jangan buang aku” (Mzm.51). Apa artinya kesuksesan kita jika karena kesuksesan itu kita ditinggalkan Tuhan? Mari kita minta penyertaan Tuhan. Karena Kristus sudah mati untuk kita, kita seharusnya mau berdamai dengan Tuhan. Mari kita berdoa meminta hal ini.

Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkotbah. (BV)

 

 
RocketTheme Joomla Templates