Ringkasan Khotbah - 20 Feb'11 PDF Print E-mail

 

Sabat

Kej.2:1-3, Kel.20:8-11, Mat.11:25-30, 1Yoh.2:15-17

Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Ada satu pepatah dalam Bahasa Indonesia yang terkenal: Berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian dan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Pepatah ini secara tidak sadar sudah integral dalam hidup kita. Pertanyaannya apakah pepatah ini tepat atau tidak? Prinsip pepatah ini adalah setelah kita bekerja keras, saya berhak menikmati apa yang menjadi hasil kerja keras saya. Jika saya sudah selesai melakukan apa yang harus saya lakukan, ijinkanlah saya menikmati hidup saya sekarang. Dunia bisnis mengatakan ‘no pain, no gain’ – jika tidak ada sesuatu yang menyakitkan maka kamu tidak akan memperoleh apa-apa. Dapat juga dikatakan ‘work hard, play hard’. Setelah kerja keras, kini saya juga berhak main sepuas-puasnya. Ada perusahaan-perusahaan yang setelah bekerja keras, maka kita akan diminta untuk menghibur (entertain) tamu-tamu atau klien kita. Biasanya termasuk makan, jalan-jalan, karaoke, bahkan minum-minum atau main perempuan. Salahkah kita menikmati hasil kerja keras kita?

Kitab Pengkotbah mengatakan jika kita bisa makan, minum dan bersenang-senang inipun berasal dari Tuhan. Berarti boleh menikmati hidup (asal bukan yang berdosa). Alkitab juga mengatakan orang yang tidak bekerja tidak boleh makan. Artinya, mereka yang sudah bekerja keras boleh menikmatinya. Tetapi ada sesuatu yang ekstrim adalah kita lupa itu berasal dari mana dan kita menjadikannya tujuan hidup kita, yaitu kalau saya sudah bekerja keras saya wajib bersenang-senang. Jika belum terpuaskan maka kita akan menunggu kapan melampiaskan nafsu itu. Inilah diri kita setelah kejatuhan. Kita ingin menikmati hidup sepuas-puasnya.

 

Ini terjadi dari waktu kita kecil. Anak sekolah sekarang pergi sekolah sudah hampir sama seperti orang kantor. Satu minggu penuh dengan les-les. Orang tua kuatir kalau anaknya tidak sukses di kemudian hari. Orang tua berharap anaknya kelak akan mudah mencari pekerjaan kemudian mendapat posisi dan gaji yang bagus. Akibatnya anak ini akan dijejali dengan berbagai macam les. Orang tua tidak ingin anaknya seperti mereka yang dulu tidak punya kesempatan untuk mengikuti les-les tersebut. Ayah ibu dulu tidak pernah rangking kini menghendaki anaknya rangking. Sebenarnya kurang fair, teladan tidak ada tetapi memaksakan anak. Ini dipaksakan sekian lama padahal anak juga ada kebutuhan untuk main. Banyak cerita-cerita seperti ini, misalnya Michael Jackson. Banyak anak-anak yang kebutuhan masa kecilnya sudah ditekan sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat lagi menikmati masa kanak-kanak mereka dan bermain. Kita tidak heran jika anak-anak seperti ini tidak pernah beristirahat (no rest). Sampai dewasa mereka dikejar-kejar terus. Anak-anak seperti ini di sekolah minggu biasanya sulit untuk duduk diam-diam di sekolah minggu karena mereka di rumah tidak ada waktu untuk bebas lagi. Sekolah minggu akhirnya menjadi tempat bagi mereka melampiaskan kebutuhan bermain mereka.

Masalahnya, permainan anak-anak zaman ini berbeda dengan permainan zaman dulu. Dulu anak-anak bermain petak umpet, engklek, bekel. Semuanya tidak dapat dilakukan sendiri. Anak-anak bermain bersama-sama. Tetapi permainan sekarang semakin membuat anak-anak menjadi individualistis. Mereka diberikan playstation, NDS, internet, games di komputer yang semuanya dapat dilakukan sendiri. Semakin tidak ada relasi satu sama lain. Celakanya ini kita anggap sebagai kemajuan.

Apakah keluarga sekarang masih memiliki waktu-waktu persekutuan yang indah? Semua fungsi-fungsi keluarga sudah diambil alih dan kita no rest at all. Mulai dari urusan melahirkan. Melahirkan tidak perlu normal, meskipun bisa normal, tetapi operasi caesar, ASI tidak perlu lagi tapi dapat diganti susu formula, mendidik tidak perlu pusing karena ada baby sitter, belajar tidak perlu diajarkan orang tua karena ada playgroup, kerohanian tidak perlu dididik di rumah karena ada guru sekolah minggu, makan tidak lagi bersama-sama karena masing-masing bisa pergi mencari makan di Mall, kalau pun makan bersama-sama masing-masing pun pegang handphone atau Blackberry. Ini yang terjadi pada keluarga zaman ini.

Dengan begitu banyak alat-alat komunikasi dan alat-alat yang mempermudah hidup kita ternyata relasi kita satu sama lain sudah semakin jauh. Memang alat-alat itu membawa kita dekat dengan orang-orang yang jauh, tetapi menjauhkan kita dengan orang-orang yang dekat. Bahkan ada orang-orang yang duduk sebelahanpun saling chatting. Kita sudah kehilangan banyak hal. Kita memiliki segala sesuatu tetapi kita kehilangan relasi dan tidak ada istirahat sama sekali. Yang ada hanya kerja, kerja dan kerja. Dulu orang naik sepeda, lalu sepeda motor, kemudian mobil. Akhirnya ketika kita ingin balik naik sepeda, jalanan sudah penuh polusi dan tidak seperti dulu lagi. Ketika kita di zaman modern ini memiliki segala sesuatu, ternyata kita sudah kehilangan segala sesuatu. Untuk mendapatkan udara segar kita perlu pergi jauh. Di dalam kota sudah kehilangan langit biru. Begitu kita memiliki segala sesuatu yang kita anggap kemajuan, kita kehilangan hal yang paling mendasar: relasi dan keluarga, bahkan relasi kita dengan Tuhan. Dan kita masih belum sadar! Sukses yang kita ajarkan pada anak-anak kita tidak ada hubungannya dengan kekudusan hidup, kebenaran, bersukacita, memiliki kasih, kesabaran, kemurahan dan buah Roh. Ini tidak dibicarakan sebagai standar sukses.

Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel diberitahukan bahwa Tuhan menciptakan dunia selama 6 hari dan pada hari ke-7 Ia beristirahat. Allah berhenti mencipta tetapi Ia tidak berhenti untuk menopangnya. Tetapi Allah rest / beristirahat. Kemudian pola ini diulang lagi pada sepuluh perintah Allah. Bangsa Israel diminta untuk mengingat dan menguduskan hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Sabtu karena hari ke-7. Tetapi kini Sabat menjadi hari Minggu karena Kristus bangkit pada hari Minggu, awal hari pertama Minggu itu. Sampai zaman sekarang pun 7 hari dalam kalender menjadi standar Internasional. 6 hari bekerja 1 hari beristirahat. Bahkan ada orang-orang yang pernah menggantikannya jadi 9 hari kerja dan 1 hari istirahat tetapi malah kacau, orang makin tidak produktif dan makin lelah.

Di zaman modern ini, Sabat semakin diabaikan. Sekarang jika Boss memiliki karyawan, kalau bisa masuk hari Minggu mengapa tidak? Hari Minggu ‘kan lebih ramai dari hari biasanya. Kita perlu bertanya dan memikirkan hal ini lagi. Bahkan di dunia rohani pun demikian. Dulu jika kita kebaktian, kita libur karena rindu beribadah dan bersekutu dengan saudara seiman. Tetapi zaman sekarang, kalau bisa semakin cepat selesai ibadah mengapa tidak? Ada gereja yang hanya satu jam saja. Mereka mengatakan ingin menghargai waktu kita. Padahal, jika dulu Tuhan yang memberi jadwal pada kita, sekarang manusia yang ingin menjadwal Tuhan.

Ray A.Bruce dalam bukunya “Merayakan Sabat” mengatakan bahwa sekarang di beberapa tempat di Amerika sudah ada kebaktian tengah Minggu. Antara hari Senin – Minggu, diadakan hari untuk beribadah. Maksudnya supaya orang bisa pilih waktu ibadah sehingga hari Minggu bisa libur penuh dan jalan-jalan. Ibadah tidak perlu lagi hari Minggu. Ini karena prinsip ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’. Kita tidak mau lagi diganggu setelah bekerja keras! Begitu bukan? Lalu yang dianggap rest atau Sabat itu apa? Seks kah? Musik? Pornografi? Kekayaan? Kenikmatan? Pacar? Masalahnya adalah sekarang orang tidak pernah puas! Kita pikir makin sibuk makin baik. Bahkan termasuk sibuk dalam hal-hal rohani. Apakah kesibukan sama dengan kerohanian? Entah kita sibuk dalam pelayanan atau pekerjaan, semuanya dapat membuat kita kehilangan persekutuan dengan Tuhan. Kapan kita baca Alkitab dengan tenang, menikmati firman, dan doa? Kapan kita persekutuan, sharing dan doa bersama? Semua ini hampir direnggut oleh media dan kenikmatan yang ada. Kita merindukan rest tetapi kita restless. Inilah bahayanya. Setelah kita mendapatkan ‘segala sesuatu’, kita kehilangan ‘segala sesuatu’.

Agustinus konon pernah mengatakan, “dalam hati manusia Tuhan telah menaruh kekekalan dan kekekalan hati ini tidak dapat diisi dengan apapun selain oleh Tuhan.” Selain oleh Dia yang menciptakan kita, tidak mungkin kita dapat menikmati semua yang lain. Jika bukan Kristus yang menjadi fokus, kita hanya akan memperoleh kekecewaan. Banyak orang-orang top yang memiliki segala sesuatu yang orang inginkan, tetapi tidak memiliki Kristus, ada kehampaan yang kosong luar biasa dalam diri mereka. Seseorang pernah mengatakan, “kalau kita sudah mengejar terus sampai ke puncak yang paling tinggi, sampai di sana kita menemukan bahwa tidak ada apa-apa di sana. Akan terjadi kesepian yang sangat mendalam dan kekosongan yang luar biasa.” Alexander Agung mengalami hal ini ketika ia sudah menguasai banyak wilayah di dunia dalam usia sangat muda.

Jika kita punya ilusi tentang kesuksesan, pikirkan lagi. Sukses tanpa Pencipta bukan sukses. Kita akan meninggalkan hal yang paling utama untuk hal yang sia-sia. Apa artinya? Kita akan kehilangan nyawa kita dan akan menerima kemuliaan yang kosong belaka. Cobalah isi kekosongan hati kita dengan hal yang menyenangkan kita. Maka kita akan menemukan bahwa semuanya kosong. Orang yang menikmati seks, pornografi sampai habis-habisan ia akan merasa kebal, tidak ada kenikmatan. Orang yang menikmati makan atau pacar gonta ganti terus, ia akan merasa kosong. Kita dicipta dengan natur yang kekal, jangan mencari kekekalan di tempat yang fana. Kita akan menyesal! Ngengat dan karat akan merusaknya. Ada satu hal yang bernilai kekal yaitu harta dari surga, itu yang harus kita kejar. Tanpa fokus pada Kristus, kita hanya akan menjadi lelah dan kehilangan hal yang paling berharga. Marta kehilangan hal yang berharga, tetapi Maria memilih yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya. Apa yang kita kejar hari ini? Coba pikir lagi. Kalau kita mencari dan mengejarnya di tempat yang keliru, kita pasti kecewa.

Hari Sabat diciptakan untuk manusia. Pada waktu itu kita berhenti dan menikmati Tuhan (rest in God). Rest bukan berarti tidak melakukan apa-apa karena Tuhan Yesus menyembuhkan orang dan memetik gandum pada hari Sabat. Ada hal-hal yang perlu kita lakukan (perkerjaan belas kasihan untuk menolong orang lain) pada hari Sabat, lakukanlah. Beban yang Tuhan Yesus berikan pada kita berbeda dengan beban orang Farisi. Orang Farisi menafsir hukum dengan cara yang sangat memberatkan. Kehidupan agama menjadi begitu berat dan sulit dilakukan. Tetapi Kristus berkata semua itu tidak akan membawa kita pada pengenalan akan Dia. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberimu kelegaan.” Agama Kristen adalah agama anugerah. Pengertian dan pengenalan akan Tuhan seringkali bukan dimiliki oleh para teolog, tetapi pada mereka yang memiliki hati yang sederhana, yang fokusnya hanya Kristus. Anak-anak kecil Tuhan Yesus katakan adalah yang memiliki Kerajaan Surga. Sebuah buku yang berjudul The Little Prince menceritakan kisah tentang seorang anak yang menikmati sebuah bunga mulai dari harumnya, tangkainya, daunnya, dan semuanya. Sementara orang dewasa yang kaya memiliki kebun bunga begitu luas, tidak dapat menikmatinya.

Apakah untuk menikmati hidup kita harus memiliki segala sesuatu? Pikirkan lagi. Kenikmatan hidup sudah Tuhan berikan setiap hari. Tetapi kita tidak puas dengan hal-hal kecil dan tidak bersyukur. Yesus mengatakan, “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk yang kupasang dan belajar pada-Ku.” Mengapa kita disuruh datang kepada-Nya? Karena diluar Kristus tidak ada kelegaan dan kenikmatan. Sebagaimana orang yang haus tidak boleh minum air laut, demikian juga jangan kita mencari kenikmatan diluar Kristus. Rest yang sejati adalah di dalam Tuhan. Yohanes mengatakan jangan mengasihi dunia dan segala yang ada di dalamnya. Bukan berarti kita tidak boleh bekerja & mencari uang, tetapi bekerja & mencari uang untuk Siapa & untuk apa? Setelah kita menjadi percaya, kapan terakhir kali kita menikmati doa dan waktu-waktu membaca firman atau buku-buku rohani yang baik? Kapan terakhir kali kita menikmati Tuhan? Tuhan memberi kuk untuk kita pikul (bukan karena dosa), bukan untuk memberatkan kita melainkan supaya kita belajar dari pada-Nya. Jika kita mengejar semua yang baik, mulia, yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan bernilai kekal maka jiwa kita akan mendapat kelegaan. Apa yang kita kejar?

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – VP).

 

 
RocketTheme Joomla Templates